The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 132 Syukuran



Happy reading 🤗


.


.


.


.


Di Mansion Utama tuan Wijaya menyuruh beberapa koki untuk memasak hidangan yang banyak karena ia akan mengadakan syukuran atas hadirnya cicit pertamanya yang masih di sembunyikan, atas permohonan dari Tio hingga tuan Wijaya dan lainnya menutupi kabar gembira itu dari Aulia.


Beberapa koki begitu sibuk membuat olahan makanan istimewa, sedang anggota lainnya ada yang memindahkan meja serta kursi makan ke tempat lain, karena mereka akan menggelar beberapa karpet besar.


Sedang di tempat lain, seorang pria berparas tampan dengan kumis tipis membuatnya terlihat sangat menawan tengah mengobrol dengan beberapa pria di taman mini penuh dengan bunga lavender.


Ia menjelaskan dengan sangat serius, menatap lima orang pria di hadapannya setelah menjelaskan secara detail kepada lima pria berbadan kekar ia pun meninggalkan mereka dengan beberapa alat-alat di sana.


"Kakak ipar!" seru dua bocah laki-laki kepada pria dengan baju kaos oblong berwarna hitam. Pria yang di panggil kakak ipar itu berbalik badan menatap dua D yang tengah berlari ke arahnya. sekarang mereka mengubah panggilan uncle menjadi kakak ipar entah apa maksud keduanya.


"Ada apa?" tanya Tio sembari menatap Dafa dan Daffin dengan alis berkerut. Dua tangannya terlipat di atas dada.


"Kakak ipar mau membuat kejutan untuk kak Lia kan?" tanya Daffin menampilkan senyum tipis membuat Tio langsung waspada, senyum yang di tampilkan Dafa dan Daffin adalah pertanda buruk baginya ia harus menyiapkan mental untuk mendengar apa yang akan di katakan oleh dua perusuh raja Iblis.


"Benar, kenapa? kalian tidak akan membongkarnya kan?" dua D terkekeh jenaka mengulurkan tangannya ke depan Tio membuat Tio menyipitkan matanya heran.


"Kami akan merahasiakannya tetapi ada syaratnya" kali ini Dafa yang menjawab. Tio mendesah berat ia tahu maksud dari si biang kerok itu. Tanpa menanggapi Tio memasukkan tangannya ke dalam saku celana mengambil benda persegi berwarna coklat di bukanya benda tersebut dan mengambil sejumlah uang berwarna merah sepuluh lembar.


"Ini untuk kalian, ingat janji kalian awas saja jika mengingkari!" ucap Tio tegas. Dafa dan Daffin menerima uang satu juta dari Tio, mengangkat tangannya membentuk huruf O dan menampilkan senyum tipis. Kedua bocah raja Iblis segera berlari dengan tawa bahagia. Masih kecil saja sudah pintar memalak bagaimana besarnya nanti, apakah yang mereka palak adalah saham perusahaan sang ayah atau perusahaan lawan? entahlah hanya mereka yang tahu.


Kini hari sudah malam, jam 7 masakan telah selesai di masak oleh koki, para anggota Black Wolf saling membantu membawa berbagai makanan ke ruang makan dan menatanya di atas karpet yang sudah di gelar. Satu persatu anak-anak Black Wolf berdatangan begitupun dengan keluarga tuan Wijaya.


Semua sudah berkumpul di ruang makan bahkan saking banyaknya hingga tidak bisa menampung anggota Black Wolf, sebagian dari mereka lebih memilih makan di paviliun.


"Ayo silahkan makan, hari ini adalah ucapan syukuran atas menikahnya cucuku yang pertama" ujar tuan Wijaya, saat mereka ingin makan Ryan buka suara.


"Paman, alangkah baiknya kita berdoa dulu sebelum makan, agar kita tidak makan bareng dengan jin" semua di sana saling menatap satu sama lain perlahan-lahan menurunkan tangan mereka yang sedang memegang sendok. Anggota Black Wolf terkejut pasalnya setiap makan tidak pernah berdoa dan baru kali ini mereka di tegur oleh anak kecil.


"Ryan, kamu pimpin doanya yah" pinta tuan Farhan dan Ryan pun mengangguk.


"Baik Paman, tapi paman harus belajar menghafal doa makan agar saat makan nanti langsung bica membacanya"tutur Ryan dengan tampang polosnya, tuan Farhan tidak menjawab melainkan menatap ke arah Ayu lalu berbalik menatap Ryan kembali.


"Bismillahirrahmanirrahim Allâhumma bârik lanâ fî mâ razaqtanâ wa qinâ adzâban nâr, amiin"


"Amiin" semua mengucap amin lalu segera menyantap makanan di depan mereka. Tuan Farhan mendorong piringnya ke samping lebih tepatnya ke arah Jons, wanita beranak lima itu menatap suaminya heran.


"Suapi aku." Titah tuan Farhan datar, Jons tersenyum simpul sembari geleng-geleng kepala.


"Baiklah, aku akan menyuapi bayi besarku ini" kata Jons dan posisi tuan Farhan sekarang sudah menghadap ke arah Jons. Saat Jons menyendok makanan dan menyuapi tuan Farhan, si Jelangkung tidak mau membuka mulut membuat Jons menaikkan alisnya bingung.


"Ada apa lagi dengan si Jelangkung batangan ini? tidak tahu kalau aku juga lapar" sungut Jons dalam hati. Sebaik-baiknya seorang istri namun jika perut sedang lapar maka pasti akan mengeluarkan kata-kata kotor yah walaupun itu hanya dalam hati.


"Baiklah aku akan menyuapimu menggunakan tanganku" Jons menggunakan tangannya untuk menyuapi tuan Farhan, saat makanan sudah masuk ke mulut raja Iblis, tiba-tiba tuan Farhan menarik leher Jons dan...


CUP


Bibir keduanya saling menyatu, lidah tuan Farhan menggerakkan makanan di mulutnya dan menyuapi Jons melalui mulut membuat Jons benar-benar terkejut. Semua pria dan wanita dewasa di sana terbatuk-batuk melihat aksi dari tuan Farhan.


"Uhuk, uhuk, uhuk"


"Uhuk, uhuk, uhuk"


"Sangat tidak ramah, bisa-bisanya mengumbar kemesraan di depan orang jomblo, hah! aku juga ingin melakukannya tapi masalahnya aku tidak punya pasangan saat ini" batin beberapa anggota Black Wolf.


"Prince" tegas Jons namun tuan Farhan hanya menampilkan wajah polos. Untung saja anak-anak kecil berada di belakang tuan Farhan hingga tidak melihat aksi gila tuan Farhan.


"Farhan! bisakah untuk tidak melakukan perbuatan itu di depan orang lain?! bagaimana jika anak-anak kecil melihatnya? pikiran mereka akan ternodai oleh perilakumu yang kekanakan!" jelas tuan Wijaya penuh penekanan, namun tuan Farhan hanya menampilkan wajah dingin. Sepertinya tuan Farhan ingin membalas dendam karena kesenangannya yang tadi siang di ganggu.


"Biarkan saja Kakek, kami juga tidak melihatnya, lagipula saat dewasa nanti kami pasti akan mengalaminya" kata Daffin sembari makan makanannya hal itu hampir membuat semua di sana tersedak termasuk tuan Farhan sendiri.


"Anak ini jujur sekali" gumam Azhar pelan.


"Aku beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang sungguh kompak, aku sangat bahagia" batin Shireen tersenyum simpul.


"Sayang, ayo makan yang banyak biar kamu makin berisi" kata Hamas memberikan sate ayam kepada Shireen.


"Aku tidak mau gemuk, itu sangat menyiksaku" jawab Shireen dengan bibir mengerucut lucu.


"Tapi aku suka jika kamu makin berisi, itu akan membawa perubahan pada tempat-tempat favoritku hehehhe" mata Shireen melotot saat mendengar jawaban absurd dari Hamas. Semenjak menikah kata-kata yang sering keluar dari mulut Hamas pasti melenceng jauh. Bahasannya pasti ke hal-hal nikmat. Hadeuh dasar pria tidak pernah jauh dari kenikmatan surgawi.


Sedang di tempat lain ada pasang mata yang menatap sendu ke arah Hamas dan Shireen. "Andai putriku masih hidup aku pasti akan merasa senang, aku pasti bisa mengharapkan seorang cucu dari putriku..., namun jangankan cucu putri pun sudah tak ada" batinnya meneteskan air mata. Alex yang menyadari jika istrinya tengah bersedih menggenggam lembut jemari tangan sang istri.


"Jangan sedih sayang, ikhlaskan lah sesuatu yang sudah berlalu, doakan semoga Alexa tenang di alam sana" bisik Alex di telinga Amanda, wanita itu hanya mengangguk lirih. Sekuat apapun mengikhlaskan namun bayangan sang buah hati selalu hadir dalam ingatan seorang ibu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung