The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 181 Itu Hanya Gurauan Anak Kecil



Happy Reading


.


.


.


.


.


Terdengar bunyi langkah kaki yang menggema dari lantai atas, jarak antara ruang keluarga dengan lantai dua tidak terlalu jauh, bahkan bisa melihat ke atas, terlihat seorang pria bertubuh atletis tengah menuruni anak tangga, rambutnya yang basah menandakan bahwa dirinya baru selesai mandi. Langkah itu baru terhenti saat sudah di depan sofa di mana tamu dan dua anak kecil berada.


"Apakah kalian sudah lama di sini?" tanyanya merasa tidak enak hati kala tiga iparnya datang berkunjung sedang ia tidak menjamunya.


"Belum lama, kurang lebih sepuluh menit" jawab Hamas tersenyum tipis. Lantas pria dengan celana pendek berwarna hitam itu melirik ke arah dua anaknya, salah satu bermain mobil-mobilan dan satunya lagi memainkan ponsel di tangan.


"Kenapa kalian tidak beritahu ayah kalau paman datang?" dua anaknya seketika mengalihkan pandangan dan menatap dingin wajah ayahnya bahkan sebelah bibirnya naik ke atas merasa jengkel.


"Ayah yang tidak dengar, suaraku sampai habis berteriak tapi tetap sama saja, sebenarnya apa yang sudah ayah lakukan bersama bunda sampai selama itu di atas?" cercah Adrian dengan berbagai pertanyaan. Terlihat pria itu gelagapan bahkan wajahnya terlihat malu.


Hamas dan Daffin tentu tahu maksud reaksi Tio, mereka hanya menampilkan wajah senyum tapi berbeda dengan Dafa dan Adrian, sementara Adnan masih fokus dengan mainannya.


"Apakah kakak ipar sedang melakukan pelepasan?" entah kenapa pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulut pria remaja itu, tanpa sadar semua mata memandang ke arahnya, Hamas melempar tatapan mengerikan karena menanyakan sesuatu hal tabu apalagi bagi mereka yang belum menikah.


Sementara Daffin menutup mulutnya menahan tawa takut dirinya kelepasan, ia sungguh tidak habis pikir saudara kembarnya itu berani bertanya kepada Tio apalagi di depan Hamas yang notabenya akhir-akhir ini moodnya berubah-ubah.


"Jaga bicaramu Dafa!" serunya membuat Dafa terdiam, sebenarnya apa yang sudah di lakukannya sampai abangnya sendiri membentaknya? Apakah ada kalimatnya yang menyinggungnya? Dafa kemudian melirik saudara kembarnya meminta pertolongan namun tidak di hiraukan.


"Tidak apa-apa, santai saja... Bagaimana jika kalian tunggu di sini aku memasak untuk makan malam kita" Tio mencairkan suasana yang terasa panas. Tidak menjawab juga tidak menyalahkan.


"Maaf kakak ipar, aku tidak tahu artinya, mohon maafkan aku yang tidak terpelajar ini" lirihnya dengan perasaan menyesal. Melihat kesedihan di wajah Dafa membuat Daffin iba, ia merasa menyesal memberitahu kata bencana itu.


"Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan, kalian duduk di sini dulu sebentar lagi Lia akan turun" Tio segera menuju dapur untuk memasak untuk makan malam, apalagi ada tiga tamu dari saudara istrinya tentu ia harus membuat menu spesial malam ini. Sementara itu Hamas melirik adik laki-lakinya dengan tatapan tajam.


"Lain kali tidak boleh seperti itu, tidak sopan" tegasnya dan Dafa hanya mengangguk, tidak berselang lama terdengar lagi bunyi sandal yang saling bersahutan, berirama memberi nada khas tersendiri. Mereka semua menengok ke arah tangga dan benar saja terlihat seorang perempuan dengan postur tubuh besar, ia memakai daster di bawah lutut juga rambutnya terlihat basah sama seperti Tio.


"Hmmm, mereka baru selesai mantap-mantapan" batin Daffin dengan tersenyum simpul, padahal dirinya baru SMP tetapi sudah paham tentang hal-hal dewasa, apa karena hidup di zaman modern jadi informasi apapun mudah di dapatkan.


"Kalian dari tadi di sini? Kenapa tidak kasih tahu kalau mau datang" seorang wanita berkata setelah sudah di depan saudara-saudaranya, tidak ada yang menjawab diam itulah yang terjadi. Aulia yang tidak di respon menaikkan sudut alisnya heran, ia baru saja turun, dan belum melakukan apa-apa, kenapa mereka seperti menaruh dendam padanya.


"Apa aku ada salah kata? Kenapa kalian diam saja?" tanyanya lagi dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya dengan tatapan aneh melirik ke arah orang-orang di sana.


"Itu karena paman Hamas memarahi paman Dafa, tadi paman Dafa tanya ke ayah tentang pelepasan itu apa?" jawab Adnan tanpa melihat ibunya, ia masih asik bermain mobil-mobilan, tidak tahu besar nanti apakah dirinya akan menjadi pembalap atau memiliki perusahaan mobil.


"Pelepasan?" ulangnya sambil melirik ke arah adiknya, buru-buru Dafa menggeleng malu. Aulia hanya berdecak sebal ia lalu berjalan ke arah dapur.


Sementara di sebuah rumah sakit Washington DC, dua keluarga itu sedang makan siang bersama, sambil bercerita dan bercanda, mereka yang dulu asing terlihat asik sekarang.


Mereka membentang karpet dan duduk di sana, ada berbagai macam hidangan yang tersedia seperti spagetti, MC Donald, roti dan tidak lupa susu kemasan sudah tertata di tengah-tengah mereka.


Alex di suapi oleh Amanda, sementara Vicky yang masih single itu di bantu oleh anak buah laki-lakinya, ia benci dengan keadaan yang lemah sebab tidak bisa mandiri, ingin sekali berteriak dan meraung-raung tetapi ia tidak mungkin tidak sopan pada boss besarnya itu.


"Boss, orang-orang Indonesia ini sangat picik dan tidak punya sopan santun"


"Iya benar, pertama mereka menculik nona muda, kedua mereka dengan wajah tebalnya itu menerobos masuk ke gerbang Mansion lalu melukai boss, bukankah itu adalah perilaku yang tidak beretika, apakah mereka saat di sekolah tidak di ajari bagaimana bertamu di negara orang lain, hah! mengingat kejadian hari ini membuatku kesal" cerocos seorang pria dengan suara pelan.


TUK


"Awwww" teriaknya membuat semua atensi berpusat padanya, ia yang di lihat seperti itu hanya nyengir kuda.


"Sakit boss, aku tidak ada salah kenapa memukulku" ngeluhnya sambil menggosok-gosok dahinya.


"Salah sendiri kenapa kerjaan kalian jadi ngerumpi, hadeuh apa gender kalian ini sudah berubah hah!" tutur Vicky geleng-geleng melihat tingkah anak buahnya yang sudah berpindah profesi menjadi emak-emak bergosip.


"Kalian saya tinggal dulu, saya dan istri saya ada urusan sebentar" tuan Farhan berujar kepada yang lainnya, tuan Kalingga mengangguk mengiyakan. Tuan Farhan dan Jons berjalan keluar dari ruang VIP tersebut meninggalkan tiga anaknya serta dua cucunya di sana.


Sementara tuan Kalingga dan lainnya sudah menyelesaikan makan, kini mereka telah duduk di atas sofa. Dua kerucil Hamas duduk di samping Alexa.


"Tante, menikahlah denganku" semua mata melirik ke arah bocah kecil yang sedang berbicara ngawur. Bahkan tuan Kalingga melirik tajam padanya sementara Alexa hanya terkekeh kecil.


"Kamu masih kecil, kenapa sudah berbicara menikah dengan tante" Alexa mengusap rambut Aditya, pria itu segera menepisnya, wajahnya berubah menjadi datar tatapan tidak suka mendengar kalimat Alexa yang mengatai dirinya kecil.


"Pokoknya tante harus menikah denganku, orang-orang di sini saksinya, aku tidak mau tahu tante Alexa adalah istri masa depanku" ucapnya tegas.


"Apa-apaan dia! nona muda adalah milikku, tidak bisa seorang pun yang bisa memilikinya selain aku, aku sudah bersamanya sejak lama, atas dasar apa dia berbicara seperti itu!" bisik seorang pria dalam hati, kepalan tangannya terkepal kuat, bahkan sampai menggertakan gigi.


"Boss sepertinya marah, apakah boss akan menghabisi nyawa anak laki-laki itu?" Kedua anak buah Vicky saling berbisik.


"Mungkin saja, anak itu sudah menyinggungnya, dia pasti akan habis oleh boss"


"Jangan pedulikan perkataannya, itu hanya gurauan anak kecil"


"Dasar sok tahu" ketus Vicky mendengus kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung