The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 172 Adik Kurang Akhlak



Happy Reading 😁


.


.


.


.


.


.


Di dalam pesawat jurusan ke kota Washington DC, tampak dua anak kecil sedang duduk dengan wajah bantalnya, sesekali mengeluh jarak tempuh yang begitu jauh. Tidak ada komentar dari anak manusia dewasa nyatanya mereka juga merasakan hal yang sama. Sekalipun fasilitas di dalam pesawat begitu memadai, tetapi untuk tubuh rentan seperti mereka sangat mudah memicu terjadinya sakit pinggang.


"Kakek, sampai kapan kita di dalam pesawat terus? Aku capek, apa kakek tidak capek yah? Padahal tubuh kakek sudah tua seharusnya merasakan nyeri pinggang kalau duduk atau baring terlalu lama" ucap Aditya tanpa rasa dosa pada tuan Farhan.


"Kalau kakek yang capek wajar, tapi kamu. Kamu masih muda tapi sudah banyak ngeluh" sahut tuan Farhan dengan kalimat pedas. Aditya menatap kesal tuan Farhan karena apa yang di katakan kakeknya adalah benar.


Jons dan Amanda hanya geleng-geleng kepala, sebenarnya mereka kesal juga dengan sikap tuan Farhan yang mementingkan ego daripada perasaan cucunya, apalagi Aditya masih kecil.


"Kakek, apakah kita bisa melompat dari sini? Pasti menyenangkan, bisa terbang seperti burung" tiba-tiba gadis kecil dengan mata berbinar berujar tanpa melihat ekspresi kaget orang-orang dewasa.


"Sayang, tidak boleh punya pikiran seperti itu, kalau Enzi terbang dari sini Enzi akan mati, kita berada di tempat yang tinggi dan jauh dari bumi" nasihat Jons kepada cucu perempuannya. Apakah ini adalah kebaikan atau kejahatan, sungguh ia harus terus mendampingi cucunya jika terus sendiri takutnya masih ada banyak lagi imajinasi sesat di pikirannya.


"Kakek ada cara biar Enzi tetap selamat dari ketinggian" perkataan tuan Farhan mengundang sorot mata tajam dari Jons, namun suaminya tidak peduli.


"Bagaimana calanya kek?" tanya Enzi antusias, tuan Farhan melebarkan bibirnya, ia tersenyum.


"Enzi bisa menggunakan terjun payung dari sini, nanti saat tiba di puncak kakek akan membawa Enzi merasakan bagaimana rasanya terbang, seperti burung"


"Holeeee, kakek yang telbaik, Enzi sayang kakek, akhilnya Enzi bisa menjadi bulung dan telbang ke langit" semangat Enzi dengan wajah berbinar, ia seperti mendapat mainan Barbie yang tidak di miliki oleh orang lain di dunia ini.


"Ke langit mau ngapain? Di sana kan gak seperti di sini" sahut Aditya memutar bola matanya malas.


"Iiish, Enzi akan mengambil bintang di langit, buat hiasan di kamal Enzi" jawaban polos Enzi sontak mengundang tawa orang-orang. Enzi merasa aneh dengan kakek dan yang lainnya yang menertawakan dirinya padahal ia sedang tidak bercanda.


Tidak tahu saja jika bintang itu adalah benda langit yang sangat besar bahkan lebih besar dari bumi, jika di gambarkan Bumi seperti satu butiran pasir, sangat kecil. Dan jarak antara bintang dan Bumi begitu jauh dan tidak mudah untuk di gapai.


"Hahahahha, adik Enzi, kamu tidak tahu yah kalau bintang itu lebih besar dari Bumi kita ini?" Aditya berkata sambil tertawa jenaka. Alis Enzi terangkat ke atas ia menatap kakeknya untuk meminta penjelasan.


"Sayang, bintang itu sangatlah besar, bahkan Bumi kita ini tidak sebanding dengannya, dia juga sangat jauh dan butuh beberapa tahun untuk sampai ke sana" kali ini Jons ikut menyahut, ia menjelaskan dengan penuh kesabaran.


"Nanti kakek akan membelikan bintang untuk Enzi"


"Wah benarkah? apakah kakek bisa mendapatkan bintang seperti bintang di langit?" Setelah menampakkan wajah murung, gadis kecil itu kembali girang kala tuan Farhan bersuara. Sepertinya tuan Farhan lebih memahami sifat cucu perempuannya daripada yang lain. Jons hanya geleng-geleng pelan melihat reaksi girang Enzi kala tuan Farhan sudah turun tangan.


Sementara itu di Indonesia, Hamas benar-benar kesal saat tahu kedua anaknya juga di bawah oleh orang tuanya, hanya dirinya dan kedua adik laki-lakinya yang sebentar lagi akan menginjak bangku SMA.


"Abang kenapa tidak kasih tahu kalau abang akan pulang, Daddy dan Mommy pikir abang masih di sana makanya mereka membawa adik Enzi dan Aditya ke sana" seorang anak laki-laki berkata sambil menyantap makanannya. Yah kini mereka tengah makan malam bertiga jika biasanya ada begitu banyak orang maka tidak dengan malam ini, itulah sebabnya Hamas benar-benar dongkol.


"Abang pulang buru-buru, sekretaris abang terus menghubungi abang ada masalah di kantor makanya abang langsung pulang tanpa memberitahu mereka" ngelesnya tanpa melihat dua adiknya.


"Lalu bagaimana, apakah wanita itu benar-benar kak Alexa bang?" tanya Dafa menatap wajah Hamas, pria yang di tanya menggangguk sambil menikmati nasi goreng pete.


"Kalau begitu kenapa abang tidak mengajak kak Alexa pulang? Kenapa abang pulang sendiri, apakah kak Alexa tidak mau atau kak Alexa masih suka sama abang makanya kak Alexa menjauh untuk menghilangkan perasaannya terhadap abang?" kali ini Daffin bertanya membuat pria duda itu menatap tajam ke arah Daffin, namun pria remaja itu malah tak acuh ia mengedikkan bahunya dan terus makan nasi gorengnya.


"Abang kenapa tidak jawab? Apakah benar kak Alexa masih suka dengan abang?" sungguh hati pria duda itu merasa sangat kesal, ia tidak bernafsu makan dan langsung beranjak dari duduknya.


"Abang mau kemana? Makannya kan belum selesai, kata mommy harus habiskan makanan tidak boleh menyisakannya nanti mubazir bang" nasihat dua adiknya membuat pusing Hamas, sekalipun benar yang di katakan dua adiknya tetapi ia sudah terlanjur kesal dan gengsi untuk duduk kembali.


"Kalian saja yang habiskan, abang mau ke atas dulu"


"Mommy sama Daddy melarang kami untuk makan makanan sisa orang lain, takut jika makanan sisa itu terdapat kuman atau virusnya, bagaimana dong? kami akan sakit" Dafa semakin menjahili Hamas dan itu membuat mereka senang karena bisa membuat pria duda itu emosi.


"Kalian! Itu kan makanan sisa abang, kalian pikir abang orang yang berpenyakitan hah!" ketus Hamas menatap tajam dua adiknya, ingin sekali Dafa dan Daffin terbahak-bahak tetapi mereka menahannya.


"Memangnya abang sudah periksa ke dokter? Abang kan sering bertemu orang banyak apalagi abang baru pulang dari luar negeri sangat rentan abang terkontaminasi oleh virus atau kuman, benar kan Dafa?" Dafa mengangguk membenarkan perkataan Daffin, Hamas yang tidak ingin lepas kendali segera meninggalkan meja makan dan langsung menuju ke lantai atas.


Sementara Dafa dan Daffin langsung melepas tawanya kala objek keisengan mereka sudah pergi.


"Hahahha, Daf kamu lihat tadi wajah bang Hamas merah banget, aaah lega rasanya bisa menjahili abang"


"Hahaha benar Fin, aku juga senang habisnya abang pulang tidak bawa oleh-oleh padahal kita sudah bilang ke abang mau belikan kita oleh-oleh tapi malah tidak ada" jawab Dafa. Kini keduanya sudah selesai makan, mereka membawa piring kotor ke dapur dan langsung mencucinya karena mereka telah berjanji kepada anggota Black Wolf yang bertugas bagian dapur untuk mencuci piring mereka sendiri.


Lagipula itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk di lakukan itulah sebabnya mereka mengambil alih pekerjaan tersebut.


.


.


.


.


.


.


Bersambung