
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
Awan berpindah tempat dengan bantuan angin, walau tidak ada sayap awan itu tetap bisa bergerak atas bantuan angin yang meniupnya hingga membuatnya bisa berpindah tempat. Langit yang tadinya terang kini perlahan-lahan menjadi gelap, suasana di malam hari cukup menarik, bintang-bintang bertebaran di atas langit dengan beberapa warna menghiasinya membuat langit malam tampak indah.
Juga suasana hutan yang penuh dengan pohon rindang terlihat sungguh mencengkam, sorot lampu temaram bahkan tidak bisa melihat jalan aspal, membuat kesan horor semakin melekat.
Di tengah-tengah hutan, berdiri sebuah bangunan megah layaknya sebuah istana yang kokoh, lampu-lampu mengelilingi bangunan besar itu membuatnya tampak cantik, hidup di tengah hutan dan jauh dari kebisingan kota membuat hidup seakan damai dan penuh kebahagiaan.
Seorang wanita tua, dengan rambut putih menghiasi kepalanya, juga kacamata bertengger di hidungnya yang mancung. Wanita tua itu berjalan pelan dengan dua pengawal di sampingnya mengikutinya menuju ruang makan. Di sana sudah ada dua anak manusia berbeda gender, siapa lagi kalau bukan Ainsley dan Vicky.
Kedua sudut bibir wanita tua itu melengkung membentuk senyuman tipis, hingga tercekat jelas kulitnya yang keriput, wanita muda yang duduk di kursi makan melihat sang nenek segera beranjak hendak menemuinya.
"Duduklah! serunya membuat Ainsley urung untuk mendekati sang nenek, ia kembali duduk ditempat duduknya.
"Selamat malam nyonya" sapa Vicky yang hendak berdiri juga untuk memberikan hormat namun sang nenek segera mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk tidak perlu berdiri. Vicky mengangguk dan kembali duduk.
"Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu cucuku?" Ainsley menggeleng, baru kali ini tugasnya tidak selesai dengan tuntas entah apa masalahnya tetapi ia hanya mengikuti perintah ayahnya apalagi, ia adalah bawahan ayahnya yang berdiri sebagai jenderal militer.
"Mohon maaf nyonya, boss besar yang meminta nona muda untuk menjadi bodyguard nyonya, karena kita tidak tahu musuh akan datang dari arah mana saja, itulah sebabnya boss besar menempatkan nona muda disisi nyonya"
"Seperti kata pepatah, sejahat-jahatnya binatang, dia tidak akan mungkin menerkam majikannya apalagi seorang cucu seperti nona Ainsley." Ainsley menatap tanpa kedip wajah pria di depannya, entah tatapan itu mengandung sebuah isyarat atau hanya sekadar menatap dengan wajah tanpa ekspresi.
"Bukan begitu nona?" Vicky bertanya sambil tersenyum, gadis muda itu membalas tak malah manis.
"Tentu saja, cucu tersayangku mana mungkin bisa melukai aku dia yang paling menyayangiku di dunia ini, hehehhe" sahut nenek tersebut sambil tertawa pelan. Vicky mengangguk mengerti sambil mencuri-curi pandang ke arah Ainsley.
Tiga anak manusia itu kembali menyantap makanan yang ada di dalam piring depan mereka, suara denting sendok terdengar di sela-sela kesunyian yang terjadi. Hingga kini mereka telah menyelesaikan makan malam mereka.
Ketiga anak manusia tersebut beranjak dari kursi makan dan berjalan menuju ruang keluarga yang tidak jauh dari ruang makan, mereka lantas duduk di sana, Ainsley memilih duduk bersama nenek kesayangannya.
Sedang di tempat lain tepatnya di salah satu kota Washington DC, yang menjadi ibu kota negara Amerika Serikat, tepatnya di universitas Washington dengan kampus Tacoma seorang pria muda turun dari dalam mobil, setelan formal itu begitu cocok di tubuhnya yang tinggi atletis. Benar-benar tubuh yang sempurna dengan cetakan-cetakan jelas diperut juga dadanya membuat tangan seakan tidak ingin diam dan ingin sekali bergerilya menyentuh setiap inci cetakan yang tercipta.
Kaca mata dengan warna putih itu bertengger indah dihidungnya yang mancung, rambut gondrongnya ia ikat agar terlihat rapi. Pria muda itu berjalan layaknya model menuju salah satu bangunan besar dengan tujuh lantai, ia berjalan menuju lift yang hanya dikhususkan untuk para dosen.
Setelah pintu lift terbuka ia bergegas masuk ke dalam, dan pintu itu tertutup rapat, perlahan-lahan lift itu mulai naik ke atas sebagaimana tujuan dari orang yang menaikinya.
Tepat di lantai tujuh, lift berhenti dan pintu terbuka pria itu segera keluar dan menuju salah satu ruang yang dikhususkan untuk dirinya seorang.
"Aaahhk ngantuk sekali, aku begitu ingin tidur tetapi ada jadwal mengajar hari ini" keluhnya saat tubuhnya ia hempaskan di atas kursi kebesarannya. Kepalanya menyandar di sandaran kursi sembari menutup mata. ******* berat itu keluar dari mulutnya, tangannya terangkat memijat pelipisnya yang sedikit sakit.
Beberapa menit beristirahat ia pun beranjak dari duduknya, berdiri merapikan bajunya dan mengambil sebuah buku dengan judul fisika lalu bergegas keluar dari ruangannya.
Kini pria itu sudah berada di lantai lima, lantai di mana ia akan mentransfer ilmu kepada para mahasiswanya. Di ruang 5.12 ia masuk. Matanya seketika membulat dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Apakah kalian ke kampus hanya ingin bertarung? tidakkah kalian diajari bagaimana untuk menahan hasrat untuk tidak bertengkar?!" suaranya menggema di ruangan tersebut membuat mahasiswa yang membuat heboh duduk di kursinya masing-masing. Tatapan pria dengan style formal itu sangat tajam, ia melangkahkan kaki seperti malaikat maut sedang berkeliling hendak mencabut nyawa anak manusia.
Semuanya menunduk takut tidak berani mengangkat kepala saat wajah dingin dan datar itu tercekat jelas di wajah sang dosen. Rasa gugup, takut, gelisah bercampur menjadi satu dalam hati. Berbisik dalam diam berdoa kepada Tuhan agar tidak dimarahi oleh dosennya yah sekalipun hal itu pasti akan terjadi.
"Yang bertengkar silakan maju ke depan kelas!" titahnya berdiri angkuh dihadapan mahasiswa.
Mereka yang berkelahi pura-pura terlihat biasa saja walau hati sedang kacau mereka berjalan maju layaknya superhero yang akan menyelematkan dunia dari kejahatan.
"Apa masalah kalian sampai membuat kalian harus berkelahi?" tanyanya dengan sorot mata penuh intimidasi.
"Jika aku memberikan alasan yang logis, bapak akan mengampuniku dengan saudaraku?" bukannya menjawab pria muda itu melempar balik pertanyaan. Terlihat kerutan kecil diwajah sang dosen, ia mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Dua orang ini terang-terangan menyatakan cintanya pada kami, bukankah mereka ini ingin minta dihajar?" dosen tersebut menatap dua pria bule yang dimaksudkan oleh pria asal Indonesia.
"Lalu kamu dan saudaramu memukulnya?" mahasiswa itu mengangguk mantap membuat dosennya terkekeh geli. Melihat senyuman dari wajah sang dosen seakan suasana horor langsung tercipta.
"Mereka baru menyatakan cinta, apa yang salah? tidakkah tindakanmu itu terlalu keterlaluan? kau memukul mereka hanya karena mereka menyatakan perasaannya, lalu apakah kamu akan menghajar seorang anak kecil yang menyatakan perasaannya padamu!?" terlihat sudut bibir dua pria yang berasal dari kota Washington terangkat membentuk senyum puas
Pria yang mengadu itu menatap tajam dosennya membuat pria yang menjabat sebagai dosen membalas dengan tatapan yang sama.
"Sial! awas saja jika sudah sampai di rumah aku akan memperhitungkannya dengan abang!" bisiknya penuh dendam.
"Minta maaflah atas kecerobohan kalian berdua, ingat jangan membuat ulah! jika tidak kalian berdua tidak perlu masuk dijam mata kuliah saya!" titahnya membuat dua pria tersebut mengepal tangannya kuat. Bukankah mereka sedang ditindas? lagipula dua pria bule itu yang harus minta maaf karena dengan gamblangnya menyatakan perasaannya kepada sesama jenis.
"Aku minta maaf, aku tidak akan memukulmu lagi" ucapnya dengan suara tercekat. Ia benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Aku juga minta maaf pada kalian karena sudah membuat kesalahan"
"No problem" jawab mereka dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Lebih baik kau terima saja cintaku, bukankah itu lebih baik, my sweetie?" bisiknya ditelinga Daffin membuatnya ingin sekali menghantam kepalanya agar otaknya tidak eror.
"Cih! menggelikan sekali!" teriaknya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung