
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
Jam 8 malam semua sudah duduk di meja makan, hidangan mewah dan bergizi tertata rapi di atas benda besar persegi itu. Leon menatap lapar makanan yang belum pernah ia makan, dirinya seperti mendapatkan undangan dari sang raja.
"Keberuntungan yang belum pernah terjadi" gumam batin Leon, ia merasa senang karena bisa di pertemukan dengan seorang gadis kaya. Dirinya sudah membersihkan dirinya di salah satu kamar mandi tamu, dan pakaiannya tentunya memakai milik Tio walaupun sedikit kebesaran tapi tidak masalah untuknya.
"Jangan sungkan Leon, anggap ini adalah rumahmu, semua orang di sini sangat baik jangan malu yah" tutur Aulia lembut. Kebetulan Leon duduk di samping kiri Aulia sedangkan di sebelah kanannya ada Tuan Farhan.
"Terima kasih kakak" jawab Leon tersenyum kikuk.
"Ayo makan, aku ingin berbicara dengan kalian semua setelah makan malam nanti" jelas Tuan Farhan.
"Sepertinya sangat penting" sahut Tuan Zeus.
"Yah, ini menyangkut Tio dan Karla" jawab Tuan Farhan membuat atensi yang ada di sana mengarah padanya terutama Aulia. Gadis itu menatap wajah Daddynya serius.
"Kenapa dada Lia bergetar kuat? apakah ini pertanda baik atau buruk?" bisiknya dalam hati menyentuh dadanya saat Tuan Farhan menyebut nama Tio dan Karla.
"Tetap kuat Lia! kamu pasti bisa" ucap hati Aulia meyakinkan dirinya bahwa akan baik-baik saja. Walaupun dirinya sepenuhnya tidak percaya akan pertanda baik itu.
"Tuan muda merencanakan sesuatu, apakah Tuan muda akan mengungkit masalah pernikahan? aku benar-benar bingung dan tidak bisa memutuskan" batin Tio menunduk, ia menyantap makanan di depannya... makanan yang tadinya menggunggah seleranya kini terasa hambar di lidah.
Semua kembali hening tidak ada pembicaraan di meja makan, semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Setelah menyelesaikan makannya mereka beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ruang keluarga.
Tuan Farhan duduk di sofa panjang dengan Aulia di sampingnya, sedangkan Tuan Zeus duduk di sofa single. Tio dan Karla duduk berdua di sofa panjang bersama Oskar dan Larissa.
Leon masih berdiri tak jauh dari mereka, Aulia memanggilnya dengan isyarat tangan. "Leon kemarilah!" teriak Aulia melambaikan tangan dan Leon berjalan menuju ke arah Aulia.
"Duduklah di sini" ujarnya dan Leon mengangguk tanpa suara. Menjatuhkan bokongnya di samping Aulia. Mereka duduk dalam diam hingga Tuan Farhan mulai angkat suara.
"Umur Tio dan Karla sudah tidak muda lagi, tidak baik jika hubungan kalian hanya sebatas pacar... tidakkah kalian mempercepat pernikahan kalian?" ungkap Tuan Farhan melirik ke arah Tio, sorotan matanya yang datar dan dingin membuat Tio mendesah kasar.
Tangan Aulia menggenggam erat celananya, menundukkan kepalanya melihat lantai di bawah kakinya, dadanya terasa sesak mendengar penuturan sang Daddy.
"Daddy!" gumam Aulia dalam hati.
"Benar, kenapa aku tidak memikirkan ini dari awal-awal. Umur mereka tidak mudah lagi mereka juga berpacaran sudah sangat lama dan aku sangat ingin menggendong seorang cucu... sebaiknya acara pernikahannya di adakan satu bulan lagi" jelas Tuan Zeus menimpali. Terlihat raut wajahnya yang bahagia.
"Aku sangat setuju, sekalipun adikku memiliki beberapa keahlian bela diri namun dia membutuhkan seseorang untuk melindunginya jika dia menikah dengan kak Tio maka aku sudah sangat tenang... apalagi kekuatan kak Tio tidak bisa di ragukan." Kali ini Larissa angkat bicara. Senyum lebarnya menatap bahagia ke arah Karla sedangkan wanita yang di jadikan perbincangan tersenyum senang.
"Uncle! Uncle tidak boleh menerimanya, Lia percaya Uncle tidak akan setuju... Uncle mencintai Lia dan begitupun Lia, Lia begitu mencintai Uncle" tutur Aulia mengepal tangannya erat. Menahan air matanya yang sekali mengedip saja bendungan di pelupuk matanya akan bongkah.
"Bagaimana Tio? aku harap kau tidak berlama-lama untuk menikahi Karla, kalian berdua sudah sangat dewasa dan sudah sepantasnya kalian menikah" jelas Tuan Farhan lagi menatap ke arah lawan bicaranya.
"Benar, umurku sudah tidak mudah lagi... mungkin saatnya aku akan menikahi Karla. Aku akan ikut, kapan kalian menetapkan waktunya itu akan lebih baik" jawab Tio yang sedari tadi diam, menyimak pembicaraan orang-orang di sana.
"Ah, jawaban yang tepat. Kau memang pria sejati" tutur Tuan Farhan tersenyum lebar.
"Kalau begitu kapan pernikahan akan di tetapkan?" tanya Oskar penasaran.
"Satu bulan lagi" jawab Tuan Zeus mantap.
"Tentu saja, ini" Tuan Farhan memberikan ponselnya, Aulia tersenyum lantas beranjak dari sana.
"Maaf tidak sopan meninggalkan kalian semua, tapi Lia merasa sedikit lelah" ujar Aulia menguatkan dirinya. Ia tidak melihat ke arah Tio sedikitpun rasanya, hatinya begitu sakit bahkan lebih dari seribu tusukan tombak. Jika di bilang kecewa dan marah? tentu ia benar-benar kecewa juga marah... berharap Tio menolak pernikahan itu namun realitanya tidak. Padahal dia berpikir bahwa pria itu mencintainya terbukti sore tadi Tio mencium bibirnya... jika tidak suka tidak mungkin ia melakukan itu bukan?.
"Daddy akan memanggil dokter untuk memeriksa kesehatanmu sayang" panik Tuan Farhan ikut berdiri.
"Heheheh, Lia tidak apa-apa hanya sedikit mengantuk... Lia pergi sekarang, selamat malam" setelah mengucapkan beberapa kalimat gadis itu buru-buru meninggalkan tempat yang membuatnya merasa sesak. Menapaki tangga dengan sangat terburu-buru.
"Kakak pasti sangat sedih, aku pikir laki-laki itu adalah kekasih kakak karena tadi dia menciumnya... heh! laki-laki brengsek awas saja kau!" geram Leon dengan tangan terkepal. Ia menatap kesal ke arah Tio yang menampilkan wajah biasa-biasa saja.
"Tidak punya hati" gumam Leon pelan, seketika membuat Tuan Farhan melirik dingin ke arah Leon.
"Dia mengatakan siapa yang tidak punya hati...?" tanya Tuan Farhan dalam benaknya.
"Sesaat aku bahagia karena pria di sampingku akan menikahiku tapi... dia terlihat tidak bersemangat" keluh Karla sedih. Melirik wajah Tio lalu kemudian memalingkan ke arah lantai.
Sedangkan di dalam kamar, Aulia menghempaskan tubuhnya kasar di atas kasur. Bendungan di pelupuk matanya akhirnya tumpah membanjiri pipinya. Menarik bantal kepala menutupi wajahnya.
"Hiks, hiks, kenapa masih begitu sakit... kenapa Lia masih harus patah hati. Ke-napa Uncle menyetujuinya hiks, apakah Uncle benar-benar tidak mencintai Lia" tuturnya menekan dadanya kuat. Mengahalau rasa sakit di dadanya.
"Apakah sekarang adalah akhir dari cinta Lia hiks, hiks. Uncle" lirihnya dengan air mata mengalir deras.
Dengan tangan bergetar, gadis itu membuka ponsel Tuan Farhan mengetik beberapa angka nomor lalu menekan layar bertuliskan kata memanggil.
Hingga pada dering kedua terdengar seseorang menyahut dari sebrang.
"Halo ini siapa?" tanyanya dari sebrang. Tidak ada jawaban hingga membuat orang tersebut kembali bertanya.
"Halo, siapa ini? jika tidak berbicara maka akan saya matikan!" tegasnya lagi.
"Ba-bang Hara hiks, hiks" jawab Aulia lirih . Ia masih berbaring dengan posisi tengkurap saat ini. Pria yang di panggil Hara itu seketika membeku.
"Li-Lia? kamu kenapa menangis? apa yang terjadi coba ceritakan! jangan membuatku takut Lia" ungkap Hara begitu khawatir. Hingga tidak sadar suaranya meninggi.
"Bang Hara, Li-Lia ti-tidak kuat lagi hiks... bang datang kesini Lia sangat sakit bang, Lia gagal hiks hiks, Uncle Tio akan menikah dengan wanita lain hiks hiks..." tuturnya sesenggukan. Mendengar penjelasan dari wanita yang sudah di anggapnya sebagai adik itu membuatnya memjiat keningnya.
"Kamu tenang yah, abang akan terbang ke sana... jernihkan pikiranmu, jangan berpikir dangkal abang akan datang menjemputku" jawab Hara dan sedikit membuat Aulia merasa tenang.
"Baiklah, makasih bang Hara. Lia tutup teleponnya dulu" panggilan itupun terputus. Lia kembali meletakkan ponsel milik Daddynya di atas kasur tepatnya di sampingnya.
Sedang pria di negara sebrang tengah memikirkan cara untuk mendapatkan uang tiket ke Meksiko.
"Astaga cecungut itu membuat kepalaku sangat pening" gumam Hara menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Lebih baik aku diskusikan dengan yang lainnya dulu" gumamnya pelan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung