
Happy reading 🤗
Like dan hadiahnya dong 😁❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Malam telah tiba anggota Black Wolf dan Geng Azteca sudah bersiap-siap dengan masing-masing senjata di tangan mereka. Menggunakan pakaian serba hitam. Beberapa pistol dan pisau tersimpan di sisi celana mereka. Anggota mereka keseluruhan ada tiga ratus orang memang tidak sepadan dengan lawan mereka yang berjumlah berkali-kali lipat namun tekat mereka sudah bulat. Apapun resikonya mereka akan tetap melakukan penyerangan.
Tim di bagi menjadi tujuh bagian. Tim Tio melakukan penyerbuan di jalan XX sesuai yang di kabarkan bahwa kaki tangan pemimpi Rine X akan melakukan transaksi manusia dan senjata. Ia membawa dua puluh orang anggota dari Black Wolf dan Azteca. Sedang Tim Karla ia di tempatkan di arah barat tempat mengeboman karena posisi Markas musuh berada di arah Utara jumlah yang ia bawa adalah lima puluh orang. Penempatan mereka hanya untuk mengecoh musuh sehingga musuh tidak menyadari bahwa masih ada tim yang lainnya.
Di arah timur ada dua puluh anggota karena di arah timur akan di lakukan pengeboman untuk membuat musuh terpecah konsentrasinya. Guntur membawa tiga puluh orang ke arah Utara tepatnya di belakang Mansion dengan beberapa mobil truk guna mengangkut para tahanan. Tim ke lima atau Tim cadangan berada di atas pohon luar gerbang Mansion, mereka menempatkan lima puluh orang dan tim penyerangan ada seratus tiga puluh anggota yang di pimpin oleh Richo.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Richo pada seluruh anggotanya.
"Siap!" jawab mereka tegas. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, mereka membawa seratus senjata sniper di mobil mereka. Lalu meluncur ke lokasi yang mereka tuju. Sedangkan Tio dan para tim-nya berbeda jalur mereka menuju jalan XX sesuai yang di kabarkan.
Tepat pukul 12 malam anggota tim Richo dan yang lainnya sudah sampai di hutan milik organisasi Rine X. Mereka berhenti beberapa meter dari tembok besar dan tinggi itu. Menatap dari kejauhan.
"Jangan lupa pasang dan aktifkan alat komunikasi rahasia, dan tim lima utama segera bersembunyi ke posisi yang sudah di arahkan" jelas Richo serius. Tim lima yang menjadi pasukan inti segera berlari ke arah yang sudah di sepakati lalu naik ke atas pohon yang lumayan tinggi yang bisa menjangkau bangunan di sebrang sana, juga tidak lupa senapan yang sudah bertengger di bahu mereka.
Kini yang tersisa ada lima tim, mereka lalu berjalan menuju tembok namun sebelum itu mereka menyembunyikan mobil dan truk yang mereka bawa, sedikit memakan waktu karena transportasi yang mereka gunakan sulit untuk masuk ke dalam hutan.
Mereka sudah sampai di sana mencari lubang anjing, hingga tak sengaja Richo melihat lubang tersebut dan memanggil anggotanya untuk mendekat.
"Untuk tim Guntur, kalian pergilah sekarang ke arah Utara pastikan untuk berhati-hati dan tunggu perintah dari saya" ujar Richo menegaskan. Dan anggota kelompok Guntur mengangguk mengerti. Mereka langsung bergegas berjalan menuju arah Utara melewati pohon-pohon besar juga kecil. Enam orang membawa tangga aluminium panjang dan besar dan sebagian menenteng tali tambang.
Kini tinggallah tiga kelompok yang masih menunggu pengeboran tanah yang sudah di lakukan oleh anggota Black Wolf. Bergantian dengan Geng Azteca.
Sedikit berisik tapi karena jarak antara tembok dan Mansion sangatlah jauh hingga membuat musuh tak mendengarnya.
Hingga lubang di bawah tembok besar itu terbongkar besar. Segera mereka menyingkirkan tanah besar itu.
"Ayo segera masuk!" ucap sebagian anggota bersemangat. Richo mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk berhenti.
"Tunggu, apakah di dalam sana aman? kita tidak tahu jangan sampai ada jebakan di sana" tutur Richo, semua di sana terdiam mereka sependapat dengan jawaban dari sang ketua.
"Aku akan masuk ke dalam melihat keadaan di sana" salah satu pria mengangkat tangannya mengajukan dirinya. Richo pun menyetujuinya. Tanpa takut atau khawatir pria tersebut mulai memasuki lubang besar yang baru di bor. Sedikit terangkat kepalanya melihat ke sekeliling, sangat gelap sepertinya musuh tidak memasang lampu di sana hanya di sekitar bangunan besar nan megah.
"Sepertinya aman..." gumamanya pelan. Kemudian kembali memutar tubuhnya berjalan keluar. "Aman Boss, tidak ada tanda-tanda mereka berjaga-jaga ataupun menaruh jebakan" ucapnya dari dalam lubang. Semua mengangguk kecil.
"Baiklah, terima kasih" jawab mereka. Pria yang di dalam lubang tadi kembali berjalan masuk sembari memungut tanah berukuran sedang membuangnya ke atas.
Tim yang lainnya ikut masuk ke dalam secara bergiliran hingga sampai mereka di dalam semuanya.
Terdapat pohon-pohon rindang bertebaran di sana, jarak antara Mansion dan tempat mereka berdiri kisaran sepuluh ribu meter. Dan sekarang waktu menunjukkan pukul satu malam, suara hewan saling bersahut-sahutan sedang anggota Rine X tidak terlihat lagi di luar atau mungkin mereka sudah beristirahat. Entahlah mereka berharap seperti itu.
"Karla, kamu ke arah barat. Ingat untuk berhati-hati di sana. Lihat setiap sisi jangan sampai ada jebakan" ucap Richo menatap ke arah Karla walaupun sedikit gelap. Butuh waktu lama untuk sampai ke arah barat karena saat ini mereka berada di arah timur.
"Amin" jawab mereka serempak. Anggota Karla berjalan sembari berlari kecil ke arah Barat sedangkan tim yang lainnya masih menunggu instruksi yang akan di perintahkan oleh Richo.
"Untuk kamu Samsul, menetap di sini, namun sebelum itu, Jody lakukan tugas kamu sekarang" titah Richo dan mereka mengangguk kepalanya mengerti. Jody adalah anak IT, tangannya berselancar pada benda persegi ukuran besar di pangkuannya. Tangannya mengetik beberapa angka dan huruf yang tidak di mengerti oleh temannya ataupun Richo.
Beberapa angka juga huruf sudah ia masukkan ke dalam kotak kecil di layar laptopnya. Hingga terlihat sebuah vodeo di layar tersebut. Senyum tipis tersungging di bibirnya lalu memperlihatkan pada Richo.
"Waktu kita hanyalah lima belas menit dan mereka akan tahu jika keamanan mereka telah di retas. Sepertinya ruang penyekapan berada di lantai tiga dan sebagian... saya ragu mereka menempatkannya di bawah tanah. Lihat ini Boss! mereka sedang melakukan uji coba, mereka akan menyuntikkan obat ke dalam tubuh mereka. Entah apa fungsinya." Jelas Jody serius. Richo mengangguk kecil.
"Berapa waktu yang tersisa?" tanya Richo.
"Sepuluh menit Boss" jawab Jody.
"Baik, kalian ikut aku. Untuk anggota Samsul kalian di sini setelah sepuluh menit berlalu lakukan pengeboman... dan Jody pantau terus situasinya dan kabarkan padaku" kata Richo tegas lalu berlari ke arah barat menyusuri panjangnya tembok yang melindungi bangunan Mansion.
"Halo, halo, anggota tim B sandera berada di lantai tiga sebagian berada si bawah tanah. Setelah delapan menit berlalu lakukan tugas kalian!!" Richo berujar di balik alat yang terpasang di belakang telinganya.
"Untuk semuanya lakukan pengemboman sesuai instruksi dari Jody" jelas Richo.
"Baik" jawab mereka dari sebrang alat komunikasi rahasia.
Di lain sisi
Tepatnya di jalan XX anggota tim Tio telah berada di lokasi transaksi ilegal. Mereka bersembunyi di balik bangunan tua. Yah... lokasi mereka berada di tempat yang sepi tak berpenghuni tepatnya di bangunan tua yang tidak di tinggali.
Sebuah truk besar masuk di area tersebut, salah satu pria berbadan kekar dengan otot-otot besarnya turun dari jok depan penumpang, melangkah menuju pintu berwarna silver. Membuka gembok dan melebarkan daun pintu truk yang di naikinya tadi.
Tio menatap tajam ke arah dalam truk terlihat anak-anak juga gadis remaja yang tengah meringkuk ketakutan. Memeluk tubuh mereka yang gemetaran.
"Cepat turun! jangan sampai saya membuat kalian mati di sini!" bentaknya membuat mereka segera turun. Mereka tidak merengek ataupun berteriak sepertinya mereka begitu trauma dengan pria tersebut.
"Ayo ikut saya masuk... setelah ini kalian akan merasakan kebebasan hehehe" tuturnya tertawa jenaka namun membuat para sandera sangat merinding. Tio mengepal tangannya erat begitu geram pada sampah-sampah sosial di depan mata.
"Bedebah! keparat! jangan harap nyawa kalian banyak" batin Tio dengan tatapan masih menghunus. Hingga dua orang pria berjalan masuk ke dalam bangunan tua tersebut.
"Apa yang kita lakukan sekarang?." Tanya anggotanya.
"Lima orang berjaga-jaga di sini dan sisanya ikuti aku, kita masuk ke dalam" jelas Tio dan mereka segera masuk ke dalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung