The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 27 Bad Girl



Happy reading 😘


Kasi like dan vote Seninnya dong


.


.


.


.


.


.


.


.


Masih di sebuah gudang kampus yang tidak terpakai. Juga tidak ada orang yang datang ke sana kecuali OB yang sebulan sekali membersihkannya. Gadis berseragam sekolah itu terus mundur ke belakang sedang para penjahat semakin mendekat ke arahnya.


"Jangan macam-macam yah aku bisa teriak lho!" tegas Alexa mengacungkan telunjuknya ke depan. Dan tiga pria itu bukannya takut malah tertawa terbahak-bahak menatap kagum gadis itu.


"Heheheh, jangan sok kuat ayo sini main-main sama kakak, kakak yakin kamu akan ketagihan" ujar mereka dengan kekehan kecil. Menatap lapar santapan lezat di depannya.


"Heh! akan aku ladenin kalian" bisik Alexa dalam hati. Menampilkan senyum jahatnya. Ketiga pria itu semakin mendekat sedang tubuh Alexa sudah terpentok ke dinding. Tidak ada ruang untuk keluar dari sana. Tawa jahat terdengar menggelegar tangan itu terulur mendekati tubuh Alexa namun tak sedikitpun membuatnya ketakutan.


Ia malah menampilkan seringai di bibirnya sedang tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas dan hal itu tidak di ketahui oleh ke-tiga pria jahat.


"Di sini sangat sepi akan sangat menyenangkan jika kita bermain-main cantik..."seru salah seorang pria. Saat hendak menyentuh Alexa dengan cepat gadis itu menyemprot cairan ke wajah mereka sedangkan dirinya menutupi hidungnya menggunakan sapu tangan.


"Akkkkhh brengsek!"


"Sialan! apa yang kau berikan pada kami?"


"Akkkhhh, tidak! sepertinya aku sangat mengantuk. Mataku tiba-tiba terasa berat"


Setelah menyemprotkan cairan yang ada di dalam botol kecil tiga pria itu seketika terjatuh dengan mata tertutup sempurna. Sepertinya cairan tersebut adalah obat bius yang sering di bawa oleh Alexa.


Gadis itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan ke-tiga pria yang tengah terbaring tak berdaya di atas lantai yang kotor.


"Heheheh, kalian sudah sangat berani membohongiku, benar-benar cari mati hemmm... ah bagaimana jika kita bermain-main dulu kakak-kakak yang tampan" celetuk Alexa dengan tawa mengerikan.


Ia menjatuhkan tas sekolah di depannya mengambil satu buah benda berukuran kecil dari dalam tasnya. Membuka sarung benda itu hingga terlihat sesuatu yang begitu berkilau berwarna silver.


"Ck! santapan yang begitu lezat" desahnya dengan wajah penuh gairah. Tangan mungilnya terulur mengambil lengan salah satu pria lalu mengarahkan pisaunya di lengan yang di pegangnya.


"Kenapa sangat menyenangkan melihat darah?." Gumamnya tersenyum tipis. Ia dengan semangat empat lima menekan pisaunya pada daging pria berambut coklat, terlihat darah bercucuran keluar membasahi lantai penuh debu. Menekan pisau itu pelan dan menariknya ke bawah, satu goresan tercipta ia beralih pada lengan satunya lagi melakukan hal yang sama yaitu memberikan gambar datar.


"Tangan-tangan ini yang telah berani menyentuhku. Heh! berani sekali jika kalian tidak menipuku aku tidak akan melukai kalian. Sampah!" celetuk Alexa sembari memberikan beberapa karya pada tiga laki-laki yang sudah kurang ajar padanya.


Belum puas sampai di situ Alexa kembali membuka beberapa kancing baju mereka menggambar emot senyum setan di dada masing-masing.


SREEET


SREEET


SREEET


Darah segar memuncrat keluar, baju putih yang ia kenakan berubah menjadi merah akibat noda darah dari tiga korban pria di hadapannya.


"Sayang sekali, aku belum puas bermain-main. Bagaimana jika aku mencungkil kuku-kuku kalian satu persatu. Upss! tenang saja kalian akan bergiliran mendapatkan hasil karyaku" ujarnya tersenyum lebar. Tidak ada rasa takut yang ia rasakan saat melakukan tindakan kekerasan. Ia justru bahagia melakukan sesuatu yang mengerikan.


Gadis itu mulai mengarahkan pisaunya kembali pada kuku tangan korbannya. Menusuknya kuat hingga tembus keluar. Banyak darah keluar dari daging segar itu. Darah terciprat mengenai wajahnya namun gadis psikopat itu tidak perduli saat ini yang ada di otaknya hanyalah kepuasan.


"Tidak menyenangkan! hah! mereka bahkan tidak merasakan sakit. Tidak asyik!." Gerutunya membuang pisau kecil di tangannya. Dirinya terduduk menatap tubuh penuh darah di depannya.


Namun tiba-tiba dirinya menggigil ketakutan. Dirinya beringsut mundur ke belakang matanya bahkan sampai berkaca-kaca. Entah apa yang terjadi sampai membuatnya seperti itu.


"A-apa yang sudah aku lakukan?. Tidak! aku tidak melakukannya! aku tidak membunuh orang kan? abang Hamas! abang di mana hiks, hiks" lirih Alexa dengan tubuh bergetar takut. Sepertinya apa yang di lakukannya tadi adalah di luar kendalinya, ia bahkan tidak tahu apa yang ia lakukan seketika memorinya tadi hilang tak terdeteksi.


Mungkinkah dirinya memiliki kelainan karakter atau tidak, entahlah tidak ada yang tahu. Tubuh mungil itu masih gemetar dengan lutut di tekuk memeluk kedua lututnya sangat erat seakan takut jika di tangkap.


Tiba-tiba dering telepon berbunyi yang sepertinya berasal dari dalam tas milik Alexa namun dirinya hanya menatapnya datar tanpa berniat untuk mengambilnya. Gadis itu seperti orang linglung.


"Astaga kenapa tidak di angkat! panggilan sebanyak ini apakah terjadi sesuatu padanya?" kesal seorang pria. Orang tersebut menggerutu tak menentu. Membuat adiknya merasa terganggu.


"Abang kenapa sih?. Ganggu tahu gak!" kesal pria gondrong melotot tajam.


"Tadi Lexa menelponku tapi aku tidak tahu, sepuluh panggil tidak terjawab dari dia dan sekarang dia tidak mengangkatnya... aku takut jika dia berulah lagi" jelas Hamas memijat pangkal hidungnya.


Saat ini mereka berada di salah satu cafe dekat kampus mereka, keduanya sedang bersantai di sana merilekskan otak mereka yang begitu penat.


"Bukankah kau memasang alat pelacak di ponselnya kau bisa menyelidikinya kan?" jelas pria gondrong yang tak lain adalah Azhar. Hamas menepuk jidatnya merasa bodoh. Kenapa bisa melupakan sesuatu yang sangat penting.


"Kau memang adikku yang pintar" tutur Hamas terkekeh geli sedang Azhar hanya mendengus kesal.


"Cih! kau saja yang bodoh sampai tidak tahu kepintaran yang di miliki adik sendiri" gumam Azhar menairik sudut bibirnya kesal. Sedang Hamas hanya terkekeh kecil melihat tingkah adik laki-lakinya itu.


Ia lalu melihat peta di mana posisi Alexa berada matanya seketika membulat sempurna kala melihat titik merah di daerah Universitas Harvard tempatnya kuliah.


"Dia berada di kampus kita, apa yang dia lakukan di sana bukankah dia masih ada kelas" tutur Hamas mengerutkan keningnya.


"What! Alexa di kampus kita? itu berita buruk jangan sampai dia melakukan sesuatu di luar kesadarannya" ucap Azhar terkejut. Tanpa menunggu lama lagi dua kakak beradik itu segera berlari keluar dari Cafe. Setelah meletakkan selembar uang di atas meja mereka bergegas menuju kampus.


Tidak butuh lama mereka sudah sampai di kampus tempat menimba ilmu. Keluar dari mobil sedan berwarna hitam.


"Di mana posisinya sekarang?" tanya Azhar panik.


Hamas kembali membuka salah satu aplikasi yang bisa melacak keberadaan orang lain pada ponselnya, titik merah tersebut tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Jika di teliti titik merah ini berada di belakang kampus lebih tepatnya di gudang yang tidak seorang pun datang ke sana" jawab Hamas serius.


"Ayo kita pergi ke sana segera! jangan sampai dia ketahuan" jelas Azhar dan Hamas mengangguk mengerti. Mereka kemudian berlari ke arah gudang, para mahasiswa yang lain hanya menatap aneh tingkah dua pria yang sangat populer itu.


"Semoga kamu tidak kenapa-napa" batin Hamas mengepalkan tangannya.


Sekarang ini mereka sudah sampai di belakang kampus, napas keduanya memburu saling bersahutan. "Bang, di mana posisinya sekarang?" tanya Azhar setelah menyesuaikan napasnya.


"Di depan sana!" tunjuk Hamas di salah satu lorong. Hamas dan Azhar menuju titik merah di mana lokasi gadis kecilnya berada. Hingga sebuah penampakan yang membuat keduanya mendadak beku. Tiga orang pria dengan tubuh berdarah juga terbaring di atas lantai yang di penuhi genangan gumpalan warna merah. Tak jauh dari sana mereka mendengar suara isakan seseorang membuat atensi mereka teralihkan.


"Alexa!." Teriak mereka berlari menghampiri gadis yang tengah meringkuk takut.


"A-abang, a-aku tidak melakukannya" jelas Alexa dengan wajah takut juga pakaian penuh darah.


"Azhar! kamu urus tiga pria itu, cek dan lihat apakah mereka sudah mati atau masih hidup!" titah Hamas dan Azhar mengangguk mengerti.


"Sssttt! jangan takut abang di sini" Hamas memeluk tubuh Alexa mengelus punggungnya lembut.


"Mereka masih hidup" jelas Azhar saat memeriksa nadi ketiganya dan masih berdetak.


"Bawa mereka ke rumah sakit, hubungi anggota Daddy untuk menolong kamu dan aku akan mengurus Alexa." Jelas Hamas tenang.


"Baik"


"Abang akan membersihkan tubuh kamu, kita tidak bisa keluar dengan darah sebanyak ini" gadis itu hanya mengangguk pelan tanpa tenaga.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung