The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 53 Tiba-tiba Berhenti



Happy reading 🤗


Like dan Votenya dong ❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Sudah beberapa hari berlalu namun masih belum ada perkembangan sama sekali, sudah satu minggu lamanya pria di ruang ICU itu tertidur dan masih belum bangun juga. Seperti ada sebuah tali yang mengikat jiwanya di alam bawah sadar hingga membuatnya begitu sulit hanya sekedar merespon.


Namun berbeda dengan wanita yang di tolong oleh Tio malam itu, dia sudah sadarkan diri dari tiga hari yang lalu kini dia sudah di pindahkan di ruang VIP untuk sementara dirinya masih dalam kondisi penyembuhan.


Richo dan Karla duduk di kursi tunggu dekat ruang ICU, keduanya nampak lesu. Beberapa kali pandangan Richo tertuju pada Karla. Mendesah berat kala melihat wanita itu terus murung. Wajahnya di tekuk tanpa ekspresi bagai mayat hidup seperti mati enggan hidup tak mau, benar-benar kasihan.


Richo kemudian beranjak dari duduknya berdiri di hadapan Karla mengulurkan tangannya ke depan. "Ayo kita keluar, kita juga butuh udara segar untuk kesehatan kita." Tuturnya menatap Karla namun objek di depan tak menggubrisnya. Ia lebih menyukai melihat lantai putih itu ketimbang melihat wajah pria di depannya yang jauh lebih tampan daripada lantai.


"Pergilah! aku ingin sendiri!" usir Karla pelan. Richo mendesah berat lalu menarik paksa tangan Karla.


"Hey! lepaskan aku! aku tidak mau keluar aku mau menjaga Tio tahu!!" sungutnya memberontak namun cekalan tangan Richo membuatnya tidak bisa melepas diri. Richo semakin menarik paksa Karla jika tidak bisa di ajak baik-baik maka satu-satunya jalan yaitu dengan paksaan. Itu adalah ilmu yang di dapat dari dunia Mafia.


Padahal teori seperti itu di peruntukkan hanya pada musuh bukan kepada wanita yang merasa terpukul dan sedih... dasar pria jomblo! tidak bisakah menempati teori secara benar?. Memalukan sekali!.


Hingga tiba keduanya di rooftop atap rumah sakit, perlahan-lahan cekalan tangan Richo melonggar berjalan menuju depan yaitu tembok pembatas rooftop.


Merentangkan tangannya ke udara menghirup banyak-banyak angin sepoi-sepoi di pagi hari. Karla melirik ke arah Richo lalu kembali menatap bangunan di bawah sana.


"Lakukan seperti yang aku buat, itu akan membuat hatimu nyaman... percayalah kau akan lega saat melakukannya." Seru Richo tanpa melihat Karla. Matanya terpejam merasakan angin yang masuk ke pori-pori kulitnya, sangat nyaman. Tanpa membantah wanita berambut light brown itu mengikuti instruksi Richo merentangkan tangannya ke udara persis seperti anak Black Wolf itu lakukan.


"Benar, sangat nyaman... untuk sesaat aku dapat melupakan kegundahan hatiku" bisiknya dalam hati. Menarik sudut bibirnya tersenyum simpul. Richo melihat senyuman di bibir Karla ikut bahagia. Seketika menyentuh dadanya yang bergetar.


"Tidak mungkinkan aku... akan ku pastikan lagi" lirih Richo pelan menatap wajah manis Karla.


Sedang di lantai tiga tepatnya di ruang ICU, terdengar alarm darurat itu berarti ada tanda bahaya yang di alami pasien, dokter yang bertugas menangani pasien di ruangan tersebut segera berlari begitupun dengan beberapa suster lainnya. Dokter Katrina melihat monitor EKG yang berada di samping kiri pasien terkejut bukan main. Pasalnya jantung pasien berjalan lambat bahkan sangat lambat dari normalnya.


"Jantungnya melemah! siapkan Defibrillator sekarang juga!!" teriak dokter Katrina. Para suster segera menyiapkan alat yang di sebut oleh dokter Katrina yaitu sebuah alat kejut jantung yang berbentuk seperti setrika.


"Ini dok" wanita muda itu segera mengambil alat pacu jantung, salah seorang suster membuka kancing baju atas Pasien agar bisa melakukan kejutan listrik dengan skala tertentu.


Dengan napas memburu dokter Katrina menggosok dua buah benda berbentuk setrika lalu menekannya pada dada pasien, namun masih belum ada perubahan, bahkan semakin melemah. Jantung yang tidak bekerja secara normal akan berakibat fatal apalagi terhadap kondisi seseorang yang sudah kritis bisa memicu kematian mendadak. Akibat tidak mengalirnya oksigen ke otak.


"Kamu harus kuat! kamu tidak boleh down seperti ini, pikirkan orang-orang yang mencintaimu!!" ucap wanita muda tersebut.


"Jantung pasien berhenti dokter!" seru suster membuat dokter Katrina berusaha dengan sekuat tenaga, sebagai seorang dokter tentunya mengharapakan kesembuhan pada pasiennya, pasien yang pernah di nyatakan meninggal kini tiba-tiba mengalami bradirkadia dan sekarang jantung berhenti.


"Naikkan volumenya menjadi 360 joule!" ujar sang dokter dengan suara yang tercetak, berharap kejutan listrik terakhir ini bisa membuat jantung pasien kembali berdetak normal.


"Sudah dokter" jawabnya. Dokter menarik napas panjang, lalu menggosok dua benda di tangannya dan menekannya di dada pasien, membuat tubuh atas pasien terangkat. Masih belum menyerah dokter Katrina melakukan berulang-ulang.


Di rooftop rumah sakit keduanya masih asyik menghirup udara segar setelah beberapa hari ini berada di ruang tertutup. Richo melirik wanita di sampingnya.


"Ayo kembali" ajak Richo dan mendapat anggukan pelan dari Karla. Keduanya turun dari lantai teratas menuju lift untuk turun ke lantai tiga tempat Tio dan seorang wanita itu berada.


Tiba keduanya di lantai tiga berjalan santai ke arah ICU Tio, Karla yang hendak masuk ke dalam ICU terkejut kala melewati jendela di ruangan mantan pacarnya. Di mana sekumpulan suster dan satu dokter itu berada. Terlihat jelas raut wajah mereka yang tak biasanya seperti sesuatu yang besar telah terjadi.


"Apa yang terjadi? kenapa mereka menekan dada Tio?" Karla menutup mulutnya tidak percaya. Richo mendengar gumaman Karla segera berdiri dari kursi ikut melihat di mana pandangan Karla tertuju.


Richo tak kalah syok melihat sahabatnya di ruang ICU dengan beberapa tenaga medis membantunya. "Ya Allah selamatkan sahabatku... keluarkan dia dari rasa sakit atau kehidupan kritisnya." Gumam Richo dalam hati.


Sedang di belahan negara lain, kegiatan muda-mudi yang tak berfaedah itu sudah selesai tepat jam setengah tiga dini hari, Tuan Farhan mengambil sejumlah uang yang di menangkannya dari lomba balap liar yang sudah sangat lama tak ia lakoni semenjak kepulangan dirinya dari Amerika. Penghasilan dadakan yang ia dapat berjumlah lima puluh juta rupiah dan itu di berikan pada Geng Lowkey Pro.


Kini waktu sudah menginjak pukul tiga dini hari, Aulia pulang mengikuti Tuan Farhan menggunakan motor Suzuki hayabusa miliknya. Sedangkan anak buahnya anggota Hades Khithonios mengendarai motor milik putrinya. Dan sekertaris Rio mengendarai mobil yang ia bawa ke lokasi balapan liar.


Aulia duduk di jok belakang motor sedang yang menjadi penunggang utama adalah raja Iblis. Di peluknya erat tubuh Daddy-nya dari belakang.


"Daddy, pokoknya harus ajarin Lia gaya jumping dan wheelie yang Daddy lakukan! tadi itu benar-benar keren tahu" teriak Aulia di belakang telinga Tuan Farhan.


"Itu bahaya, Daddy tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang" jawabnya dengan suara keras pula. Membuat gadis remaja itu mencebikkan bibirnya kesal.


"Oh ayolah guru, muridmu ini ingin belajar... seorang guru tidak boleh pelit lho dengan kemampuannya." Tutur Aulia lagi namun kali ini tak di gubris oleh Tuan Farhan. pria itu hanya tersenyum simpul.


"Daddy!!" karena kesal di cuekin Aulia malah berteriak kencang di telinga raja Iblis membuat pria itu terkejut bukan main untung saja dirinya secepat kilat mengendalikan keseimbangan tubuhnya kalau tidak maka mereka pasti sudah di makan tanah.


"Kita bicarakan saat sudah di Mansion" jelas Tuan Farhan tak mau berdebat dengan putri kesayangannya. Jika keras kepala di depan Aulia maka masalah tak kunjung selesai yang ada malah makin ribet.


"Cecungut ini yah! untung sayang kalau tidak sudah ku buang dia di Antartika." Batin raja Iblis.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung