The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 179 Damai Di Atas Ranjang



Happy Reading


.


.


.


.


.


.


Seorang pria maskulin tengah duduk di sofa dengan ponsel di tangannya, matanya fokus menatap layar ponselnya. Sementara satu anak kecil laki-laki menatap ke arah pria tersebut dengan mata melebar bahkan sesekali melihat ke arah pria dewasa.


"Ayah tidak takut bunda tahu kalau ayah melihat foto perempuan lain?" pria itu seketika melirik ke sumber suara dan terkekeh kecil.


"Kamu jangan bilang-bilang bunda, ini rahasia kita laki-laki, okay" Anak kecil itu menggeleng tidak setuju, sebab itu akan menyakiti hati sang bunda.


"Ayah sebenarnya cinta bunda apa perempuan di foto itu? Oh apa karena sekarang tubuh bunda gemuk jadi ayah mau cari bunda lain yang lebih kurus yah?" tudingnya membuat pria yang di panggil ayah itu gelagapan.


"Eh, gak ada bunda baru, cinta ayah ini akan selalu ada untuk bunda kalian, sampai maut memisahkan, untuk masalah gambar ini, ayah hanya suka melihat saja tidak ada maksud lain kok" jelasnya tersenyum malu. Sementara pria kecil di atas karpet hanya fokus bermain dengan mainannya tidak ikut nimbrung membahas perempuan di media sosial.


"Ayah tidak takut dengan bunda? Kasihan bunda kalau tahu ayah melihat perempuan lain" anak sulungnya berujar lagi dengan wajah tidak suka. Buru-buru pria dewasa itu menutup ponselnya. Ia mendesah berat, anaknya ini tidak bisa di ajak seru-seruan. Padahal dirinya masih ingin melihat-lihat perempuan seksi di instagram tapi karena ada dua bocilnya ia harus mengesampingkan keinginannya itu.


"Nanti di saat sendiri baru lihat lagi, yang terpenting aku sudah menyimpannya, hehehhe" batinnya tanpa rasa dosa.


"Apa yang kalian berdua bicarakan?" seseorang menyahut dengan tampang ingin tahu lalu ikut menjatuhkan bokongnya di samping kedua pria beda usia itu. Tio menatap putranya dan memolotinya agar tidak memberitahu sesuatu yang sudah dia lakukan.


"Tidak penting bunda, hanya urusan pria saja hehehe" jawab Adrian menutupi aib ayahnya biar bagaimanapun sesama pria harus saling menolong juga demi kelangsungan hidup ayah dan ibunya. Sungguh mulia sekali hatinya sampai memikirkan masa depan keluarganya padahal dirinya masih kecil.


"Bunda, kakak berbohong, ayah tadi melihat foto perempuan seksi, adik tadi mendengar percakapan mereka bunda"


"Eh" Tio dan Adrian melirik ke arah sumber suara yang sedang santai memainkan mobil-mobilan di samping sofa, mereka tidak tahu jika ada pengadu licik yang sedang menguping pembicaraan yang seharusnya tidak ia dengar.


"Apa maksud adik? Sini dulu sayang, bunda tidak mengerti" ucapnya lembut dan Adnan segera berjalan ke arah sang ibu. Tio dan Adrian menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal, bingung harus beralibi apa sedang mereka telah ketahuan berbohong.


"Bunda, maafkan kakak yang sudah berbohong, sebenarnya kakak melakukannya dengan terpaksa, ayah tadi memolotiku membuat kaka tidak punya pilihan lain...." Adrian yang tidak mau mendapat hukuman dari Aulia segera membela diri dan melampiaskan semuanya kepada Tio membuat pria itu terkejut.


"Eh, kenapa semua di limpahkan ke ayah? Masih kecil sudah tahu memfitnah orang lain yah" dumel Tio dengan ekspresi tak enak di pandang.


"Suamiku apakah yang anak-anak bilang adalah benar? Kau sedang mengintip perempuan siapa dan se-seksi apa mereka daripada aku?" ucapan Aulia yang dingin itu membuat Tio gelagapan, ia langsung merangkul sang istri dan memeluknya. Rupanya Tio adalah tipe suami yang takut istri, tidak takut bagaimana, ayah mertuanya adalah raja Iblis menyakiti putrinya sama saja dengan menyerahkan nyawa.


"Sayang maafkan aku, aku janji tidak akan melakukannya lagi, please jangan marah" katanya sambil mengendus-endus ketiak Aulia, wanita itu hanya menghela napas berat.


"Sudah jangan seperti ini, tidak baik di lihat anak-anak" Tio seketika menampilkan wajah semringah, istrinya tidak marah padanya, karena ia telah berjanji ia tidak akan melakukan kesalahan kedua kalinya mungkin istrinya memberikan kesempatan padanya.


"Huh! Bisakah untuk tidak bermesraan di depan anak kecil? Mata kami masih polos, ayolah untuk menjaganya agar tetap suci" keluh Adrian, pria itu memang lebih dominan berbicara banyak dan berterus terang, Tio dan Aulia saling melirik dan tertawa kecil.


"Kakak jangan melihatnya, bukankah itu begitu mudah" kali ini Adnan ikut menimpali membuat pria kecil itu mencebik kesal.


"Bukankah mata di gunakan untuk melihat, jika tidak di gunakan itu sangat di sayangkan bukan?"


Tio merasa ada hal buruk yang akan terjadi di beberapa menit ke depan, sebab sang istri hanya menggenggam tangannya tanpa berbicara sepanjang jalan, hingga sampai keduanya di lantai dua dan berjalan menuju kamar yang terletak di lorong sebelah kanan.


CEKLEK


Tangan Tio terlepas, Aulia masuk ke dalam sementara Tio berdiri terpaku di depan pintu sambil menatap tubuh besar istrinya yang terus berjalan, ia menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan-lahan, ia mengakui ia salah dalam hal ini, apapun yang akan di lakukan istrinya akan ia terima dengan hati lapang.


Kaki jenjangnya masuk ke dalam menghampiri istrinya yang berdiri di depan jendela seperti mengamati sesuatu, Tio langsung melingkar kedua tangannya di pinggang istrinya, Aulia segera melepasnya dan berbalik menatap Tio.


"Maaf" cicitnya namun tak ada respon dari wanita beranak dua itu.


"Maaf sayang, aku tidak akan melakukannya, jangan diamkan aku seperti ini" bujuknya dengan wajah tertekan. Aulia berjinjit dan langsung mencium bibir suaminya hal itu membuat Tio senang namun ******* yang di berikan Aulia padanya begitu agresif, ia merasakan sakit pada bagian bibirnya.


"Akkkkkkkhhhhhhh"


Aulia melepas ciumannya masih dengan ekspresi datar melirik suaminya yang memegang bibirnya yang luka, rupanya Aulia menggigitnya.


"Sakit yang" ngeluhnya membuat Aulia terkekeh jenaka.


"Lalu bagaimana dengan perasaanku saat kau melihat wanita-wanita cantik di media instagram? Aku tahu tubuhku sudah tidak bagus, sudah tidak indah seperti dulu, tubuhku menjadi gemuk, pinggangku lebar dan tidak seramping mereka, hatiku sakit lebih sakit daripada rasa sakit pada bibirmu" lirih Aulia. Sebagai wanita yang pernah melahirkan ia sangat takut, ada saat di mana suaminya melirik wanita lain yang lebih bohay, ia takut di selingkuhin itulah sebabnya saat mendengar kejujuran anaknya hatinya langsung sesak.


"Maaf sayang, aku hanya melihat-lihat saja, tidak tertarik untuk memiliki, kamu yang sekarang ini aku sangat suka, kamu lucu dengan tubuh berisi, jadi jangan insecure" Tio menasihati sang istri namun Aulia mencebik kesal.


"Kamu bilang aku jangan insecure sama tubuh aku tapi kamu sendiri suka melihat wanita-wanita dengan tubuh seksi" Tio tertawa kecil sambil menarik tubuh istrinya di dalam dekapannya, sesekali dirinya mencium ubun-ubun Aulia.


"Sayang, kebanyakan dari pria akan seperti itu, tapi ingat kami tidak mungkin mendua dari istri kami yang sudah mengandung, melahirkan dan merawat anak kami. Tubuh kamu yang sekarang ini lebih aku sukai sebab yang ini lebih berisi dan tambah besar aku benar-benar menyukainya" katanya sambil menghentikan tangannya di gunung kembar Aulia yang besar.


"Sayang, jangan mengalihkan topik dengan membuatku terangsang, aku tidak mood" ketusnya mendelik dongkol.


"Hah, kalau begitu aku cicipi sebentar setelah itu marah lagi yah, please! Adik aku sudah bangun Yang, dia mau *****" Aulia melirik bawah celana suaminya dan benar saja, keadilan Joni sudah tegak saja.


"Istriku boleh yah, aku sangat tersiksa hmmm" tampang Tio membuat Aulia kasihan ia mengangguk pelan membuat Tio kegirangan tanpa lama-lama, pria itu menggendong istrinya dan membawanya ke ranjang. Hingga olahraga berat di atas ranjang itupun terjadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


**💐Bersambung 💐**