
Happy reading 😘
Beri like dan Votenya dong kakak-kakak yg cantik dan guanteng 😀
.
.
.
.
.
.
.
"Hehehe, akhirnya kami mendapatkanmu Nona..."
Aulia terkejut bukan main kala melihat beberapa pria yang beradu jotos dengannya beberapa jam yang lalu yang kini sudah berada di hadapannya, tangannya di tarik paksa oleh lima orang pria berbadan besar.
"Lepaskan aku! apa yang kalian lakukan?" bentak Aulia berusaha melepaskan diri namun kekuatan dua orang yang mengendalikan tenaganya tidak bisa di lawan.
"Sial! mereka menemukanku. Satu-satunya cara hanya bisa berteriak sekarang" batin Aulia.
"Jangan berpikir macam-macam Nona! kamu sudah melakukan kesalahan pada kami lebih baik kamu menebusnya dengan mengikuti kami" jelas salah satu pria. Membuat Aulia memelototinya.
"Tolong! tolong aku! aku di culik tolong aku!!" teriak Aulia kencang membuat orang-orang memandang ke arah mereka, beberapa orang langsung berlari menolong Aulia.
"Sial!" gumam mereka dengan wajah kesal.
"Hey! kalian berani menculik anak orang di sore hari! lepaskan dia atau saya akan melapor ke polisi" gertak salah seorang pria paruh baya.
"Iya lepaskan dia!" seru ibu-ibu berkomentar.
"Aduh mohon maaf Bu, pak, gadis ini adalah anak majikan kami dia kabur dari rumah, kami hanya ingin membawanya pulang dan tidak menculiknya..." jelas pria berambut kuning yang panjangnya sebahu. Semua di sana saling menatap mereka akhirnya mengangguk kepalanya pelan, sepertinya orang-orang tersebut percaya akan apa yang di jelaskan oleh pria berotot itu.
"Hey! jangan percaya dengan ucapan mereka, mereka penipu! aku bukan anak majikannya aku bukan orang mereka!!" teriak Aulia berusaha menjelaskan, gadis itu memberikan tatapan tajam pada lima pria di sampingnya.
"Hahahaha, jangan percaya dengan omongannya, Nona kami lari karena mau di jodohkan dan dia tidak setuju dan pada akhirnya Nona kami pergi dari rumah... sekali lagi maafkan kami sudah mengganggu ketenangan kalian" mereka menjelaskan dengan tenang hingga membuat orang-orang percaya.
"Ck! anak muda, apa yang di pilihkan orang tuamu adalah yang terbaik pulanglah jangan sampai kamu menyesal nantinya" tutur orang-orang menasehati, membuat Aulia benar-benar kesal.
"Bohong! aku bukan orang mereka, om-om ini mau menculik saya" tutur Aulia namun mendapat gelengan kepala dari orang-orang di sana.
"Astaga Lia harus bagaimana sekarang? kenapa Leon lama sekali" geruru Aulia dalam hati. Dirinya menarik tangannya sekuat tenaga namun tetap saja tenaganya bukan tandingan mereka, lima lawan satu bukanlah solusi yang tepat jika adu jotos apalagi banyak energi yang sudah terkuras habis karena mengamen tadi.
"Bawa dia jangan sampai mereka kembali curiga pada kita" ucap seorang pria yang sepertinya adalah ketua mereka.
"Hey lepaskan aku! jangan jadi pecundang kalau mau ayo kita bertarung satu lawan satu!!" teriak Aulia namun hanya mendapat kekehan kecil dari mereka.
"Simpan tenaga kamu Nona, hahaha sepertinya Boss kita mendapat santapan yang enak hari ini" celetuk mereka membuat Aulia menaikkan sebelah alisnya.
"Bawa dia ke mobil!" titah sang ketua.
"Lepaskan aku bedebah!"
"Jangan berisik atau mau kami pukul" ancam pria berotot itu. Mereka membawa Aulia ke salah satu mobil berwarna hitam. Aulia tidak bisa melakukan apapun kecuali pasrah dengan keadaannya.
"Heh! jika Daddy Lia tahu kalian menyakiti Lia nyawa kalian akan segera di kirim ke neraka" bisik Aulia dalam hati. "Kenapa Leon lama sekali apakah begitu antri di dalam sana" sambungnya dalam hati.
Saat mereka hendak memasukkan Aulia ke dalam mobil sebuah suara mengagetkan mereka.
"Lepaskan dia!" ucap seorang pria yang tengah bersandar di salah satu mobil Bugatti Veyron berwarna putih. Sebuah rokok bertengger di jari tangannya menyedotnya santai. Gumpalan asap keluar dari mulut dan hidungnya menatap datar lima pria di depannya.
"Dia...?" bisik lima pria itu.
"Uncle" gumam Aulia pelan menatap pria di depannya.
"Heh! kamu siapanya gadis ini? jangan pernah mencampuri urusan kami... kami tidak pernah berselisih denganmu!!" ucap mereka menatap nyalang ke arah Tio, pria yang menyedot rokok itu terkekeh.
"Aku bisa saja menghancurkan Markas kalian dan... perdagangan gelap yang sudah kalian bangun beberapa tahun ini. Jika kalian tanya siapa gadis itu? maka akan aku jawab dia adalah orangku... lepaskan dia maka bisnis kalian akan aman di tanganku" jelasnya membuang puntung rokok ke tanah. Menginjaknya kasar. Ia berjalan mendekati lima pria berotot itu.
Terlihat wajah mereka yang sudah pucat pasih, tubuh mereka sedikit gemetar. Perlahan-lahan tangan Aulia terlepas dari genggaman dua pria, mereka beringsut mundur ke belakang.
"Bagaimana bisa dia tahu tentang bisnis rahasia itu? padahal kami melakukannya dengan sangat aman dan rapi bahkan polisi saja tidak mendapatkan bukti-buktinya, bagaimana bisa dia tahu?" bisik lima pria yang menyeret Aulia paksa.
"Jika kalian berani mengganggu orang-orangku maka jangan harap kalian bisa lolos dari kejaranku!!" tegas Tio memperingati. Ia menarik tangan Aulia untuk mendekat ke arahnya memeluk pinggang gadis itu posesif.
"Sial! aku pasti akan menghancurkanmu!" umpat sang ketua dalam hati. "Ayo kita pergi dari sini" ajaknya dan mereka langsung masuk ke dalam mobil melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Rupanya sedari tadi Tio mengamati kejadian di depan cafe, saat dirinya hendak masuk ke mobilnya tidak sengaja melihat gadis yang di carinya tengah berdiri di samping motor Beat. Sebenarnya ia hendak menemui Aulia namun tiba-tiba datang lima pria berotot yang di yakini berasal dari kelompok yang melakukan tindakan ilegal.
"Kenapa bisa wajah Nona sekotor ini? dan bagaimana bisa Nona sampai berurusan dengan orang-orang seperti mereka?" tanya Tio menekan bahu Aulia keduanya saling menatap. Aulia melepas tangan Tio di pundaknya, ia hendak pergi namun di tahan oleh Tio.
"Ayo pulang!" ujar Tio menggenggam tangan Aulia.
"Tidak! Lia tidak mau pulang. Lia ingin mencari kesenangan Lia di sini" jawab Aulia ketus. Ia berusaha melepaskan genggaman pria di sampingnya namun sepertinya tidak bisa, kekuatan pria itu sangat kuat membuatnya begitu kesulitan.
"Nona harus pulang bersama Uncle, orang-orang rumah sangat mencemaskan Nona" jawab Tio tegas. Aulia menatap tajam ke arah pria di depannya.
"Lia bilang tidak mau! Lia capek Uncle, Lia lelah harus melihat Uncle bersama aunty Karla. Lia harus melupakan Uncle Tio agar Lia tidak merasakan sakit hati ketika Uncle bersama aunty Karla nant, jadi tolong untuk tidak pedulikan Lia lagi... Lia lelah harus mencintai orang yang tidak mencintai Lia! jadi tolong jangan mempersulit perasaan Lia Uncle" bentak Aulia dengan air mata mengalir di pipinya. Tio seketika membeku menatap dalam wajah gadis di hadapannya. Hatinya ikut sakit apalagi mendengar bahwa gadis itu akan melupakannya dan ia tidak rela itu.
"Jangan pernah berpikir untuk melupakan Uncle! Uncle tidak mengizinkan itu mengerti!!" tegas Tio menekan pundak Aulia membuat gadis itu meringis sakit.
"Uncle egosi! Uncle melarang Lia untuk tidak melupakan Uncle... apakah Uncle pikir Lia wanita yang kuat yang bisa melihat kemesraan Uncle bersama aunty! apakah sekarang uncle sudah gila! tidak cukupkah Uncle menyakiti hati Lia hiks hiks... Lia sangat lelah Uncle, Lia lelah!!!" teriak Aulia melepas tangan Tio dari pundaknya, bendungan di pelupuk matanya tumpah ruah mengeluarkan segala uneg-unegnya, ia tidak bisa memendam rasa sakit itu, begitu menyakitkan jika terus menyimpannya seorang diri.
"Hari ini ataupun nanti Lia akan melepaskan Uncle, Lia tidak akan pernah men...mmm" Tio menarik Aulia mencium bibir gadis itu dan ********** kasar. Ia tidak mau mendengar sesuatu dari mulut gadis itu apalagi melupakannya. Heh! tidak akan pernah ia izinkan.
"Tidak akan ku biarkan kamu melupakanku begitu saja Nona!" tegas Tio dalam hati. Aulia memberontak berusaha melepas diri dari kungkungan Tio. Pria itu masih mencium bibirnya.
"Kakak" panggil seseorang. Membuat Tio melepas pagutan ciumannya.
"Eh Leon" jawab Aulia sedikit kikuk.
"Ayo kita pulang" Tio menarik paksa Aulia untuk masuk ke dalam mobilnya, Leon melihat Aulia di tarik segera menghentikannya.
"Kamu siapa? jangan membawa kak Lia!" ujar Leon melotot tajam.
"Bukan urusanmu anak kecil!" balas Tio tidak suka.
"Leon tolong aku" teriak Aulia menatap Leon.
"Aku akan ikut bersama mereka, aku tidak bisa diam saja melihat mereka menyiksa kak Lia" Leon buru-buru masuk ke dalam mobil membuat Tio melotot tajam namun anak laki-laki itu tidak perduli yang penting sekarang dirinya sudah masuk.
Pria itu hanya menghela napas kasar, urusannya akan panjang jika mengurus anak kecil itu lebih baik membiarkan Leon mengikuti mereka, toh Leon juga membantu Aulia untuk bertahan hidup itu berarti dia adalah orang baik.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung