The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 127 Hampir Saja



Happy reading


.


.


.


.


.


.


Tibalah mobil yang di tumpangi tuan Farhan dan lainnya, buru-buru tuan Farhan turun begitupula dengan Azhar, kedua ayah dan anak itu segera membuka pintu jok kedua.


"Azhar ambil bangsal untuk kakak mu!" titah tuan Farhan kepada putra keduanya. Azhar langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit terbesar dan termegah di Jakarta pusat. Yaitu rumah sakit pusat angkatan darat Gatot Subroto.


Tio turun sembari menggendong tubuh istrinya yang sudah tidak sadarkan diri lalu di ikuti Jons dan nyonya Mita turun dari jok belakang. Mereka kemudian ikut masuk ke dalam rumah sakit megah itu. Azhar dan beberapa perawat juga dua dokter wanita dan pria berjalan membawa bangsal.


Tio berjalan sembari berlari dengan wajahnya yang pucat pasih, dengan sangat hati-hati ia membaringkan tubuh istrinya di atas bangsal.


"Tolong selamatkan putri saya! lakukan apapun untuk menolong putri saya!! saya akan membayar berapapun yang penting selamatkan dia!" pinta tuan Farhan dan Jons bersamaan.


"Iya dokter, tolong selamatkan cucu saya!" nyonya Mita ikut memohon kepada dokter.


"Kami akan melakukan dengan segenap hati kami, tolong untuk berdoa agar semua baik-baik saja" ucap dokter wanita, wajahnya terlihat masih muda sepertinya dia adalah salah satu dokter muda di rumah sakit pusat Jakarta.


Perawat perempuan dan laki-laki itu mendorong bangsal Aulia menuju salah satu ruangan di lantai satu. Mereka kemudian masuk ke dalam ruang UGD untuk melakukan tindakan kepada pasien. Sedangkan tuan Farhan dan lainnya menunggu di kursi tunggu. Azhar pergi ke bagian administrasi untuk melakukan pendaftaran dan pembayaran kamar VVIP atas perintah tuan Farhan.


Sesekali tuan Farhan dan Tio meraup wajah kasar, merasa khawatir dengan keadaan wanita tersayang mereka. Tak jauh beda dari tuan Farhan dan Tio, Jons dan nyonya Mita sudah meneteskan air mata, berdoa meminta pertolongan kepada Allah untuk keselamatan Aulia.


Tak berselang lama rombongan tuan Wijaya datang, mereka di kabari oleh Azhar jika mereka membawa Aulia ke rumah sakit Gatot Subroto angkatan darat. Semua berjalan sembari berlari-lari kecil.


"Bagiamana keadaan cucuku? sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya tuan Wijaya saat sudah sampai di depan tuan Farhan, Tio dan nyonya Mita.


"Aulia masih di tangani dokter, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa padanya" jawab Tio sembari menatap Boss besarnya itu. Sedang tuan Farhan hanya diam tanpa menjawab.


Ayu yang melihat kakaknya bersedih ikut sedih, baru kali ini dirinya melihat kakaknya yang selalu terlihat tangguh kini menampakkan wajah lemahnya. Ayu kemudian duduk di samping Jons memeluk tubuh Jons dari samping.


"Serahkan semuanya kepada Allah, semoga Aulia tidak kenapa-kenapa. Kakak yang sabar yah" tutur Ayu dengan suara lembutnya membuat Jons tersenyum tipis lalu memeluk tubuh adik semata wayang. Sudah lama tidak bertemu dengan adiknya membuatnya begitu rindu.


Ada kenyamanan tersendiri saat Ayu memeluknya, Jons kemudian membalas pelukan adik satu-satunya itu.


"Terima kasih Ayu" jawab Jons masih menyandarkan kepalanya di bahu Ayu, namun sekelebat tatapan tajam terus tertuju kepada dua wanita kakak beradik itu, mereka tidak tahu jika ada mata-mata yang tidak suka dengan adegan mereka.


"Ekheem!" dehem tuan Farhan menatap lurus ke depan, semuanya langsung melirik ke arah tuan Farhan namun pria itu masih asyik menampilkan wajah dingin dengan pandangan ke depan. Jons masih belum mengerti jika tuan suaminya tidak baik-baik saja saat ini.


Azhar yang menyadari jika pria yang di panggil Daddy itu tengah merajuk membuatnya menarik sudut bibirnya ke atas. "Daddy, Daddy..., mirip anak kecil saja kenapa harus cemburu dengan adik ipar sendiri apalagi bunda Ayu itu perempuan" bisik Azhar dalam hatinya masih mengamati wajah masam raja Iblis. Raja Iblis sudah menjadi budak cinta kelas kakap sehingga membuatnya tidak bisa menutupi kecemburuannya jadi wajar jika dirinya tetap cemburu kepada siapapun yang mendekati istrinya. Hadeuh menyebalkan sekali bukan.


"Tidak akan ada yang kedua kalinya si pebinor memeluk Ara ku lagi!" batin raja Iblis masih dengan lirikan tajamnya.


"Apa yang terjadi dengan istri saya dokter? bagiamana keadaannya sekarang? apa dia baik-baik saja?" tanya Tio menatap intens wajah dokter yang berdiri di depannya.


"Yah bagaimana keadaan putri saya dokter? tidak ada hal buruk yang menimpanya kan dokter?" kali ini tuan Farhan bertanya dengan mimik wajah datar.


"Iya, dok bagaimana keadaan cucu saya?" tanya tuan Wijaya dan nyonya Mita. Membuat dokter wanita itu gelagapan harus menanggapi pertanyaan siapa dulu.


"Apakah kalian tidak tahu jika kalian hampir membunuh nyawa yang bahkan belum berbentuk itu!?" ucap dokter dengan wajah dinginnya. Untung saja dirinya dan tim suster bergerak cepat hingga bisa mengatasi masalah pendarahan tersebut.


"Apa maksud dokter? nyawa siapa yang belum berbentuk?" tanya mereka dengan tampang tidak tahu. Mengerutkan kening kala merasa ambigu terhadap pertanyaan dokter wanita di depan mereka.


"Apakah kalian tidak tahu jika pasien sedang hamil? sekarang usia janinnya sudah memasuki minggu ke dua" jawab dokter menjelaskan membuat semua di sana terkejut terkecuali Gilang dan Andre, mereka sebenarnya sudah tahu jika Aulia sedang hamil saat pertama kali melihat Aulia memakan asinan aneh menurut mereka, namun mereka belum tahu jelas dan takut salah jika mereka cerita kepada Tio.


"A-apa yang dokter bilang? ha-hamil? istriku hamil?" tanya Tio dengan suara kaku, tubuhnya tiba-tiba merasa lemas mendengar jika istrinya hamil dan hampir saja dia kehilangan buah hatinya akibat keteledoran nya.


"Yah, pasien sedang hamil dan kalian membiarkan pasien makan makanan pedas! hampir saja kami tidak bisa menyelematkan janin dalam kandungan ibunya tapi bersyukur bayinya sangat kuat sehingga tertolong dengan selamat" kata dokter wanita menatap satu persatu keluarga besar mafia itu.


Semua di sana semakin di buat terkejut tuan Farhan dan Tio meraup wajahnya kasar, mereka seperti pria yang tidak bisa di andalkan.


"Astaga, aku adalah ayah yang buruk bagaimana bisa aku membiarkan keturunanku mati karena kebodohanku!" umpat Tio dalam hatinya.


"Semua gara-gara Tio! jadi suami tidak bertanggung jawab awas saja akan aku kasih pelajaran padanya! beraninya mencelakai cucuku dan tidak menjaganya!!" si Jelangkung batangan itu malah menyalahkan Tio, padahal bukan salah Tio di sini, sangat sulit untuk mendeteksi seorang istri yang sedang hamil namun tidak mungkin raja Iblis itu menyalahkan putri kesayangannya pasti akan melampiaskan kepada sang menantu.


"Terima kasih dokter sudah menolong cucu dan cicit saya" ungkap tuan Wijaya dan nyonya Mita bersamaan. Dokter wanita itu hanya mengangguk pelan.


"Karena pasien dan janinnya sudah baik-baik saja jadi suster akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap..." ucap dokter namun langsung di potong oleh tuan Farhan.


"Pindahkan ke ruang VVIP saja" mendengar perintah tuan Farhan dokter itupun mengangguk lalu meminta suster untuk memindahkan ke ruang VVIP sesuai perintah keluarga pasien.


"Alhamdulillah, syukurlah jika mereka selamat" ungkap Ayu dan Reyhan bernapas lega saat dokter mengatakan jika Aulia dan bayinya dalam keadaan sehat.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung