The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 41 Membuat Peraturan



Happy reading 🤗


Like dan Votenya kaka 🤗❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Pagi menyapa bumi Washington, di sebuah apartemen sederhana tampak seorang gadis masih tertidur pulas namun berantakan. Kaki jenjangnya berada di atas tubuh seorang pria tepatnya di bagian leher sedang kepalanya berada di atas paha pria bernama Hamas.


Sedikit menggeliat pria tersebut, merasa kebas di bagian paha dan kepalanya. Pelan-pelan membuka mata dan hal yang pertama kali ia lihat adalah sebuah kaki mulus, putih sedikit berisi.


Lalu netranya beralih ke bagian bawah. Dan betapa terkejutnya ia melihat seorang gadis dengan tidak sopannya tidur dengan gaya sembarang. Air liurnya menetes di pahanya membuatnya benar-benar merasa terintimidasi.


"Gadis gila ini membuat moodku benar-benar jelek. Padahal masih pagi kenapa selalu membuat darahku naik drastis!" gumam batin Hamas. Menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan. Tangannya terangkat memindahkan kaki Alexa ke mendaratkannya pelan di atas kasur setelah di rasa sudah. Perlahan-lahan dirinya bangun duduk sesaat. Memindahkan kepala Alexa ke atas kasur lagi.


"Sudah pagi, saatnya membangunkan si biang kerok" tutur Hamas pelan. Memencet hidung Alexa membuat gadis itu gelagapan dan membuka matanya seketika.


"Haah, hah, hah. Aku pikir aku berada di dalam air, tidak bisa bernapas." Ujar Alexa yang seketika itu terduduk bangun melihat siapa di sampingnya yang menjadi pelaku dirinya tenggelam.


"Abang! tidak bisakah membangunkanku secara baik-baik! selalu saja main kasar benar-benar tidak punya hati" ketus Alexa menatap tajam pada Hamas, ia kemudian berjalan keluar dari kamar putra raja Hades. Sedangkan Hamas hanya menaikkan alisnya acuh.


"Heh! seharusnya aku yang marah... sudah mengganggu tidurku semalam dan gaya tidurmu seperti... entahlah sangat sulit di jelaskan." balas Hamas. Ia kemudian turun dari ranjangnya menuju ke kamar mandi.


Sedang di ruangan yang cukup besar banyak terdapat peralatan rumah tangga tersimpan di sana, seorang pria dengan pakaian rapinya sedang berdiri di depan kompor memasak sesuatu untuk di makan. Beberapa potongan dada ayam sedang di rebusnya, kemudian mengambil dua buah telur dan di kocok. Setelah itu, telur yang sudah di kocok di tuangkan di dalam wajan dan menggorengnya.


"Haah, betapa rajinnya aku membuat kalian sarapan. Merepotkan!" ketus pria itu. Sambil mengambil tiga lembar roti tawar menaruhnya di atas piring ukuran lebar. Mengambil tiga daun selada, beberapa potongan tomat juga mentimun meletakannya di atas roti tawar.


"Betapa beruntungnya wanita yang menjadi istriku karena bisa memakan masakanku yang enak ini" celetuknya lagi. Setelah mendinginkan dada ayam dan telur mata sapi.


Ia kemudian mengambil beberapa lembar roti tawar mengiris daging ayam dan telur menjadi beberapa bagian dan menaruhnya di atas roti tawar yang sudah ada sayur juga tomat dan mentimun. Menambahkan saus tomat secukupnya dan keju di bagian terakhir kemudian menutupnya dengan selembar roti tawar lagi.


Dan terakhir ia membaginya menjadi dua bagian berbentuk segitiga. Kemudian membawanya ke meja makan.


"Benar-benar koki yang hebat, betapa murahnya hatiku sampai membuat masakan setiap hari... heh beruntung sekali kalian" ocehnya tanpa henti. Entah apa maksud dari perkataannya apa mungkin pria itu sedang menyindir orang lain, agar bisa lebih sadar diri.


"Waah! abang Azhar memang the best!" seseorang datang dari arah lantai dua berjalan cepat menuju meja makan. Wajah bahagianya membuat Azhar terkekeh kecil.


"Wah, karena abang sudah membuat roti pasti capek kan... biar aku membuat minumannya, abang tunggu di sini" jelas Alexa tersenyum lebar.


"Eh! tidak usah biar abang saja yang buat kamu duduk saja di sini" tolak Azhar cepat. Alexa terkekeh kecil.


"Apakah sejelas itu raut wajah malasku? heh tidak mungkin kan mereka memakan hati dengan omonganku di dapur tadi?" gumam Azhar pelan. Mengedikan bahunya acuh. Tak lama Hamas datang dengan pakaian casualnya. Mendudukkan bokongnya di atas kursi langsung menyantap sandwich yang ada di dalam piring.


"Kau seharusnya masuk jurusan tata boga sangat cocok dengan keahlianmu. Masakanmu tidak pernah mengecewakan" tuturnya sembari mengunyah sandwich melahapnya rakus. Kemudian mengambil satu buah lagi namun langsung di tepis oleh Azhar.


"Tunggu yang lain, jangan rakus!" ketus Azhar bersedekap dada menatap malas wajah Hamas.


"Heheh, baiklah" jawabnya pasrah. Tak lama Alexa datang membawa nampan berisi tiga gelas susu putih dan coklat. Kemudian meletakkannya di atas meja. Gadis itu ikut menjatuhkan bokongnya di atas kursi samping Hamas.


"Terima kasih Alexa" tutur Azhar dan Hamas bersamaan. Alexa hanya mengangguk pelan. Kemudian meletakkan segelas susu putih di depan Hamas dan Azhar sedang dirinya mengambil susu coklat karena ia menyukai rasa coklat.


"Besok adalah tugas abang Hamas yang memasak, besok pagi aku sudah melihat makanan di atas meja sudah tertata rapi" jelas Alexa sembari menggigit sandwich di tangannya, menatap datar kedua pria di depan dan sampingnya. Azhar dan Hamas terkejut menatap tak percaya pada Alexa.


"Kenapa aku yang harus masak? seharusnya itu tugas kamu, kamu kan cewek jadi sudah seharusnya kegiatan memasak itu menjadi tugasmu gadis nakal!" jawab Hamas tidak terima. Alexa menaikkan sebelah alisnya tinggi menatap dingin pria di sampingnya.


"Begini saja biar adil, kita bagi tugas. Karena hari ini aku sudah membuat sarapan maka besok adalah tugas abang Hamas dan hari berikutnya adalah tugas kamu" timpal Azhar menjelaskan. Hamas dan Alexa nampak berpikir mereka mengangguk pelan tanda mengerti.


"Ide bagus!" sahut Hamas dan Alexa.


"Berarti kita sepakat yah bahwa semua harus memasak sesuai jadwal yang sudah di sepakati dan tidak ada yang protes. dan ingat masakan harus enak tidak ada kekurangan sedikitpun" tutur Azhar lagi bersemangat.


"Oke siapa takut" jawab Alexa dan Hamas kompak.


"Bang, ayo aku sudah telat lho ke sekolahnya" seru Alexa beranjak dari duduknya mengambil tas ransel berukuran sedang lalu menyampirkannya di punggungnya.


"Yah baiklah tunggu di depan saja" jawab Hamas tanpa menatap lawan bicaranya, ia menghabiskan susunya lalu mengambil satu buah sandwich lagi melahapnya hingga kandas. Sepertinya pria itu sangat kelaparan sampai menghabiskan tiga potongan roti.


Azhar hanya terkekeh kecil menatap geli kelakuan abangnya yang kadang-kadang lucu di matanya.


" Alexa begitu menyukai Abang Hamas, semoga cinta mereka tidak kandas seperti adik Lia, hah! mengingat pria itu membuatku naik pitam saja" sungut Azhar mengepal tangannya kuat. Ia merasa geram setiap kali air mata adiknya jatuh itu pasti karena Tio hal itu membuat kesan buruk tercipta antara dirinya dan Tio. Padahal tidak tahu saja jika adiknya sudah berpacaran dengan Tio, pria dewasa yang sangat jauh umurnya dengan adik perempuannya.


Hamas dan Alexa sudah berada di mobil bersiap-siap untuk menuju ke sekolah tempat Alexa menuntut ilmu. Sedang Azhar membawa piring kotor mencucinya lalu mengambil kunci mobil untuk ke kampus.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung