
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
"Kita akan kemana tuan muda kecil?" pria yang duduk di kursi kemudi bertanya dengan serius, ia menatap pantulan lawan bicaranya melalui kaca spion di depannya.
"Bertemu Nyonyamu paman" jawaban Aditya membuat Hanan langsung menghentikan mobilnya, terkejut itulah yang di rasakannnya saat mendengar jawaban tuan mudanya yang baru berusia tiga tahun setengah.
"Enzi kau tidak apa-apa?" tanya Aditya mengkhawatirkan adik perempuannya yang terjatuh di bawah kursi. Hanan yang menyadari bahwa ia membuat kesalahan segera turun dari mobil dan membuka pintu mobil di jok belakang.
"Huaaaa sakit!" tangis Enzi pecah, ia masih dengan posisi di bawah kursi.
"Maaf nona, apakah sakit? maaf-maaf saya tidak sengaja" Hanan kemudian membantu Enzi untuk duduk di kursinya lalu kemudian memakaikannya sabuk pengaman agar kejadian tadi tidak terulang.
"Tunggu sebentar nona, saya akan mengambil kotak obat" Enzi hanya menangis tanpa menjawab ucapan Hanan, sedang Aditya berusaha membuka sabuk pengamannya setelah terbuka ia kemudian berpindah tempat dari jok depan ke belakang. Ia melihat dahi adiknya memar dan ada sedikit goresan luka.
"Pasti sangat sakit kan?" Enzi mengangguk dengan tatapan nanar, pria kecil itu meniup luka adiknya.
"Jangan bergerak abang akan mengobatinya" Enzi menatap kakaknya yang sedang mendekatinya, perlahan-lahan wajah Aditya mendekat bahkan hampir bersentuhan, Enzi merasakan luka di dahinya basah.
"Abang!! iiiiish bau tahu!" teriaknya menggema membuat Aditya menjauh dari Enzi. Pria kecil itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah Enzi yang kemerahan akibat kesal.
"Air liur abang tidak bau, luka kamu akan cepat sembuh daripada obat" kata Aditya dan itu makin membuat Enzi kesal. Hanan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang seperti Tom dan Jerry saja.
"Andai nyonya Shireen masih hidup, dia pasti bahagia dan sangat bangga" bisik Hanan dalam hati.
"Sudah, sudah! Nona biarkan saya mengobati luka nona" Enzi mengangguk patuh.
"Belsihkan liul abang dali wajah Enzi" balasnya dengan tatapan tak suka pada Aditya. Sedang abangnya hanya menatap tak acuh, ia lebih asik memainkan ponsel di tangannya daripada mendengarkan ocehan tak berfaedah dari mulut Enzi.
"Sudah selesai" Hanan menutup kotak putih di atas pahanya setelah menutup luka nona mudanya dengan kain kasa pria yang menjadi sopir anak-anak Hamas pun kembali ke tempat duduknya.
Mobil yang tadi berhenti di tepi jalan kini mulai berjalan normal, Hanan kemudian melirik Aditya.
"Tuan kemana kita akan pergi?" Aditya menatap pria dewasa di samping kursinya, ia kemudian menatap ponsel yang berada di dashboard depan.
"Aku sudah mengirim alamat yang kita tuju paman, silakan di lihat dulu agar paman tidak banyak tanya" Hanan hanya bisa memijat kepalanya, berlama-lama dengan anak-anak tuan besarnya membuatnya mati kutu. Rasanya tidak ada kata yang cocok untuk di keluarkan selain diam.
"Baik tuan" Hanan kemudian meraih ponselnya lalu membuka pesan yang di kirim oleh Aditya, sebuah alamat yang belum pernah ia kunjungi atau di lewati. Ia sebenarnya ingin bertanya namun ia tidak mau di sarkas oleh anak kecil di sampingnya rasanya sangat malu.
"Kalau benar tante itu adalah bibi Alexa, aku harus segera bertemu dengannya dan membawanya pulang" Aditya berujar dalam hati. Pria kecil itu memasang wajah serius membuat Hanan bertanya-tanya.
"Apakah anak-anak pengusaha selalu seperti itu, seperti tuan muda kecil Aditya? wajahnya yang serius membuatnya terlihat seram juga ... sebenarnya apa yang dia pikirkan?"
Mobil yang di tumpangi Hanan dan dua tuannya pun berhenti di alamat yang di berikan Aditya, Hanan menatap ke depan sebuah bangunan besar berdiri kokoh dengan pagar membentengi bangunan tersebut. Hanan kemudian membuka sabuk pengaman yang di pakainya lalu melirik Aditya.
"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?" Aditya tersenyum tipis nyaris tak terlihat membuat Hanan mengerutkan keningnya.
"Bukankah kita akan ke supemaket, abang?" tanya Enzi dengan wajah bingung.
"Tidak. Kita akan bertemu mama di sini" Enzi menatap heran abangnya, yang mengatakan ingin bertemu ibunya sedang ibunya telah meninggal setelah melahirkan mereka. Aditya yang mengetahui kebingungan sang adik berujar kembali
"Kita akan bertemu tante yang menolong kamu, jadi kita harus membuat rencana agar ayah bisa bertemu dengan tante itu ... apakah kamu mengerti?" Seketika Enzi tersenyum lebar ia mengangguk mantap. Hanan hanya menaikkan alisnya tinggi dan berdecit sebal.
Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri mereka, pria dengan setelan hitam itu menatap ketiga anak manusia yang belum pernah di lihatnya.
"Ada yang bisa di bantu tuan?" tanya seorang pria dari dalam gerbang.
"Kami ingin bertemu dengan nyonya kalian" jawab Hanan membuat pria di dalam gerbang mengangguk pelan.
"Apa kalian sudah membuat janji temu?"
"Belum, tapi kami sangat ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, ada sesuatu yang ingin di bicarakan sangat penting... apakah boleh?"
"Tentu, silahkan masuk" pria dengan setelan rapi itu lantas membuka pintu gerbang untuk Hanan dan dua kerucil di sampingnya, Aditya dengan tatapan datar masuk begitu saja tanpa mengatakan apapun bahkan ucapan terima kasih saja tidak.
"Siapa anak kecil itu? auranya benar-benar menakutkan" batin pria yang memberi jalan. Hanan pun mengucapkan terima kasih kepada pria yang lebih tua darinya karena sudah mengizinkan mereka masuk.
"Tunggu sebentar tuan, akan saya panggilkan nyonya saya" Hanan dan Enzi mengangguk paham, berbeda dengan Aditya pria kecil itu malah tidak merespon sedikitpun.
Setelah kepergian penjaga itu mereka bertiga berdiri di luar pintu utama, Aditya dengan congkaknya melipat kedua tangannya di atas perut dengan kacamata bertengger di hidungnya yang mancung. Setelah beberapa menit berlalu seorang wanita dengan pakaian kasualnya membuka pintu, celana jeans pendek selutut dan baju kaos oblong berwarna biru laut berdiri di depan mereka.
Alisnya terangkat sebelah dengan kerutan kecil di dahinya menatap anak manusia yang tidak di kenalnya namun seperkian detik ia langsung mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Pria sombong itu berdiri di hadapannya dengan wajah angkuhnya.
"Ada apa kalian kemari?" tanpa basa-basi wanita itu bertanya dengan tatapan intimidasi.
"Tante, apa kau tega membiarkan kaki tamumu kesakitan? kami hampir berjamur di sini menunggu tante"
"What!" pekik wanita itu dalam hati. Ia tidak habis pikir bertemu dengan pria kecil namun songong bahkan lidahnya saja sangat tajam.
"Entah ini kabar buruk atau baik, namun aku rasa hari ini aku akan berpihak pada tuan muda kecil hehehe." Hanan hanya terkekeh dalam hati. Enzi yang baru sadar itu membuka suara.
"Mama, mama tinggal di sini?" wanita itu menepuk dahinya ia geleng-geleng kepala melihat tingkah dua bocah yang membuat hidupnya sedikit kacau.
"Silahkan masuk! aku tidak ingin sebuah berita memuat namaku karena kaki kalian yang lemah hingga mudah sakit. Oh satu lagi gadis kecil yang manis aku bukanlah mama kalian oke" tegasnya sambil berjalan masuk.
"Sebentar lagi tante akan menjadi ibu kami" ucapan Aditya sontak membuat Hanan terbatuk-batuk, sedang wanita itu melotot tajam ke arah Aditya yang bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun atas ucapannya.
"Aku tahu aku tampan Tante, tapi kasian mata tante kesakitan"
"Astaga, anak siapa dia ini? kenapa sangat narsis aku bahkan ingin menangis mendengarnya. Apakah dia tidak tertolong lagi?" bisik wanita tersebut memijat pelipisnya yang sakit sedang Enzi menutup mulutnya karena tidak kuat menahan tawa.
.
.
.
.
.
.
Bersambung