
Happy Reading
.
.
.
.
.
Saat boss besarnya menyuruhnya untuk mencari tahu tentang apa yang telah terjadi pada cucunya dan ia mendapatkan satu fakta tentang nona mudanya. Dari informasi yang di kumpulkan oleh anak buahnya bahwa nona mudanya di bawah paksa oleh Azhar keluarga dari wanita yang di panggil nona muda itu. Bahkan saat di rumah sakit pun mereka tahu apa yang sudah di lakukan Azhar.
Mengetahui bahwa apa yang menjadi rahasia mereka sudah di ketahui oleh orang luar, membuat wajah Vicky menjadi pucat pasih, ia buruh-buruh kembali ke Mansion untuk memberitahu kabar buruk yang dia dapatkan.
Kini ia telah tiba di Mansion, turun dari motornya dan bergegas masuk ke dalam, di ruang keluarga ia melihat wanita tua itu sedang duduk di sofa sambil menatap benda persegi di atas pangkuannya.
Tablet IPhone itu sungguh menarik perhatian wanita tua itu sampai tidak mengetahui kedatangan Vicky, jika Vicky tidak mengeluarkan suara mungkin ia masih setia menatap benda berlayar kecil.
"Bagaimana hasilnya? Apakah sudah menemukan siapa dalang di balik hilangnya cucu saya?" Pertanyaan wanita tua itu membuat Vicky mengangguk pelan, wanita itu lantas menunggu jawaban dari Vicky.
"Maaf nyonya, yang menculik nona muda beberapa hari kemarin adalah pria bernama Azhar Devano Jonas, putra kedua dari Tuan Farhan dari Indonesia sepupu nona kita" jawaban Vicky membuat wanita tersebut memelototinya ia tidak menyukai mendengar kalimat terakhir dari Vicky, cucu perempuannya tidak ada ikatan sedikitpun dengan orang luar walaupun kenyataan adalah iya.
"Jaga bicaramu Vicky! dia tetap Ainsleyku bukan orang luar, kau mengerti?!" tegasnya, dengan perasaan bersalah Vicky mengangguk pelan.
"Maafkan saya nyonya. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan, kini Azhar sudah melakukan tes DNA, mungkin ia sudah tahu semuanya"
Wanita itu terdiam cukup lama, ia pun menyuruh Vicky untuk pergi biarkan dia sendiri yang mengurusnya. Vicky pun pergi dari hadapan boss besarnya setelah memberikan informasi tersebut.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun bisa mengambil Ainsley dari sisiku, siapapun itu aku pastikan dia tidak bisa hidup lebih lama di dunia ini" gumamnya pelan, entah kenapa saat Vicky memberikan informasi terkait hilangnya cucunya membuatnya kepikiran, bahkan ada rasa ketakutan tersendiri di lubuk hatinya jika nanti cucunya meninggalkannya.
Karena tidak fokus ia pun meletakkan tablet di atas meja dan ia berjalan menuju lift dan hendak ke lantai atas.
Lift yang membawa wanita tua itu naik ke atas berhenti di lantai tiga, pintu lift terbuka ia pun buru-buru keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah kanan, tepat di bawah tangga menuju lantai empat, ia menghentikan langkah kakinya dan mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu kamar sang cucu.
Tok Tok Tok Tok
Tok Tok Tok Tok
CEKLEK
Terdengar suara pintu terbuka nampak seorang wanita berdiri di balik pintu yang terbuka tidak terlalu lebar, seutas senyum hangat terbit di dua sudut bibirnya, wanita itu segera merangkul sang nenek dan membawanya masuk.
"Nenek, apa ada sesuatu yang penting?" tanyanya setelah menjatuhkan pantat di atas sofa. Yah dia memiliki sofa panjang dengan satu buah meja kaca berbentuk lingkaran dan di atasnya terdapat sebuah benda persegi dengan logo apel sisa gigitan.
Laptop adalah nama benda tersebut, tampilannya masih menyala dalam mode baca yang memperlihatkan sebuah gambar grafik peningkatan hasil produk.
"Apa kau sibuk sayang?" bukannya menjawab ia malah balik bertanya membuat Alexa terkekeh kecil, kalau sudah begitu berarti ada sesuatu yang paling penting yang ingin di bicarakan oleh neneknya.
"Nek, jangan mengalihkan topik, nenek belum jawab pertanyaan Ainsley." Terdengar hembusan napas berat dari sang nenek, Alexa meraih tangan neneknya lalu mengelusnya pelan.
"Katakan saja, Ainsley akan mendengarkannya nek, tidak perlu khawatir" ucapnya lembut, wanita tua itu akhirnya luluh.
"Nenek mau jujur, mungkin jika kamu mendengarnya kamu tidak akan percaya tapi nenek tidak ingin suatu hari nanti kamu mengetahui kebenarannya dan akan membenci nenek, nenek tidak mau hal itu terjadi... jadi berjanjilah untuk tidak marah pada nenek dan ayahmu" Alexa menatap dalam wajah neneknya sekalipun masih belum mengerti ia mengangguk menyanggupi.
"Pinky swear?" wanita tua itu mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Alexa, wanita muda itu tertawa jenaka neneknya ini selalu membuatnya tertawa lepas, bahkan di saat sedih sekalipun.
"Hahahah, nenek lucu sekali. Baiklah, pinky swear" Keduanya pun saling mengaitkan jari kelingking sebagai ikatan janji yang tidak boleh di ingkar.
"Sekarang katakan apa yang sebenarnya mau nenek bicarakan dengan Ainsley?" sungguh ia begitu penasaran dengan sikap neneknya itu.
"Sebenarnya, sebenarnya kamu bukan cucu nenek yang sebenarnya, kamu adalah Alexa keluarga tuan Farhan di Indonesia" Alexa terkejut dengan mata membola sempurna, bukan karena ia baru tahu fakta tentang jati dirinya tetapi karena kejujuran neneknya itu membuatnya terkejut. Sebenarnya wanita tua itu tidak ingin mengatakannya tetapi ia berpikir lagi akan dampak di masa depan, oleh sebabnya ia berkata jujur dari awal saja.
"Apa maksud nenek? Ainsley adalah Alexa, Indonesia? nenek jelaskan lebih jelas Ainsley sungguh-sungguh tidak mengerti" ia penasaran sebenarnya apa yang membuat wanita tua itu mau berkata jujur.
"Apakah ini adalah tandanya agar aku segera kembali ke keluargaku yang sebenarnya?" batin Alexa dengan mata yang terus tertuju pada wanita tua di depannya.
"Sebenarnya saat Ronald di nyatakan meninggal dunia, tentu kami begitu terpukul, cucu satu-satunya kami sudah tidak ada, Ainsley sudah lama meninggal karena kecelakaan tunggal di usianya yang ke empat belas tahun, ia tidak bisa menerima kepergian ibunya kala mendengar ibunya meninggal akibat bunuh diri. Kami tidak punya siapa-siapa lagi itulah sebabnya aku menggantikan ingatanmu dengan ingatan cucuku tetapi ingatan itu tidaklah permanen sewaktu-waktu akan kembali ke ingatan sebenarnya, jika ada sebuah tempat atau orang yang familiar di matamu itu dapat merangsang otak hingga ingatan yang tadinya hilang perlahan-lahan akan kembali."
"Aku harap kau tidak membenci kami, jika suatu saat nanti kamu kembali ke keluargamu yang sebenarnya, rumah ini tetap akan terbuka untuk kamu"
Alexa terdiam seribu bahasa, ia menundukan kepalanya tangannya terkepal kuat, wanita tua itu melihat reaksi Alexa yang sedang memendam sesuatu merasa bersalah.
"Marah lah, kamu pantas memarahiku" ucap sang nenek. Alexa mendongak ke atas menatap wajah sang nenek di depannya. Tangannya terulur dan langsung memeluk wanita tua itu. Perbuatan Alexa membuatnya heran. Bukankah seharusnya Alexa marah tetapi kenapa malah memeluknya.
"Hiks-hiks, Ainsley tidak mungkin marah pada nenek, sekalipun ingatan Ainsley kembali, Ainsley tetap cucu nenek, jadi jangan pernah berpikir Ainsley akan meninggalkan nenek, hiks-hiks, nenek adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti Ainsley" sungguh hati wanita tua itu tersentuh ia bahkan meneteskan air matanya, dan memeluk erat tubuh Alexa.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena tetap menganggap aku sebagai nenek kamu, nenek sayang kamu juga cucuku" Keduanya berpelukan dengan air mata mengalir deras. Kini Alexa sudah tidak takut lagi jika sewaktu-waktu ia ketahuan bahwa dirinya telah menyadari bahwa ia adalah Alexa, kini neneknya lah yang mendatanginya dan berbicara semua kebenarannya.
Sedang wanita tua itu merasa lega sudah berkata jujur pada Alexa, biar bagaimanapun perbuatan mereka tidak di benarkan oleh keyakinan mereka juga hukum negara.
"Nenek, jangan pernah usir Ainsley yah, Ainsley sudah betah di sini"
PLETAK
Wanita itu menjitak dahi Alexa, membuat Alexa meringis sakit, ia mengadu kesakitan sambil mengelus dahinya.
"Nenek sakit tahu, Ainsley kan baru sembuh dari sakit, kalau Ainsley sakit lagi bagaimana?" Wanita tua itu menggeleng pelan, ia berdecak sebal
"Kalau tidak mau di jitak jangan bicara sembarangan, rumah ini tetap rumah kamu, kamu bisa sepuasnya tinggal di sini"
"Nenek memang yang terbaik, love you more, more, and more"
"Hahahhaha, kamu yah bisa saja" keduanya tertawa bahagia, mereka pun berpelukan kembali, Alexa merasakan kehangatan di dekat wanita tua itu, kehangatan yang dulu hilang kini ia dapatkan kembali pada sosok wanita yang bahkan tak sedikitpun ada ikatan darah. Ia sungguh bersyukur.
"Terima kasih, terima kasih nek" batinnya memejamkan matanya haru.
.
.
.
.
Bersambung