
Happy reading 🤗
Beri like juga Votenya yah
.
.
.
.
.
.
.
.
Perjalanan tempuh antara Indonesia Jakarta ke Meksiko city adalah 18 jam padahal itu sudah termasuk kecepatan di atas rata-rata. Itu berarti pesawat yang mereka tumpangi mendarat tepat pukul 2 : 29 dini hari.
Dan sekarang mereka sudah berada di dalam mobil BMW, ada dua buah mobil yang di bawa oleh anak buah Tuan Zeus di mana Aulia satu mobil bersama Tio, Karla, dan Oskar sedang yang satunya lagi di tumpangi oleh Tuan Zeus dan Larisa.
Oskar duduk bersama Aulia di jok kedua sedang Tio dan Karla di jok ketiga. Terlihat wajah Aulia yang memerah mengingat saat dirinya terbangun dari tidurnya. Objek pertama saat membuka matanya ia melihat wajah tampan seseorang yang sudah lama mengisi hatinya. Hal tersebut membuatnya terpaku seketika.
"Lia tidur di pundak Uncle Tio? apakah Lia sedang halusinasi tapi wajah itu sangat nyata" batin Aulia masih memandang wajah maskulin pria berumur kepala tiga itu.
Tangannya terulur menyentuh rahang tegas Tio mengelusnya lembut membuat pria itu membuka matanya. Melirik ke arah Aulia, seketika gadis itu tersenyum kaku dengan cepat menarik tangannya kembali.
"Maaf, Lia membangunkan Uncle." Tutur Aulia menundukkan kepalanya.
"Perjalanan masih lama Nona, apa Nona merasakan lapar?" tanya Tio dengan wajah datarnya. Menatap dalam wajah gadis di sampingnya, terpaku saat tatapannya tertuju pada bibir mungil berwarna pink. Mengingat saat pertama kali dirinya mencium bahkan sampai ******* bibir Aulia.
"Apakah bibir itu akan sama seperti dulu? saat dia masih kecil. Rasanya aku tidak pernah melupakan momen tersebut" batin Tio masih menatap lama bibir pink milik Aulia, bahkan kini jakunnya naik turun karena berpikir liar. Menggeleng kepalanya menghalau pikiran-pikiran aneh itu.
"Tidak!. Lupakan Tio!" umpat Tio dalam hati masih mengggeleng kepalanya pelan. Membuat Aulia keheranan.
"Ada apa dengan Uncle, bahkan aku memanggilnya tidak merespon. Apa yang tengah Uncle pikirkan...?" batin Aulia heran.
"Tidurlah Nona!" Tio segera memejamkan matanya ia tidak mau menatap wajah itu takut jika dirinya tidak bisa mengontrol perasaannya. Dan terpaksa Aulia ikut menutup matanya. Kali ini kepalanya ia sandarkan di sandaran sofa, ia tidak mau nanti Karla terbangun dan melihatnya tertidur di atas pundak kekasihnya mengingat itu kembali membuat hatinya sedikit sakit.
Namun sebuah tangan menuntun kepala Aulia untuk bersandar di pundak kekar itu, Aulia membuka matanya ia sedikit mengangkat sudut bibirnya tersenyum kala Tio masih peduli padanya.
"Lia sayang Uncle" Gumam Aulia pelan.
"Lia, Lia" Aulia langsung tersadar kala seseorang memanggil namanya. Yah pria itu adalah Oskar putra dari Tuan Zeus anggap saja adik Mommynya.
"Eh, Uncle Oskar kenapa?" tanya Aulia menatap pria di sampingnya.
"Kamu kenapa? Uncle dari tadi panggil kamu tapi tidak menjawab, Uncle pikir kamu sedang tidur dengan mata terbuka" jelas Oskar membuat Aulia terkekeh kecil.
"Hahahha, Uncle bisa saja, mana ada orang tidur dengan mata terbuka." tawa Aulia. Membuat Oskar ikut tertawa. Tio dan Karla menatap kedua manusia beda jenis itu.
"Lia, besok kamu sibuk gak?" tanya Karla dan Aulia langsung menoleh ke belakang.
"Tidak aunty, kenapa?" tanya Aulia balik.
"Besok kita jalan-jalan yah nanti Uncle Tio yang mengantar kita. Kamu belum pernah ke Meksiko kan? banyak tempat-tempat bagus di sini" jawab Karla dengan senyum di bibirnya.
"Oke aunty, Lia akan ikut lagian kalau di rumah pasti akan bosan sekalian biar Lia tahu daerah di kota Meksiko" seru Aulia antusias. Melebarkan senyumnya merasa senang. Pria yang duduk di samping Karla terus menatap Aulia membuat gadis itu merasa salah tingkah. Buru-buru Aulia membalikan tubuhnya menjadi semula.
"Tapi aunty, apakah Uncle Tio tidak sibuk?" tanya Aulia menatap Karla. Namun ekor matanya bisa melihat bahwa Tio masih memandangnya.
"Kenapa Uncle lihatin Lia terus sih! kan Lia jadi malu" gerutu Aulia dalam hati mencebik kesal.
"Kalau Uncle Tio tidak bisa, Uncle bisa bawa Lia jalan-jalan" sahut Oskar dan hal itu membuat atensi mereka menatap ke arah pria bule.
"Benarkah Uncle Oskar?." Seru Aulia dengan mata berbinar.
"Aku yang akan mengantar mereka, besok aku free jadi tidak masalah" sanggah Tio cepat. Entah kenapa lidahnya langsung setuju padahal jika Karla yang meminta ia akan berpikir sebelum menjawab ya.
"Tidak biasanya Tio seperti itu. Apa Tio benar-benar mencintainya, atau karena Aulia anak dari raja Hades?" bisik Karla menatap Tio dan pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Uncle Oskar bisa kok ikut kita besok biar ramai" celoteh Aulia.
Hingga dua mobil BMW berwarna silver dan merah itu memasuki kediaman Tuan Zeus. Berhenti di depan bangunan besar dan luas. Penumpang di kedua mobil BMW itupun turun dari mobil, Tio dan Oskar membuka bagasi mobil mengambil barang-barang mereka.
Aulia menarik kopernya berwarna biru lalu berdiri di sisi kanan Larisa.
"Lia, biar laki-laki yang mengangkat koper kamu kita masuk saja. Ingat tidak boleh malu-malu" ucap Larisa.
"Tidak apa-apa aunty Lia bisa bawa sendiri, lagian koper Lia tidak berat kok" jawab Aulia tersenyum kaku.
"Kamu ini yah, aunty tidak mau tanggung jawab lho kalau kamu kenapa-kenapa, Mommy kamu itu adalah wanita terkuat dan aunty sangat takut padanya. Jadi menurutlah jangan membuat masalah oke" jelas Larisa tegas. Berat rasanya jika berurusan tidak baik dengan pembunuh bayaran itulah sebabnya Larisa tidak mau mengambil resiko seberat itu apalagi jika berhadapan dengan raja Hades, itu sama saja menyerahkan nyawa dengan hati lapang.
"Jangan takut aunty, Mommy Lia baik kok jadi tidak perlu cemas" ujar Aulia.
"Kamu belum tahu seperti apa tempramen Daddy kamu itu. Hah! benar-benar menakutkan" timpal Larisa. Mendengar kata Daddy Aulia buru-buru meraih ponselnya di saku celana jeans-nya.
"Aahhh, ponsel Lia mati, aunty Lia mau charger ponsel Lia, takutnya Daddy marah jika Lia tidak telepon Daddy" tutur Aulia dengan wajah cemasnya.
"Yasudah sini aunty antar kamu ke dalam. Biar koper kamu Uncle Oskar yang bawa" Larisa menarik tangan Aulia membawanya masuk ke dalam Mansion.
Berjalan menuju lantai dua menggunakan lift karena kamarnya berada di lantai dua.
CEKLEK
Membuka pintu kamar berwarna abu-abu dan masuk ke dalam.
"Apakah ini kamar aunty?" tanya Aulia melihat-lihat ke sekeliling. Ada kasur king size, juga sofa panjang dengan meja bundar selain itu ada ruangan walk in closed dan kamar mandi. Tidak itu saja, terdapat nakas di dekat kasur dan meja rias ukuran besar dengan barang-barang kecantikan di atas meja tersebut.
"Iya sayang. Ini tempat colokan, kamu bisa charge baterai ponsel kamu" jawab Larisa. Dan Aulia buru-buru mencharger ponselnya setelah masuk ia langsung menghidupkannya.
Saat ingin menelpon Tuan Farhan ada panggilan video masuk.
Drrrt drrrt drrrt drrrt
Drrrt drrrt drrrt drrrt
Tertulis nama "love Daddy" di layar ponsel dengan cepat Aulia langsung menggeser layar hijau.
"Halo sayang, bagaimana keadaan Lia? apakah sudah makan? sudah sampai di Mansion? Lia tidak terluka kan? apakah Lia rindu dengan Daddy?" tanya Tuan Farhan berbagai rentetan pertanyaan. Membuat Aulia dan Larisa saling bersitatap.
"Apakah itu adalah kecemasan seorang raja Hades? tidak ku sangka dia yang terkenal kejam bisa khawatir juga pada orang lain" bisik Larisa sedikit tersenyum.
"Dad, sepertinya kepala Lia sakit" keluh Aulia menyentuh kepalanya pelan. Tuan Farhan langsung panik terlihat jelas raut wajahnya yang ketakutan.
"Tunggu Daddy, Daddy akan ke sana sekarang!" Tuan Farhan yang hendak memutus sambungan telepon langsung di hentikan oleh Aulia.
"Daddy! Lia bohong, Lia baik-baik saja tadi Lia hanya iseng tidak perlu kemari oke. Dan untuk pertanyaan Daddy semuanya aman. Dadaah Daddy Lia istirahat dulu... Lia sayang Daddy love you"
"Love you too"
Aulia langsung menutup sambungan video menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan.
"Apakah setiap hari seperti itu?" tanya Larisa dan Aulia mengangguk lirih.
"Hahahaha, kamu sangat beruntung bisa di perhatikan oleh seorang raja Iblis benar-benar takdir yang baik" seloroh Larisa terkekeh geli.
"Yah, Lia bahagia saking bahagianya Lia pengen tidur" Aulia menjatuhkan tubuhku kasar di atas kasur empuk milik Larisa. "Lia pinjam tempat tidurnya aunty"
"Pakai saja sayang"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung