
Happy reading 🤗
Like dan Giftnya kakak 🙂🙂🙂
.
.
.
.
.
.
.
Hari mulai nampak sore awan senja menyelimuti sebagian langit bumi, matahari mulai tenggelam di ufuk barat kembali di gantikan oleh cahaya lain yang menerangi bumi kala malam gulita, binatang-binatang mulai terlihat di atas sana kelap kelip cahaya membuat mata sulit berpaling darinya karena estetika yang di milikinya.
Empat sahabat Aulia sudah pulang ke Markas mereka Lowkey Pro sebenarnya mereka memiliki rumah dan keluarga namun karena kekangan keluarga sehingga membuat mereka keluar dari rumah dengan dalih ingin bebas.
Sekitar jam 5 Aulia di telepon oleh sang Mommy untuk menginap di Mansion Utama dan gadis remaja namun sudah menikah itu mengiyakan ajakan sang Mommy. Kini Aulia sudah rapi dengan setelan stylenya yang seperti biasa, celana jeans longgar dengan atasan Hoodie berwarna putih.
Wanita itu duduk di bibir kasur sembari memainkan ponselnya membuka Instagram yang beberapa hari ini tidak pernah ia buka. Sedang Tio masih di kamar mandi melakukan ritual mandinya padahal sudah tiga puluh menit di dalam sana namun belum kunjung keluar.
"Uncle lama sekali, apakah Uncle sedang bersemedi di dalam sana?" gerutu Aulia merasa kesal pada suaminya yang mandi melebihi perempuan. "Lia mandi juga tidak lama tuh kenapa malah Uncle yang mandinya lama, bukankah kebanyakan pria mandi tidak pakai sabun bahkan tidak sampai lima menit sudah keluar." Tutur Aulia lagi dengan kondisi bibir yang sudah tak biasa, telunjuknya menekan kuat layar ponselnya menahan kesalny.
Tak berselang lama akhirnya yang di tunggu-tunggu sudah keluar, pria dengan postur tubuh 1,87 cm meter itu keluar dari bilik kamar mandi yang hanya menggunakan lilitan handuk di bawah pusarnya. Titik-titik air membasahi tubuh atletisnya, rambut yang panjang jatuh menutupi dahinya membuat Aulia terpesona dengan mulut terbuka lebar.
Wanita dengan baju Hoodie itu menelan ludahnya kasar kala melihat pria seksi di matanya benar-benar membuat bulu kuduknya meremang. "Seksi sekali, Lia sangat ingin menikmatinya" batinnya dengan berbagai pikiran mesum. Tio hanya menatap datar wajah sang istri lalu berjalan menuju ruang sebelah atau di sebut walk in closed.
Bahkan sampai tubuh Tio tak terlihat lagi pandangan Aulia masih terarah pada pintu yang kini sudah tertutup rapat sesekali wanita itu meneguk ludahnya kembali.
"Astaga Lia! please deh jangan mesum terus dong iiiih kesal daah!" ketus Aulia menutup wajahnya merasa malu karena sudah terlihat konyol di depan sang suami. "Malu banget! Uncle Tio pasti akan meledek Lia karena sudah terpesona pada tubuhnya... yah sekalipun memang benar adanya" tuturnya lagi.
Lima menit berlalu pria dengan tubuh tinggi 1,87 cm itu keluar dengan tampilan casualnya. Celana Jeans sobek di bagian lutut dan kaos polos putih dengan jaket kulit coklat sebagai pelengkapnya.
"Maaf sudah menunggu lama, ayo kita berangkat sekarang" ucap Tio saat sudah di depan Aulia, gadis itu masih menatap wajah tampan prianya yang semakin hari semakin seperti bidadara saja
"Hey! are you oke?" Tio melambaikan tangannya di depan Aulia karena gadisnya melamun membuat Aulia seketika tersadar.
"Eh, ah, yah ayo" ucapnya spontan dengan wajah linglung membuat Tio geleng-geleng kepala. Aulia segera berdiri dari duduknya saat hendak berjalan menuju meja riasnya sebuah tangan tiba-tiba menarik tangan Aulia hingga tubuh Aulia menubruk dada bidang sang suami.
Memeluk erat pinggang ramping sang istri dengan tatapan dalam mengarah ke arah Aulia, gadis itupun mendongak ke atas keduanya saling melirik satu sama lain. "Un-uncle kita akan ke Mansion sekarang jadi bisakah kita tidak melakukannya hari ini" lirih Aulia dengan wajah malu-malu. Sudut bibir Tio tertarik ke atas memajukan wajahnya mendekat ke telinga Aulia kemudian berbisik pelan di sana.
"Kita mau melakukan apa memangnya hmmm...? sayang pikiran kamu tidak menjurus ke sana kan?." Bisik Tio dengan bibir melengkung tipis membuat Aulia salah tingkah. Dengan bibir di gigit Aulia mendorong dada suaminya sangat kuat agar bisa terlepas dari pelukan sang suami.
"Iiihhh Uncle! ngeselin tahu awas Lia mau ambil tas Lia!" ketusnya dengan wajah merah padam lalu berjalan terburu-buru menjauh dari Tio, ia sungguh sangat malu bahkan ingin sekali menghilang dari bumi ini karena tidak mampu menatap wajah prianya.
"Hahahaha, cieeee yang sudah ketagihan nih" ledek Tio makin membuat Aulia merah padam. Giginya saling bertaut menahan kesal karena mendapat ledekan dari Tio.
"Awas saja tidak ada jatah sebulan" batin Aulia kesal tanpa peduli dengan Tio gadis itu meraih tas selempangnya kemudian berjalan keluar dari kamar tanpa menunggu Tio. Tio yang menyadari jika gadisnya tengah merajuk segera berlari mengejarnya.
"Sayang tunggu!" Aulia tidak menggubris ia malah mempercepat langkahnya menuruni anak tangga, dari atas Tio berlari dengan rasa menyesal sudah membuat istrinya marah. Ia tidak tahu jika candaannya membuat sang istri merasa tersinggung.
"Sayang jangan marah dong, aku minta maaf yah" Tio menarik tangan Aulia saat sudah sampai di lantai satu, Aulia menatap tajam pria di depannya napasnya naik turun menahan kesal.
"Lepas Uncle! Lia masih kesal sama Uncle tahu, lebih baik sekarang kita ke Mansion karena Lia ingin ketemu Mommy dan Daddy!" jawab Aulia melepas paksa cekalan tangan Tio membuat pria itu terpaksa melepasnya. Tatapannya menjadi sendu kala istrinya benar-benar marah padanya.
"Apakah aku sudah kelewatan bercandanya tadi, aku tidak tahu dia akan semarah itu?" gumam batin Tio. Pria itu lalu berjalan mengikuti langkah kaki istrinya hingga tiba dia di teras rumah dan segera mengunci pintu namun ia mendengar bunyi suara motor yang tengah melaju meninggalkan parkiran rumah. Tio melongo melihat kepergian motor sport milik sang istri, tubuhnya mematung menatap ke arah luar dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dia meninggalkanku hanya karena masalah tadi? kekanakan sekali" membuang napas kasar kemudian kembali membuka pintu rumah berjalan masuk ke dalam hendak mengambil kunci mobil di kamar mereka.
Sedang di jalan raya seorang gadis dengan Hoodie putih mengendarai mobil dengan kecepatan penuh melampiaskan kekesalannya merasa marah pada dirinya karena sudah tega meninggalkan prianya di rumah, ia merutuki kebodohannya karena sudah marah tidak jelas padahal itu adalah sesuatu lumrah namun egonya menguasai dirinya hingga tidak mampu mengontrol emosi.
"Lia masih kesal sekali dengan Uncle! awas saja Lia tidak akan memberinya jatah, cih menyebalkan!" sungut Aulia. Gadis itu perlahan-lahan menurunkan laju motornya namun tiba-tiba dari arah belakang ada yang menabraknya membuat motornya tidak seimbang dan terjatuh di sisi jalan raya dan...
Pengendara motor yang asal-asalan itu segera melajukan motornya karena takut bertanggung jawab.
Tubuh Aulia sedikit terlempar jauh dari motornya kepalanya membentur batu membuat kepalanya sedikit sakit untung saja dia memakai helm hingga tidak membuat kepalanya cidera. Orang-orang melihat seseorang jatuh segera menghampiri dan membantu Aulia bangun.
"Kamu tidak apa-apa? apa perlu ke rumah sakit?" tanya seorang pria paruh baya.
"Tidak perlu pak terima kasih sudah membantu Lia" jawab Aulia berusaha untuk berdiri. Sebagian mereka menarik motor Aulia kemudian melakukan standar tengah agar motornya tidak terjatuh.
"Terima kasih yah pak sudah membantu Lia" tutur Aulia tersenyum ramah, gadis itu membuka helmnya dan meletakan helm tersebut di atas motor..
"Tidak apa-apa neng, lain kali hati-hati yah tapi memang kalau malam-malam begini sangat rawan, banyak kejadian seperti ini terjadi yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab" Aulia tersenyum tipis mendengar penjelasan dari bapak-bapak yang membantunya.
"Iya pak Lia akan hati-hati, sekali lagi terima kasih banyak" balas Aulia dan beberapa pria itu mengangguk pelan. Segera mereka meminta izin setelah membantu Aulia. Gadis itu meringis sakit saat menyentuh siku dan lututnya sepertinya ada yang luka, namun itu sudah membuatnya terbiasa menjadi seorang pembalap memang tidak jauh dari rasa sakit bahkan sangat parah daripada yang dialaminya sekarang.
"Lia harus ke Mansion secepatnya takutnya mereka menunggu Lia" tanpa berpikir panjang gadis tersebut kembali mengendarai motornya membela jalanan ibukota yang setiap hari tak pernah kosong, untung dirinya menggunakan motor hingga membuatnya sangat mudah untuk menyalip kendaraan lain.
Tidak butuh lama motor sport berwarna biru laut itu memasuki gerbang Mansion yang terbuka lebar, hingga tiba dirinya di depan Mansion, mengunci motornya kemudian pelan-pelan turun dari atas motor dan berjalan masuk ke dalam banguna besar nan megah.
Waktu sudah memasuki pukul 7:30 beberapa anak Black Wolf menunduk hormat melihat kedatangan sang Nona muda dan Aulia membalas ramah.
"Itu kak Lia sudah datang!" seru seorang bocah laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah Dafa. Yah sebenarnya mereka sedang menunggu kedatangan sang putri dan menantu. Semua mata tertuju pada Aulia terutama Tuan Farhan menatap dalam tubuh sang putri.
Dahinya mengkerut melihat baju yang dikenakan putrinya sangat kotor. "Di mana suami kamu sayang?" tanya Jons saat Aulia sudah mendudukkan pantatnya di atas kursi samping sang adik bungsu.
"Masih di jalan, Lia buru-buru jadi kesini duluan" jawab Aulia tersenyum tipis.
"Kamu jatuh yah sayang? kenapa baju kamu sangat kotor dan itu dahimu warna biru gitu kenapa?" mata Aulia menatap sang Daddy ia lupa jika Daddynya adalah pria jelih jika itu menyangkut dirinya.
"Bodoh! Lia lupa jika Daddy sangat jelih bagaimana ini? jangan sampai Daddy tahu kalau Lia jatuh bisa gawat ceritanya." Gumam batin Aulia.
"Oh heheheh Lia belum mandi dan bajunya kotor saat membereskan bengkel Lia" jawabnya kikuk.
"Benarkah? tapi itu bukan kotoran dari bengkel tapi seperti baru habis jatuh" kata Tuan Wijaya menimpali.
"Sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya Jons dan Nyonya Mita.
"Naik apa kamu ke sini?" tanya Tuan Farhan to the point membuat Aulia sulit menelan ludah. Apalagi tatapan tajam Tuan Farhan membuatnya merinding seketika.
"Li-Lia naik motor Dad" jawabnya kaku membuat pria beranak lima itu menghembuskan napas kasar.
"Cepatlah makan setelah itu Daddy akan mengobati lukamu" semua mata membulat sempurna terutama Aulia.
"Apa maksudmu Farhan!." Seru Tuan Wijaya dan Nyonya.
"Daddy seperti CCTV saja tahu apa yang terjadi pada Lia"
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung