The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 62 Melepaskan Dengan Ikhlas



Happy reading 🤗


Like dan Votenya Kaka 🙏🙏🤭


.


.


.


.


.


.


Setelah berbagai bujukan dari sang Mommy pada akhirnya Aulia pun menurut, mendekati pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Semakin mendekat maka semakin jantungnya berdebar tak karuan pasokan oksigen seakan habis tiba-tiba menjadi sesak dan sulit bernapas. Wajah dan telinganya sudah memerah karena malu tangannya berkeringat berubah menjadi dingin hingga tiba saatnya Aulia duduk di hadapan Tio pria itu tersenyum simpul mendapati sang istri yang tengah malu-malu.


"Ayo cium tangan suaminya Nona!" perintah penghulu membuat Aulia terdiam sesaat. Gadis yang sudah melepas lajangnya melirik sang Daddy dan Tuan Farhan malah tersenyum sembari mengangguk pelan. Mencebikkan bibirnya kesal kala tak ada yang bisa membantunya keluar dari debaran yang menyiksa.


Tangan Aulia terulur gemetar meraih tangan prianya lalu di kecupnya lama penuh cinta membuat semua orang riuh tepuk tangan. Sekarang giliran mempelai pria untuk memberikan ciuman di dahi. Menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan. Terasa bibir itu menyentuh keningnya sangat lembut.


"Uncle, Lia sesak napas" bisik Aulia di sela-sela ciuman Tio di keningnya membuat pria yang sudah sah menjadi suaminya terkekeh pelan.


"Uncle akan membantumu" jawabnya lalu menurunkan kepalanya berhadapan dengan wajah sang kekasih halal, di tatapnya lama, Tio semakin memajukan wajahnya dan hal itu membuat semua mata membola sempurna.


Cup


Sedikit ciuman dan ******* kecil di berikan oleh Tio pada Aulia membuat gadis itu terpekik kaget jantungnya makin tidak terkontrol ingin sekali menangis.


"Aaakkh, ada yang jomblo di sini jangan tebar keromantisannya dong!!" seru orang-orang membuat Tio seketika melepas pagutan ciumannya. Karena malu Aulia langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Lia malu banget, Lia tidak percaya jika Lia sudah menikah dengan Uncle... bagaimana ini Lia belum siap" tuturnya dalam hati.


"Hey jangan malu sayang" panggilan sayang membuat Aulia semakin salah tingkah belum pernah ia merasakan kegilaan seperti ini, menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya masih bersandar di wajahnya. Membuat semua di sana terkekeh geli.


"Astaga anak itu yah kenapa di acara seperti ini kekanakannya masih terlihat" keluh Jons namun dengan senyum tipis di bibirnya.


Pak penghulu kemudian meminta kedua pengantin yang telah sah itu untuk mengisi data-data mereka di buku bersampul merah yang berada di atas meja. Mereka menurut menulis biodata mereka lalu tanda tangan di sana.


"Sandy, Richo. Bawa kue pernikahannya sekarang!" titah Tuan Farhan dan langsung mendapat anggukan dari kedua anak Black Wolf. Mereka kemudian ke dapur di mana kue besar itu berada.


Tio membantu Aulia untuk berdiri berjalan turun dari atas panggung, di genggamnya tangan gadisnya mesra.


"Uncle, bagaimana bisa berada di sini? bukankah Uncle sedang kritis?" tanya Aulia pelan sembari menatap wajah prianya. Ia tersenyum simpul saat mendapati tatapan hangat dari sang suami.


"Ceritanya panjang sayang, sampai di kamar baru Uncle akan cerita" jawab Tio membuat Aulia seketika membulatkan bola matanya. Mendengar kata kamar membuat bulu kuduknya merinding apalagi mengingat malam pertama... oh no! itu pasti sangat menyeramkan!. Pikir Aulia dengan kepala menggeleng kuat.


"Jangan pikirkan hal-hal aneh, Uncle tidak akan melakukannya kalau kamu belum siap" seakan tahu tentang kecemasan sang istri kecilnya, Aulia salah tingkah berdehem sejenak lalu menjawab.


"Ekheem!. Lia mana ada berpikiran aneh-aneh... lagipula apa yang harus kita lakukan. Bukankah hanya tidur saja" jelasnya tanpa menatap Tio, tatapannya tertuju pada kue berukuran tinggi dan besar yang di dorong oleh Richo dan Sandy.


"Wow kue yang besar" gumam Aulia terpukau.


"Tuan muda mempersiapkan semuanya dengan matang, aku bahkan tidak berkontribusi sedikitpun... memalukan sekali" bisik batin Tio.


Kue pernikahan itu berhenti di depan Aulia dan Tio, semua kembali bertepuk tangan berteriak untuk segera memotong kue pernikahan. Aulia tersenyum dan mengangguk melirik pada Tio untuk memotong kue. Di samping kue terdapat pedang khusus untuk memotong kue yang berukuran besar. Tio berjalan mengambil pedang tersebut dan kembali berjalan ke arah Aulia memeluknya dari belakang.


Satu tangannya bersandar di perut Aulia dan satunya lagi memegang gagang pedang di ikuti Aulia setelahnya. Para tamu kemudian berhitung satu sampai tiga, pada hitungan ketiga Tio dan Aulia memotong di bagian bilik pertama. Ada tiga empat potongan Tio kemudian mengambil pisau kue berukuran besar untuk memotongnya kecil-kecil.



Riuh tepuk tangan kembali menggema di ruangan yang sudah di dekorasi sedemikian rupa, Tio memasukan kue dalam mulutnya lalu berjalan ke arah Aulia menangkup kedua pipi wanitanya dan...


Cup


Pria itu kembali mencium bibir Aulia namun kali ini berbeda dari yang pertama. Kue yang ia makan di berikannya ke dalam mulut Aulia, lidahnya mendorong kue itu hingga berpindah tempat membantu Aulia untuk menelannya. Dafa yang melihat Daffin melihat adegan itu segera menutup mata Daffin membuat anak laki-laki itu kesal.


"Anak kecil tidak boleh lihat!" ujar Dafa. Padahal dirinya juga masih kecil dan seumuran dengan Daffin membuat adiknya mendengus kesal. Ia dengan santai melihat kemesraan kakak perempuannya dengan tangan bertengger di mata sang adik yang katanya masih di bawah umur. Azhar yang melihat Dafa bermain curang segera menutup mata Dafa lalu berbisik.


"Anak kecil tidak boleh lihat!" membisikan kata-kata yang sama. Dafa terkekeh pelan.


"Yang jomblo tidak boleh lihat juga!" seru Dafa membuat Azhar terdiam sesaat. Memang benar dirinya masih jomblo walau banyak yang menyukainya namun ia bukanlah pria murahan yang asal terima barang bekas. Pria berkualitas tentunya harus mendapat pasangan yang berkualitas pula.


Dari jauh tatapan sendu seorang wanita saat melihat adegan mesra seorang pria dan wanita yang kini sudah sah sebagai pasangan suami-istri. Menyentuh dadanya kala rasa sesak menyelimutinya. Sungguh hatinya benar-benar tersayat.


"Sekalipun merelakan tapi nyatanya hati masih terasa sakit... melihat mereka bermesraan membuat aku iri. Terima kasih Tio karena kau tidak pernah memberikan kenangan manis hingga hati ini tidak akan terlalu sakit." Gumamnya pelan. Air matanya keluar dari sudut matanya, menghapusnya segera sebelum ada yang melihatnya.


"Kamu adalah perempuan baik, cantik pula... kamu pasti akan mendapatkan pasangan jauh lebih baik dari yang pertama" seseorang berujar di belakang Karla lalu berdiri sejajar dengannya. Karla menoleh melihat Richo di sebelahnya keduanya saling menatap cukup lama lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah pengantin.


"Terima kasih, semoga saja begitu" jawab Karla dengan senyum tipis.


"Biasanya seorang wanita yang sedang sakit hati akan melampiaskan amarahnya dengan makanan, mmmm... anu, i-itu sebabnya aku membawa kue ini untukmu" Richo memberikan sepiring kue kepada Karla. Wanita itu melirik Richo dengan kekehan geli.


"Kau sepertinya sangat ahli dalam urusan wanita" Karla mengambilnya lalu memakannya hingga kandas membuat Richo terkekeh pelan.


"Karla, i-itu ada sisa makanan di bibirmu!" tunjuk Richo dengan wajah memerah. Karla tersenyum malu karena sudah terlanjur malu ia pun berpura-pura minta tolong.


"Bolehkan kau menghapusnya aku tidak bisa melihatnya" Karla mendekati wajah Richo membuat pria itu salah tingkah menutup mulutnya karena malu.


Ia mundur ke belakang sebentar tanpa melihat ia lalu menghapus jejak kue di bibir Karla. Terasa sangat lembut membuat jantungnya kembali berdetak kencang.


"Astaga, aku tidak bisa mengontrol jantungku yang berdebar-debar" batin Richo. "Aku pergi dulu." Richo buru-buru kabur dari Karla dengan memegang dadanya yang masih bergemuruh. Sedang Karla hanya terkekeh geli.


"Menarik."


.


.


.


.


.


.


.


Anggap aja kuenya berbentuk love yah guys


Bersambung