The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 25 Gadis Imut



Happy reading 🤗


Kasih like dan Votenya yah


.


.


.


.


.


.


.


Di Washington lebih cepat satu jam daripada kota Meksiko. Jika di Meksiko adalah jam 10 : 20 maka di Washington adalah jam 11 : 20.


Seorang gadis imut masih dengan balutan seragam sekolahnya mengendarai mobil sedan berwarna kuning bermerek Bugatti Chiron Noire dengan harga yang sangat fantastis 49 miliar bukanlah sesuatu yang sulit bahkan ada yang lebih mahal daripada mobil tersebut.


Mobil Bugatti Chiron itu memasuki area universitas yang sangat luas termasuk universitas yang begitu populer.


Harvard University merupakan universitas tertua di Amerika Serikat yang terkenal dengan sejarah serta reputasi akademiknya. Hal tersebut membuat Harvard University tidak hanya berpengaruh di Amerika namun juga di dunia. Dan telah berdiri sejak tahun 1636. Harvard terletak di Cambridge, Massachusetts


Jarak antara sekolahnya ke Universitas Harvard memakan waktu satu jam. Entah apa yang akan ia lakukan di perguruan tinggi itu. Gadis cantik itu menghentikan mobilnya di salah satu parkiran umum. Lalu keluar dari dalam mobil. Semua pandangan tertuju pada gadis imut itu yang masih menggunakan seragam sekolahnya.


"Astaga siapa gadis itu? wajahnya benar-benar imut" pekik salah satu pria menatap kagum ke arahnya.


"Wow, selama hidupku aku baru melihat pucuk cantik yang benar-benar menggoda imanku" seru temannya.


"Dia seperti bidadari yang baru saja turun dari langit"


"Aku penasaran bagaimana jika aku meniduri pucuk, pasti sangat menyenangkan"


"Uuuhh, imut sekali gadis itu apalagi pakaian yang ia kenakan"


"Eh! tapi kenapa dia datang ke kampus? dan siapa sebenarnya dia dan mau apa dia kemari..."


Begitulah bisik-bisik mahasiswa yang ada di sana, gadis bernama Alexa itu hanya menyunggingkan senyum tipis dan berjalan melewati mereka. Kedatangannya kali ini hanya untuk menemui Hamas, entah kenapa dia sangat merindukan putra dari seorang raja Iblis padahal jam sekolah masih berlangsung namun karena begitu rindu hingga membuatnya harus merelakan jam pelajarannya.


"Di mana Abang Hamas? aku bahkan tidak terlalu tahu tentang lingkungan ini" tanya Alexa dalam hati. Gadis remaja itu kemudian mengulurkan tangannya mengambil sebuah benda pipih dari dalam tasnya menghubungi nomor Hamas. Namun sudah berkali-kali tidak di angkat membuatnya mengumpat kesal.


"Iiihh! abang Hamas awas saja jika aku menemukanmu!. Heh! jangan harap bisa lari dariku" tutur Alexa dengan kepalan tangan menggenggam erat.


Hingga tiga orang pria menghampiri Alexa, tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi dan rata.


"Hey cantik, kamu cari siapa di sini?" tanya mereka saat sudah di depan Alexa. Gadis itu menatap mereka dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Aku cari abang aku, kakak tahu abang Hamas di mana?" tanya Alexa dengan wajah imutnya. Membuat tiga Pria di sana benar-benar tertantang.


"Menarik. Oh, rupanya kamu adiknya Hamas. Baiklah mari kita bermain-main dulu cantik" gumam salah satu pria dalam hati. Tersirat senyum setan di bibirnya. Seakan baru mendapatkan mainan yang akan membuatnya sangat bahagia.


"Oh, Hamas adalah abang kamu cantik? tidak salah kamu bertanya pada kami... baiklah ayo ikut kami, Hamas adalah teman kami dan dia berada di perpustakaan" jelasnya tersenyum lembut. Alexa yang mendengar hal itu ikut tersenyum lebar.


"Oh benarkah? baiklah ayo bawa aku ke sana" jawab Alexa antusias bahkan tanpa curiga sedikitpun. Pria dengan rambut merah itu melirik ke arah dua temannya memberikan kode untuk tetap diam karena hari ini ia akan benar-benar menghancurkan Hamas, musuh bebuyutannya. Entah perselisihan apa yang terjadi pada keduanya sehingga membuat mereka menjadi musuh.


"Astaga gadis yang cantik. Nasibmu begitu sial hari ini" ujar batin dua orang pria.


Alexa mengernyitkan alisnya satu tangannya melepas genggaman itu. "Tidak perlu sampai memegang tangan! aku bisa jalan sendiri!" ujar Alexa dengan nada datar. Dan pria berambut merah mengumpat dalam hati.


"Heh! lihat saja nanti, kau akan habis di tanganku" gumamnya menyeringai Iblis. Hingga ketiga laki-laki itu berhenti di sebuah gudang tak terpakai, lebih tepatnya di belakang kampus yang di sana jarang sekali orang dan bahkan tidak pernah di kunjungi.


Alexa menautkan dua alisnya heran, netranya menatap ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda orang berlalu lalang membuat dirinya langsung menatap ketiga pria di depannya.


"Di mana abang Hamas? kenapa di sini sangat sepi seperti tidak pernah di pakai?" tanya Alexa menatap tiga laki-laki tampan di depannya. Senyum devil tiga pria itu tercetak jelas. Menggeleng kepalanya pelan bisa mengelabui mangsanya sungguh adalah keberhasilan yang harus di acungi jempol.


"Hahahaha, tebakan adik cantik benar, di tempat ini memang tidak di pakai" jawabnya dengan kekehan kecil. Menatap lapar ke arah Alexa. Gadis kecil itu hanya menatap datar wajah-wajah yang membuatnya sangat jijik, menarik sudut bibirnya tersenyum meremehkan.


"Abang Hamas, awas saja! aku tidak akan mengampuni abang" tutur batin Alexa kesal.


"Ayo cantik bermain-mainlah dengan kita-kita, kakak yakin kamu akan merasa puas" tutur mereka berjalan mendekati Alexa, gadis itu mundur ke belakang dengan kepala menggeleng pelan.


" Jangan! kalian akan di bunuh oleh abangku jika kalian menyakitiku!!" seru Alexa. Namun mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah ketakutan mangsa di depannya.


Di lain sisi


Di sebuah rumah minimalis dua anak manusia tengah berbincang-bincang di sofa sembari menonton kartun yang selalu membuat perut sakit karena tertawa. Hingga sebuah bel rumah berbunyi membuat kedua manusia itu saling menoleh.


"Lia buka pintunya dulu, abang nonton dulu sebentar" ujar gadis tersebut yang ternyata adalah Aulia.


"Biar abang yang buka" tahan Hara yang langsung beranjak dari sofa. Berjalan menuju pintu rumah. Aulia kembali menyibukkan dirinya dengan menonton film kesukaannya. Walau terkesan tidak logis tapi ia sangat menyukainya karena kelucuannya.


CEKLEK


Hara membuka pintu terlihat sosok pria tampan berdiri di hadapannya dengan tatapan datar. "Aku ingin berbicara berdua dengan Nona Lia" ujar pria itu yang tak lain adalah Tio. Hara menatap sinis laki-laki yang tidak tahu malu.


"Pria ini lagi! setelah melukai hati Aulia dia dengan beraninya ingin bertemu... benar-benar minta di hajar" bisik Hara dalam hatinya. Menatap tak suka pada Tio.


"Jangan dekati wanitaku! bukannya Om sudah mau menikah jadi jangan ganggu kekasihku!" jawab Hara dengan tatapan melotot. Tio terkekeh geli mendengar kata kekasih keluar dari mulut Hara.


"Cih! aku tidak akan tertipu dengan muslihat kecil yang kalian ciptakan... malam ini aku akan menginap di sini kamu untuk sementara tinggalah di rumah sana! itu adalah rumahku" jelas Tio memberikan kunci pada Hara namun pria itu tak mengambilnya.


"Heh! tidak akan ku biarkan Om menyakiti Aulia lagi" sentak Hara tajam. Namun tak di gubris oleh Tio. Tio malah menarik tubuh Hara dari dalam hingga keluar dari rumah. Dan dengan cepat ia masuk ke dalam rumah menguncinya dari dalam. Namun sebelum itu ia berujar.


"Dia adalah gadisku jangan pernah mendekatinya, paham!" Hara menatap tidak percaya pada sosok pria yang begitu plin-plan.


"Astaga! kenapa Aulia mencintai pria gila itu. Jalan pikirannya tidak pernah bisa di tebak". Seru Hara menggerutu. Dan dengan terpaksa kaki jenjangnya melangkah menuju rumah yang cukup besar. Yang tak jauh dari rumah Aulia.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung