The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 20 Kedatangan Tamu



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


Tio menghentikan mobilnya di salah satu restoran besar, pria itu lantas mengambil tissu basah yang selalu ia sediakan di mobilnya. Mengambil beberapa lembar tissu lalu menghadap ke arah Aulia, sedang gadis itu menatap ke arah jendela.


Pria itu lantas mendekat ke arah Aulia membuat Aulia seketika menoleh. Jantung Aulia berdetak kencang kala wajah Tio yang begitu dekat dengannya.


"A-apa ya-yang di lakukan Uncle?" gumam Aulia menelan ludahnya kasar.


"Kenapa gugup hmmm... Uncle hanya membuka sabuk pengamannya" ujar Tio sedikit tersenyum. Melihat wajah merah di pipi gadis di depannya membuatnya terkekeh kecil.


"Cih! siapa juga yang gugup. Jangan ge'er" ketus Aulia memalingkan wajahnya. Tio geleng-geleng kepala, tangannya terulur menyentuh kepala Aulia memiringkan hingga menghadap padanya.


"Biar Uncle membersihkan debu di wajah Nona" ucap Tio lembut. Dengan sangat telaten pria itu membersihkan kotoran debu di wajah Aulia sedangkan Leon hanya menatap datar kedua sejoli yang bermesraan di depannya.


"Heh! mereka melupakanku? dasar orang tua!" ketus Leon dalam hati menatap jengah pada dua sejoli itu.


Kedua orang dewasa itu lupa bahwa masih ada orang lain di dalam mobil. "Wajah Uncle sangatlah dekat Lia tidak bisa bernapas, bagaimana ini?." Batin Aulia yang langsung menutup matanya, tidak sanggup melihat wajah tampan pria di depan matanya. Jantungnya sungguh tidak bisa di ajak kompromi.


Lagi-lagi Tio tersenyum lebar ia sangat suka melihat wajah gadis itu saat merasa malu, jika boleh minta ia ingin menghentikan waktu sejenak... ia sangat ingin berlama-lama seperti ini.


"Jangan sampai Uncle mendengar detak jantung Lia" teriak Aulia dalam hati.


"Hahahha, lucu sekali wajahmu Nona" bisik Tio. Ia makin mendekatkan wajahnya tangannya masih menyapu bersih kotoran debu itu bahkan hembusan napasnya menerpa kulit Aulia dan gadis itu dapat merasakannya.


"Jantung Nona berdegup kencang, itu pertanda tidak baik. Bagaimana jika kita ke rumah sakit" bisik Tio di telinga Aulia membuat Aulia langsung membuka matanya.


"Aaaaaakkk Uncle!!" teriak Aulia mendorong kuat bahu Tio hingga membuat jarak keduanya. Aulia menutup wajahnya malu sedangkan Tio sudah terbahak-bahak.


"Hahahaha, Nona kenapa teriak-teriak, dan kenapa menutup wajah Nona apakah Nona sedang malu yah?" tanya Tio pura-pura polos membuat Aulia mendelik jengkel.


"Apakah sudah selesai?" kini Leon angkat bicara. Anak kecil itu sudah sangat bosan dengan tingkah kedua manusia tak berakhlak itu bisa-bisanya melupakan orang ketiga.


"Eh, kamu di sini?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Tio dan Aulia makin membuat Leon benar-benar jengah.


"Menyebalkan sekali!" gerutu Leon dalam benaknya.


"Heheh, maaf aku lupa jika ada pengganggu di sini... pakai ini untuk membersihkan wajahmu, kita akan ke restoran dulu kalian pasti belum makan" jelas Tio memberikan beberapa lembar tissu basah dan Leon pun mengambilnya.


"Ayo" ajak Tio setelah Leon membersihkan wajahnya.


"Lia tidak mau, Lia mau pulang sekarang!" tutur Aulia datar.


"Baiklah ayo kalau begitu" jawab Tio pasrah. Hari ini dirinya malas berdebat, tidak banyak tanya ia kemudian memasang kembali safety beltnya dan menjalankan mobil Bugatti putih itu.


"Hah! padahal aku sangat lapar" bisik Tio dan Leon bersamaan. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, hening sejenak, Tio fokus menatap jalan di depan sesekali melirik objek di sampingnya yang empunya mengarah pandangannya ke luar jendela . Pria itu memijat keningnya yang terasa pening mungkin akibat lapar karena sedari pagi belum menyentuh makanan sedangkan hari sudah malam.


Hingga mobil Bugatti Veyron berwarna putih itu berhenti tepat di halaman kediaman Tuan Zeus, di mana di sana terparkir beberapa mobil mewah kurang lebih sepuluh buah mobil.


"Mereka pasti sudah tahu kalau Nona Aulia telah pergi..." bisik Tio dalam hatinya. Pria itu membuka safety beltnya kemudian turun dari mobil. Tidak banyak bicara ia lalu membukakan pintu kepada gadis yang duduk di jok depan.


Sedangkan Leon sudah turun bersamaan dengan Tio tadi. "Ayo Nona" ajak Tio namun wajah gadis itu terlihat di tekuk, itu berarti dirinya masih merasa kesal pada pria di depannya.


"Sudah Lia bilang, Lia tidak mau pulang kesini! kenapa Uncle membawa Lia kemari!" ketus Aulia bersedekap dada mengerling tidak suka pada Tio.


"Maaf Nona, tapi ini semua demi kebaikan Nona" jawab Tio lemas, ia merasa tidak punya tenaga lagi entahlah mungkin karena terus memikirkan gadis di depannya itu membuatnya tidak bersemangat.


"Siapa sebenarnya kak Lia ini? kenapa Om itu membawa kakak di istana apakah kakak adalah seorang putri di sini?" bisik Leon dalam hati. Anak laki-laki itu menatap Aulia dan Mansion itu bergantian seakan tidak percaya apa yang di lihatnya.


"Apakah yang kakak katakan benar bahwa kakak adalah orang kaya" gumam Leon dalam hatinya. Ia masih berpikir keras tentang asal-usul Aulia, padahal sewaktu Aulia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Putri dari pengusaha terkaya ia malah tertawa terbahak-bahak dan tidak mempercayainya.


Tio tersungkur jatuh dan Aulia menghindar cepat.


BUGH


"Bedebah! kau mencelakai putriku hah! kenapa kau membiarkannya keluar tanpa pengawasan!!" teriak seorang pria. Dia adalah Tuan Farhan, pria itu baru tiba beberapa menit yang lalu.


Satu tendangan mengenai perut Tio membuat Tio terbatuk-batuk.


BUGH


"Uhuk, uhuk, uhuk. Maaf Tuan muda" jawab Tio meringis sakit.


"Brengsek! mati saja kau Tio!!" teriaknya lantang yang hendak kembali melayangkan tendangannya namun urung kala teriakan putrinya.


"Cukup Daddy! hentikan! Daddy menyakiti Uncle" Aulia berlari memeluk tubuh Tuan Farhan dari belakang. Sudah cukup melihat pria yang di panggilnya Uncle terus mendapatkan pukulan dari sang Daddy.


"Daddy selalu menyakiti Uncle! ini tidak ada kaitannya dengan Uncle, Lia salah Lia yang mau keluar dari Mansion Oppa Lia ingin hidup mandiri" jelas Aulia masih memeluk Tuan Farhan.


Karla berjalan cepat ke arah Tio membantunya untuk bangun. "Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Karla khawatir. Aulia hanya menatap tidak suka melihat kedekatan Karla dengan Tio membuatnya sangat kesal.


"Tidak apa-apa" jawab Tio pelan.


"Daddy tahu kau keluar karena Uncle Tio! jadi biarkan Daddy membunuhnya!" ujar Tuan Farhan sembari menatap nyalang wajah Tio.


"Lia lapar, lebih baik urus Lia dulu baru kemudian mengurus Uncle" jelas Aulia mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau Daddynya membunuh prianya.


"Apa? kamu lapar sayang! kenapa bisa? kamu belum makan ini semua karena pria itu... biar Daddy memberikan pelajaran padanya" Aulia makin merasa jengah dengan tingkah Daddynya. Beginilah punya seorang ayah yang sangat posesif walaupun itu adalah sesuatu yang baik tapi juga menyulitkannya.


"Daddy, apa kau ingin melihat putrimu mati kelaparan hmmm...?" lirih Aulia.


Dengan cepat Tuan Farhan membalikkan tubuhnya menatap sang putri kesayangannya.


"Siapkan makanan yang bergizi!" titah Tuan Farhan pada pemilik Mansion. Tuan Zeus melirik putranya untuk menyiapkan makanan sesegera mungkin.


"Baik Tuan"


Ayo masuk sayang" ajak Tuan Farhan menggandeng tangan Aulia. Di sana Leon menatap tak percaya pada Aulia dan Tuan Farhan.


"Apakah itu yang di maksud oleh kakak? pria tadi adalah ayahnya benar-benar keren" gumam Leon menatap kagum pada raja Hades.


"Ayo aku obati dulu lukamu" ajak Karla dan Tio hanya diam saja.


Mereka kemudian masuk ke dalam Mansion, dan Leon ikut mereka masuk.


Tuan Farhan dan Aulia duduk di sofa ruang keluarga, di sana sudah ada Tuan Zeus, Oskar sedangkan Karla dan Tio lebih memilih duduk di salah satu kursi sofa di dekat pintu masuk.


"Aku tidak bisa mentolerir masalah ini! kalian membuatku kecewa" ucap Tuan Farhan dengan nada datarnya. Menatap dingin Tuan Zeus dan Oskar bergantian.


"Ini semua salah Lia" batin Aulia sedih.


"Mereka tidak salah Daddy! Lia yang salah" ujar Aulia menggenggam jemari Tuan Farhan.


"Kau tidak salah sayang" sarkas Tuan Farhan membuat Tuan Zeus dan Oskar menelan ludahnya kasar.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung