The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 43 Horang Kaya



Happy reading 🤗


Beri like dan hadiahnya kakak ❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi menyapa Bumi Indonesia, orang-orang mulai melakukan aktivitasnya sehari-hari, suara burung kenari bersahut-sahutan terbang ke udara lalu kemudian mendarat di salah satu pohon rindang, membuat sarang di sana.


Di kediaman Tuan Wijaya tepatnya di Mansion Utama, mereka telah berkumpul di meja makan, menikamati sarapan yang di buat oleh anggota Black Wolf yang mempunyai jabatan koki di sana.


Hari ini menu yang di buat adalah spaghetti bolognese sesuai permintaan Tuan rumah, mereka begitu menikmatinya, benar-benar lezat andai tidak merasakan kenyang maka pasti mereka akan makan terus tidak merasa bosan.


"Daddy sudah mendaftarkan kamu di universitas Indonesia" tutur Tuan Farhan membuka percakapan. Aulia seketika menatap Tuan Farhan.


"Lia tidak mau kuliah!" jawab Aulia sembari memasukkan gulungan spaghetti ke mulutnya. Semua pandangan langsung tertuju pada gadis berambut cokelat yang begitu serius menikmati makanannya.


"Sayang, kenapa tidak mau kuliah? apa ada kendala hmmm...?" tanya Jons lembut. Menatap wajah putrinya yang datar.


"Apa alasan kamu tidak mua kuliah? Daddy sudah mendaftar diri kamu dan besok lusa kamu sudah mulai kuliah tanpa harus ikut ujian" jawab Tuan Farhan menatap datar wajah putri satu-satunya.


"Lia malas saja, Lia tidak tertarik sekolah lagian Lia hanya ingin membuka bengkel" jawab gadis berambut sebahu menatap wajah kedua orang tuanya. Lalu beralih pada Kakek dan Neneknya.


"Lia pasti tidak ada teman lagi, hah! malas sekali kalau hanya sendiri di kampus... lebih baik buka bengkel dan teman-teman Lia yang di Markas yang akan membantu Lia" gumam Aulia dalam hati menampakkan wajah sendu, namun sebisa mungkin dirinya menutupi wajah sedihnya tidak ingin keluarganya tahu.


"Apa alasan kamu sayang, sampai tidak mau melanjutkan sekolah kamu? banyak di luar sana yang berlomba-lomba untuk melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi lho" tanya Nyonya Mita menatap aneh cucu perempuannya. Padahal Aulia termasuk anak yang cerdas kenapa tidak mau mengembangkan kecerdasannya. Sangat di sayangkan bukan?!.


"Kalau kamu kuliah bukankah itu lebih baik untuk masa depan kamu. Jika tidak kuliah apakah kamu mampu mengembangkan bisnis bengkel kamu?, membuka bisnis bengkel membutuhkan pengetahuan dan teknik tertentu dan untuk mendapatkan ilmu tersebut harus kuliah sayang" timpal Tuan Wijaya. Aulia menghela napas panjang menatap Tuan Wijaya dan Nyonya Mita bergantian.


"Kek, Nek. Lia akan usaha semaksimal mungkin untuk bisa menjalankan bisnis tersebut, tanpa sekolah lanjutan Lia sudah paham kok, yang penting kalian memberikan Lia modal untuk membuka usaha bisnis bengkel... bukankah Kakek dan Daddy adalah pria paling kaya nomor satu lantas kenapa harus di pusingkan." Jawab Aulia menatap semua yang ada di sana. Amanda dan Alex tersenyum lebar. Nona mudanya benar-benar menjawab yang bisa membuat Boss besar dan Tuan mudanya melayang tinggi.


"Tentu saja Daddy akan memberikan modal. Kekayaan Daddy ini sampai sepuluh turunan pun tidak akan habis kekayaannya" sombong Tuan Farhan tersenyum lebar. Mendengar dirinya di puji ia seperti tengah berada di atas tumpukan kapas.


"Tuh kan benar, kemakan juga umpannya" bisik batin Alex terkekeh kecil.


"Baiklah. Kakek juga akan memberikan modal, tinggal sebutkan berapa yang kamu butuhkan Kakek akan penuhi... Kakek akan dukung kamu jika ingin membuka bisnis bengkel" timpal Tuan Wijaya tak mau kalah. Tersirat senyum tipis di bibir Aulia namun hanya sebentar lalu merubah ekspresinya lagi menjadi datar.


Sedang Nyonya Mita dan Jons menepuk pelan jidat mereka, merasa konyol dengan tingkah ayah dan anak itu.


"Kak Lia, kenapa harus kerja? Daddy kan orang kaya seharusnya kak Lia duduk santai aja di rumah, tinggal minta uang sama Daddy atau Kakek" Daffin tak mau kalah, bocah bungsu raja Iblis memberikan pendapatnya yang mana membuat di sana terkejut.


"Oh, God! pemikiran macam apa itu!" ucap Alex dan Amanda dalam hati, mereka juga ikutan syok mendengar pernyataan Daffin yang tidak sesuai dengan umurnya.


PLAK


"Heh! emang uang Daddy dan Kakek tidak akan pernah habis? seiring berjalannya waktu harta itu pasti akan habis, jadi kita harus kerja. Jika kita hanya duduk setiap hari dan menghamburkan uang tanpa ada pemasukan maka mungkin hanya tiga turunan saja sudah habis!!!" gerutu Dafa yang memiliki pemikiran masa depan, juga bakat bisnis begitu kental.


Lagi-lagi semua di sana tercengang mendengar jawaban yang begitu rasional. Anak sekecil dafa sudah memiliki pemikiran dewasa bahkan orang dewasa saja tidak sampai pada tahap pemikiran seperti itu. Memang benar-benar bakal buah raja Iblis yang tidak pernah di ragukan kecerdasannya.


"Haah! itu berarti Daddy dan Kakek bukanlah orang kaya sedunia. Masa secepat itu habis... hmmm, Daddy sangat payah hanya tiga turunan saja kekayaan Daddy habis tidak seperti orang lain yang sampai tujuh turunan tidak ada habisnya." Keluh Daffin menekuk wajahnya, bocah laki-laki itu mengerucutkan bibirnya kesal, lalu memasukkan lilitan spaghetti yang berada di sumpit dan memasukannya ke dalam mulutnya.


Tidak tahu saja pandangan mata tajam itu terus menghunus ke arah Daffin namun ia malah asyik makan tanpa peduli.


Terlihat wajah Tuan Farhan yang sudah tidak enak di pandang, kulit wajah yang putih itu berubah menjadi merah padam. Merasa kesal dengan pernyataan putra bungsunya.


Jons, Amanda, dan Nyonya Mita saling melirik, semua di sana bungkam termasuk Dafa dan Aulia. Melirik ke arah Daffin yang tak merasa berdosa sedikitpun.


Seketika Daffin tersadar semua mata tertuju padanya, menaikkan sebelah alisnya merasa heran.


"Eh, kalian semua kenapa? kenapa melihat Daffin seperti itu?" tanya Daffin menampilkan wajah polosnya. Tidak tahu perihal wajah masam di sekitarnya.


"Daffin memang putra Daddy yang sangat pintar" puji Tuan Farhan dengan senyum di buat-buat. Dan Daffin membalas senyuman itu lalu mejawab.


"Heh! Daddy baru tahu yah jika Daffin itu selalu mendapat ranking pertama. Hah Daddy memang sudah tua...sudah sewajarnya Daddy lupa karena umur Daddy semakin bertambah, padahal Daddy yang sering mengambil raport Daffin." Jawabnya apa adanya. Ia kembali menyantap makanan di dalam piringnya. Mengunyah lembut begitu menikmati sarapan lezat di depan mata.


Raja Iblis makin melebarkan matanya, begitu syok mendengar jawaban anaknya, menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan, menetralkan perasaan kesal. Sedang yang lain semuanya menunduk memakan makanannya tidak mau menimpali ucapan dari Daffin.


"Daffin sayang, sepertinya jajan Daffin perlu Daddy potong yah, takutnya uang Daddy habis dan Daffin akan menjadi anak orang miskin" timpal Tuan Farhan memasang wajah datarnya menatap dingin wajah putra bungsunya.


Dafa dan Aulia tersenyum tipis.


"Daffin kena hukuman kasihan sekali" batin Dafa terkekeh kecil. Merasa puas.


"Hmmm... sepertinya Daffin perlu mencari papa baru yang lebih kaya dari Daddy" jawab Daffin acuh. Hal itu membuat di sana terkejut. Entah siapa yang mengajari pemikiran seperti itu.


"Kau menang son, Daddy akan menambah uang jajan kamu dua kali lipat" pasrah Tuan Farhan memijat pangkal hidungnya. Daffin tersenyum menang. Kini uang jajannya akan di kasih tiga ratus ribu setiap hari benar-benar orang kaya.


"Gaya apa yang aku lakukan saat membuatnya sampai hatinya begitu mudah berpaling dari Daddynya sendiri" gumam batin raja Iblis.


"Hahahaha, akhirnya aku menang juga. Memang horang kaya sangat menyenangkan" terkekeh dalam hati. Merasa senang mengerjai Daddynya karena merasa muak selalu melihat Daddynya itu sombong karena hartanya yang banyak.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung