
Happy reading 😘
Like dan Vote yah 🌹🌹
.
.
.
.
.
.
.
Aulia menghempas kasar tubuhnya di atas kasur meraih bantal kepala untuk di peluknya, menangis lirih sembari mengigit kuat bantal di pelukannya ia sangat dan sangat-sangat kecewa pada keputusan Daddynya kenapa tidak pernah memikirkan perasaannya.
Beginikah menjadi seorang putri konglomerat? bahkan masalah suami harus di tentukan oleh orang tua? tidak bisakah takdirnya berubah menjadi gadis desa saja? agar semua kehidupannya ikut berubah... merasa kehidupan konglomerat adalah rantai, mengikatnya menjadi tahanan penjara di bawah tanah.
"Kenapa? kenapa harus Lia Daddy? kenapa tidak pernah membicarakannya dengan Lia, tidak bisakah mengerti sedikit saja! Uncle Tio cepat datang selamatkan Lia! Lia tidak mau jika bukan dengan Uncle hiks hiks hiks" lirihnya terisak pilu. Seakan dunianya hancur berkeping-keping hidup dengan orang yang di cintai dan mencintainya. Tidak terpikirkan tentang adanya perjodohan dirinya pikir Daddynya tidak akan melakukan hal konyol seperti orang lain tapi rupanya sama saja.
"Hiks, hiks, hiks. Daddy Lia sangat menyayangi Daddy sampai rasanya Lia ingin mati saja... Lia tidak mau menghancurkan keinginan Daddy hiks, kenapa? kenapa Daddy melakukan hal itu pada Lia hiks." Tuturnya berlinang air mata. Berusaha untuk bangun dari tidurnya lalu menekuk kedua lututnya menyandarkan wajahnya di atas lutut.
"Uncle Tio, kenapa tidak memberi kabar, apakah sesulit itu hanya sekedar mengirim pesan? kenapa Uncle memberikan harapan di saat Uncle akan pergi jauh? apakah karena Lia hanya mainan di mata Uncle sampai terus di permainkan." Memandang kosong ke arah pintu, tak ada lagi kebahagiaan tak ada lagi harapan untuk bahagia. Semuanya sudah hancur menjadi debu bahkan sangat sulit hanya sekedar berharap.
Cinta yang memilik lima huruf namun mempunyai dampak besar, orang yang sedang jatuh cinta akan merasa bahagia bahkan seperti tidur di atas tumpukan bunga yang bermekaran, tidak peduli ada orang atau tidak mereka akan tersenyum sepanjang hari, bahkan jika sedang melakukan panggilan telepon bibirnya tidak akan berhenti untuk tersenyum, gigit kuku jari, bahkan lebih parahnya melempar benda yang ada di sampingnya saking salah tingkahnya.
Sungguh mereka akan bertingkah konyol, namun jika tengah patah hati maka semuanya lenyap menjadi abu, menyiksa diri bahkan sampai mengakhiri hidupnya. Bukankah kata cinta itu menakutkan? dunia ini bisa saja hancur jika menyalah gunakan cinta maka sebaliknya begitu, cinta bisa membangun peradaban dunia hanya dengan ungkapan cinta.
Sebuah deringan telepon terdengar cukup nyaring hingga membuat gadis remaja yang sedang patah hati itu tersadar dari lamunannya, melirik sekilas ponsel di sampingnya.
"Aunty Karla" gumamnya pelan. Sedikit gemetar tangan itu meraihnya menggeser tanda hijau di bawah layar. Terdengar seseorang memanggilnya.
"Halo Lia, kamu mendengar aunty kan?" tuturnya lagi, Aulia membuang napas kasar namun sebelum menjawab dirinya mengatur ritme jantungnya yang bergemuruh lalu menjawab.
"Iya aunty, Lia mendengarnya"
"Lia, aunty harap kau bisa mengontrol emosi kamu, jangan bertindak sembarangan yah, karena ada sesuatu yang ingin aunty katakan" Aulia merasa heran mengerutkan kedua keningnya kala mendengar ungkapan Karla yang memperingatinya sebelum memberitahu sesuatu yang tak ia ketahui.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aunty membuat Lia penasaran juga merasa takut yang bersamaan. Lia takut jika itu berkaitan dengan Uncle Tio" bisiknya dalam hati. Gadis itu menyeka air matanya lalu duduk bersila di atas ranjangnya bersiap mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Karla.
"Katakan saja aunty, Lia akan mendengarnya" ujarnya tegas. Terdengar helaan napas panjang dari sebrang.
"Ini menyangkut Uncle Tio" jawab Karla menjeda ucapannya Aulia makin takut saja, gadis itu takut jika Unclenya akan kembali bersama wanita yang berbicara dengannya saat ini. Memikirkannya saja sudah membuat nyalinya menciut.
"A-ada apa dengan Uncle Tio, aunty?" tanyanya pelan. Menutup matanya tidak berani mendengar kenyataan yang menyakitkan.
"Uncle Tio sedang kritis di rumah sakit Lia, dan dia membutuhkan dukungan dari orang-orang dekatnya terutama kamu"
DEG
Bagai tersambar petir di siang bolong kala mendengar ungkapan Karla. Membuka matanya lebar-lebar tak percaya atas apa yang ia dengar.
"Sudah seminggu belum ada perubahan, aunty harap Lia bisa datang ke Las Vegas... Aunty akan menjemputmu, tapi? aunty takut kamu tidak akan mendapat izin dari Daddy kamu" jelas Karla mendesah berat. Walau berat mengatakan ini karena dirinya begitu cemburu namun hidup Tio adalah yang terpenting ia akan melakukan apa saja termasuk membantu Aulia bersama prianya.
"Lia akan pergi ke Las Vegas apapun caranya"
"Tidak bisa!" seorang pria pria paruh baya masuk ke dalam kamar Aulia membuka pintu kasar.
PRAAANG
Ponsel Aulia seketika terjatuh ke lantai terkejut dengan kedatangan pria di depannya yang sedang menatapnya tajam.
"Jangan pernah meninggalkan Mansion ini Lia! Daddy tidak akan mengizinkanmu pergi!" seru Tuan Farhan berjalan mendekati Aulia. Gadis itu menatap sendu pria di depannya.
"Uncle Tio sedang kritis dan Uncle membutuhkan Lia Dad, kali ini saja kabulkan permintaan Lia. Please!" jawab Aulia memohon, matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Pada akhirnya dia tahu juga kondisi Tio" batin Tuan Farhan.
"Tidak bisa sayang, di sana kota berbahaya Daddy tidak mau mengambil resiko besar" protes Tuan Farhan membuat Aulia mendesah berat, mengerjap matanya pelan hingga genangan air itu bongkah. Kristal bening itu kembali membasahi pipinya yang mulus.
"Tapi Uncle Tio sedang kritis Dad, Lia tidak bisa diam saja. Hiks, hiks, please izinin Lia Dad" raja Iblis mengepal tangannya kuat saat melihat air mata putrinya terjatuh padahal ia sangat membenci air mata itu membasahi pipi sang putri. Berjalan cepat lalu menarik tubuh putrinya dalam pelukannya. Mengelusnya pelan.
"Daddy tidak pernah meminta apapun pada Lia, dan sekarang Daddy meminta sesuatu dari Lia. Please untuk satu ini kabulkan keinginan Daddy..." Aulia mendongakkan kepalanya menatap wajah sendu pria itu.
"Jangan meminta sesuatu yang sulit Lia putuskan Dad, jangan membuat Lia merasa bersalah pada Daddy. Lia mohon jangan menyulitkan Lia" lirih Aulia memeluk erat tubuh Daddy-nya. Menangis lirih di pelukan Tuan Farhan.
"Maafkan Daddy harus mengatakan ini. Jangan pernah pergi ke Las Vegas ataupun menemui Uncle Tio, menikahlah dengan Zafran sayang, Daddy mohon!" Aulia mendorong dada Tuan Farhan menatap tidak percaya.
"Daddy!"...
"Daddy mohon sayang, Daddy mohon! Daddy belum pernah meminta sesuatu pada Lia dan sekarang Daddy harap Lia mengabulkan permintaan Daddy yang satu ini" pintanya dengan tatapan sendu membuat Aulia membeku seketika. Dengan perasaan berat gadis remaja itu mengangguk pelan membuat Tuan Farhan tersenyum simpul.
Tuan Farhan kembali memeluk tubuh putrinya mencium kepala putrinya itu. "Terima kasih sayang, terima kasih".
"Maafkan Lia Uncle, semoga Uncle tidak membenci Lia" batinnya pilu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung