The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 34 Terkena Tembakan



Happy reading 🤗


Kasi like dan Votenya dong


.


.


.


.


.


.


Di malam yang gelap gulita kelompok orang-orang yang tidak memiliki hati nurani membawa manusia-manusia yang tidak berdosa ke dalam gudang tua untuk melakukan transaksi ilegal.


Orang-orang tak bermoral itu tertawa puas melihat mangsa yang begitu cocok untuk di jadikan manusia setengah robot dengan alat-alat canggih yang mereka punya.


Sedang para sandera sudah ketakutan dengan tubuh gemetar takut. "Ayah, ibu. Aku takut" lirih mereka dalam hati. Mencengkeram kuat baju di tubuh mereka.


"Sesuai kesepakatan, ini kami membawa lima puluh orang dan serahkan senjata terbaru kalian" ujar seorang pria berbadan besar.


"Hahahaha... benar-benar tidak salah kita bekerja sama, Boss kami akan sangat puas" jawabnya terkekeh senang.


"Yudha, serahkan dua tas senjata pada mereka" titah sang ketua. Pria bernama Yudha segera mengangkat dua buah tas berukuran besar dan memberikannya pada anggota Rine X. Dua pria Rine X membuka tas hitam besar melihat dan memegang sniper tersebut. Senyum tipis tersungging di bibir keduanya.


"Sangat sempurna. Senang bekerja sama dengan kalian" ujar kedua anggota Rine X. Mengulurkan tangan bersalaman dan partner bisnisnya membalas uluran tangan tersebut. Tas yang berisikan senjata sniper kabarnya senjata itu di sebut sebagai dewa kematian sekali menarik pelatuk maka sasarannya akan langsung mati.


Lima puluh orang sudah berpindah tangan dari Rine X pada sekelompok manusia bejat. Yang akan menjadikan para sandera sebagai hiburan di Kasino yang mereka bangun namun harus melalui proses percobaan setelah menjadi manusia setengah robot.


Dari jauh Tio dan kawan-kawannya masih menelisik kegiatan manusia Iblis itu.


"Selanjutnya bagaimana Boss?" tanya rekan timnya. Tio tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Smirk aneh itu membuat para tim-nya di buat merinding.


"Tunggu sampai mereka menyelesaikan kegiatannya, nanti lima dari kalian hadang mereka saat sudah keluar dan sisanya akan menangani para sandera..." jawab Tio menatap tajam orang-orang jahat di depan mata.


"Kalau begitu sampai jumpa, kami pergi sekarang" tutur anggota Rine X.


"Iya, hati-hati. Semoga bisa berbisnis lagi dengan kalian..." jawab mereka dan dua pria dari Rine X mengangguk tersenyum. Mereka kemudian melangkah keluar dengan dua tentengan tas di tangan mereka. Senyum lebar terus menghiasi wajah keduanya.


Sedang tujuh pria kekar yang masih di dalam tersenyum puas. "Bawa mereka ke mobil belakang!" titahnya dan anak buahnya mengangguk.


"Kalian hadang dua orang yang keluar dan ambil barang di tangan mereka!!" tegas Tio. Lima pria dari Black Wolf dan Azteca keluar segera menghadang anggota Rine X. Di dalam Tio dan sepuluh anggota sudah mengepung tujuh orang pria tersebut.


"Lepaskan mereka! bedebah!!" teriak Tio yang langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Menodong pistol ke depan.


Semua mata membulat sempurna dan langsung mengangkat senjata pada tim Tio.


"Sialan! siapa kalian? kenapa kalian bisa ada di sini... jangan ikut campur urusan kami atau kalian mau mati!!"ujar pria kekar dengan tato di seluruh lengannya menatap nyalang ke arah Tio and the geng.


"Bawa mereka semua ke dalam mobil jangan biarkan tahanan lolos" titahnya lagi. Saat anak buahnya hendak membawa tahanan, Tio dan yang lainnya berlari ke arah mereka dengan pistol pada posisi sama. Mengarah pada mereka.


"To-tolong jangan sakiti kami! ampuni kami!!" ucap para gadis memeluk tubuh takut.


"Mama, Papa, tolong! aku takut!"


Suara anak-anak balita dan anak remaja yang begitu lirih membuat Tio dan lainnya merasa kasihan hal itu membuat tingkat kemarahan Geng Tio makin meningkat.


"Lepaskan mereka! maka aku akan berpikir ulang untuk tidak membunuh kalian!" Tegas Tio menatap nyalang pria-pria di depannya.


"Hahahaha, kamu bercanda heh! siapa kamu berani mengatur kami. Jangan berpikir kamu bisa lolos dari kejaran kami..."


DOR


DOR


DOR


Suara tembakan saling bersahut-sahutan di luar gedung, suara yang menggelegar itu membuat para musuh membulatkan bola matanya. Sedangkan para tahanan menutup telinga mereka takut.


"Sialan! bedebah! hajar mereka! dasar licik!" teriaknya murka yang langsung menarik pelatuk untuk menembak kelompok Tio namun dengan sigap mereka menendang tangan para musuh sampai benda berwarna hitam itu terjatuh ke lantai.


BUGH


BUGH


"Tembak mereka!" titah Tio dan langsung menarik pelatuk menembak tujuh musuh di depan.


DOR


DOR


DOR


DOR


BUGH


BUGH


Anak-anak dan gadis remaja meringkuk di sudut ruangan menutup telinga menahan takut yang luar biasa, keringat bercucuran di tubuh membasahi pakaian mereka. Mereka menggigit tangan mereka guna tidak mengeluarkan suara tangis takut jika itu akan membuat orang-orang jahat menyakiti mereka.


"Hiks, hiks, takut. Ayah, ibu tolong! aku takut hiks, hiks" batin mereka menangis lirih.


DOR


DOR


Tujuh pria langsung tumbang ketika tim Tio menembak titik saraf kematian. Area kepala adalah pilihan yang tepat untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin.


"Ayo bawa mereka keluar" tutur Tio berjalan menghampiri para sandera yang sedang meringkuk takut.


"Tolong jangan sakiti kami hiks, hiks. Kami akan melakukan apapun tapi jangan bunuh kami hiks, hiks." Ucap mereka sembari menunduk tidak berani melihat.


"Kalian sudah aman, jangan takut ayo kita keluar kami akan membawa kalian pulang ke keluarga kalian..." jawab Tio dengan lembutnya senyum tipis terpancar di bibirnya yang sontak membuat di sana menatap pada Tio. Melihat senyum tulus itu dan akhirnya mereka mengangguk setuju.


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari earpiece Tio. "Boss segera keluar musuh sepertinya akan datang!!" mata Tio membulat sempurna.


"Cepat bawa anak-anak ke mobil amankan mereka, musuh akan datang kemari biar aku yang akan menghadang mereka!!" ucap Tio. Membuat mereka mengangguk.


Lima orang pria membawa rombongan itu ke salah satu jalan tempat persembunyian truk besar yang mereka sembunyikan.


"Ayo, ayo cepat masuk!" titahnya dan mereka lantas masuk ke dalam setelah memastikan seluruhnya masuk mereka langsung menutup pintu berwarna putih lalu menjalankan truk tersebut. Melintasi jalan rahasia.


Sedangkan Tio dan lima belas orang lainnya menghadang lima puluh orang pria berbadan kekar.


"Bedebah! para sampah sudah bosan hidup!!" ucapnya menggertakan giginya geram.


"Hajar mereka dan jangan biarkan mereka lolos ataupun bernapas!!" titahnya.


Musuh yang baru datang itu langsung baku hantam dengan kelompok Tio. Tendangan dan pukulan saling terbalas.


BUGH


BAGH


BUGH


BAGH


Lima puluh banding lima belas tentunya tidak seimbang, apalagi kekuatan mereka tidak bisa di ragukan pukulan yang mereka layangkan sangat sakit apalagi mengenai tulang rusuk. Bernapas pun menjadi sulit.


"Uhuk, uhuk, uhuk. Mereka sangat kuat" lirih anggota Tio. Memegang perut bagian atas.


"Hahahaha, cepat katakan di mana para sandera atau kalian akan mati!!" ucap pria yang memiliki luka di wajahnya.


"Cih! sampai matipun kami tidak akan mengatakannya!!" jawab Tio meludahinya hal tersebut membuat mereka marah.


"Sudah bunuh saja mereka!" perintahnya. Dan anak buahnya kembali menghantam Tio dan lainnya. Namun tidak di sangka, Tio dan anggotanya menyimpan benda tajam di tangan hingga menusuk bagian titik lemah manusia.


SREEET


SREEET


BUGH


BAGH


SREEET


Tusukan dan sabetan pisau itu melukai anggota musuh hingga menumbangkan sebagian.


"Kurang ajar tembak mereka!!" titahnya lagi murka. Dan mereka langsung meraih pistol di sisi celana bagian belakang. Mengulur ke depan dan...


DOR


DOR


DOR


Anggota Tio lalu menarik pelatuk pistol dan terjadilah adegan baku tembak.


"Aku akan membunuh ketuanya dengan begitu mereka akan tunduk!" bisiknya licik. Mengangkat pistol dan telunjuknya menarik pelatuk dan...


DOR


DOR


"Boss!!" teriak anggota Black Wolf saat melihat Tio terduduk jatuh dengan luka di lengan atasnya.


DOR


DOR


DOR


DOR


"Sialan! tidak mungkin kami kalah" lirihnya lalu menutup mata.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung