
Happy reading 🤗
Like dan vote yah 😘😘😘
.
.
.
.
.
.
GREEEP
Azhar mengangkat tubuh Daffin mencium seluruh wajah Daffin membuat anak laki-laki itu berteriak histeris.
"Aaakkkkkk, kak Azhar!!! geli tahu Daffin sudah tidak kuat lagi!" Azhar makin mencium seluruh wajah sang adik karena sangat gemas dengan pemikiran cecungut satu ini.
"Selesai!" tutur Azhar tersenyum puas sedangkan tampilan Daffin sudah sangat acak-acakan, kacamata yang tadinya bertengger di hidungnya kini terlempar entah kemana, kulit wajahnya yang sudah merah membuatnya ingin sekali menangis.
"Huaaaa Daddy! Mommy!"teriaknya kencang membuat Azhar dan Dafa menutup telinganya spontan.
"Berisik Daffin!" ketus Dafa jengah.
"Sudah jangan menangis lagi kakak akan belikan yang kamu inginkan" Daffin seketika terdiam merapikan kembali tampilannya yang acak-acakan, melempar senyum hangat pada kakak keduanya membuat Azhar mengerling matanya.
"Kak Azhar huaaa, Dafa juga mau dong di beliin oleh kakak" Dafa menampilkan wajah memelas berharap agar kakak gondrongnya memberikannya untuknya juga. Azhar hanya bisa mengangguk pelan membuat Dafa langsung mengangkat kepalan tangannya sejajar dengan dagunya lalu mengatakan "Yeeaah"!.
"Haah! sabar, resiko jalan dengan adik matre membuat dompet menipis seketika" bisik Azhar dalam hati. Hingga terdengar klakson dari motor putih Lamborghini Aventador dengan harga 7,8 milyar rupiah yang tengah di kendarai oleh Tio. Sedangkan Hamas menggunakan mobil tak kalah mewah mobil Bentley Continental berwarna biru laut pekat senilai 7 milyar rupiah, dan Azhar lebih suka mengendarai mobil Mercedes Benz AMG G65 yang di beli dengan harga 4,4 milyar rupiah.
Setelah Hamas dan Tio membunyikan klakson, Azhar mulai menyalakan mesin mobilnya dan ikut melesat meninggalkan basemant Mansion Utama. Ketiga mobil mewah itu lalu keluar dari halaman luas Mansion Utama yang berjarak lima puluh kilometer menuju gerbang luar.
Melewati beberapa pohon rindang di sisi jalan lalu masuk tikungan menuju jalan raya bergabung dengan kendaraan-kendaraan yang tak kalah mewah lagi. Hingga tiba, tiga buah mobil mewah itu berhenti di basemant Mall bangunan besar dengan tulisan besar berada di tengah-tengah dinding bangunan tersebut "Mall City".
Anak-anak Mafia itupun keluar dari mobil, orang-orang yang hendak berjalan menuju keluar dari basemant melihat ke arah mereka yang baru keluar dari mobil, yang sungguh membuat mata mereka sakit. Bagaimana tidak wajah dan gaya mereka sangat keren belum lagi barang-barang sultan melekat di tubuh mereka, apalagi mobil keluaran terbaru sangat mengagumkan membuat jiwa miskin orang-orang di sana berteriak histeris dalam hati.
"Wow, mobil yang sangat mewah! itu juga termasuk mobil yang lagi trend di Korea terutama untuk anak-anak K-Pop"
"Lihatlah pria berbaju putih itu sangat tampan, roti sobeknya sangat terlihat jelas dari bajunya yang ketat... seksi sekali"
"Pria menarik... akan ku taklukan mereka"
Begitulah bisik-bisik orang-orang yang ada di depan Mall, namun tak membuat cucu-cucu raja Iblis melirik ke arah mereka... itu tidaklah penting kalaupun mereka memandang sampai bola mata jatuh itu bukanlah salahnya, salahkan mata mereka yang tidak di kondisikan.
"Ck! dasar wanita-wanita ganjen!" sungut Aulia dalam hati. Ia merapatkan tubuhnya dengan tubuh Tio memeluk erat lengan prianya, tak akan mungkin ia biarkan orang lain mempunyai kesempatan hanya untuk berniat saja.
"Heh! beraninya mereka memandangi abang Hamas seperti itu! mau ku cungkil mata mereka hah!." Kali ini Alexa bersuara namun hanya mampu dalam hati. Ia tidak mungkin berbicara kotor terang-terangan atau pasti dirinya akan mendapat ultimatum dari abangnya.
Mereka kemudian masuk ke dalam Mall City banyak pasang mata mengarah ke arah mereka tampilan dengan gaya modis juga merek barang yang fantastis membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Uncle, mereka terus melihat ke arah Uncle. Lia tidak suka kenapa juga Uncle tidak pakai masker agar wanita-wanita ganjen itu tidak melirik ke arah sini!" bisik Aulia cemberut membuat Tio tersenyum tipis.
"Yang penting hati Uncle hanya tertuju padamu, mereka hanya bisa melihat tampilan luar tapi tidak bisa memiliki tubuh dan hati ini" jawab Tio membuat pipi Aulia bersemu merah, menyembunyikan wajahnya di lengan sang suami. Tio mengelus kepala Aulia mencium kening sang istri.
