The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 142 Twins Boy



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


Lima jam telah berlalu, kini Aulia merasa sangat sakit di bagian bawah perut juga vaginanya, rasa sakit itu bahkan membuatnya sulit bernapas, ulu hatinya begitu sakit bahkan tidak bisa di definisikan oleh kata-kata.


"Shhhh, aaaaaakkkk! sakit! sakit sekali!" teriak Aulia mencengkram bantal di bawah kepalanya, kali ini ia benar-benar merasakan rasa sakit tiada tara.


"Baik, sekarang sudah pembukaan ke sepuluh" ujar dokter. Dua orang suster membantu Aulia untuk menekuk lututnya dan melebarkan kakinya agar memudahkan sang bayi keluar dari pintu ******.


"Tolong tuan temani istrinya, waktu melahirkan sudah tiba" titah suster dan Tio mengangguk mengerti. Ia berdiri di samping istrinya.


"Sayang, sakit sekali! sangat sakit aku tidak kuat aaaaaakkkk!!" teriak Aulia membuat Tio panik, ia ingin keluar memanggil Jons untuk membantunya namun cengkraman Aulia di tangannya membuatnya urung keluar.


"Bagaimana ini dokter? lakukan sesuatu untuk istriku? bagaimana bisa dia sesakit itu, aku tidak bisa melihatnya kesakitan, tolong bantu istriku!" pinta Tio dengan wajah khawatir. Dokter menjawab dengan anggukan kepala.


"Ibu tarik napas terus buang perlahan-lahan saya akan menghitung angka satu sampai tiga dan ibu harus mengejan" jelas dokter wanita. Aulia mengangguk ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan-lahan saat dokter mulai menghitung dan tiba angka tiga Aulia berteriak dan mulai mengejan


"Akkkkkkhhh sakit! Uncle Tio bantu aku! bisakah kau mengambil separuh rasa sakitku? akkkh sakit sekali aku tidak kuat lagi!!" teriak Aulia dengan bulir keringat di wajahnya.


"Sayang, yang kuat demi anak kita kamu harus semangat! aku yakin kamu adalah wanita yang hebat" ujar Tio ikut berteriak.


"Sakit sekali Tio sialan! kenapa bukan kamu saja yang merasakannya! bisakah kamu diam sakit Ssshh!" bentak Aulia menarik kerah baju Tio dan mencengkram kuat leher Tio membuat pria itu kesakitan bahkan sulit bernapas.


"Sa-sayang le-lepaskan kau a-akan membunuhku!" Tio berusaha membantu melepaskan cengkraman tangan Aulia bahkan suster juga ikut membantu.


"Uhuk, uhuk uhuk" batuk Tio saat tangan Aulia terlepas dari lehernya ia benar-benar kehabisan napas jika Aulia masih mencekiknya. Benar-benar menakutkan menemani wanita melahirkan bisa-bisanya nyawanya juga ikut melayang.


"Sakit! dokter tolong bantu aku! sakit sekali hiks hiks aaaakkkh Daddy! mommy!" tutur Aulia dengan suara melengking tinggi.


"Ibu harus mengejan jangan hanya berteriak saja itu akan membuat tenaga ibu habis sia-sia, ibu lakukanlah seperti sedang buang air besar, apakah ibu pernah mengalami kesulitan dalam BAB? jika sudah maka lakukanlah seperti itu" jelas sang dokter dan Aulia hanya mampu berteriak.


"Sakit dokter! tidak bisakah kalian bekerja profesional? aku sangat kesakitan lakukan sesuatu padaku! aaaakkkh!" tukas Aulia dengan mata melotot tajam ke arah dokter membuat wanita dengan setelan biru itu hanya geleng-geleng kepalanya.


"Aku bahkan lupa bagaimana caranya buang air besar, rasa sakit ini begitu menyiksaku, shhhh sakit sekali hiks hiks" batin Aulia menangis dalam hati.


"Kepala bayinya sudah kelihatan, ayo bu dorong yang kuat saya yakin ibu pasti bisa" seru dokter saat melihat kepala bayi sudah berada di pintu ******. Aulia semakin berteriak kencang bahkan urat leher dan di bagian keningnya terlihat cukup jelas.


"Ayo sayang semangat! kau pasti bisa melewati rasa sakit ini" ujar Tio dengan wajah pucatnya, ini kali pertama ia berada di posisi ini melihat rasa sakit istrinya benar-benar membuatnya ketakutan ternyata seorang istri dan ibu berani mengambil risiko besar untuk sosok tercintanya.


"Tio sialan! mana tangan kamu cepat!"teriak Aulia, Tio yang gelagapan segera memberikan tangannya kepada istrinya tanpa tahu apa yang akan di lakukan Aulia padanya.


Melihat tangan Tio di depan mata ia lalu mengigit telapak tangan suaminya membuat Tio berteriak kesakitan.


"Aaaakkkh sakit sayang, kau bisa menyakitiku aaaakkkh lepaskan sayang!" ucap Tio menggigit bibirnya. Para suster bergidik ngeri melihat kekejaman Aulia pada Tio sedang dokter begitu serius melihat bayi yang akan keluar.


"Diam kau! apa kau tidak melihatku kesakitan! aku hanya berbagi rasa sakitku padamu! bahkan itu tidak seberapa dengan yang aku rasakan!" balas Aulia masih kembali mengigit tangan Tio namun di bagian lain.


"Sedikit lagi bu bayinya akan keluar!" jelas dokter membuat Aulia semangat untuk melahirkan sang buah hati.


"Akkkkkkkkkkk!!"


"Oooeeeeek oooeeeeek oooeeeeek" tangisan bayi laki-laki terdengar sangat kencang membuat Aulia melepas gigitannya, Tio menarik tangannya dan meniupnya, perih itulah yang di rasakan oleh pria yang kini sudah berstatus ayah.


"Ba-bayiku" lirih Aulia tersenyum tipis, setitik air matanya jatuh.


"Kau berhasil sayang, kau melakukannya dengan sangat baik" puji Tio mencium kening istrinya. Aulia mengangguk senang, benar kata Jons rasa sakitnya tadi tiba-tiba hilang begitu saja saat mendengar tangisan buah hatinya.


"Suster bersihkan bayi ini!" titah sang dokter.


"A-aduh, dokter perutku tiba-tiba kembali sakit" kata Aulia merasakan hal yang sama saat ia kontraksi pertama.


"Baik coba saya periksa" Dokter tersenyum saat tahu bahwa ada satu nyawa lagi di dalam perut Aulia.


"Masih ada satu bayi lagi, ibu harus berjuang lebih keras lagi" jawab sang dokter membuat Aulia mengangguk mengerti.


"Ayo sayang, aku yakin kamu pasti bisa, ini tanganku kamu gigit saja biar kamu lebih semangat... sekalipun sakit tapi demi anakku aku akan melakukan yang terbaik" sambung Tio dalam hati. Aulia menarik tangan Tio dan menggigit pergelangan tangan suaminya membuat Tio menahan sakit. Ia mengatup bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.


Sedang di luar ruangan tuan Wijaya dan lainnya sedang menunggu proses persalinan Aulia, mereka mendengar tangisan seorang bayi, tak berselang lama mereka juga mendengar suara teriakan Aulia yang kedua kalinya itu berarti anak yang di kandung Aulia adalah kembar, dan hal itu membuat mereka sangat gembira, keluarga tuan Wijaya bisa di katakan adalah keluarga dengan kelahiran kembar.


"Sepertinya Aulia melahirkan anak kembar" bisik Amanda di samping Jons, wanita itu mengangguk dengan bibir tersenyum senang.


"Aku tidak menyangka aku sudah menjadi seorang nenek sekarang, bahkan cucuku sudah empat... lihatlah wajahku apakah wajahku sudah tua?" tanya Jons menatap Amanda. Amanda terkekeh kecil mendengar penuturan sahabatnya. Tapi memang lucu, tidak ada yang menyangka jika Jons sudah memiliki empat orang cucu, secara wajahnya masih terlihat muda belum bisa di katakan sebagai seorang nenek.


"Kau masih cantik, aku yakin orang-orang di luar akan mengira bahwa cucumu adalah anakmu hahahaha" jawab Amanda tertawa.


"Wah, aku akan membuat syukuran besar-besaran atas kelahiran cicitku, aku tidak menyangka di usiaku yang tua ini akhirnya aku bisa menggendong cicitku" tutur nyonya Mita tersenyum lebar. Mereka yang mendengarnya ikut senang. Namun seketika terlihat raut wajah kesedihan di wajah tuan Wijaya karena harus kehilangan seseorang yang sangat penting di keluarga mereka. Perempuan sangat di cintai oleh Hamas pergi meninggalkan mereka, mereka juga sangat menyayangkan dua bayi yang masih membutuhkan asi ibunya kini tidak akan pernah merasakannya untuk selamanya bahkan setetes saja tidak pernah.


"Aku sangat senang atas kelahiran cicitku tapi kelahiran itu mendatangkan kematian untuk ibunya, aku tidak tahu bagaimana kondisi Hamas saat ini? dia pasti sangat terpuruk" lirih tuan Wijaya dengan wajah menunduk sedih. Nyonya Mita menyentuh tangan suaminya mengelusnya pelan.


"Ini semua sudah takdir, kita hanya perlu berdoa agar Shireen bisa mendapatkan tempat yang layak di alam sana, aku juga berharap agar Hamas tidak gila menelantarkan anak-anaknya" sahut nyonya Mita. Tuan Wijaya hanya menghela napas kasar.


Kembali ke ruang persalinan, Aulia sedang berjuang melahirkan anak keduanya, sedang Tio masih setia memberikan tangannya sebagai objek untuk mengalihkan rasa sakit yang di alami Aulia, ia benar-benar pria sempurna rela memberikan tangannya untuk di gigit oleh sang istri. Benar-benar suami idaman, sekalipun tangannya sudah berdarah namun ia tidak pernah mengeluh. hingga pukul 18:00 anak kedua Tio dan Aulia akhirnya keluar dengan selamat. jenis kelamin keduanya sama yaitu laki-laki. Tio berulang-kali mencium pucuk rambut Aulia membisikan kata-kata terima kasih.


Kini sekarang ia adalah seorang ayah, hal itu membuatnya sangat senang.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung