
Happy reading 🤗
Like dan komen yah
.
.
.
.
.
.
.
Saat melihat ponsel milik pria yang meminta tolong tiba-tiba sebuah pesan masuk, dengan cepat Ronald membuka isi pesan dan betapa terkejutnya kala isi pesan itu tertuju pada Alexa buru-buru Ronald menghubungi 911 yang adalah nomor darurat kantor polisi setelah menghubungi polisi dan memberitahu lokasi penyekapan terjadi, Ronald memutuskan sambungan telepon dan segera melesat pergi dari parkiran motor.
Tidak ada yang ia pikirkan selain kekasihnya kecepatan motor yang di kendarai oleh-nya kini mencapai 180 kini hanya keselamatan Alexa yang menjadi prioritas, tidak bisa di pungkiri ia begitu takut kehilangan putri dari Amanda dan Alex itu.
"Bertahanlah sayang ku mohon... aku sungguh minta maaf karena diriku kau sampai diculik. Astaga aku sungguh takut kehilangan kamu Alexa" gumam Ronald pelan bahkan matanya sudah mulai memerah akibat menahan tangis.
Setengah jam berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata kini tibalah ia di sebuah gedung tua yang sudah tidak terpakai gedung tua yang sama persis dengan dua orang pria berbaju hitam datang.
"Tidak salah lagi ini tempatnya tidak mungkin ada mobil sebagus ini terparkir di depan tempat yang sepi jika bukan penjahat yang menculik Alexa" ujar Ronald dengan keyakinan penuh. Dengan langkah cepat Ronald turun dari atas motornya berjalan masuk ke dalam bangunan tua.
Saat sudah sampai di dalam ia berjalan cepat menaiki tangga satu persatu namun saat hendak menaiki tangga menuju lantai tiga ia berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara dengan begitu musuhnya tidak akan mengetahui kedatangannya.
Tepat di depan ruangan bagian kedua dari ruangan di dekat tangga samar-samar Ronald mendengar suara teriakan seperti orang tengah kesakitan juga suara wanita yang tengah tertawa puas tidak salah lagi itu pasti kekasihnya. Pikir Ronald.
Makin dekat semakin terdengar jelas pemilik suara yang ada di dalam ruangan dengan cat pintu biru tiba-tiba tubuhnya mematung tidak percaya jika wanita yang menyandera Alexa adalah adik satu-satunya, adik yang sangat ia sayangi dan lebih gila lagi bahwa adik tirinya sudah sangat lama mencintainya. Mengetahui fakta tersebut membuat putra Tuan Kalingga shok setengah mati.
"I-ini tidak mungkin aku pasti sedang bermimpi... bagaimana seorang adik yang sering aku rawat mencintaiku" gumam Ronald dengan tangan menutup mulutnya ia sungguh tidak percaya akan fakta yang baru ia ketahui.
Tubuh atletis itu berdiri mematung di depan pintu dengan kaki gemetar belum yakin dengan kenyataan yang ada namun saat mendengar adiknya akan membunuh Alexa, pria itu lalu...
BRAAAAK
Sekuat tenaga Ronald berlari ke arah gadis dengan tampilan acak-acakan memeluknya erat hingga...
DOR
DOR
"Nooooooo!!!"
Dua peluru masuk menancap ke dalam daging tubuh Ronald membuat pria itu mengeluarkan darah dari mulutnya Alexa dan Charlotte begitu terkejut melihat siapa yang terkena tembakan dari peluru mematikan.
"Ka-kak Ronald?"
BUGH
Menjatuhkan pistolnya ke atas lantai gadis dengan rambut pirang itu segera berlari ke arah Ronald dan Alexa sembari menyentuh luka tembakan di punggung pria yang sangat di cintai.
"A-aku tidak sengaja kak, maafkan Charlotte hiks, hiks" ucap Charlotte sedangkan dua pria yang menculik Alexa hanya terdiam membisu sembari menatap penuh drama Boss mereka. Charlotte melirik dua anak buahnya.
"Apa yang kalian lihat cepat bantu aku bawa kakak aku ke rumah sakit segera!!!" teriak Charlotte dengan tatapan tajamnya, akibat menangis membuat matanya memerah. Sedang Alexa seperti orang linglung, kaku itulah yang ia rasakan ia seperti mimpi saat ini lidahnya keluh hanya sekedar berujar bibirnya mengatup rapat tidak bisa terbuka.
"Kak please bertahanlah kak aku mohon, maafkan aku, hiks, hiks a-aku akan melepaskan kak Alexa tapi kak Ronald harus bertahan hiks hiks" jawab Charlotte. Wajah Ronald perlahan-lahan mulai memucat bahkan bibirnya sudah terlihat membiru menekan dadanya yang mulai sesak. Peluru dengan panjang 5,56 itu siapapun akan mati jika terkena, tidak tahu apakah Ronald bisa melewati maut yang sangat mengerikan.
Ronald menahan dua pria yang hendak membopongnya ia ingin seperti ini entah apa maksudnya yang jelas ia tidak mau kemana-mana selain berbaring di pangkuan sang adik.
"Ma-maafakan kaka dek, ma-maaf karena ti-tidak menyadari perasaan kamu selama ini tapi ma-maaf tidak bisa membalas perasaanmu... ka-kamu akan tetap jadi adik aku yang imut dan baik hati, ka-kak sangat mencintai Alexa. Maaf uhuk uhuk uhuk" jelas Ronald bahkan kini ia semakin mengeluarkan darah akibat batuk.
"Berhenti berbicara kak, kalian berdua cepat bawa kakakku ke rumah sakit!!" tutur Charlotte dan dua pria berpakaian hitam itu segera membopong Ronald namun tiba-tiba sebuah tembakan terdengar cukup nyaring membuat semua yang ada di ruang penyekapan terkejut kecuali Alexa yang masih belum sadar akan apa yang terjadi saat ini.
"Stop! don't move! (Berhenti! jangan bergerak!)" teriak seorang pria tinggi dengan pistol di tangannya. Yah mereka adalah polisi yang di telepon oleh Ronald sebelum kesini namun sayang mereka terlambat sehingga membuat Ronald mendapat imbasnya.
"I really love you Alexa... maaf tidak bisa menjagamu" batin Ronald dengan tatapan sayu menatap ke gadis yang terikat.
"Are you crazy? my brother is hurt now!! (Kamu gila yah? Saudaraku sedang terluka sekarang!!)" bentak Charlotte dan tanpa rasa takut Charlotte memimpin jalan untuk anak buahnya.
Dua polisi Amerika itu mengikuti Charlotte mereka juga membantu Ronald untuk ke rumah sakit sedangkan dua lainnya membantu Alexa membuka lilitan rantai besi dari pergelangan tangannya. Gadis itu seperti mendapat gangguan mental yang berat sehingga membuatnya masih berada di alam bawah sadarnya.
"Hey are you oke? hey wake up! (Hai apa kau baik-baik saja? hai sadarlah!)" Tutur seorang polisi namun hanya mendapat tatapan kosong dari Alexa.
"Looks like she is a traumatized, we will take her to the hospital immediately (Sepertinya dia trauma, kita bawa ke rumah sakit segera)" saran teman di sampingnya, polisi itupun mengangguk setuju ia kemudian menggendong Alexa ala bridal style lalu berjalan keluar dari ruang penyekapan.
Di lain tempat dua orang polisi serta Charlotte dan dua anak buahnya sudah sampai di rumah sakit Medical center, Seattle, adalah rumah sakit Universitas Washington. Polisi Amerika itu segera menggendong Ronald yang sudah menutup matanya ke dalam rumah sakit, tim medis yang mengetahui ada korban darurat segera mengambil tindakan cepat apalagi yang menjadi pasien mereka adalah anak dari Menteri Keamanan membuat mereka kelimpungan setengah mati.
"Tolong kakakku hiks, hiks, aku a-aku tidak sengaja melakukannya hiks hiks" Charlotte terduduk lesu di kursi tunggu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Don't cry everything will be oke (Jangan menangis semua akan baik-baik saja)" ucap salah seorang polisi namun Charlotte tidak mengindahkan ia sangat menyesal karena perbuatannya membuat pria yang ia sayangi terluka parah.
Sedang dua anak buah Charlotte saling memandang. "Lebih baik kita pergi dari sini sebelum kita di tangkap" bisik temannya dan mendapat anggukan pelan. Kedua pria itu berjalan pelan seperti jalannya siput takut jika ketahuan maka tamatlah riwayat mereka.
"Dalam hitungan tiga kita harus lari bersama" ucapnya lagi.
"Satu, dua, tiga!!"
"Mau kemana hmmm?" bisik seorang pria di belakang mereka membuat penjahat itu ketakutan setengah mati. "Kalian akan di bawa ke kantor polisi" tutur pria itu lagi yang ternyata adalah polisi.
"Tidak! jangan bawa kami! kami tidak salah yang menyuruh kami adalah Nona Charlotte!"
"Jelaskan di kantor polisi saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung