The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 101 Pemakaman



Maaf baru up sekarang


.


.


.


.


.


.


Tuan Kalingga membawa jenazah putra semata wayangnya ke rumahnya sebagai seorang ayah ia sangat sedih perihal kepergian sang putra, anak yang di besarkannya dan bahkan dua bulan lagi umur sang putra akan menginjak usia 18 tahun namun sekarang kini sudah tidak ada lagi. Bukan Tuan Kalingga saja yang merasa kehilangan namun sang istri juga merasa sedih dan belum bisa menerima kepergian putra tirinya itu apalagi sekarang sang putri tengah kritis saat ini.


Tentara, polisi, menteri serta rekan bisnisnya turut hadir untuk memberikan bela sungkawa kepada kepala menteri pertahanan mereka, jenazah Ronald sudah di masukan ke dalam peti dengan busana rapi berwarna putih, dengan berbagai ritual adat sudah di laksanakan peti berisi tubuh Ronald yang tak bernyawa di angkat oleh beberapa tentara dan di bawa keluar dari rumah Tuan Kalingga. Kemudian di masukan ke dalam mobil berwarna hitam pekat. Perlahan-lahan puluhan mobil di parkiran bahkan luar gerbang rumah Tuan Kalingga meninggalkan halaman rumah mengikuti jalannya mobil yang membawa peti jenazah Ronald.


Hingga sampai mereka di sebuah lahan yang di khususkan untuk tempat pemakaman, peti jenazah Ronald di bawa keluar oleh beberapa ajudan Tuan Kalingga semua sudah bersiap hendak memindahkannya ke tempat peristirahatan terakhir.


Tuan Kalingga dengan sekuat tenaga menahan air matanya untuk tidak keluar, pria bertubuh kekar itu merasa di hantam oleh benda yang begitu berat.


"Tuan apakah jenazah putra Tuan di kubur sekarang?" tanya salah seorang pria dengan pakaian seragam militer.


"Iya, saya ikut menguburkan jenazah putra saya" pria yang berseragam militer itu mengangguk pelan. Lalu keduanya berjalan menuju lubang yang cukup dalam. Sedangkan Nyonya Kalingga masih menangis sesenggukan dengan mata terus menatap ke arah peti sang putra.


"Apakah Charlotte yang melakukannya? astaga jangan sampai kematian Ronald ada sangkut pautnya dengan dia." Batin Nyonya Kalingga dalam hati.


Di benua Asia tenggara tepatnya di negara yang banyak akan kekayaan sumber daya alam. Di sebuah Mansion yang begitu besar, seorang pria paruh baya mendadak terdiam kala mendengar kabar tentang cucunya dari mata-matanya di negara Amerika.


Ia kemudian segera memanggil anak buahnya yang kebetulan lewat di depannya. "Jordan tolong panggilkan Alex dan Amanda kemari! ada yang ingin aku sampaikan pada mereka." Titah pria tersebut yang tak lain adalah Tuan Wijaya.


"Baik Boss" jawabnya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, kemudian pria yang menjadi bawahan itu berjalan menuju kamar Alex dan Amanda berada. Tak berselang lama Nyonya Mita dari arah dapur berjalan menuju ruang keluarga sembari membawa nampan berisi susu kambing. Produk yang di produksi oleh perusahaan HNI/HPAI adalah perusahaan Islam tentunya sudah terjamin halal seratus persen.


"Suamiku, ada apa dengan wajahmu kenapa di tekuk seperti itu? apa terjadi sesuatu?" tanya Nyonya Mita meletakan nampan di atas meja kaca kemudian menyodorkan segelas susu kambing.


"Haaaahhhh" membuang napas kasar dan menatap wajah teduh sang istri. "Alexa di bawa ke kantor polisi" jawab Tuan Wijaya membuat istrinya terpekik kaget.


"Apa? kenapa bisa cucuku masuk penjara apa yang dia lakukan sampai dibawah ke kantor polisi? apakah abangnya tidak menjaganya? astaga!!..." cerocos Nyonya Mita dengan mata melebar.


"Siapa yang masuk penjara Ma?" tanya seseorang dari arah belakang mereka. Tuan Wijaya dan Nyonya Mita segera melirik ke sumber suara, terlihat Amanda dan Alex berjalan menuju mereka. Nyonya Mita melirik ke suaminya seakan memberikan bahasa isyarat melalui mata.


"Duduk dulu ada yang ingin Papa sampaikan pada kalian berdua" titah Tuan Wijaya. Pria paruh baya itu menyeruput susu yang di buat oleh istrinya. Setelah merasa segar pada tenggorokannya Tuan Wijaya menatap dua insan yang sudah halal itu membuat Amanda dan Alex saling memandang bingung.


"Apa yang akan di bicarakan Boss? wajahnya sangat serius sepertinya sangat penting" bisik Amanda dalam hati.


"Alexa masuk penjara"


"What!!" teriak keduanya dengan mata membola besar, orang tua Alexa itu menatap Tuan Wijaya dan Nyonya Mita bergantian.


"Maksud Papa apa? aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada anakku?" tanya Amanda dengan wajah serius. Alex mengangguk pelan membenarkan perkataan sang istri.


"Papa juga tidak tahu... hari ini kita akan pergi ke Washington kalian bersiap-siaplah Papa sudah menghubungi awak pesawat" jelas Tuan Wijaya membuat Alex dan Amanda mengangguk mantap.


"Terima kasih Pa, kami siap-siap sekarang" Amanda dan Alex beranjak dari duduknya dan segera menuju kamar mereka untuk berganti pakaian. Nyonya Mita melirik sang suami yang asyik menyeruput susu kambing.


"Aku akan telepon Hamas dan Azhar kenapa bisa mereka begitu ceroboh dan tidak menjaga adiknya" tutur Nyonya Mita kesal, wanita yang berusia 70 tahun namun masih terlihat bugar karena selalu menjaga stamina tubuhnya dengan makan makanan bergizi. Tidak tahu saja jika beberapa minggu ini hubungan cucunya tidak baik-baik saja.


"Tidak perlu menghubungi mereka, aku sudah menyuruh mata-mata di sana untuk selalu pantau keadaan Alexa" ucap Tuan Wijaya dengan kaki kanan menindih kaki kirinya.


"Tapi mereka harus tahu bukan keadaan adiknya di penjara" sanggah Nyonya Mita dengan bibir terangkat ke atas.


"Sebenarnya Alexa tidak tinggal dengan Hamas dan Azhar... dia tinggal bersama seorang pria bernama Ronald dia adalah anak dari Tuan Kalingga pejabat di Washington." Nyonya Mita terkesiap mendengarnya ia benar-benar terkejut dengan berita yang baru di ketahuinya.


"Jadi selama ini suamiku tahu keadaan cucuku di sana? kenapa tidak pernah cerita! astaga kenapa bisa masalah sebesar ini di rahasiakan dariku hah!!" kecewa itulah yang di rasakan oleh wanita paruh baya itu, ia tertawa kecil merasa lucu dengan dirinya apakah ia tak sepantas itu untuk mengetahui perihal masalah cucunya.


"Maafkan aku sayang, aku tidak mengatakan ini padamu karena aku tahu kamu mudah emosi dan aku tidak mau masalah akan semakin besar..." jelas Tuan Wijaya lembut. Di raihnya jemari tangan sang istri kemudian mencium punggung tangan Nyonya Mita membuat wanita itu menghela napas kasar. Kalau sudah begini maka dia tidak bisa marah kepada suaminya.


"Baiklah aku maafkan tapi apapun itu sayang harus cerita dan aku tidak mengambil keputusan sendiri tanpa berunding dengan suamiku..." Tuan Wijaya mengangguk pelan sembari tersenyum pada sang istri.


"Ayo kita siap-siap juga" ajak Tuan Wijaya.


"Bagaimana dengan Farhan dan Jons apakah kita tidak perlu memberitahu mereka?" tanya Nyonya Mita.


"Tidak perlu, jika mereka ikut siapa yang akan menjaga perusahaan dan dua cucu kita yang masih kecil" ucap Tuan Wijaya dan Nyonya Mita hanya mengangguk tanda setuju.


.


.


.


.


.


.


Bersambung