
Happy reading 🤗❤️
like dan Votenya yah kakak 🙏😍😍😍
.
.
.
.
.
.
.
Setelah dokter Danu berpamitan pulang, Tuan Farhan menyuruh dua anak laki-lakinya yang tertua yaitu Hamas dan Azhar untuk menebus obat ke apotek, sedang Tuan Farhan membawa dua anak bungsunya ke kamar mereka atas permintaan keduanya yang ingin tidur bersama... Tuan Farhan mengizinkan Dafa dan Daffin tidur di kamarnya karena Jons sedang kedatangan tamu jadi ia tidak mungkin melakukan pembajakan sawah sekarang. Itulah sebabnya Tuan Farhan mengizinkan dua D untuk tidur dengan mereka yah walau begitu masih ada plus-plusnya.
Jons masih membantu sang putri untuk mengurus Tio, Jons turun ke lantai dasar untuk membuat bubur kacang hijau yang di campur jahe, gula merah, dan gula putih untuk Tio, guna bisa mengeluarkan keringat penyakit.
Di dalam kamar, Aulia mengompres kain di dahi sang suami sembari menatap wajah pria yang sudah sangat lama dirinya menaruh hati padanya. Menarik sudut bibirnya kala mereka berdua telah menjadi pasangan suami-istri sempurna, membayangkan keganasannya di ranjang membuat Aulia menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia benar-benar malu sekali.
"Astaga! Lia malu sekali" gumam Aulia namun dengan senyum lebar. Tidak di pungkiri ia sangat bahagia bisa menikah dan langsung menikamati tubuh indah sang suami.
"Uncle Tio, maafkan Lia karena Lia Uncle jadi demam... Lia tidak tahu kalau Lia seganas itu sampai-sampai membuat Uncle demam" tuturnya sedih. Telunjuknya bergerak menyentuh alis tebal lurus panjang milik Tio, lalu turun ke hidungnya yang mancung hingga pada bibir tipis itu namun sedikit tebal di bagian bawahnya. Membuat Aulia menelan ludahnya kasar.
Gadis remaja yang baru melepas status singlenya melirik ke arah pintu lalu beralih pada Tio yang masih menutup matanya, perlahan-lahan tapi pasti Aulia mendekatkan wajahnya ke wajah Tio.
"Uncle Lia cium sebentar saja, maaf yah tidak minta izin tapi Lia penasaran" belum sampai bibir itu menyentuh benda kenyal milik Tio pandangan keduanya saling bertemu membuat Aulia spontan menjauh namun tangan Tio menahannya.
"U-uncle ta-tadi Lia mau ambil bulu mata Uncle yang jatuh" lirih Aulia tanpa melihat ke arah Tio, pria itu hanya tersenyum.
"Biar Uncle bantuin" Tio menarik tengkuk Aulia hingga kedua bibir mereka bertemu, mengekspor saliva masing-masing, lidah yang saling bertautan membuat Aulia memejamkan matanya begitupula dengan Tio. Ciuman lembut membuat Aulia terbuai lupa jika sang suami sedang sakit.
Aulia mencoba untuk bermain dengan lidah suaminya berputar-putar di dalam hingga suara deheman keras membuat Aulia terlonjak kaget dan langsung berdiri.
"Ekheem"
"Ah, ta-tadi itu Lia hanya mengecek mulut Uncle, panas tidak" tuturnya ambigu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, wajahnya berubah merah karena malu di lihat oleh Daddy-nya. Tuan Farhan tersenyum tipis berjalan masuk ke dalam dan berdiri tepat di samping Aulia.
"Itu juga salah satu obat yang paling mujarab, kalau suami kamu sedang demam maka kamu harus mengecek mulutnya seperti tadi." Jelas Tuan Farhan dengan kekehan jenaka. Sedangkan Aulia sudah menutup wajahnya malu.
"Daddy!" teriak Aulia dengan wajah memerah.
"Tuan muda, terima kasih sudah merestui hubungan kami... aku sudah salah sangka pada Tuan muda, maaf" tutur Tio pelan, Aulia segera duduk di samping suaminya kembali mengambil handuk yang menempel di dahi Tio lalu mencelupkannya ke dalam baskom berisi air dan kembali menaruhnya di dahi Tio.
"Aku tidak punya hak untuk melarang kalian berdua, selagi putriku bahagia aku akan melakukan apa saja yang bisa membuat putriku senang" jawab Tuan Farhan. Tak lama Jons datang membawa nampan berisi semangkuk bubur kacang hijau dan air putih hangat.
Aulia segera mengambil alih nampan berisi makanan dari tangan Mommynya lalu di letakkan di atas nakas. "Uncle makan dulu yah" tutur Aulia membantu Tio untuk bangun dari tidurnya, empat buah bantal di susun di belakang Tio pria itu lalu menyandarkan punggungnya.
"Tidak apa-apa sayang, kalau ada apa-apa bilang saja sama Mommy atau Daddy yah" jelas Jons tersenyum hangat. Aulia dan Tio membalas senyuman Jons. Ia bersyukur akhirnya ia di terima oleh Tuan mudanya itu.
"Ya sudah jaga suami kamu sayang, Daddy dan Mommy kembali ke kamar dulu" Tio dan Aulia mengangguk. Tuan Farhan dan Jons lalu keluar dari kamar Aulia menutup pintu kamar itu pelan.
Sekarang tinggallah Aulia dan Tio. "Uncle, Lia suapi yah" Tio mengangguk lemas Aulia tersenyum ia kemudian mulai menyendok bubur kacang hijau yang sudah di campur dengan jahe dan gula merah serta gula putih.
Di tiupnya pelan lalu mengarahkannya ke mulut Tio, pria itu dengan senang hati membuka mulutnya menerima suapan pertama dari sang istri. "Sepertinya Uncle ingin sakit terus agar Uncle selalu dekat denganmu" tuturnya sembari tersenyum. Aulia hanya mencebikkan bibirnya pura-pura kesal padahal dirinya sudah sangat berdebar. Ia seperti gadis yang baru pertama kali pacaran. Dan memang benar ia tidak pernah pacaran karena hanya Tio lah yang ia suka.
"Iiih, Uncle tidak boleh bicara seperti itu! Lia tidak mau Uncle sakit, Lia takut Uncle kenapa-kenapa" gerutu Aulia dengan bibir mengerucut sedangkan Tio hanya tersenyum. Tangan Tio terulur mencubit gemas bibir monyong istri kecilnya.
"Sedang menggoda Uncle hmmm... mau Uncle cium hah" pipi Aulia merona merah. Mencebikkan bibirnya namun dengan senyum tipisnya.
"Lia suapi lagi" cicitnya pelan tanpa melihat wajah Tio membuat pria itu hampir terbahak. Karena gemas Tio mengambil mangkuk bubur itu menaruhnya di atas nakas membuat Aulia bingung.
"Eh, Uncle kenapa di simpan di atas nakas, Uncle harus makan nanti kalau Uncle tambah sakit gimana?" Tio malah memajukan wajahnya ke arah Aulia lalu berbisik.
"Uncle akan makan kamu dulu" Tio langsung mencium bibir Aulia membuat gadis itu mematung dengan bibir tertutup rapat. Tio mengigit bibir istrinya agar Aulia membuka mulutnya saat sudah terbuka Tio semakin menekan kepala Aulia ******* bibir itu gemas. Keduanya hanyut dalam ciuman yang mereka lakukan hingga Tio membaringkan tubuh Aulia di atas ranjang, pria dewasa itu mulai kembali bergairah menindih tubuh Aulia dan kembali mencium bibir istrinya.
"Emm, ah, Uncle... Uncle makan dulu nanti Uncle sakit... Uncle harus istirahat kita ti-tidak bo-boleh melakukan itu." Seru Aulia dengan napas memburu. Tio tersenyum tipis lalu menjawab
"Apa yang kita lakukan hmm... istriku jangan berpikiran aneh, Uncle hanya ingin mengikuti cara kamu sayang, Uncle mau cek suhu tubuh kamu." Tangan Tio merayap di dalam baju Aulia sembari mencium leher Aulia lembut.
"Ah, U-uncle... jan-jangan begini!"...
"Ka-kalian sedang apa?" tanya seseorang.
Mendengar seseorang bersuara Aulia mendorong dada Tio dari tubuhnya lalu merapikan kembali bajunya, jangan di tanya seperti apa wajah Aulia? sudah sangat merah bak apel merah karena saking malu harus di lihat oleh abangnya.
"Tuan muda! ada apa kemari?" tanya Tio dengan wajah di tekuk.
"Ma-maaf aku hanya memberikan obat yang di tebus tadi, kalian lanjutkan saja aku tidak melihatnya kok" Azhar meletakan sebungkus obat lalu berjalan keluar dari kamar Aulia dengan jantung yang berdegup kencang.
"Gagal lagi" gerutu Tio dalam hati.
"Astaga! rupanya adik Lia sudah tidak polos lagi... eh memang dia dari kecil sudah tidak polos lagi yah" gumam Azhar dengan senyum gelinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung