The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 17 Ke Meksiko



Happy reading 🤗


Beri like dan Votenya dong


.


.


.


.


.


.


.


.


Malam berganti pagi sinar mentari menyinari ibu kota Jakarta, di ruangan yang cukup luas dengan meja besar sebagai pembatas, di atas meja sudah tertata rapi hidangan yang sungguh menggugah selera setiap yang melihatnya.


Di sana sudah ada Tuan dan Nyonya Wijaya, raja Iblis, pembunuh bayaran, Alex dan Amanda serta dua D.


Mereka makan sangat khidmat tidak ada pembicaraan di antara mereka, namun ada sosok yang menatap tajam ke arah Tuan Farhan dan pria itu hanya mengedikan bahunya.


"Kamu kenapa Daffin liatin Daddy kayak gitu?" tanya Dafa yang begitu penasaran melihat ekspresi ketidaksukaan adik kembarnya.


"Tidak! hanya ingin makan daging Daddy saja" jawabnya asal membuat Dafa mengerutkan keningnya.


"Dia kenapa sih? kok jawabannya kayak gitu?" gumam Dafa dalam hati mengerling tidak suka pada jawaban adik kembarannya.


"Daffin kamu kenapa? kok tidak makan, terus mulut kenapa di manyun-manyun gitu hmmm...?" tanya Nyonya Mita menatap wajah cucu kesayangannya.


"Tidak ada" jawabnya ketus membuat mereka di sana menatap Daffin. Karena tidak biasanya anak laki-laki itu menjawa ketus biasanya dia selalu manja apalagi pada Nyonya Mita. "Daddy jahat Nenek, Daddy men..."


"Daffin! hari ini Daddy mau beli sepeda untuk kak Dafa, Daffin mau tidak?" tanya Tuan Farhan memotong pembicaraan putranya, jika sampai masalah semalam di ketahui oleh sang ibu maka dirinya pasti akan di ceramahin berminggu-minggu, itu sebabnya pria itu langsung angkat bicara.


"Daffin maulah, tapi harus yang mahal gak boleh murah" jawab Daffin antusias. Ia melupakan niat awalnya untuk memberitahukan kejadian yang menimpanya. Memang raja Iblis selalu menang dalam urusan apapun.


"Masuk perangkap putraku hahaha" batin raja Iblis dalam hati, ia tersenyum devil.


"Oh tentu saja sayang, apapun yang Daffin minta Daddy akan belikan" tutur Tuan Farhan dengan bibir tersenyum lebar.


"Kapan Daddy bilang akan membelikan aku sepeda?" batin Dafa melirik ke arah sang Daddy sedangkan Tuan Farhan mengedipkan matanya ke arah Dafa untuk tidak bertanya apapun.


"Makasih Daddy, you're the best" Daffin mengacungkan dua jempolnya ke arah sang Daddy.


"Daffin, tadi kamu mau bilang apa sayang?" tanya Tuan Wijaya dan Nyonya Mita penasaran, rupanya mereka masih ingin tahu apa yang akan di bicarakan oleh sang cucu itu. Alex dan Amanda menatap ke arah Daffin dan Tuan Farhan.


"Pasti Tuan muda sudah berulah lagi" bisik Amanda dan Alex dalam hati.


"Heheheh, tidak ada Nek, Kek" jawab Daffin terkekeh kecil, menelan ludahnya kasar kala tatapan tajam Tuan Farhan mengarah padanya. Hal itu membuat nyalinya menciut, lagipula jika nanti ia mengadu soal semalam maka pasti dirinya akan di rugikan dan tidak mendapatkan uang jajan apalagi sepeda kesukaannya.


"Huh! punya Daddy mirip raja Iblis, benar-benar menakutkan" gumam Daffin dalam hatinya. Ia buru-buru menunduk ke arah piringnya memakan makanannya tanpa melirik ke arah siapapun.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak nyaman" bisik Tuan Farhan dan Jons bersamaan, keduanya saling melirik satu sama lain.


"Tenang tidak akan terjadi apa-apa" ujar Tuan Farhan pelan, menggenggam punggung tangan istrinya seakan tahu isi pikiran Jons karena ia bisa merasakan hal itu.


"Semoga itu benar" batin Jons.


"Amanda, bagiamana kabar cucuku di sana?" tanya Nyonya Mita yang bertanya tentang Alexa.


"Baik Ma." Jawab Amanda tersenyum tipis.


"Syukurlah" gumam Nyonya Mita merasa senang. Semua sudah menyelesaikan makannya, beranjak dari kursi mereka dan berjalan ke arah ruang keluarga namun tidak dengan Amanda dan Alex, mereka berjalan menuju paviliun, para ART segera membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke dapur.


"Kami pergi dulu, aku akan mengantar anak-anak ke sekolah takutnya mereka akan terlambat" ujar Tuan Farhan menyalami kedua orang tuanya di ikuti Dafa dan Daffin.


"Iya hati-hati di jalan yah sayang" Tuan Wijaya dan Nyonya Mita mengelus rambut kedua cucunya mencium kening keduanya.


"Dadaah, Kakek, Nenek. Kami pergi dulu yah" tutur dua D. Dan kedua paruh baya itu hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajah mereka. Melambaikan tangan ke arah sang cucu yang semakin jauh di pandang mata.


"Ara, aku kerja dulu yah kamu kalau bosan di Mansion, pergi ke kantor saja" ujar Tuan Farhan di depan istrinya, tangannya terangkat mengelus surai hitam milik Jons.


"Iya Prince, kamu dan anak-anak hati-hati di jalan ingat tidak boleh ngebut... kalau lelah kerja jangan di paksain aku tidak mau kamu sakit... lagipula aku betah kok di sini" jelas Jons menatap manik indah suaminya, senyum di wajahnya semakin merekah kala tatapan keduanya saling bertemu.


"Ekheem!" Dafa dan Daffin berbalik membelakangi kedua orang tak berakhlak itu.


"Cepat Daddy, kami sudah terlambat!" ujar Daffin kesal.


"Astaga maaf sayang Daddy melupakan kalian berdua" cengir Tuan Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang raja Iblis kalau sudah berurusan dengan surga dunia maka anak-anak pun akan terlupakan. Membuat Dafa dan Daffin mendengus kesal.


"Daddy kurang akhlak!" ketus Daffin dan Dafa.


"Mom, kami pergi dulu, kami sayang Mommy" kedua bocah laki-laki itu mencium pipi Jons bersamaan.


"Iya sayang, maaf yah sudah membuat kalian menunggu" Jons mengelus kepala kedua putranya itu, mencium pipi keduanya bergantian membuat kakak beradik tersenyum lebar.


"Mommy tidak salah, itu karena Daddy yang membuat Mommy terhasut. Jadi tidak perlu minta maaf oke" ujar Daffin tanpa dosa.


"Kau bukan putraku" batin Tuan Farhan mencibir Daffin.


"Ayo buruan! nanti telat lho!" tukas Tuan Farhan. Daffin dan Dafa melirik dengan bibir terangkat sinis.


"Dadaah Mommy, kami pergi dulu... Mommy hati-hati yah kami sayang Mommy... Muaaach" Dafa dan Daffin mencium pipi Jons membuat wanita itu begitu bahagia.


Suami dan kedua putranya berjalan ke arah mobil yang akan mereka tumpangi, Tuan Farhan membuka pintu untuk kedua putranya di jok belakang dan dirinya segera masuk dan menjatuhkan bokongnya di kursi kemudi.


"Mommy, kami pergi dulu yah" teriak Dafa dan Daffin bersamaan.


"Ara, kami pergi yah" ujar Tuan Farhan.


"Iya sayang, kalian hati-hati, semangat belajar sayang, semangat bekerja suamiku!!" balas Jons dengan kepalan tangan terangkat sejajar dengan dagunya. Tiga pria di dalam mobil memberikan finger love sebagai tanda mengerti.


Mobil sedan putih itu melesat pergi meninggalkan kediaman Mansion Utama, Jons yang tidak lagi melihat bayangan mobil suaminya segera masuk ke dalam.


"Daddy, semalam aku telepon nomor kak Lia tapi tidak aktif" ucap Dafa di kursi belakang.


"Oh yah, coba Daddy telepon dulu" jawab Tuan Farhan, meraih ponselnya mencari nomor putrinya, setelah ketemu ia lalu menekan layar dengan tulisan memanggil. Namun hanya suara operator yang menjawab.


"Tidak biasanya Lia seperti ini" gumam Tuan Farhan mencoba sekali lagi namun tetap saja. Hasilnya nihil.


"Bagiamana Dad, apakah masuk?." Tanya Dafa dan Daffin.


"Tidak, tapi Daddy coba telepon Oppa Zeus" sahut Tuan Farhan. Pria itu beralih pada nomor Tuan Zeus namun tidak terangkat hal itu membuat raja Iblis begitu kesal.


"Hatiku semakin tidak karuan, apa yang terjadi sebenarnya?" bisiknya dalam hati. "Aku telepon Tio"


"Halo, Tio di mana putriku Aulia?" tanya Tuan Farhan saat panggilan itu masuk. Pria di sebrang mendadak beku tidak tahu harus menjawab apa karena pertanyaan yang di layangkan Tuan Farhan padanya sungguh tidak bisa di jawab.


"Jawab Tio!! jangan membuatku marah?" bentak Tuan Farhan, pria itu seketika menepikan mobilnya karena merasa ada yang ganjal.


"Maafkan aku Tuan muda" hanya kalimat itu yang mampu di ucapakannya, ia berharap kesalahannya dapat di maafkan walaupun itu tidak mungkin.


"Bedebah! sudah ku bilang untuk menjaga putriku baik-baik, kenapa bisa kau mengingkari itu Tio!! aku akan kesana sekarang! dan ingat jangan membuatku kehilangan kendaliku" raja iblis memutus sambungan telepon sepihak. Wajahnya berubah menjadi merah padam, terlihat kilatan amarah yang terpancar di matanya. Menarik dasinya ke bawah. Ia kembali melajukan mobilnya.


"Bedebah! mereka mengingkari janjinya! Tuan Zeus" bisik Tuan Farhan dalam hati.


"Daddy akan ke Meksiko hari ini, kalian akan di jemput oleh Uncle Richo saat pulang sekolah" tutur Tuan Farhan.


"Iya Daddy" jawab kedua bocah itu tanpa berani bertanya lagi.


"Apa yang sudah Uncle tio lakukan? sampai membuat Daddy se-marah ini" batin Dafa dan Daffin bersamaan.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung