The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 129 Membesuk Aulia



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


Kini Tuan Smith, tuan Zeus, Oskar, Larissa, dan kedua orang tua Shireen sudah berada di bandara internasional Soekarno Hatta. Sesuai yang sudah di janjikan bahwa hari ini mereka akan pulang ke negara masing-masing. Ada tuan Wijaya, Sandy serta Hamas dan Shireen yang mengantar mereka ke bandara.


Sandy pria yang sebentar lagi akan memasuki usia kepala tiga terus menatap Larissa yang berdiri di samping tuan Zeus, membuat Larissa sangat risih atas apa yang di lakukan Sandy padanya.


"Ingin sekali aku mencungkil bola matanya agar tidak melihatku dengan tatapan sebegitunya, benar-benar pria kurang kerjaan!" sungut Larissa dalam hati. Namun dirinya tidak berani beradu pandang dengan Sandy. Sedang pria itu hanya tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Larissa menurutnya itu sangat imut.


"Dia pasti sedang mengumpatku heheh" bisik Sandy dalam hati.


"Aku mencium bau-bau perasaan cinta yang sebentar lagi akan mekar nih" bisik Oskar di telinga Larissa membuat wanita asal Meksiko itu melotot tajam pada Oskar.


"Jangan sembarangan bicara Oskar! mau aku patahkan tangan dan kakimu hah agar kamu tidak bisa berjalan!" ancam Larissa membuat Oskar mencebikkan bibirnya kesal, putra tuan Zeus segera merapatkan bibirnya tidak mau mengganggu singa betina yang sedang tidak mood itu, ia tidak mau menjadi tempat pelampiasan bagi sepupunya itu yang lebih jago darinya.


"Ayah, ibu, Shireen pasti akan sangat merindukan kalian di Belanda" tutur Shireen memeluk kedua orang tuanya. Mereka terkekeh kecil putrinya ini masih saja kekanakan padahal sudah menikah.


"Datanglah menjenguk kami jika kamu rindu, jaga kesehatan yah dan jangan lupa untuk segera beri ayah cucu yang lucu-lucu" ujar ayah Shireen membuat wanita itu langsung melepaskan pelukannya dengan wajah cemberut.


"Tentu saja ayah, Hamas akan berusaha dengan sekuat tenaga agar segera memberikan cucu untuk ayah" bukannya Shireen yang menjawab malah Hamas putra tertua raja Iblis.


"Bagus Son aku suka sekali semangatmu, mengingatku pada masa mudaku hahahah" sahut ayah Shireen membuat semua di sana tertawa kecuali Shireen yang sudah malu. Menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya rasanya ia ingin segera berlari saja agar tidak mendengar kekonyolan para pria.


"Cucuku kau harus membujuk istrimu untuk bekerja sama membuatkan cicit untuk kakek, kakek juga tidak sabar ingin menggendong anak kecil lagi tubuh Kakek sudah sangat tua jadi ini termasuk perintah!" kali ini tuan Wijaya ikut menimpali dan hal itu makin membuat wajah Shireen merah padam layaknya kepiting rebus.


"Hahahaha, sudahlah jangan terlalu merayu mereka kasihan pengantin wanita sudah sangat malu" lerai tuan Smith namun mereka masih tertawa kecil melihat kelucuan Shireen membuat mereka tidak berhenti tertawa.


Sedang di rumah sakit Gatot Subroto tepat di kamar VVIP yang sekarang ini di tempati Aulia dan Tio. Ayu, Reyhan dan Azhar membesuk Aulia yang di rawat di rumah sakit karena Ayu dan Reyhan besok akan kembali ke Surabaya jadi mereka menyempatkan diri untuk membesuk ponakannya itu.


Tidak lupa Ayu membawa buah tangan untuk ponakan tercintanya yaitu rujak cingur dan buah-buahan ia tahu wanita hamil sangat menyukai buah-buahan itulah sebabnya ia membawanya sebagai buah tangan.


"Sayang, kau harus menjaga kesehatan yah jangan banyak gerak untuk sementara waktu ini dan jangan melakukan aktivitas yang berat-berat dulu" tutur Ayu membelai rambut Aulia. Aulia masih belum tahu jika dirinya sedang hamil sekarang.


"Iya bunda tahu tapi jangan sampai sakit lagi, bunda jadi sedih jika anak cantik bunda sakit lho" celetuk Ayu mengerucut bibirnya hingga menyerupai mulut bebek, Aulia melihat Ayu menampilkan wajah seperti itu terkekeh lucu lalu mencium pipi Ayu gemas.


"Hahahaha, baik baiklah Lia tidak akan sakit lagi jadi bunda jangan sedih lagi oke" balasnya dan Ayu mengangguk mantap.


"Ini bunda bawa rujak cingur sayang suka tidak?" mendengar kata rujak membuat mata Aulia langsung melotot ia mengangguk cepat bahkan dirinya mengecap lidahnya berkali-kali tidak sabar untuk menyantap rujak yang di bawakan Ayu.


"Bunda tahu banget jika Lia ingin sekali makan rujak, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Lia sangat suka makan buah apalagi jika buah itu anggur" Ayu hanya tersenyum menanggapi ungkapan Aulia ingin sekali rasanya ia memberitahu perihal kabar baik ini namun larangan Tio membuatnya mengurungkan niatnya. Ia tidak tahu kejutan apa yang akan di kasih oleh Tio untuk ponakannya itu.


"Itu karena kamu hamil Lia, aku baru tahu jika orang hamil serakus itu" kata Azhar dalam hatinya sembari menatap adiknya dengan ekspresi jijik. Ia seperti melihat perempuan hutan yang sudah tidak makan seminggu hingga makan saja tidak teratur sangat berantakan.


"Apakah ibu hamil yang lain juga jorok seperti adikku?" batin Azhar saat melihat Aulia makan sangat belepotan. Ia geleng-geleng kepala melihat adiknya seperti orang yang belum pernah makan rujak. Tapi memang benar selama hidupnya mana ada Aulia makan rujak bahkan itu adalah pertama kalinya.


"Kau pasti sedang mencibir istriku kan!" tuding Tio berwajah masam di hadapan Azhar sekalipun apa yang di katakan Azhar adalah benar tapi suami mana yang mau istrinya di cibir orang lain.


" Uncle akhir-akhir ini sangat sensitif apakah itu juga pengaruh kehamilan Aulia hmmm...?" tanya Azhar, Tio yang masih merahasiakan kehamilan Aulia segera menegur Azhar untuk memelankan suaranya karena ia tidak mau jika Aulia mengetahuinya sebelum dirinya memberi kejutan. Azhar pun mengangguk tanda mengerti. Reyhan, Tio dan Azhar berbincang-bincang masalah pria sembari melihat kedekatan Ayu dan Aulia yang sedang menyantap rujak cingur.


Tak lama kemudian datang seseorang terdengar dari pintu kamar Aulia yang terbuka lebar, semua mata menyorot ke arah pintu tampak dua sepasang wanita dan pria masuk berjalan masuk ke dalam.


"Eh Abang, kakak ipar" panggil Aulia tersenyum lebar, Shireen kemudian melangkah ke bangsal yang di tempati Aulia, memeluk wanita yang sedang duduk itu.


"Bagaimana keadaanmu? aku sangat khawatir saat kamu pingsan tadi malam" ucap Shireen menatap wajah Aulia.


"Lia sudah sehat mungkin sore nanti akan pulang, Lia tidak betah berlama-lama di rumah sakit membosankan sekali." Jawab Aulia mengerucutkan bibirnya membuatnya terlihat imut dan manis.


"Harus benar-benar sembuh baru bisa pulang, abang tidak mau melihatmu jatuh sakit seperti semalam membuat panik saja" sahut Hamas dan itu membuat mata Aulia melotot tajam.


"Lia sudah sembuh dan sudah sehat jadi Lia hari ini akan tetap pulang!" ungkap Aulia tidak mau kalah membuat Hamas memutar bola matanya malas. Karena tidak ingin berdebat dengan adik perempuannya yang sungguh cerewet itu, Hamas lebih memilih berbincang dengan Reyhan dan yang lainnya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung