
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
BUGH
"Nona!!"
Hampir saja gadis kecil itu di tabrak oleh mobil yang tadi melesat cepat untung saja seorang wanita berkendara motor menyadari keberadaan Enzi hingga dapat menyelematkan nyawa cucu tuan Farhan.
"Kamu sudah selamat sayang, jangan takut" bisiknya saat wanita itu merasakan getaran pada tubuh Enzi, sepertinya gadis itu sedikit terguncang mentalnya karena mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya.
"Ma-mama" wanita itu sedikit terkejut saat mendengar panggilan mama dari gadis kecil dalam pelukannya.
"Ma-mama Enzi takut" cicitnya dengan suara parau. Karena melihat kondisi anak tersebut masih ketakutan ia pun tidak menyangkal panggilan mama untuknya yang terlontar dari bibir mungil milik gadis kecil dalam dekapannya.
"Sudah tidak apa-apa, kamu sudah selamat sayang" ucapnya lembut, ia pun berusaha bangun masih dengan posisi memeluk Enzi, ia melihat goresan juga darah pada lututnya juga siku dan tangannya akibat gesekan yang terjadi saat terjatuh tadi.
Aditya, dua orang pengasuh dan sopir sekaligus menjadi pengawal dua anak Hamas, berlari menghampiri Enzi dan wanita yang tidak di ketahui.
"Dek, apa kau baik-baik saja?" seorang bocah laki-laki bertanya dengan raut wajah khawatir, tatapannya menatap adik perempuannya lalu beralih ke arah wanita yang menolong Enzi.
"Nona, bagaimana keadaanmu? apakah ada yang terluka? maaf-maaf sudah membiarkanmu dalam bahaya?" pengasuh Enzi berujar dengan tubuh gemetar, wajahnya menjadi pucat ia benar-benar bersyukur nona mudanya baik-baik saja jika terjadi apa-apa kepada nona mudanya mungkin hidup pun belum pasti aman.
Enzi masih memeluk erat wanita yang menolongnya ia masih merasa takut sepertinya psikisnya terguncang hebat akibat kejadian yang belum lama terjadi.
Sopir yang mengantar anak-anak Hamas mendorong motor penyelamat nona mudanya lalu memarkirkannya di samping mobil mereka.
"Terima kasih nona sudah menolong nona muda kami, ku harap nona bisa ikut bersama kami untuk mengobati luka nona, anggap saja sebagai ucapan terima kasih kami" seorang pria dengan setelan hitam berujar hormat kepada wanita yang masih setia memeluk Enzi.
"Tidak perlu saya ada urusan penting yang harus saya selesaikan" ucapnya tegas.
"Sayang, tidak perlu takut lagi tante akan melindungimu, sekarang tante ada urusan penting kita bisa bertemu lagi nanti, anak cantik harus patuh sama bibi itu ya tidak boleh nakal..., tante mau pergi dulu" Enzi mengangguk pelan walaupun ia enggan melepaskan wanita tersebut.
Diam-diam Aditya mengambil foto wanita yang menggendong Enzi ia harus melaporkan kepada ayahnya, karena ia di ajarkan untuk harus membalas kebaikan orang lain yang membantunya. Senyum devil tercekat jelas di wajah bocah laki-laki itu ia kemudian kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.
"Aku akan meminta ayahku untuk membalas kebaikan tante, jangan risau ayahku adalah orang terkaya di negara ini kakekku adalah penguasa yang mengendalikan urat nadi ekonomi di berbagai negara..., kakek buyutku adalah orang yang sangat kaya raya dan..."
Wanita dengan setelan casual, celana Jeans sobek di bagian lutut dan baju kaos berwarna hitam berlengan pendek itu menatap tak percaya kesombongan yang di miliki Aditya. Bocah kecil itu berbicara dengan keangkuhan sembilan puluh sembilan persen sangat angkuh.
"Jika anaknya saja seperti itu, aku tidak yakin jika keluarganya tidak sombong..., terutama kakeknya, benar-benar tidak habis pikir anak sekecil dia sudah berbicara sombong di depanku... aku ingin tahu seberapa kaya mereka ini?" batinnya dengan geleng-geleng kepala. Tidak mau menjawab wanita itu langsung melenggang pergi tanpa peduli dengan tatapan Aditya yang misterius.
Sedang pria yang menjadi sopir juga dua pengasuh Enzi dan Aditya hanya diam tanpa suara, kesombongan tuan muda kecilnya sudah menjadi makanan sehari-hari mereka. Ucapan Aditya barusan sudah tidak membuat mereka aneh lagi.
"Kamu baik-baik saja bukan?" Enzi mengangguk dalam gendongan pengasuhnya. Mendapat jawaban baik dari adiknya bocah laki-laki itu hanya angguk-angguk kepala.
Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan ke perusahaan group Wijaya, Aditya duduk bersama pengasuhnya sedang Enzi duduk di atas pangkuan pengasuhnya memeluknya erat.
"Abang jangan kasih tahu ayah yah kalau Enzi tidak patuh" bibir mungilnya bergerak memohon kepada Aditya agar tidak mengadu kepada Hamas. Karena jika Hamas tahu masalah yang menimpanya ia mungkin tidak akan bisa bebas keluar.
"Baiklah, tapi jika kamu tidak patuh lagi maka abang akan melapor pada ayah!" jawabnya tanpa melihat adiknya. Enzi hanya mengerucut bibirnya kesal.
Beberapa menit berkendara hingga akhirnya mobil yang di tumpangi Enzi dan Aditya sampai juga di perusahaan group Wijaya. Kedua bocah kakak adik itupun keluar di ikuti dua pengasuhnya berjalan menuju lobi kantor.
Semua mata memandang ke arah Aditya dan Enzi, menatap takjub pada dua bocah yang sangat tampan dan cantik.
"Selamat siang tuan, nona muda kecil" sapa seorang petugas resepsionis.
"Apakah ayahku ada?" Aditya bertanya dengan ekspresi datar, resepsionis tersebut mengangguk dengan senyum kecut di bibirnya menelan ludahnya sulit akibat tatapan maut dari Aditya padahal dirinya hanya menyapa tanpa melakukan sesuatu yang merugikan.
"Ayah sama anak sama saja, kenapa begitu susah untuk tersenyum? apakah sesulit itu yah?" batinnya dengan perasaan dongkol.
"Iiish abang halus senyum kalau beltanya kepada olang lain kalau meleka malah gimana?" ujar Enzi pada Aditya. Bocah laki-laki itu hanya menatap tak acuh pada adiknya.
"Abang lakukan itu karena mereka ingin menjadi mama tiri kita, seharusnya kamu berterima kasih pada Abang karena sudah membantu ayah untuk menjauh dari orang-orang nakal seperti mereka" balasnya tegas tanpa melirik adik perempuannya, Enzi hanya mendengus kesal.
"Tapi Enzi sudah menemukan mama untuk kita, Enzi yakin ayah pasti akan mencintai tante itu" batinnya memikirkan wanita yang menolongnya tadi. Entah siapa yang mengajarkan mereka sampai anak sekecil mereka sudah bisa mencari mama baru juga istri untuk ayahnya. Hah! apakah karena mereka adalah keturunan raja Hades sampai memiliki kecerdasan melebihi orang dewasa... benar-benar di luar nalar.
Kini mereka sudah naik ke dalam lift khusus CEO dan orang-orang penting hingga lift itu membawa mereka ke lantai teratas yaitu lantai 29.
Ting
Lift itu berbunyi menandakan bahwa mereka sudah tiba ke tempat tujuan. Saat pintu terbuka mereka semua keluar. Seorang pria yang melihat anak-anak bossnya datang segera menemui mereka.
"Selamat siang tuan, nona muda kecil" sapa pria tersebut bernama Hanan, sekretaris Hamas yang adalah putra Rio mantan sekretaris tuan Farhan.
"Selamat siang om ganteng" Enzi menyahut dengan centilnya karena melihat wajah tampan Hanan. Aditya menepuk keningnya kenapa adiknya begitu mirip dengan dua sepupunya yang begitu centil. Hanan hanya tersenyum melihat reaksi Enzi juga Aditya.
"Mari saya antar ke ruangan tuan Hamas"
Tanpa mengetuk pintu Hanan langsung membuka pintu ruangan Hamas, Enzi dan Aditya segera masuk ke dalam, di ikuti dua pengasuhnya, terlihat seorang pria yang begitu sibuk menatap laptop di depannya hingga tak menyadari jika ada yang masuk.
"Tuan ada yang ingin menemui anda" tanpa melihat Hamas mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk tidak mengganggunya, Enzi yang kesal pun lalu naik ke atas kursi di depan meja ayahnya dan tanpa basa-basi menutup laptop Hamas.
BRAAAAK
"Apa yang kau lakukan!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung