The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 163 Menghilang



Happy Reading guys 🤗🤗


.


.


.


.


.


.


.


Di sebuah ruangan di lantai lima, ruangan tersebut terlihat seperti bukan ruang rawat inap melainkan sebuah ruangan yang sangat luas, fasilitas di dalamnya cukup memadai. Sebuah dispenser listrik, dua buah ranjang berukuran besar, terdapat sebuah sofa dan meja kaca berukuran panjang, satu buah ac berukuran besar selain itu kamar mandi dalam dengan tingkat kebersihan yang sangat tinggi benar-benar membuat betah saja.


Pintu ruangan tersebut terdorong masuk ke dalam, terdengar bunyi derap langkah kaki seseorang, seorang pria tua menengok ke arah pintu, bibirnya seketika melengkung tersenyum tipis. Tangannya mengayun ke depan mengisyaratkan untuk datang kepadanya dengan senang hati pria yang baru masuk itu berjalan cepat dan merangkul pria tua itu ke dalam pelukannya.


"Fadel sangat merindukan kakek" rupanya pria itu adalah Fadel yang sedang menjenguk tuan Wijaya di rumah sakit. Fadel kemudian beralih menatap seorang wanita tua yang tengah berbaring lemah di atas ranjang, pipinya menjadi tirus dan cukup kurus membuatnya begitu iba.


"Kakek juga sangat merindukanmu cucuku" balas tuan Wijaya sambil menepuk-nepuk punggung kekar Fadel. Kedua pria itu saling melepas rindu, Fadel kemudian duduk di sebuah kursi kosong di samping pria tua yang di panggil kakek olehnya.


"Sebaiknya kakek istirahat dulu biarkan Fadel yang menjaga nenek, lihatlah mata panda kakek terlihat sangat jelas, bagaimana jika nenek melihatnya apakah kakek tidak malu?" celoteh Fadel membuat tuan Wijaya terkekeh jenaka. Ada begitu banyak gusi yang kosong jika di hitung ada lima belas jendela yang kosong, itu adalah hal biasa bagi manusia yang sudah berumur semakin tua maka semakin banyak gigi yang copot itu adalah sebuah fitrah dan hal biasa terjadi.


"Tidak. Kakek akan tetap di sini menunggu nenekmu bangun, kakek ingin di saat setiap dia membuka mata akulah pria pertama yang ada di pandangannya" sungguh terdengar sangat romantis bahkan Fadel tersentuh mendengarnya cinta tuan Wijaya kepada nyonya Mita tidak dapat di ukur bahkan di akulasi oleh kalkulator.


"Kalau begitu tidurlah di samping nenek, jangan membuat kakek menyiksa diri sendiri takutnya kakek ikutan sakit, kalau kakek sakit siapa yang akan merawat nenek? mungkin aku bisa merawat nenek tapi tidakkah kakek berpikir nenek pasti akan sangat sedih karena melihat kakek ikutan sakit" tutur Fadel membuat tuan Wijaya mendesah berat. Mau tidak mau pria tua itu naik ke atas ranjang dan berbaring di samping tubuh istrinya.


"Kakek tidur sebentar, bangunkan kakek jika kau merasa lelah" kata tuan Wijaya menatap wajah Fadel.


"Jasmani Fadel sangat bugar dan Fadel tidak mudah lelah jadi tidurlah dengan tenang dan nikmatilah, jangan sungkan Fadel adalah cucu kakek jadi tidak masalah jika Fadel menjaga kalian berdua" Fadel tahu bahwa pria tua itu sedang merasa sungkan padanya itulah sebabnya Fadel mengatakan hal seperti itu, rasanya tidak cukup baktinya hanya dengan berjaga beberapa menit nyatanya hidupnya mungkin sudah akan mati sejak awal jika tidak ada keluarga tuan Wijaya hingga dia bisa hidup berkecukupan dan bahagia.


Fadel menatap dua manusia tua di atas bangsal tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya ia membukanya lalu membacanya. Ia berdesis sambil menggeleng pelan, pesan itu dari Fadil yang ingin juga menjenguk sang nenek alhasil ia harus pergi dan berganti menjaga Ainsley.


Tanpa berpamitan Fadel berjalan keluar dari ruangan VIP itu, ia masuk ke dalam lift menuju lantai satu di mana ruangan Ainsley di rawat.


Fadel melihat saudara kembarnya sedang duduk di kursi tunggu tepat di luar ruangan UGD.


"Pergilah, ingat jangan sampai membangunkan kakek, kakek baru saja tidur" Fadel mengingatkan saudaranya itu sebab pria itu selalu heboh jika bertemu dengan manusia tua yang di jumpainya tadi.


"Kamu pikir aku anak kecil, aku tahu batasanku kok" Fadil berdecit dengan sudut bibir terangkat sebelah.


"Hmmmm, baguslah jika kamu sudah besar, sana pergi rawat mereka dengan baik" Fadil mengangguk dengan tangan terangkat lalu ibu jarinya dan telunjuk membentuk huruf O.


Kini Fadel yang menggantikan Fadil berjaga di luar ruang UGD. Tak lama kemudian pintu UGD terbuka seorang dokter wanita keluar dengan kerutan di dahinya, ekspresinya sedikit sulit di tebak walau begitu perasaan Fadel sudah tahu bahwa kabar yang akan di dengarnya pasti tidak baik.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai dokter pun terlihat sangat hati-hati?" bisik Fadel dalam batinnya.


"Ada sesuatu yang harus saya katakan, mari tuan muda ikuti saya ke ruangan saya" Fadel mengangguk dan mengikuti dokter tersebut walau rasanya ia sangat penasaran.


Kini tibalah mereka di sebuah ruangan bernuansa putih, dokter wanita itu duduk di kursi kebesarannya setelah mempersilahkan Fadel untuk duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengannya yang hanya di batasi oleh sebuah meja berukuran sedang.


"Apakah masalah ini begitu besar dokter? apakah wanita itu memiliki penyakit berat?" tanya Fadel dengan mimik wajah polos. Dokter tersebut mengangguk sesaat kemudian dokter terdiam dengan mata memandang ke arah tembok.


"Sebenarnya saya bukanlah dokter psikiater ... "


"Apakah wanita itu gila? oh astaga aku harus mengatakannya kepada bang Azhar, pasien rumah sakit mana dia, kenapa bisa berkeliaran di luar itu bisa membahayakan nyawa orang lain, untung saja dokter mengatakan lebih awal jika tidak mungkin dia bisa menjadi ancaman besar bagi kami, ya am-p... "


"Diam!" potong dokter tersebut, matanya menatap tajam ke arah Fadil membuat pria itu seketika terdiam dan memainkan jemari tangannya. Dokter menghela napas kasar ia tidak habis pikir kenapa anak tuan besarnya tidak bisa untuk mendengar penjelasan orang lain dengan baik sebelum berkomentar.


"Tuan muda saya belum menyelesaikan pembicaraan saya, dengarkanlah jangan dulu menyelanya!" tegasnya dan Fadel hanya mengangguk tanpa rasa bersalah.


"Baiklah, silahkan dokter melanjutkan, aku pikir dokter telah menyelesaikannya" dokter wanita itu hanya geleng-geleng kepalanya.


"Dari hasil pemeriksaan sepertinya ada sesuatu yang mempengaruhi mental pasien entah apa yang telah terjadi di masa lalunya yang jelas pasien harus di bawa ke dokter psikiater saya takut jika pasien terlambat di tangani mungkin penyakitnya akan membahayakan nyawanya sendiri bahkan orang lain karena sewaktu-waktu pasien tidak bisa mengontrol dirinya sendiri" penjelasan sang dokter membuat Fadel cukup terkejut tetapi pria itu dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya agar tampak biasa saja.


"Baik dokter, terima kasih banyak" Fadel segera keluar dari ruangan dokter, ia tampak berpikir sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan wanita yang di bawa oleh abangnya ke rumah sakit. Apakah benar wanita tersebut adalah Alexa atau bukan.


"Lebih baik aku memberitahu masalah ini pada bang Azhar, aku tidak terlalu mengerti" Fadel pun mengirim pesan pada Azhar. Ia kemudian berjalan ke ruangan Ainsley.


Fadel membuka pintu ruangan UGD, tiba-tiba ia terkejut melihatmu tidak ada Ainsley di ruangannya membuat Fadel khawatir setengah mati.


"Mampus!wanita itu hilang"


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung