
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
Masih di kota Washington keluarga tuan Wijaya sangat berduka cita atas meninggalnya Shireen. Azhar sudah menelepon orang tua Shireen dan mengabarinya bahwa putri mereka telah meninggal dunia dan meninggalkan putra putri yang tampan dan cantik. Mendengar kabar buruk putrinya membuat orang tua Shireen sangat terpukul namun mau bagaimana lagi semuanya sudah menjadi garis takdir kehidupan setiap yang hidup pasti mati. Tidak ada celah bagi siapapun yang lolos dari kematian.
Setelah mendengar kabar duka dari Azhar orang tua Shireen langsung memesan tiket tujuan Washington dan kini mereka dalam perjalanan.
Sedang keturunan raja Iblis di pindahkan ke Ruang NICU (neonatal intensive care unit) adalah tempat khusus untuk merawat bayi baru lahir yang membutuhkan pengawasan ketat oleh tenaga medis. Karena bayi yang di kandung Shireen keluar dengan keadaan prematur.
Jenazah Shireen sudah di bawa oleh tuan Smith dan lainnya ke Apartemen Hamas, di sana mereka menunggu orang tua Shireen baru di kebumikan, sedang Hamas masih dengan kondisi kacau ia benar-benar belum bisa menerima kepergian istrinya.
Putra sulung raja Iblis itu mengurung dirinya di dalam kamarnya membiarkan lampunya mati dan kamarnya gelap gulita bahkan sudah beberapa kali Azhar dan lainnya mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari dalam. Mereka hanya bisa pasrah dan menunggu kedatangan tuan Farhan semoga ayahnya bisa menangani mental Hamas.
Terik matahari begitu menyengat kulit, di bangunan besar, sudah berkumpul keluarga tuan Smith mereka turut berdukacita baru saja kebahagiaan di depan mata namun seketika lenyap dalam waktu sedetik. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan datangnya malaikat maut, kita sebagai manusia hanya perlu berjaga-jaga sembari mengumpulkan amal kebaikan.
Sedang Azhar sudah berada di bandara karena orang tua Shireen sebentar lagi akan tiba, perjalanan dari Amsterdam ke Washington tidak terlalu jauh hanya butuh waktu delapan jam untuk tiba di bandara kota Washington.
Orang tua Shireen terbang jam 7 pagi dan akan tiba jam 3 siang di bandara Washington.
Sedang di negara Indonesia tepatnya di rumah sakit Wijaya, Tio sudah sangat sukar karena sang istri masih belum melahirkan padahal Aulia sudah sangat tersiksa. Wajahnya pucat pasih bulir keringat bercucuran sesekali Tio menyeka keringat di wajah Aulia. Ia ingin sekali menggantikan rasa sakit Aulia namun ia tidak tahu bagaimana caranya.
"Aww, ssshh sakit sekali! a-aku sulit bernapas" keluh Aulia mencengkram kuat pergelangan tangan Tio. Sekarang baru pembukaan ke enam, Aulia sudah tak sanggup berdiri bahkan hanya sekadar duduk, ia kemudian di sarankan untuk berbaring saja sembari menunggu pembukaan sepuluh.
"Sabar sayang, kamu pasti kuat, aku yakin kamu adalah wanita hebat yang terpilih untuk menjadi ibu dari anak-anakku" puji Tio ikut merasakan sakit saat melihat Aulia kesakitan. Wanita yang ia cintai berani mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak-anaknya.
"Apa kau sedang mencari penggantiku untuk menjadi istrimu? kau sangat kejam di saat aku kesakitan kau bahkan punya pemikiran seperti itu? kenapa tidak kau saja yang merasakan rasa sakit ini! kenapa?!" teriak Aulia dengan tatapan tajam mengarah ke arah Tio. Pria itu sampai terlonjak kaget melihat reaksi Aulia padanya.
"Eh? apa aku pernah mengatakan ingin mencari penggantinya? kenapa jadi begini?" tanya Tio dalam hati dengan tampang polos.
"Sayang aku tidak mengatakan untuk mencari pengganti kamu, aku..."
"Oh jadi aku yang salah dengar begitu? kau meragukan pendengaranku yah?" potong Aulia dengan tatapan mengintimidasi, Tio geleng-geleng kepala melihat perubahan drastis dari Aulia, apakah semua wanita yang akan melahirkan seperti ini tempramennya? benar-benar menakutkan berasa berada di hadapan raja neraka untuk di eksekusi masuk ke dalam kuali besar.
"Ssshh, sakit sekali! tolong sakit sekali aku sudah tidak menahannya! akkkkkkhhh Daddy! mommy! sakiiittt!!" teriak Aulia dengan mata tertutup. Tio yang panik segera keluar meminta bantuan.
"Mom, tolong bantu istriku! bagaimana ini cari cara agar rasa sakitnya menghilang" kata Tio dengan napas terengah-engah. Jons, Amanda, tuan Wijaya dan nyonya Mita segera berdiri.
"panggil dokter untuk memeriksa Aulia, biar aku yang menanganinya!" titah Jons dan Tio mengangguk. Pria itu segera berlalu dan mencari dokter. Sedangkan Jons masuk ke dalam ia mendengar teriak Aulia yang kesakitan, ia pernah berada di fase itu, fase di mana hidup segan mati tak mau benar-benar menyakitkan. Namun itu adalah kodrat seorang wanita dan itulah yang menjadi keistimewaan seorang wanita jadi harus bisa melewati fase antara hidup dan mati.
"Sayang, tenangkan dirimu! tarik napas pelan-pelan dan buang perlahan-lahan!" ucap Jons lembut. Di genggamnya tangan Aulia sesekali menyeka keringat Aulia penuh kelembutan, Aulia merasa tenang sekarang.
"Bagaimana? apakah masih sakit sayang?" tanya Jons mengelus rambut Aulia, wanita yang terbaring itu memiringkan kepalanya dan melihat Jons. Ia tersenyum tipis dan menggeleng kepalanya sebagai jawaban.
"Aku sudah tidak merasakan sakit lagi, terima kasih mom" jawab Aulia dan Jons tersenyum tipis.
"Mom, apakah mommy juga merasakan kesakitan ini saat melahirkan kami? pasti sulit sekali melahirkan tiga anak di waktu bersamaan, mommy sangat hebat" kata Aulia menatap binar wajah Ibunya. Jons tersenyum tipis menanggapi ungkapan Aulia.
"Benar, mommy sangat kesakitan melahirkan kamu dan dua abang kamu, apalagi itu adalah melahirkan pertama dalam hidup mommy, saat itu daddy kamu sangat menderita dan mendapat banyak luka dari mommy" jelas Jons terkekeh kecil saat mengingat masa-masa dirinya melahirkan dan tentunya tuan Farhan turut merasakan kesakitan saat pasca melahirkan itu. Luka cakaran di tangannya menandakan bahwa dia adalah suami siaga.
"Kenapa Daddy mendapat banyak luka dari mommy? apakah Daddy berbuat salah saat itu?" tanya Aulia dengan alis berkerut.
"Tidak, tapi saat melihat daddy kamu, mommy sangat marah karena rasa sakit yang mommy rasakan tidak di rasakan oleh daddy kamu, makanya mommy mau berbagi penderitaan mommy padanya heheheh" tutur Jons membuat Aulia ikut tertawa. Tiba-tiba terlintas pikiran licik dari benak Aulia, ia ingin berbagi penderitaannya dengan Tio.
"Maafkan aku yang sudah membuat mommy kesakitan" ujar Aulia sedih.
"Tidak sayang, jangan minta maaf memang ini hidup seorang wanita mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya..., kau akan merasakan kebahagiaan itu saat kamu melihat anakmu lahir. Rasa sakit yang kamu rasakan bahkan sampai merenggut nyawa akan terbayarkan saat mendengar tangisannya" ujar Jons menjelaskan membuat Aulia terdiam, ia sangat menantikan momen itu di mana ia memperjuangkan hidup anak di dalam rahimnya sekalipun nyawanya adalah taruhannya.
"Aku sangat menantikan momen tersebut" lirih Aulia dalam hati. Membayangkan dirinya bisa menjadi ibu yang baik dan bisa melindungi anaknya saat melahirkan nanti.
"Apa kamu tidak merasakan sakit lagi sayang?" tanya Jons menatap wajah putrinya.
"Tidak lagi mom, tapi aku tidak sabar untuk melahirkan, aku tidak sabar berbagi penderitaan dengan suamiku" jawab Aulia membuat pria yang baru muncul mengernyit heran.
"Berbagi apa sayang?" sahut Tio, membuat Jons dan Aulia melirik ke arahnya.
"Berbagi sayang dan cinta, benarkan mom?" Jons mengangguk saat tatapan intens tertuju padanya, Tio merasa merinding mendengar penuturan Aulia seakan ada maksud lain dari perkataan Aulia.
Tak lama dokter datang memeriksa Aulia, pembukaan baru pintu ke 7 sebentar lagi akan masuk pintu ke sepuluh, Aulia sudah bersiap-siap untuk melahirkan ia tidak sabar seperti apa wajah anaknya.
"Kamu harus menemani aku, jangan tinggalin aku awas saja jika keluar!" Tio mengangguk patuh.
"Apa sebenarnya yang di rencanakan si putri rusuh ini? kenapa hatiku merasa ada sesuatu yang buruk terjadi?" batin Tio sembari tersenyum di depan Aulia. Wanita itu hanya memutar bola matanya malas entah kenapa melihat wajah Tio membuatnya ingin mencabik-cabiknya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung