
Happy reading 🤗
Like dan vote dong Kaka 🙏🤗❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Waktu terus berjalan, siang berganti malam begitu seterusnya hingga sudah satu bulan bengkel yang sudah di bangun oleh Tuan Farhan sudah selesai, peralatan bengkel sudah tersimpan rapi di dalam bengkel milik Nona Aulia, Putri kesayangan raja Iblis. Bangunan yang baru di bangun di sisi jalan raya itu begitu indah di pandang seperti bukan untuk tempat bengkel.
Nama bengkelnya di sebut bengkel Mantap Jiwa agar para pekerja di bengkel tersebut selalu semangat dalam melakukan pekerjaan apapun.
Bangunan tersebut memiliki dua lantai memiliki empat kamar, di lantai dua hanya mempunyai satu kamar dan itu adalah wilayah Nona Aulia dan suaminya. Sedang tiga kamar lainnya berada di lantai dasar, terdapat dapur, ruang tamu untuk tempat tongkrongan anak-anak . Rumah itu juga terdapat teras yang bisa di jadikan sebagai tempat parkir motor ataupun mobil.
Bengkel berada di samping rumah yang langsung terhubung dengan rumah Utama, memiliki luas kira-kira sekitar satu hektar, bengkel yang di bangun oleh Tuan Farhan ini tidak terlalu besar, bengkel sederhana yang hanya menerima jasa motor saja. Dan jenis bengkel ini bisa menerima jasa Tune Up yaitu penyetelan ulang semua komponen motor, selain itu menerima jasa modifikasi sesuai permintaan pelanggan.
Sebenarnya Tuan Farhan ingin membangun Bengkel besar yang bisa menerima jasa mobil juga, namun permintaan sang putri ingin memulai dari yang kecil-kecil biar dia yang akan mengembangkannya dengan catatan bahwa Tuan Farhan harus menjadi investor dari bisnis yang ia bangun itu.
Tuan Farhan menanam modal dua ratus juta dengan kesepakatan bahwa bisnis bengkel Aulia harus berkembang pesat dalam kurun waktu lima bulan dan Aulia menyanggupi hal itu.
Di perusahaan Wijaya Group seorang pria dengan senyum tipis nyaris tak terlihat tengah berdiri di sisi jendela menatap ke luar kaca transparan yang memperlihatkan kepadatan penduduk kota Jakarta, juga kendaraan beroda dua maupun empat yang sedang berlalu lalang.
Di saat yang bersamaan seseorang mengetuk pintu dan pria di dalam segera menyuruhnya masuk.
CEKLEK
Pria jangkung dengan tampilan formal kantoran berjalan masuk menghadap pada pria yang sedang berdiri di dekat jendela, sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat. "Semua yang Tuan perintahkan sudah terlaksana hanya tinggal menunggu Nona muda untuk datang" ujar pria tersebut yang tak lain adalah sekertaris Rio.
"Bagus, siapkan mobil kita ke bengkel sekarang" titah Tuan Farhan dan langsung mendapat anggukan dari sekertaris Rio. Pria berjas navy itu segera keluar dari CEO Room menuju lantai satu. Sedangkan Tuan Farhan berjalan ke arah meja mengambil ponsel di atas meja kerjanya. Kemudian kaki jenjangnya melangkah keluar menuju lantai dasar.
Di tempat lain seluruh keluarga Tuan Wijaya termasuk Tuan Smith dan Karla mereka sudah bersiap-siap untuk menuju ke tempat yang telah di janjikan oleh Tuan Farhan, sebenarnya hari ini adalah hari keberangkatan Tuan Smith dan Karla ke Amerika namun karena ingin memberikan kejutan untuk Putri Hades hingga membuat mereka menunda kepulangan mereka sementara waktu.
Aulia belum tahu tentang kejutan yang akan di berikan oleh Daddynya dan sekarang ia sedang berkunjung ke Markas mereka dan di sinilah dirinya di tengah-tengah empat pria tampan siapa lagi jika bukan Hara, Gilang, Andre dan Yogi.
Mereka tengah duduk bersantai di ruang tongkrongan ada televisi yang sedang menyala menyiarkan animasi yang membuat logika pro kontra. Apa lagi kalau bukan serial kartun Spongebob and the geng, benar-benar tidak bisa di pahami oleh nalar.
"Sudah sampai di mana perkembangan pembuatan Bengkel kamu Lia?" tanya Gilang melirik ke arah gadis yang tengah asik makan cemilan sembari menonton serial Spongebob.
"Lia tidak tahu bang, itu urusan Daddy kata Daddy kalau udah selesai Lia akan di kasih tahu kok" jawabnya mengunyah keripik salak di tangannya.
"By the way, aku masih belum percaya Daddy kamu ternyata bisa balapan. Keren banget tahu gak!" seru Yogi dengan wajah kagum membayangkan saat malam balapan liar yang di hadiri oleh Tuan Farhan sebagai peserta, membayangkan peristiwa malam itu membuatnya ingin menjadi murid raja Iblis.
"Iya benar-benar keren" timpal Andre memuji Tuan Farhan namun wajah Aulia hanya menampilkan wajah tanpa ekspresi.
"Serius sekali nontonnya hmmm...? eh ngomong-ngomong suami kamu udah izinin kamu kemari?." Tanya Hara sembari mengacak-acak rambut Aulia, karena dirinya duduk di samping kanan Aulia sedang di sebelah kiri ada Yogi.
"Awalnya Uncle Tio tidak mengizinkan Lia untuk pergi tapi tiba-tiba Uncle membolehkan Lia dengan catatan menjaga jarak aman" jelas Aulia sembari menatap pria di sampingnya. Hara langsung bergeser sedikit jauh membuat Aulia menaikkan kedua alisnya heran.
"Abang kenapa bergeser sejauh itu dari Lia? apa badan Lia bau yah?" tanyanya mengangkat tangannya ke atas lalu mencium ketiaknya membuat empat pria di sana hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dia masih saja polos" batin ke empat pria sahabat Aulia.
"Haiis, kamu sebenarnya bodoh atau lola sih? suami kamu itu membatasi pergaulan kamu untuk tidak dekat-dekat dengan kami karena suami kamu itu sedang cemburu" jelas Gilang merasa gemas sendiri pada gadis muda yang baru berusia 17 tahun.
"Eh benarkah Uncle sedang cemburu? tapi Lia kan tidak berbuat apa-apa kok sama abang jadi tidak perlu harus cemburu kan." Jawabnya melihat ke empat pria sahabatnya membuat mereka hanya mampu menghela napas panjang.
Menarik napas panjang kemudian menghembuskan kasar. " Lia akan belajar itu" jawabnya singkat. Tiba-tiba suara nada dering telepon berbunyi nyaring di saku celana jeans Aulia, membuat gadis itu meraih ponselnya segera. Tertera nama Tio di layar ponselnya.
"Halo sayang kamu di mana sekarang?" tanya Tio dari sebrang.
"Lia masih di Markas Uncle sama teman-teman. Ada apa Uncle?" tanya Aulia dengan senyum tipis di bibirnya.
"Hadeuh kenapa harus panggil Uncle. Dasar bocah!" batin ke empat pria di sana mendengarkan percakapan pengantin baru nikah itu.
"Ah, baiklah Lia akan segera ke sana" Aulia menutup panggilan telepon lalu memasukkan kembali ponselnya di dalam saku celananya. "Eh Abang Lia ada urusan mendadak. Lia harus pergi sekarang" ujar Aulia menatap sahabatnya bergantian.
"Duhai senangnya pengantin baru... duduk bersanding bersenda gurau" nyanyi Andre membuat mereka terkekeh jenaka.
"Yah pengantin baru, sepertinya Uncle or suami kamu sudah tidak sabar lagi hmmm..." ledek Gilang membuat Aulia menatap tajam padanya.
"Iiih, jangan ngaco bang! Lia pergi dulu!" Aulia segera berjalan meninggalkan mereka yang masih tertawa menatap kepergian Aulia.
"Haah! teman kita sudah benar-benar menikah" ucap Yogi.
Di luar Markas Aulia segera mengendarai mobil sedan miliknya menuju lokasi yang sudah di berikan oleh Tio, tidak butuh waktu lama gadis itu sudah sampai. Berhenti di pinggir jalan lalu keluar dari mobil.
Di tatapnya bangunan besar bertingkat dan spanduk bertengger di dinding bertuliskan Bengkel Mantap Jiwa membuat alisnya berkerut. "Ini rumah siapa? dan kenapa uncle menyuruh Lia datang kemari?." Bisiknya dalam hati. Melangkahkan kakinya menuju teras rumah dengan pagar terbuka lebar.
"Kenapa jantung Lia berdegup kencang? apakah ada kejutan dari Uncle?" gumamnya pelan meraih gagang pintu dan membukanya.
CEKLEK
Di sana terlihat Tio berdiri di depan Aulia dengan jarak tiga meter, sedang tersenyum ke arahnya merentangkan tangannya ke arah Aulia. Ingin memeluk.
"Astaga, Uncle benar-benar deh" gumamnya pelan sembari tersenyum tipis.
"Sayang" panggil Tio dengan wajah berseri-seri Aulia berjalan maju menuju ke arah Tio namun matanya tak sengaja melihat lampu hias plafon kristal akan terjatuh tepat di atas Tio membuat Aulia membulatkan bola matanya.
"Uncle!! AWAAASS!!" teriak Aulia namun...
PRAAANG
BUGH
"TIDAAAAAKK!!" Aulia melebarkan matanya kala lampu kristal itu menancap di tubuh Tio dengan darah mengalir ke lantai membuat Aulia syok dengan tubuh gemetar.
"No! Uncle!!!" teriaknya menggema tangisnya langsung pecah kala melihat prianya terluka di hadapannya dengan keadaan tragis. "No! Uncle!" tuturnya gemetaran.
"Apa yang terjadi Lia?" semua di sana keluar dari sebuah ruangan karena mendengar teriakkan Aulia, dan mereka begitu terkejut melihat Aulia yang sudah menangis histeris, belum lagi genangan darah yang banyak membuat mereka ikutan syok.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung