
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
Senyum mentari pagi terbit di ufuk timur dan menyapa para penghuni Bumi di kota Washington DC. Orang-orang mulai beraktifitas, ada yang berolahraga, pergi ke kantor bahkan membuka toko mereka. Dan sebagian ada yang masih terlelap di dalam lilitan selimut hangat membuat enggan untuk melepasnya.
Di sebuah Apartemen sederhana namun terlihat mewah, keluarga tuan Farhan sedang berkumpul di ruang makan, menyantap sarapan yang di buat oleh Jons dan Amanda. Kini kedua wanita paruh baya itu sering membuat sarapan untuk orang-orang tercinta, karena kini mereka telah memiliki skill masak setelah usai mengikuti kursus memasak.
Kali ini mereka membuat pasta, roti Sandwich tidak lupa dengan susu kambing sebagai pelengkap lima sempurna. Semua di sana makan dengan lahap bahkan saking nikmatnya tidak ada pembicaraan di antara mereka hanya keheningan yang tercipta.
"Emmm, enak banget. Mommy sama Tante tinggal saja di sini sepertinya kami tidak bisa makan makanan lain selain buatan Mommy dan Tante" kata Fadel sambil mengunyah pasta dan sandwich bersamaan.
"Tidak bisa!" sahut kedua pria beda usia siapa lagi jika bukan suami dari kedua perempuan yang membuat menu sarapan hari ini. Fadel memutar bola matanya malas, kedua pria dewasa ini terlalu pelit padahal dirinya hanya membutuhkan masakan dari wanita paruh baya itu.
"Paman buat sendiri saja kan bisa, nenek harus pulang karena aku juga tidak mengizinkan paman untuk setiap hari mencicipi masakan nenek" kali ini Aditya pro dengan tuan Farhan dan Alex. Kedua pria paruh baya itu tertawa kecil sambil menatap menang ke arah Fadel membuat pria muda itu kesal setengah mati.
"Di rumah Indonesia kan punya koki, jadi bisa membuat apa saja sesuai permintaan kamu, daripada Mommy dan Tante Amanda nganggur lebih baik tinggal di sini. Lagipula kami di sini tidak ada yang masakin selalu belanja di luar" Fadel tidak mau kalah ia melempar argumen kasihan agar di izinkan tetapi Aditya bukanlah pria kecil yang polos ia memiliki sejuta siasat untuk mencari celah dalam berdebat.
"Paman Fadel sudah besar, sudah bisa ngurus sendiri, aku dan adik Enzi masih kecil dan masih butuh nenek yang merawat kami... Seharusnya paman mengerti dong keadaan kami berdua" Fadel melirik orang-orang di meja makan, jika Aditya sudah berbicara seperti itu maka ia tidak bisa berkata-kata lagi.
Alex dan tuan Farhan hanya tersenyum tipis mendengar debat Aditya dan Fadel.
"Hmmmm, anak kecil itu sangat mudah berdalih itulah sebabnya aku malas berdebat dengannya dia begitu pintar memasang wajah kasihan membuat orang tersentuh melihatnya" bisik Azhar dalam hati.
Mereka kembali menyantap sarapan dengan khidmat tidak ada yang bersuara karena mereka fokus pada makanan di depan mata. Tak berselang lama mereka telah selesai dengan kegiatan sarapan, dan sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat Alexa berada.
Amanda dan Jons tinggal di Apartemen bersama Aditya dan Enzi, sebenarnya mereka ingin sekali ikut tetapi tuan Farhan dan Alex melarang, itulah sebabnya hanya laki-laki dewasa saja yang pergi berkunjung ke tempat Alexa berada.
Sementara di lain tempat, di bangunan besar nan megah, terlihat tiga anak manusia yang sedang menyantap makanan, dua berjenis kelamin perempuan dan satu laki-laki.
Terlihat wajah wanita muda bahagia ia bahkan makan dengan sangat lahap membuat seorang pria di depannya menatapnya aneh, tidak biasanya wanita itu sebahagia hari ini.
"Sepertinya nona muda sangat bahagia, jika berkenan izinkan aku mengetahui gerangan apa yang membuat nona merasa bahagia?" tuturnya karena ia benar-benar penasaran. Dua wanita berbeda usia yang tadinya asik mengunyah tiba-tiba berhenti dan menatap pada subjek yang bertanya.
"Rahasia dong Uncle" jawabnya kembali menyantap roti bakar.
"Aku tidak mungkin memberitahu pada paman bahwa aku sudah mengetahui identitasku yang sebenarnya, aku juga bersyukur karena nenek tidak membuatku susah apalagi menyiksaku" Alexa membatin.
Sedang Vicky menatap Alexa dengan sebelah alisnya terangkat tinggi, sambil menyantap makanan, matanya terus tertuju pada Alexa membuat wanita itu risih, sungguh ia tidak menyukai sikap Vicky yang tidak sopan padanya.
"Ada apa Uncle menatap Ainsley begitu serius, apa ada sesuatu yang terjadi?" pertanyaan Alexa sontak membuat Vicky tersadar, ia menggeleng sebagai jawaban dan hanya melempar senyum tipis.
Mereka kemudian beranjak dari meja makan dan menuju ke ruang keluarga, tak berapa lama datang salah seorang pria dengan warna style hitam, terlihat guratan wajahnya yang cemas.
"Ada apa denganmu? Apakah terjadi sesuatu yang buruk di luar?" Vicky seketika berdiri dan menghadapnya. Ia juga terlihat tegang karena tanggung jawabnya sangat besar, jika terjadi sesuatu di tempat nyonya besarnya ia harus melindungi dua wanita yang berharga dalam hidupnya itu, karena itu adalah janjinya pada tuan Kalingga.
"Mohon maaf tuan, nyonya, ada beberapa pria yang menerobos masuk kemari, bahkan mereka berteriak ingin bertemu dengan wanita bernama Alexa, kami sudah berusaha untuk menghadang mereka tetapi mereka begitu kuat, dan kami juga tidak tahu siapa Alexa itu"
Mendengar nama Alexa di sebut membuat wanita tua itu melirik ke arah Alexa begitupula dengan Vicky.
"Nyonya, nona, kalian jangan keluar aku akan menghadang mereka untuk tidak masuk ke dalam mansion"
"Baiklah, jaga diri kamu baik-baik, usahakan untuk tidak melukai mereka" kata wanita tua itu yang membuat Vicky langsung terdiam. Ia menaruh curiga pada nyonya besarnya karena itu bukan seperti tindakan bossnya tetapi ia tidak mungkin membantah perintah tuannya itulah sebabnya ia hanya bisa menyetujui.
Vicky segera bergegas keluar sedang wanita tua itu langsung menghampiri Alexa.
"Sepertinya mereka adalah keluargamu sayang, apa kamu ingin bertemu dengan mereka?" Alexa tidak tahu harus bagaimana, di satu sisi ia merindukan keluarganya terutama kedua orang tuanya tetapi di sisi lain ia berada di tempat musuh, ia tidak mungkin keluar dengan status sebagai Alexa karena posisinya ia sedang menyamar.
"Nenek tahu kamu pasti gelisah, tidak apa-apa kamu jujur saja, biarkan nenek yang akan memberitahu ayah kamu, Kalingga" Alexa menatap haru wanita tua di depannya, ia segera merengkuh tubuh rapuh ke dalam dekapannya.
"Terima kasih nek, terima kasih banyak, nenek memang yang terbaik yang selalu menolong Ainsley" Alexa merasakan elusan lembut di punggungnya. Ia kemudian melepas pelukan itu.
"Kalau begitu ayo kita keluar nek" Wanita itu mengangguk dan berdiri dari duduknya. Keduanya berjalan menuju pintu utama. Namun saat hendak membuka pintu tiba-tiba terdengar suara...
DOR
DOR
Mata Alexa membulat sempurna dan langsung melirik ke arah neneknya, mereka buru-buru keluar dan mendapati seseorang sedang terduduk dengan darah yang sudah tergenang ke lantai putih.
"Uncle!" seru Alexa langsung membantu Vicky berdiri tanpa melihat ke arah Alex dan lainnya.
Alex menatap ke arah wanita yang begitu jelas mengkhawatirkan pria lain selain dirinya membuat hatinya terenyuh, sebagai seorang ayah ia sungguh cemburu melihat putri semata wayangnya lebih peduli pada Vicky, jelas-jelas dirinya juga terluka.
"Uhuk-uhuk-uhuk"
"Azhar, bawa paman kamu ke rumah sakit segera!" titah tuan Farhan dengan wajah marah, Alexa mendengar suara tuan Farhan langsung melirik ke depannya, ia tertegun dengan tubuh membeku melihat pria paruh baya dengan kondisi mengkhawatirkan.
"Ayah!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung