The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 83 Penghuni Baru



Happy reading 🤗


Like dan Giftnya dong Kaka


.


.


.


.


.


.


.


.


Di belahan bumi barat dan di antara Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Sebuah benua diapit pula oleh Samudera Arktik dan Samudera Pasifik yakni benua Amerika serikat. Distric of Columbia atau biasa di sebut Washington DC menjadi negara yang di pijaki oleh putra-putri keluarga Mafia terbesar yakni keluarga Wijaya. Dua orang manusia yang awalnya saling tersenyum, melempar candaan, kehangatan kini mulai dibatasi tembok besar layaknya tembok Cina yang menghalangi jarak dan waktu keduanya.


Setelah peristiwa di Indonesia gadis bernama Alexa segera meluncur kembali ke Washington DC saat mendengar jika dirinya menjadi beban hidup seseorang yang kini masih bersemayam namanya di kalbunya. Sekalipun tidak mendengar langsung dari bibir pria itu namun rasa minder dan malu itu tiba-tiba muncul.


Mengetahui jika sang pria telah memiliki kekasih semakin membuat hatinya hampa, cemas, takut, bercampur menjadi satu yang kini menggerogoti pikiran gadis remaja itu. Entah sebenarnya apa penyakitnya itu yang kerapkali membuatnya tidak tenang dan bahkan hilang kewarasannya.


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit terbesar di kota Washington DC, kini gadis bernama Alexa di bawah pulang oleh Ronald karena ia belum bisa kembali ke Apartemen yang di tempati oleh pria yang jelas-jelas masih sangat rapi lukisan namanya di hatinya.


Sudah dua minggu ia tinggal di Apartemen besar nan mewah dan selama itupula prianya tidak pernah menjenguknya hal itu makin membuat hatinya merasa tak tenang berbagai cabang pikiran buruk tergambar jelas di otaknya dan itu membuat Alexa memeluk tubuhnya kuat menelungkupkan wajahnya di atas lututnya menjadi sandaran hati yang terluka.


Gadis itu kini berada di dalam kamarnya dan waktu telah menunjukkan pukul 12 malam namun matanya masih belum mengantuk.


"A-aku harus bagaimana abang sudah tidak peduli lagi, bahkan sudah dua minggu lamanya tak sekalipun dia datang... a-apa aku benar-benar tidak bisa bersama abang? a-aku tidak rela abang dimiliki oleh wanita lain." Gumam Alexa memeluk lututnya, tangannya terkepal erat hingga terlihat jelas buku-buku jarinya, tidak ada air mata yang mengalir namun rasa sakit di ulu hati perlahan-lahan terasa besar.


"Besok adalah hari minggu a-aku akan kesana, aku hanya ingin tahu bahwa abang baik-baik saja, dia tidak kenapa-kenapa kan? a-aku akan bilang pada abang kalau aku akan kembali" tuturnya lagi perlahan-lahan rasa berat pada matanya mulai terasa, gadis itu mengangkat kepalanya kemudian memiringkan kepala lalu kembali bersandar di atas lututnya dengan tangan memeluk kedua kakinya. Sedang di ruangan yang cukup luas dan mewah seseorang berdecak sebal lagi-lagi harus melihat gadisnya itu tersiksa.


Bahkan tidurpun harus menyiksa dirinya dengan tidak membaringkan tubuh di atas ranjang jelas-jelas kasur disetiap kamar Apartemennya begitu empuk dan dapat membuat tubuh menjadi rileks.


"Bodoh! kenapa harus memikirkan cowok itu!! jelas-jelas dia sudah tidak mengingatmu. Haaah membuatku gemas saja" pria yang sedang memegang ponselnya itu lalu beranjak dari duduknya menapaki lantai keluar dari kamarnya. Yah dia adalah Ronald pria yang menaruh hati pada Alexa, karena takut jika gadisnya berbuat sesuatu diluar kendali ia diam-diam memasang kamera kecil di setiap sudut kamar Alexa tak terkecuali kamar mandi.


Kini kaki jenjangnya melangkah naik ke anak tangga berjalan menuju lantai dua, pria itu memilih kamar di lantai satu agar tidak membuatnya lelah harus naik turun tangga padahal itu adalah salah satu bentuk kegiatan olahraga. Hingga tiba dirinya di depan pintu berwarna coklat mengulurkan tangannya memegang handel pintu memutarnya pelan hingga pintu yang tertutup kini terbuka perlahan-lahan.


Netranya menatap sesosok di atas kasur dengan posisi duduk memeluk lututnya kepalanya menggeleng pelan melihat tingkah gadis itu. "Tidak bisakah menyayangi diri sendiri! kenapa harus tersiksa hanya karena seorang pria... dasar bocah!" ketusnya dalam hati. Perlahan-lahan kaki jenjangnya melangkah naik ke atas ranjang lalu tangannya mengangkat pelan kepala Alexa menatap sekilas wajah teduh namun dengan dahi berkerut, mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya hingga dalam tidurpun harus berkerut.


Membuang napas kasar lalu menjatuhkan kepala Alexa di atas bantal kemudian beralih pada kaki Alexa menariknya pelan hingga tidurnya menjadi posisi telentang, di raihnya selimut tebal yang membungkus tubuh Alexa.


"Abang... aku rindu" gumam Alexa pelan dan Ronald mendengar jelas gumaman Alexa, mendadak hatinya terasa pilu gadis yang ia cintai memilki pria lain dihatinya walau begitu ia tidak akan marah karena bagaimanapun dirinya adalah orang baru di kehidupan Alexa tidak berhak untuk membatasi gadis itu untuk memilih.


"Selamat malam semoga mimpi indah sayang" ucap Ronald menjatuhkan bibirnya di kepala Alexa menciumnya lama seakan memberikan pesan bahwa ia tidak akan meninggalkannya bahkan selangkah saja.


Ronald kemudian beranjak dari kasur berjalan keluar dari kamar yang bernuansa hijau menutup pelan pintu kamar Alexa.


Malam semakin larut semiliar angin menerpa di keheningan malam, kelap-kelip bintang di atas awan menghiasi langit yang begitu teduh, jarum terus berputar berbunyi tak mengenal lelah setiap garis dan angka ia lewati hingga tak terasa mentari mulai kembali hadir.


Malu-malu namun pasti, pada akhirnya sinar terang mulai terlihat semakin nyata di ufuk timur, sinar yang kekuning-kuningan bahkan orange. Tak terasa malam sudah berganti pagi orang-orang mulai beraktifitas namun kali ini berbeda dengan hari lainnya. Jika biasanya mereka akan segera mandi dan berpakaian rapi maka tidak hari ini mereka terlihat santai karena hari ini adalah hari untuk tinggal di rumah.


Tidak jauh berbeda dengan yang lain di Apartemen milik Ronald Alexa sudah bangun dari tidurnya buru-buru ia ke kamar mandi untuk bebersih karena ia sudah sepakat akan ke Apartment Hamas pagi ini.


Dua puluh menit di dalam bilik kamar mandi kini Alexa sudah selesai ia menjatuhkan pilihannya pada celana cargo pria, sedikit longgar untuknya dan atasannya ia memakai tangktop di lapisi kemeja hitam tanpa di kancing hingga memperlihatkan lekukan tubuhnya yang ramping.


Tidak ada polesan bedak ataupun pemerah bibir karena ia tak memiliki alat-alat kecantikan namun walau begitu ia sangat terlihat cantik dan fresh. Kaki jenjangnya keluar dari kamar lalu menuju lantai satu, saat sampai di lantai dasar ia melihat Ronald keluar dengan pakaian santai dengan rambut acak-acakan masih dengan titik-titik air di rambutnya sepertinya pria itu baru selesai mandi.


"Ronald!." Seru Alexa, pria itu menatap dalam wajah wanita yang kini mendekat ke arahnya wajahnya yang semakin cantik saja membuat Ronald sulit melepas pandangannya dari gadis itu.


"Pagi ini aku mau ke Apartment Abang aku" ucap Alexa to the point membuat Ronald melebarkan matanya.


"Apa kau akan kembali ke sana?" melihat Alexa mengangguk membuat dirinya bersedih namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya.


"Ayo kalau begitu"


"Kamu membiarkanku begitu saja?" mata Alexa memicing ke arah Ronald dan pria itu malah terkekeh geli.


"Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi, ayo biar aku antar ke Apartemen Abang kamu" sebenarnya Ronald sudah berjanji akan mengantar Alexa ke Hamas namun ia tidak tahu jika gadis itu akan kembali pada abangnya mendadak hatinya merasa hampa sedang Alexa malah dibuat bingung... pasalnya Ronald adalah pria menyebalkan akan melakukan semua cara untuk menahannya di sini namun tidak untuk hari ini...


Ronald membuka pintu mobil BMW berwarna putih untuk Alexa, segera gadis itu masuk disusul Ronald setelahnya, pria itu mulai menyalakan mesin mobil dan melesat pergi dari parkiran Apartemennya.


Waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi, jalanan raya Washington tidak terlalu padat membuat Ronald mudah untuk segera tiba di kediaman Hamas, dan benar saja setengah jam berlalu kini mereka sudah sampai pada wilayah Apartment pribadi orang-orang kaya.


Tepat pada bangunan hijau berlantai dua Alexa dan Ronald turun, keduanya melangkah menuju pintu yang sedikit terbuka, dengan penuh keberanian gadis itu mulai mendorong daun pintu utama Apartemen Hamas.


"Tidak apa-apa jika aku kembali, aku akan membuat abang menyukaiku aku pasti bisa! apalagi abang terlihat peduli padaku" gumam Alexa mantap. Ronald melihat wajah semangat gadis di sampingnya membuatnya seketika bersedih tak rela harus melepaskan wanita pujaannya.


Dengan semangat empat lima Alexa menapaki lantai menuju ruang keluarga bertepatan dengan itu matanya membulat kala melihat seorang wanita tengah mendorong koper yang tak asing baginya koper berwarna abu-abu berukuran besar adalah miliknya. Dengan langkah seribu ia menghampirinya.


DEG


Seketika tubuhnya kaku didepannya adalah wanita yang pernah ia jumpai di jembatan George Washington dan kedua di Coffy Cafe, apakah sebahagia itu Hamas kala dirinya meninggalkan Apartment? belum genap sebulan sudah ada anggota baru membuat dirinya benar-benar murka.


"Jangan sentuh barang milikku!!" seru Alexa menatap tajam. Wanita bernama Shireen itu seketika melihat ke arah sumber suara, menarik sudut bibirnya kecil melihat targetnya datang.


"Ma-maaf" tuturnya merasa bersalah.


"Apa maksudmu dengan membawa batang-barangku keluar dari kamarku hahh!!" bentak Alexa tajam.


"Halo sweetie, jangan marah karena kali ini aku akan menggantikanmu" bisiknya di telinga Alexa membuat gadis itu naik pitam dan...


PLAK


"Aaakkh"...


"Alexa!!" teriak Hamas dan Azhar bersamaan. Mereka baru habis dari dapur entah apa yang mereka lakukan. Mendengar namanya di panggil keras membuat atensinya mengarah pada dua pria dengan wajah murkanya.


"Apa yang kamu lakukan Alexa?" tanya Hamas dengan wajah dinginnya. Sedangkan Shireen mulai berakting dengan suara sesenggukan.


"Dia sudah lancang menempati kamarku! dia juga dengan beraninya menyentuh barangku dan dia berniat mengusirku!!" jelas Alexa melipat kedua tangannya di dada.


"Jadi itu alasanmu menamparnya?!" Alexa mengangguk membuat Hamas seketika terkekeh kecil. Pria itu lalu memeluk tubuh gadisnya yang sudah sesenggukan dengan air mata yang menetes.


"I-ini semua salahku" lirih Shireen.


"Tidak! kamu tidak salah" jawab Hamas membuat Alexa terdiam sesaat.


"Aku yang meminta Shireen untuk mengeluarkan barang-barangmu karena sekarang dia akan menempati kamarmu... lagipula kamu sudah tinggal dengan teman priamu bukan" mendengar ungkapan dari Hamas membuat dirinya syok terkejut dengan mata melotot pada Hamas, memundurkan kakinya ke belakang.


"Tapi aku mau tinggal di sini jadi dia tidak perlu mengganti posisiku apalagi menempati kamarku!" seru Alexa lagi.


"Kali ini Shireen benar-benar membutuhkannya jadi aku harap kamu bisa mengerti dan mengalah" hati Alexa seketika hancur tangannya terkepal kuat napasnya mulai tak teratur tersengal-sengal.


"I-ini sangat sakit, sakit! tolong aku" teriak batin Alexa.


BUGH


Alexa terduduk jatuh ke lantai dengan tangan menopang dadanya membuat semua di sana panik.


"Alexaa!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung


Maaf baru bisa Up soalnya sibuk banget kak di dunia nyata. 🙏🙏🙏🤗