The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 112 Kesedihan Alex Dan Amanda



Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


Sudah empat hari menunggu namun belum juga ada kabar tentang keberadaan Alexa. Tuan Farhan, Jons, dua D, Aulia serta Tio sudah pulang ke Indonesia kemarin pagi karena dua D harus sekolah apalagi mereka sekarang sudah menginjak kelas 6. Dan Tuan Farhan tentunya harus mengurus perusahaan group Wijaya yang semakin berkembang pesat.


Kini tinggallah Tuan Wijaya, Nyonya Mita, Alex dan Amanda yang masih menetap di kota Washington DC, karena di Apartemen Hamas hanya memiliki tiga kamar maka Tuan Wijaya memutuskan untuk sementara tinggal di rumah Tuan Smith.


Sedangkan Shireen dengan keputusan bersama ia pada akhirnya kembali ke Apartemennya karena Tuan Farhan tidak mengizinkan anaknya menampung wanita yang bukan mahramnya kecuali telah menikah nantinya. Tuan Farhan juga sudah berbicara dengan kedua orang tua Shireen bahwa dirinya dan Hamas akan datang berkunjung ke Belanda menyambung silaturahim.


Di rumah Tuan Smith, tampak beberapa orang duduk di sofa ruang keluarga, Amanda duduk bersama Alex, Tuan Wijaya, dan Nyonya Mita di sofa panjang sedang Tuan Smith lebih memilih duduk di sofa yang bisa menampung dua orang dan Laura duduk di sofa single.


"Bagaimana, apakah sudah ada perkembangan tentang Alexa?" tanya Tuan Smith kepada temannya Tuan Wijaya. Terlihat wajah Tuan Wijaya muram menggeleng kepalanya sebagai jawaban.


"Belum, ini sudah beberapa hari tapi belum ada kabar dari Tuan Kalingga" jawabnya dengan helaan napas berat.


"Lalu apa langkah kita selanjutnya? kita tidak mungkin hanya mengandalkan Tuan Kalingga bukan?" ujar Tuan Smith lagi.


"Tentu kita tidak diam saja, kami sudah mengerahkan kurang lebih 50 anak buah kami untuk mencari Alexa, bahkan kami juga meretas beberapa situs CCTV di rumah sakit Washington tapi tidak menemukan apa-apa..., orang yang menyembunyikan Alexa punya keamanan yang sangat tinggi sulit untuk menerobosnya." Sahut Nyonya Mita dengan wajah serius.


Amanda hanya diam tanpa berkomentar rasanya sebagian jiwanya menghilang bersamaan dengan perginya Alexa, sudah hampir satu minggu masih belum ada kabar mengenai putrinya membuat hatinya begitu hancur dan pilu. Ibu mana yang tak sedih jika kehilangan anak semata wayangnya pasti akan merasakan hal yang sama seperti perasaan Amanda saat ini.


Alex memeluk tubuh rapuh Amanda mengelus punggung istrinya memberikan kehangatan kepada wanita yang sudah bersamanya selama hampir 20 tahun.


Ia juga sangat sedih sebagai seorang ayah seharusnya dirinya ada di saat sang putri meminta pertolongan, ia benar-benar merasa gagal menjadi ayah yang baik namun sebisa mungkin ia tak menampakkan kesedihan di wajahnya..., jika dirinya ikut bersedih maka siapa lagi yang akan menenangkan sang istri.


"Aku menaruh curiga kepada Tuan Kalingga" ucap Tuan Smith tiba-tiba membuat semua atensi mengarah padanya.


"Aku juga sama seperti dugaanmu, tapi aku belum memiliki bukti yang nyata yang menunjukan bawah dialah pelaku di balik hilangnya cucuku" balas Tuan Wijaya dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya.


"Aku sudah menaruh anggota Black Wolf untuk memantau pergerakan Tuan Kalingga" kali ini Alex yang berbicara membuat semua mata tertuju padanya.


"Yang dekat dengan putriku adalah putranya, otomatis dirinya juga sudah kenal dengan Alexa..., aku yakin putriku sekarang berada di tangannya aku tidak tahu apa motifnya namun dia memiliki sebuah rencana, mungkin bisa jadi mau balas dendam atas kematian putranya" tutur Alex dengan wajah serius. Semua orang terdiam memikirkan penjelasan Alex yang ada benarnya.


"Sepertinya yang di katakan Alex ada benarnya, hilangnya Alexa ada sangkut pautnya dengan Tuan Kalingga tapi kita harus hati-hati bertindak agar dia tidak curiga bahwa kita memata-matai dirinya" ucap Nyonya Mita membuat semua di sana mengangguk mengerti.


Sedang di Indonesia tepatnya di rumah Aulia, seorang pria berperawakan tinggi bertubuh atletis tengah duduk di sofa dengan laptop di atas meja, kedua tangannya sangat aktif berselancar di atas keyboard mengetik huruf demi huruf entah apa itu.


"Lia apa kamu jalan-jalan juga di sana? kenapa cepat sekali datangnya gak sekalian pergi honeymoon?" celetuk Andre sembari melempar senyum aneh pada Aulia. Wanita remaja itu terkekeh jenaka menggeleng kepalanya pelan.


"Mau honeymoon di mana saja rasanya tetap sama, sama-sama nikmat kalau sudah masuk dalam gua hahahhaa" kali ini Gilang menimpali membuat wajah Aulia memerah menahan malu.


"Hey! kalian ini yah kasihan Boss kita..., lihat wajahnya yang pink itu sepertinya otaknya sedang mengingat kejadian malam pertama" Yogi membalas dan semakin menyudutkan Aulia membuat putri raja Hades itu benar-benar kalang kabut.


"Kalian! apa yang kalian bicarakan sangat tidak masuk akal" sanggah Aulia memelototi ketiga pria yang masih tertawa. Hara hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Sesekali melirik ke arah Aulia lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Pak Mamat, keadaan keluarga gimana, aman?" tanya Aulia kepada pak Mamat, pria dengan kulit mulai keriput itu menatap pada bossnya lalu tersenyum kecil.


"Aman Mbak, Alhamdulillah" jawabnya sopan.


"Syukurlah, kalau ada apa-apa jangan sungkan minta tolong ke Lia akan Lia bantu pak, pak Mamat sudah Lia anggap seperti Paman Lia sendiri" jelas Aulia mengutarakan maksud baiknya, ia ingin menjalin hubungan baik dengan para pekerjanya itu siapapun dia dan dari mana semuanya harus mendapatkan kasih sayang yang sama.


"Terima kasih banyak mbak, semoga Tuhan membalas kebaikan Mbak" tutur pak Mamat membuat Aulia terkekeh kecil, empat pria muda itu menjadi pendengar setia percakapan antara Aulia dan pak Mamat.


"Gimana sih pak, Lia kan belum kasih apa-apa masa sudah berdoa seperti itu..., tapi ya sudahlah, amiiiin" gurau Aulia membuat semua di sana tertawa jenaka.


"Ya sudah kalian bekerjalah Lia mau masuk ke dalam takut jika Boss besar membutuhkan sesuatu" para pekerja mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibir. Sedang Aulia sudah melenggang masuk ke dalam rumah berjalan pelan menuju ruang keluarga, di sana terlihat seorang pria berkaos oblong putih tengah membungkukkan badannya.


"Uncle, mau Lia buatkan susu kambing?" tanya Aulia menjatuhkan bokongnya di atas sofa samping suaminya. Tio melirik sebentar istrinya lalu kembali fokus menatap benda persegi itu.


"Buatkan Uncle kopi sevel saja" ungkap Tio dan Aulia mengangguk. Sebelum pergi Aulia menyempatkan untuk mencium pipi suaminya membuat Tio tertawa kecil.


Kembali ke kota Washington, Tuan Kalingga menghubungi Tuan Wijaya meminta untuk bertemu di salah satu Restoran di kota Washington. Yaitu Restoran Commisasary, Restoran tersebut termasuk salah satu jajaran Restoran terbaik di Downtown, Washington DC. Kini Tuan Kalingga, Tuan Wijaya serta Alex sudah duduk bersama di satu meja dengan tiga minuman beda rasa serta beberapa hidangan, yaitu Sandwich, Burger dan salad sebagai makanan penutup.


"Kita makan dulu baru saya utarakan maksud saya kepada kalian" Tuan Wijaya dan Alex mengangguk mengerti. Mereka kemudian menyantap makanan yang ada di hadapan mereka. Tak ada yang mengeluarkan suara kecuali hanya sahutan gigitan serta gerakan lidah yang bergoyang-goyang di dalam mulut, menguyah Sandwich serta Burger yang terasa nikmat di lidah.


Lalu kemudian menyeruput minuman di dalam gelas menggunakan sedotan semakin terasa nikmatnya. Kini mereka telah menyelesaikan makannya, Tuan Wijaya dan Alex sudah tidak sabar mendengar informasi terkait Alexa.


Tuan Kalingga menatap satu persatu pria di depannya menarik napas panjang kemudian menghembuskan pelan-pelan


"Saya sudah mengerahkan seluruh anak buah saya tapi jejak Alexa tidak di temukan, bahkan di rumah sakit tempat terakhirnya pun para dokter dan suster tidak tahu..., mereka bilang bahwa yang membawa Alexa adalah keluarganya." Ungkap Tuan Kalingga menampilkan wajah sedihnya.


"Apakah Tuan memiliki foto pria yang membawa Alexa?" tanya Alex kemudian.


"Ah iya, saya sempat meminta foto ini ke dokter yang mengizinkan Alexa di bawa..., ini semoga dapat membantu Tuan-tuan" Tuan Kalingga merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan selembar foto dan memberikannya pada Tuan Wijaya dan Alex.


Tuan Wijaya dan Alex mengamati secara detail wajah pria yang membawa Alexa entah kemana. "Terima kasih banyak Tuan, sudah membantu kami mencari Alexa sepertinya kami harus pergi sekarang..., dan yah ini uang makanannya sekali lagi terima kasih banyak Tuan." Tuan Wijaya mengeluarkan satu lembar uang Dollar dan meletakkan di atas meja.


"Tidak perlu biar saya saja yang bayar" tolak Tuan Kalingga namun Tuan Wijaya bersikukuh ingin membayar juga, prinsipnya ia tidak mau berutang kepada orang lain. Tuan Kalingga pun akhirnya mengalah setelah Tuan Wijaya dan Alex pergi seutas senyum devil tersirat di wajahnya.


"Kalian tidak akan pernah menemukannya" bisiknya dalam hati. Entah apa maksud dari perkataannya itu.