"Oh sosweet sekali pria itu, aku mau dong punya pacar kayak dia"
"Aku akan mendekatinya ku rasa pesonaku bisa menaklukannya, semua pria itu sama mana mungkin dia tidak bisa ku dapatkan jika aku melempar tubuhku padanya"
"Aku punya caraku sendiri akan ku buktikan bahwa aku bisa mendapatkannya" ucapnya penuh percaya diri. Wanita dengan tampilan dress ketat sampai paha serta heels dengan tinggi sejengkal berjalan ke arah Tio dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya.
"Kita akan pergi kemana dulu? Kalian mau beli apa?" tanya Hamas melirik ke dua wanita juga dua kurcaci yang suka memalak.
"Kita ke tokoh pakaian pria, Lia ingin membeli baju untuk Uncle Tio" jawab Aulia.
"Aku juga mau ke tokoh pakaian pria" jawab Alexa dengan senyum mengembang mengarah ke arah Hamas namun pria itu tak melihatnya.
"Baiklah, ayo kalau gitu" mereka yang hendak naik eskalator di kejutkan oleh seorang wanita cantik dan seksi yang terjatuh di tubuh Tio, refleks Tio memegang bahunya namun wanita itu malah memeluknya erat. Wanita itu terjatuh dari samping kiri Tio sedang Aulia berada di sebelah kanannya.
"Aww, kakiku terkilir" pekiknya di dalam pelukan Tio membuat Aulia kesal menarik tubuh wanita itu dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas lantai.
"Aww! kamu gila yah! sakit tahu!." Sungutnya menatap tajam pada Aulia, meringis sakit saat kakinya benar-benar terkilir juga pantatnya yang menghantam lantai sangat menyakitkan.
Orang-orang yang ada di lantai satu juga lantai dua seketika melihat ke arah mereka terutama pada wanita yang terjatuh di lantai.
"Jangan coba-coba bermain trik murahan! Lia tahu kau sengaja menjatuhkan tubuhmu ke arah priaku! kau sudah bosan hidup yah!" Aulia berjongkok sembari mengapit dua pipi wanita itu mencengkramnya kuat hingga bibir wanita dengan baju merah itu menjadi monyong.
"Lepaskan! sakit tahu! dasar wanita gila!. Aku bukan orang bodoh yang mau menjatuhkan diri ke dalam jurang... memalukan, lantainya licin jadi aku kehilangan keseimbangan! jangan asal menghakimi orang dong!" jawabnya dengan mata melotot tajam. Hamas dan lainnya tidak jadi naik tangga eskalator, mereka berdiri di samping Tio melihat perdebatan sang adik dengan wanita asing.
Hamas, Azhar, Alexa serta dua D hanya memasang wajah datar melipat dua tangan di atas dada.
"Sayang, sudah. Dia sepertinya berkata benar dia tidak sengaja jatuh. Lagipula mana ada orang yang mau berbuat segila itu yang mau menjatuhkan dirinya di hadapan orang banyak" tutur Tio menarik tubuh Aulia namun langsung di tepis oleh Aulia.
Gadis itu menatap tajam ke arah Tio karena berani membelah wanita centil ini. Aulia kemudian beralih menatap wanita yang berpura-pura jatuh itu menatapnya dingin dengan seringai setan. "Trik murahan yang kamu lakukan tidak akan berlaku pada Lia... Lia punya banyak trik yang tidak pernah gagal, apa kamu mau hmmm...?" bisik Aulia sedikit menoyor kepala sang wanita lalu beranjak dari jongkoknya merapikan bajunya dan menarik tangan suaminya.
"Ayo pergi!" ucapnya dan langsung pergi meninggalkan wanita yang tengah menahan amarah. Wajahnya berubah menjadi merah padam kilatan amarah tertuju ke arah Aulia mengepal tangannya erat.
"Brengsek! akan ku hancurkan kesombonganmu itu... lihat saja kamu pasti akan menyesal karena sudah berani bermain-main denganku. Tidak ada yang bisa mengalahkanku dalam kelicikan, heh!" bisiknya dalam hati.
"Sudah ku bilang jangan berbuat hal gila lagi jadi gini kan akibatnya" seseorang berujar dari belakang membantu temannya untuk berdiri sedang yang jatuh tadi hanya mendengus kesal.
Anak-anak Mafia itu sudah sampai di lantai dua, Aulia masih begitu kesal dengan wanita tadi, berjalan cepat menuju toko pakaian pria.
"Seram juga istriku kalau marah yah" gumam batin Tio merinding melihat wajah dingin sang istri.
"Uncle Tio, sepertinya kak Lia marah besar... Uncle harus mengganti baju itu supaya kak Lia tidak marah lagi soalnya kak Lia tidak suka jika pakaian Uncle ada cap wanita lain" bisik Dafa pada Tio. Karena sekarang Tio berjalan bersama dua D dan lainnya sedang Aulia sudah masuk ke dalam toko.
"Iya Uncle. Atau kalau tidak Uncle tidak akan mendapat jatah heheh" celetuk Azhar dan Hamas. Membuat Tio hanya tersenyum namun menyakitkan membayangkan dirinya tidak mendapat jatah itu membuatnya sangat tersiksa, bertahun-tahun berpuasa masa iya sudah menikah harus berpuasa lagi. Lelucon buruk!.
"Tidak akan ku biarkan jatahku terpotong" monolog batin Tio
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung