The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 123 Merasa Aneh



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kini pria yang sudah menjadi menantu dari raja Iblis dan pembunuh bayaran itu sudah sampai di kediamannya, keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Namun saat masuk ke rumahnya pria bernama Tio itu melepas sepatunya dari kakinya kemudian meletakkannya di atas rak sepatu di samping pintu. Setalah itu ia memakai sandal rumah sebagai pengalas kakinya.


Sungguh suami yang sangat pengertian, ia tahu di rumahnya tidak ada pengurus rumah tangga dan yang mengerjakan pekerjaan rumah adalah istrinya itulah sebabnya ia tidak mau mengotori rumah dan tidak mau membebani sang istri.


Istri yang di nikahinya adalah seorang putri konglomerat terkaya nomor satu di dunia dan bahkan semua pekerjaan di lakukan oleh maid, seorang putri raja yang tidak pernah menggunakan tangannya untuk menyentuh apapun, telapak tangan yang halus bagaikan sutra, kulit seputih kapas, wajah cantik tak bisa di gambarkan, bersinar layaknya bintang..., namun sesaat semuanya berubah kala putri raja mengarungi dunia rumah tangga, menikah dengan seseorang yang sangat jauh darinya walau begitu ia tak terlalu sulit karena suaminya tidak akan membiarkan dirinya kelelahan hanya pekerjaan rumah tangga.


Dua kantong plastik di tenteng oleh Tio berjalan menuju ruang keluarga, di sana sudah ada wanita yang menunggunya, dengan tatapan berbinar sepertinya istrinya sudah tidak sabar dengan pesanan yang dia minta.


"Sayang, kau membawakannya untukku?" tanya Aulia antusias Tio tersenyum tipis sembari mengangguk pelan.


"Dia, sekarang lebih sering memanggilku sayang. Aku sangat suka mendengar panggilan itu" batin Tio.


Aulia segera mengambil dua kantung plastik dan menaruhnya di atas meja, buru-buru dirinya duduk di atas sofa dan membuka bungkusan yang di bawa oleh suaminya.


Aulia dengan tidak sabarnya membuka mika berisi buah anggur yang sudah di belah dua, sedang Tio hanya mengamati tindakan Aulia yang tidak biasa.


"Lia mau ambil bumbunya dulu" tuturnya beranjak dari duduknya.


"Sayang, bukankah bumbunya sudah ada kenapa harus mengambil bumbu lagi? Emang bumbu ini tidak cukup yah?" tanya Tio heran membuat Aulia menghentikan langkahnya.


"Lia tidak suka, Lia mau ambil bumbu yang sudah Lia siapkan" jawabnya dan langsung bergegas menuju dapur. Ruangan dapur terletak tak jauh dari ruangan keluarga bahkan bisa di lihat dari ruangan keluarga. Tio hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang berbeda dari biasanya.


"Hmmm, seperti orang hamil saja yang suka makan rujak" gumam Tio dengan kening mengkerut, dirinya tidak menyadari apa yang ia katakan barusan hingga melewatkan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.


Aulia kemudian membawa sebuah piring di tangannya lalu di letakan di atas meja di samping mika yang berisi buah anggur.


Tio menaikkan sebelah alisnya kala melihat garam juga lima buah cabai merah kecil yang sudah di potong-potong halus padahal bumbu rujak yang dia bawah lebih enak daripada garam bercampur cabai benar-benar aneh.


"Sayang, apakah tidak salah kamu makan anggur dengan itu?" tanya Tio menunjuk garam dan cabai di dalam piring kaca.


"Tidak ada yang salah, Lia hanya ingin makan buah anggur dengan garam juga cabai, entah kenapa Lia menyukainya bahkan sudah beberapa hari ini Lia ingin menyantap habis buah anggur bercampur garam dan cabai" jawab Aulia dengan tatapan tak sabar. Putri raja Iblis itu kemudian mulai menyantap buah anggur yang sudah ada bumbu garam campur cabai itu.


"Ummm, enak sekali. Lia belum pernah merasakan asinan buah senikmat hari ini" pekik Aulia dengan mata berbinar, Tio hanya menampilkan wajah tak biasa merasa aneh dengan istrinya akhir-akhir ini.


"Uncle penasaran bagaimana rasanya, apakah itu beneran enak?" tanya Tio dengan mulut yang sudah tak sabar untuk menyantap buah bercampur bumbu ala Aulia.


"Uncle pasti menyukainya, ini Lia suapi" melihat buah asinan yang di buat oleh istrinya membuat lidah Tio ingin mencicipinya, memajukan wajahnya mendekati tangan Aulia dan...,


HAP


Buah anggur bercampur garam dan cabai itu langsung masuk ke dalam mulut Tio, saat lidahnya bersentuhan dengan buah anggur lalu di kunyah pelan, seketika matanya melotot tajam. Aneh? oh tentu saja bukan itu!.


"Wow fantastis!" pekik Tio membuat Aulia tersenyum lebar.


"Kenapa asinan buatan istriku seenak ini, aku bahkan semakin ketagihan memakannya, sangat lezat lidahku bahkan tidak mau berhenti bergoyang sedikitpun" bisik Tio dalam hati. Tak jauh dari ruang keluarga tampak dua orang pria berjalan menuju ke arah mereka.


"Widih, pasutri lagi makan apa tuh?" ujar pria berperawakan tinggi, Tio dan Aulia kemudian melihat ke samping mereka tersenyum kecil kala dua sahabat Aulia sudah duduk di atas sofa.


"Kami makan anggur campur garam dan cabai, apa kalian mau mencicipinya?" tawar Tio membuat Gilang dan Andre itu menampilkan ekspresi aneh.


"What! apa tidak salah? rasanya akan sangat menggelikan" tutur Andre masam.


"Coba saja, asinan buatan Lia tidak akan mengecewakan. Suami Lia saja sangat suka masa abang tidak suka" ujar Aulia menyodorkan piring berisi asinan anggur.


"Aku jadi penasaran seenak apa sih sampai kalian berdua seheboh itu menyantapnya" kata Gilang menaikkan sebelah alisnya. Gilang dan Andre kemudian mengambil sebelah buah anggur lalu memakannya.


Tiba-tiba saja...


Hoeeekk hoeeekk hoeeekk


"Makanan apa ini? rasanya seperti memakan lumut tidak enak!" pekik Andre segera berlari ke arah dapur memuntahkan asinan di mulutnya. Tak jauh berbeda dengan Andre Gilang pun mengalami hal yang sama. Menutup mulutnya agar tidak memuntahkannya di atas lantai. Berlari mengikuti Andre ke dapur.


Aulia dan Tio hanya memandang kedua pria yang berlari ke dapur dengan ekspresi datar lalu kemudian mengambil asinan anggur untuk di santap, kedua pasangan suami istri itu makan dengan lahapnya bahkan sampai bersendawa membuat keduanya saling menatap dan tertawa bersama.


Tak lama Andre dan Gilang pun datang dengan mata merah berkaca-kaca, sepertinya asinan yang tadi di makan membuat mereka ingin muntah.


"Bagiamana bisa kalian makan anggur di campur garam dan cabai, rasanya sangat-sangat menggelikan di mulut!" cerocos Gilang dengan wajah datar.


"Mulut abang sangat aneh, rasanya enak begini di bilang menggelikan..., benar-benar membuat Lia muak lebih baik abang pergi bekerja jangan membuat suasana hati Lia menjadi buruk di sini!" tutur Aulia dingin sembari memakan kembali asinan yang di buatnya.


Ketiga pria yang berada di ruang keluarga terkejut bukan main, setahu mereka Aulia tidak akan berbicara sedingin dan sekasar itu namun hari ini Aulia seperti bukan dirinya. Pasalnya Aulia tidak akan menampilkan wajah datar dan tatapan tajam kepada sahabat-sahabatnya.


"Hey! kami hanya bercanda, jangan di masukan ke hati" ujar Andre dan Gilang bersamaan namun tak mengubah ekspresi wajah dingin Aulia.


Aulia diam saja tanpa mau menyahuti ucapan dari dua temannya ia masih asyik dengan asinan anggur, Tio kemudian memberikan kode kepada dua teman istrinya untuk meninggalkan mereka terlebih dulu. Ia tahu jika istrinya benar-benar kesal sekarang. Dengan perasaan bersalah Andre dan Gilang berjalan meninggalkan kedua pasangan suami-istri itu.


"Eh, apa kau yakin dia adik kita?"bisik Andre pada Gilang. Gilang menggeleng pelan dengan langkah lunglai.


"Hmmm, mirip seperti ibu hamil saja, mudah baperan" celetuk Andre membuat Gilang sontak berhenti berjalan lalu menatap tajam ke arah Andre.


"Apa kau bilang tadi?" Mirip ibu hamil?" tanya Gilang membuat Andre keheranan.


"Iya, kenapa?" tanyanya kembali sembari beradu tatap dengan Gilang, sesaat mereka terdiam dan...


"Jangan-jangan Aulia hamil?" hal itu membuat mata Gilang dan Andre melebar seketika menarik sudut bibirnya tersenyum tipis.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung