The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 23 Rencana Aulia



Happy reading 🤗


kasih like dan Votenya dong kak 🙏🤗❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di sebuah taman mini yang terletak tidak jauh dari jalan raya kota Meksiko, Aulia dan Hara tengah duduk berdua di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu. Ada beberapa pohon rindang yang tumbuh di sana menghiasi taman mini tersebut.


Aulia menyandarkan tubuhnya di sandaran kayu menatap ke atas. Netranya memandang takjub ke atas langit yang memancarkan warna kebiruan membuatnya terlihat indah di pandang.


"Sangat jauh untuk di gapai... dia seperti langit yang tidak bisa Lia raih nyatanya, pada akhirnya Lia tidak dapat memenangkan cintanya Uncle" bergumam dalam hatinya. Tangannya terulur ke atas hendak meraih langit itu namun jaraknya sangatlah jauh. "Hah! menyakitkan sekali" batinnya lirih.


"Jangan terlalu di pikirkan, pasti akan ada jalan untuk kalian bisa bersama" ujar Hara ikut merasakan sedih di hatinya. Melihat gadis yang selalu ceria itu kini merasakan sakit karena cinta.


Aulia menoleh dan tersenyum kecut. Menggeleng kepalanya pelan kemudian menjawab. "Itu tidak akan pernah terjadi bang, Lia sudah kalah telak. Andai Uncle Tio juga mencintai Lia, Lia pasti akan tetap berusaha untuk memperjuangkannya namun jika hanya seorang diri itu tidak akan seimbang dan hasilnya pasti tetap kalah" jawab Aulia dengan kepala tertunduk sedih.


"Lia sudah menyerah bang, Lia tidak sanggup lagi, Lia benar-benar merasakan sakit bahkan bernapas pun rasanya sulit" Tutur Aulia dengan tubuh bergetar. Hara lantas membawa gadis itu ke pelukannya mengelus punggung Aulia lembut. Terdengar isakan dari mulut Aulia.


"Menangislah!, jika kamu tidak mampu menahan rasa sakit itu maka dengan menangis hati kamu akan sedikit tenang... tapi kamu harus janji setelah ini ataupun besok untuk tidak mengeluarkan air mata barang setetes pun karena aku tidak akan mengizinkannya. Mengerti!" jelas Hara lembut namun dengan nada penuh tegas.


"Makasih, abang memang yang terbaik" ujar Aulia mendongakkan kepalanya. Terlihat buliran air itu mengalir dari pelupuk matanya membasahi pipinya yang putih.


"Wajahnya dekat sekali, astaga ada apa dengan jantungku" bisik Hara dalam hatinya. Ia merasa gugup tiba-tiba untung gadis itu tidak menyadarinya jika tidak mau taruh di mana wajah Hara itu.


"Kamu sudah aku anggap sebagai adik kandungku jadi apapun itu akan aku lakukan untukmu" jawab Hara yang berusaha mengendalikan degub jantungnya.


"Hmmm..." Aulia kembali memeluk tubuh pria kekar itu. Menelungkupkan wajahnya di ketiak Hara membuat Hara begitu sulit untuk meraup oksigen.


"Astaga aku seperti seorang ayah saja yang menenangkan putri sendiri ketika di bully...." gumam batin Hara. Untung tidak ada orang di taman tersebut jadi tidak membuat mereka merasa canggung nantinya.


"Ketiak abang harum, Lia suka" celetuk Aulia mengendus-ngendus aroma tubuh Hara laki-laki itu seketika bersemu. Dengan cepat mendorong kepala Aulia dari ketiaknya.


"Hey, geli tahu jangan begini nanti ada yang lihat" protes Hara merasa geli.


"Di sini tidak orang lagipula Lia hanya ingin mencium ketiak abang karena hanya begitu baru bisa melupakan masalah hati Lia...please boleh yah bang, kasihan Lia tahu..." pintanya dengan wajah memelas. Mengatupkan dua tangannya di depan dada matanya mengerjap lucu membuat laki-laki di depan sana sedikit terangsang.


"Tidak boleh!. Dan jangan pasang wajah kasihanmu itu... itu tidak akan mempan padaku" ujar Hara menoyor kepala Aulia. Padahal itu adalah salah satu cara agar dirinya bisa mengontrol keinginannya yang ingin sekali mencium bibir mungil gadis di sampingnya.


"Oh ayolah bang, hanya abang yang bisa bantu Lia, please" gadis itu tidak pantang menyerah memasang wajah imutnya membuat Hara mendesah berat.


"Kau membuatku gila Lia!" gerutu Hara dalam hatinya. Dengan sangat terpaksa laki-laki itu mengangguk pelan dan Aulia langsung berhambur kembali ke pelukan pria itu lebih tepatnya di bagian ketiaknya.


"Tangan abang di giniin yah biar Lia bisa masuk" tuturnya semangat lalu menyandarkan tangan Hara di atas pembatas kursi. membuat Hara membulatkan bola matanya. Ia tidak percaya gadis di depannya begitu menyukai tempat seperti itu.


"Untung aku sempat mandi saat tiba di bandara jadi tidak membuatku merasa malu, astaga anak ini apakah dia pernah begini pada pria yang ia cintai itu?" batin Hara penasaran.


"Dulu jika Lia ada masalah di sekolah Lia selalu menaruh kepala Lia di ketiak abang Hamas atau abang Azhar dan masalah Lia tiba-tiba hilang dengan sendirinya... dan sekarang tidak ada abang Hamas dan Abang Azhar, malah abang Hara yang menggantikan abang Lia. Lia benar-benar bahagia ada abang Hara di sini" jelasnya masih menelungkupkan kepalanya di ketiak Hara mengendus-ngendusnya pelan.


Terlihat bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis nyaris tak terlihat, hatinya berbunga-bunga mendengar Aulia jika tidak ada yang lain selain dirinya dan dua abangnya Lia, membuatnya makin tersenyum senang.


"Syukurlah jika Uncle Tio tidak termasuk" ujar batin Hara merasa senang.


"Sepertinya Lia akan mencari pacar pura-pura" tutur Aulia tiba-tiba. Dan itu membuat Hara mengerutkan keningnya heran.


"Untuk apa pacar pura-pura? jangan berpikir yang macam-macam yah!"


Tuk


Hara menyentil kepala Aulia keras membuat Aulia memekik kaget.


"Abang sakit tahu!" ketus Aulia menggosok-gosok kepalanya yang terkena sentilan tadi.


"Itu hukuman karena berpikiran yang tidak-tidak" jawab Hara kesal. Pria itu bersedekap dada menatap ke arah depan. Sedang Aulia hanya acuh tak acuh.


"Iih, Lia sudah pikirkan kalau Lia akan berusaha lagi. Tapi Lia harus mengetes perasaan Uncle Tio pada Lia jadi Lia harus mencari laki-laki untuk menjadi pacar pura-pura Lia" jelasnya penuh semangat. Hara melirik ke arah gadis di sampingnya ia geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Sebesar itukah cinta kamu padanya. Aku cemburu pada pria yang memenangkan hati kamu Lia... andai itu aku, aku pasti tidak akan pernah membiarkanmu terluka ataupun melepaskanmu. Pria itu benar-benar sangat gila jika membuang permata indah ini" tutur Hara yang hanya bisa berkata dalam hati. Laki-laki itu tersenyum tipis walau merasa sedikit cemburu. Tangannnya terulur menyentuh pucuk kepala Aulia.


"Aku akan selalu mendukungmu, tapi di mana kita harus mencari pasangan laki-lakinya? sedang kita baru permata kali kesini" tanya Hara.


Tampak Aulia berpikir sebentar guratan kecil di dahinya terlihat jelas. Namun tiba-tiba sebuah senyuman misterius terukir di sana lagi-lagi membuat Hara mengernyit heran.


"Apa kamu sudah mendapatkannya?" Aulia menoleh ke arah Hara menatapnya dengan senyum lebar.


"Tentu saja, bahkan pria itu sangat cocok... abang mau tahu siapa pria itu?" Hara mengangguk antusias. Ia penasaran pria siapa yang akan di jadikan pelampiasan sementara oleh Putri raja Mafia ini.


"Heh! sangat di sayangkan, laki-laki mana yang akan di jadikan sebagai kekasih pura-pura oleh gadis ini... benar-benar tidak beruntung" gumam batin Hara yang merasa kasihan pada takdir korban pelampiasan.


"Akan sangat cocok jika laki-laki itu adalah abang Hara. Pokoknya abang harus bantu Lia memerankan hubungan kita oke, tidak ada penolakan karena Lia tidak akan menerima penolakan." Jawab Aulia antusias menjelaskan rencana di kepalanya. Hahahah gadis yang begitu polos.


"What!!" bagai di sambar petir di siang bolong kala pria itu adalah dirinya. "Takdir buruk itu rupanya adalah aku" gumamnya pelan menampilkan wajah ketidakpercayaannya.


"Ah, pintarnya Lia... ayo kita pulang sekarang saatnya kita bereaksi" pekik Aulia yang langsung bangkit dari duduknya. Kepalan tangannya terangkat ke atas.


"Dasar tidak punya hati!" ketus Hara pelan.


"Baiklah Tuan putri" jawab Hara pasrah.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung