The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 24 Hot Drama



Happy reading 🤗


Beri like dan Votenya dong Guys


.


.


.


.


.


.


.


Motor Kawasaki Ninja ZX-6R berwarna merah itu berhenti di halaman luas Mansion Tuan Zeus. Aulia segera turun dari atas motor di ikuti oleh Hara. Setelah mengunci motor Kawasaki itu mereka kemudian masuk ke dalam Mansion namun sebelum itu Aulia menghentikan langkah kaki Hara.


"Ada apa?" tanya Hara berbalik menatap gadis di depannya.


"Jangan lupa abang sekarang sudah menjadi pacar Lia. Eh ralat lebih tepatnya pacar pura-pura, pokoknya jangan pernah protes apa yang Lia lakukan hari ini" bisik Aulia di dekat Hara. Pria itu tersenyum tipis sembari mengangguk.


"Pacar benaran pun aku mau Lia, hah!. Kasihan sekali hanya di jadikan pacar bohongan" bisik Hara dalam hati.


"Iya Tuan putriku" jawab Hara dengan senyum tipis di bibirnya dan Aulia mengangguk pelan. Gadis itu menggenggam erat jemari Hara, hal tersebut makin membuat jantung pria itu berdegup kencang seakan baru menyelesaikan lari maraton. Benar-benar kegiatan olahraga jantung.


"Lia akan lihat seperti apa ekspresi wajah Uncle... semangat Lia" tuturnya dalam hati. Walaupun sudah sering di sakiti tapi tidak ada kata menyerah dalam kamusnya sebelum ijab kabul belum di kumandangkan berarti masih ada harapan untuk di raih.


"Jika Uncle tidak menunjukkan rasa cemburunya maka Lia akan benar-benar menyerah sekarang" batin Aulia lagi. Gadis itu merasa takut jika nanti harapannya kembali sirna dan ia pasti akan benar-benar terluka. Andai jika ia memilih maka ia lebih di cintai daripada mencintai. Betapa sakitnya mencintai seseorang yang tidak di balas, ia akan merasa bahagia hidup bersama orang yang benar-benar tulus mencintainya walaupun belum ada rasa apapun di hatinya, bukankah cinta bisa di bangun seiring kebersamaan mereka. Begitulah isi pikiran Putri raja Iblis.


Hara mengabsen setiap sudut bangunan Mansion tersebut. Tangannya masih di gandeng oleh Aulia pria itu mengikuti setiap langkah kaki gadis di sampingnya.


"Wow, bangunan dengan arsitektur Eropa ini tidak pernah mengecewakan" gumam Hara menatap kagum Mansion yang di pijakinya. Hingga langkah Aulia berhenti di ruangan yang cukup luas, Hara ikut berhenti netranya menatap orang-orang yang tengah berbincang di ruang tersebut.


Ada Tuan Zeus, Tuan Farhan, Tio, Oskar dan tentunya dua wanita dewasa ikut duduk di sana. Atensi yang ada di sana seketika menatap ke arah dua manusia yang baru datang.


Aulia menyunggingkan senyum lebar di bibirnya begitupula Hara tersenyum kikuk mendapati tatapan mengerikan dari raja Hades.


"Maaf, Lia mengundang pacar Lia kesini... tidak apa-apa kan Oppa, Daddy?" tanya Lia menarik tangan Hara untuk ikut gabung bersama mereka.


Aulia menjatuhkan pantatnya di sofa panjang di samping sang Daddy. Di ikuti oleh Hara.


Pria itu menelan ludahnya kasar mendapatkan tatapan horor dari orang-orang di sana. "Halo semuanya" sapa Hara kikuk. Mereka menjawab dengan senyuman tipis nyaris tak terlihat.


"Ya Allah aku seperti di rumah hantu, sangat menyeramkan!." Merasa gugup.


"Sayang, kenalin pria di sebelahku adalah Daddy Lia, di sana adalah Oppa Lia" menunjuk ke arah Tuan Farhan dan Tuan Zeus. "Dua wanita itu adalah aunty Karla dan aunty Larissa. Hmmm... Dan dua pria itu adalah Uncle Oskar dan Uncle Tio" sambungnya lagi. Hara menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis ke arah mereka yang di sebutkan oleh Lia tadi.


"Di-dia kekasih Lia?" gumam Oskar sedikit cemburu menatap tajam ke arah Hara.


"Sayang, bukankah laki-laki ini orang Indonesia teman kamu kan?." Tanya Tuan Farhan menaikkan sebelah alisnya menatap lama wajah Hara. Sedang Hara mengangguk mengiyakan.


"Benar Dad, Hara orang Indonesia dan Lia memintanya untuk datang kemari... sudah lama Lia tidak melihatnya Lia merindukannya, hmmm... tidak apa-apa kan Dad?" jelas Aulia menatap wajah Daddynya. Genggaman tangan keduanya masih menyatu , sepertinya Aulia sangat serius memerankan pacar pura-puranya itu.


"Tidak masalah, yang terpenting dia bisa menjagamu Daddy akan merestui kalian, oh bagaimana jika Lia menikah muda itu akan sangat baik bukan?" jawab Tuan Farhan dengan bibir mengembang. Menatap wajah putrinya juga Hara.


"Apa!!".


"Daddy serius?" pekik Aulia pura-pura antusias. Hampir saja ia keceplosan bahwa ini hanyalah drama namun secepat kilat gadis itu kembali menguasai situasi.


"Bagaimana jika pernikahan cucuku di adakan langsung dengan pernikahan Karla dan Tio?" timpal Tuan Zeus serius. Hara semakin tegang kala Tuan Farhan dan Tuan Zeus membahas pernikahannya dengan Aulia padahal hubungan mereka hanya sebuah sandiwara, ia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya namun melihat reaksi Aulia yang tampak biasa-biasa saja akhirnya urung.


"Astaga kenapa jadi begini?" keluh Hara dalam hati.


"Tidak buruk, besok aku akan pulang untuk membahas pernikahan putriku, acaranya akan di adakan di Indonesia... nama kamu siapa?" tanya Tuan Farhan melirik ke arah Hara. Laki-laki itu terkesiap.


"Eh, Hara Om" jawabnya kaku.


"Karena kamu adalah calon menantuku sekarang kamu panggil aku Daddy sama seperti putriku memanggilku" ujar Tuan Farhan tersenyum tipis sedang Hara mengangguk malu.


"I-iya Daddy"


"Bagus" raja Hades tersenyum lebar.


"Maaf aku menyela, tapi Aulia masih sangat mudah tidakkah masa depannya masih panjang" Oskar yang tidak tahan lagi akhirnya buka suara. Ia tidak terima jika gadis di depannya menikah dengan pria lain. Hatinya sedikit teriris.


"Uncle Tio tidak marah sedikitpun... apakah benar Uncle Tio tidak mencintai Lia?" gumam Aulia mendesah dalam hati. Merasa lelah dengan drama yang ia buat.


"Lia akan tetap menikah dengan Hara" Aulia menjawab dengan tegas dengan pandangan tertuju pada pria di sebelah Karla. Memastikan sekali lagi jika ada perubahan dari raut wajah Tio namun tetap nihil. Dan pria itu menatap dingin wajah Aulia.


"Aku setuju dengan Karla, tidak ada salahnya menikah muda. Jika Nona Aulia menginginkan pernikahan itu sekarang bukankah harus di penuhi" setelah sekian lama berdiam laki-laki itu membuka suara. Yang mana sungguh membuat hati seorang gadis benar-benar tertohok. Bukan itu jawaban yang ia inginkan.


Tangan Aulia meremas mengepalkan tangannya. Hara menyentuh pundak Aulia mengelusnya sayang. Pria itu tahu jika gadis di sampingnya sedang terluka.


"Baiklah karena ini adalah pilihan putriku, jadi pernikahan akan di lakukan di kediamanku begitupula dengan pernikahan Tio dan Karla" final Tuan Farhan.


"Terima kasih Daddy" jawab Aulia menguatkan hatinya, menahan tangis yang akan segera tumpah.


"Apapun untuk Putri Daddy" balas Tuan Farhan tersenyum tipis.


"Daddy sebenarnya Lia sudah pindah, Uncle Jo membelikan aku rumah minimalis, hmmm.. bolehkah malam ini Lia dan Hara tinggal di sana, Lia ingin belajar menjadi istri yang baik" tutur Aulia menggaruk pelan pelipisnya.


Semua di sana terkejut dengan mata membulat sempurna terutama melihat ke arah Aulia dan Hara bergantian.


"Tidak Lia, kalian berdua belum menikah tidak baik tinggal di satu atap dengan ikatan belum halal apalagi hanya kalian berdua saja di sana" protes Tuan Zeus tidak setuju.


"Iya Lia, Uncle takut laki-laki itu akan melakukan sesuatu kepadamu" sahut Oskar mengompori


"Benar apa yang di katakan Uncle Oskar sayang" ucap Larissa.


"Daddy" Aulia menatap sang Daddy memohon untuk menyetujuinya.


"Baiklah, Daddy percaya dengan menantuku dia akan mejaga putriku" jawab Tuan Farhan dan Aulia langsung memeluknya erat.


"Thank you Daddy i love you so much" raja Iblis hanya terkekeh kecil. Sedangkan Hara makin tidak mengerti dengan jalan pikiran Aulia.


"Apa yang sebenarnya dia rencanakan?" lirih batin Hara.


"Maaf, sepertinya aku ada urusan di luar... aku pergi dulu" Tio langsung beranjak dan pergi dari sana. Karla ikut berlari mengejar Tio.


"Sayang tunggu aku" seru Karla. Dan Tio menghentikan langkahnya tersenyum manis pada Karla, namun ekor matanya menatap ke arah Aulia serius entah apa maksud dari tatapannya itu.


Aulia menatap sekilas tubuh Tio dan segera memalingkan pandangannya ada rasa sesak di dadanya.


"Dad, kalau begitu Lia pergi sekarang yah. Dan ini ponsel Daddy" Aulia memberikan ponsel Daddynya. Gadis itu lantas berdiri tangannya masih bertaut dengan jemari Hara.


"Oppa, Uncle, aunty. Lia pergi dulu yah...dan motornya Lia boleh pinjam lagi gak?" Aulia lupa jika ia belum membeli kendaraan, dia baru ingat jika barang-barangnya di rampok kemarin.


"Tentu saja sayang".


"Lia, kamu belum beli mobil?" tanya Tuan Farhan menaikkan sebelah alisnya. Pria itu belum tahu jika anaknya kemarin habis di rampok.


"Hahahah, Daddy kemarin Lia di rampok jadi barang-barang Lia sudah tidak ada" jawab Aulia terkekeh jenaka.


"Astaga! kenapa tidak bilang pada Daddy... kau lupa jika Daddymu adalah pria terkaya sedunia. Hmmmmm... ini ada tiga kartu kamu bisa memakainya sesuka hati" semua mata membulat sempurna kala melihat Black Card yang di berikan oleh Tuan Farhan, seperti memberikan sebuah kartu mainan saja. Kartu tanpa limit itu seperti mainan bagi seorang raja Iblis.


"Tuan Hades benar-benar kaya" batin semua di sana.


Sedangkan Aulia hanya menutup wajahnya malu, Daddynya selalu narsis.


"Astaga, Daddy bisakah untuk tidak pamer" keluh Aulia dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung