The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 140 Tidak Percaya



Happy reading 🤗


Selamat Hari raya idul Fitri minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir batin 🙏🙏🙏


.


.


.


.


.


.


.


Masih di ruang operasi tuan Smith datang bersama River, pria yang sudah tak mudah itu segera menghampiri Hamas.


"Bagaimana keadaan Shireen Hamas?" tanya tuan Smith saat duduk di samping Hamas, putra sulung raja Iblis itu menggeleng tidak tahu, rasanya berbicara saja tidak mampu lidahnya terasa keluh hanya sekadar berucap. Ia berharap tim dokter bisa menyelamatkan istri dan anaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang selain berdoa berharap doanya di dengar oleh sang pemberi kehidupan.


"Kita berdoa saja semoga Shireen baik-baik saja di dalam" tutur tuan Smith dan Hamas hanya mengangguk pelan.


Sedang River duduk di samping Hanan.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Shireen kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya River kepada Hanan. Hanan melirik sekilas wajah River ia pun menarik napas panjang dan menghembuskan pelan.


"Aku juga tidak tahu bagaimana kronologisnya namun kami mendengar suara teriakan nyonya Shireen, dugaanku dia terjatuh dari tangga" jawab Hanan membuat River mengangguk paham.


"Apa kalian sudah menelepon Daddy dan mommy kalian?" tanya tuan Smith.


"Sudah Oppa, aku sudah menelepon Daddy dan sekarang Daddy sedang dalam perjalanan menuju kemari. Mungkin orang rumah juga sudah tahu" jawab Azhar tanpa melihat wajah tuan Smith.


Dua jam telah berlalu belum ada tanda-tanda pintu terbuka, Hamas dan lainnya masih setia duduk di samping ruangan operasi tersebut, hingga tak berselang lama pintu ruang operasi terbuka tampak seorang dokter wanita keluar dengan keringat di wajahnya. Kelihatannya dokter tersebut sangat kelelahan.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dokter?" tanya Hamas tidak sabar.


"Bagaimana keadaan cucu menantu saya dokter? apa dia baik-baik saja di dalam?" kali ini tuan Smith ikut bertanya. Terlihat gurat wajah dokter yang tidak enak di pandang, dokter wanita itu terdiam cukup lama membuat Hamas dan lainnya merasa penasaran.


"Apa yang sebenarnya terjadi dokter? istriku baik-baik saja kan? jangan membuatku menunggu lama atau aku akan menghancurkan rumah sakit ini?" tegas Hamas dengan tatapan tajam. Tuan Smith dan Azhar menyentuh bahu Hamas menenangkan pria tersebut agar tetap dalam kendali.


Sedang dokter hanya membuang napas kasar bagaimana menjelaskan kepada pria yang punya tempramen buruk seperti Hamas, belum berbicara sudah main ancam-ancaman membuat dokter wanita itu mencebik kesal.


Dokter wanita itu mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga pasien.


"Haaah, sebelumnya saya minta maaf karena melakukan tindakan operasi tanpa persetujuan kalian" jelas dokter membuat semua di sana menaikkan alisnya penuh tanya.


"Kondisi pasien dan janinnya sangat kritis mengharuskan kami untuk memilih salah satu dari ibu dan anak karena jika tidak mereka pasti akan meninggal" lirih dokter membuat semua mata membulat sempurna.


Hamas menatap tajam wajah dokter, ia hilang kendali sampai mencengkram kuat kerah baju dokter membuat tuan Smith dan River menarik tubuh Hamas.


"Maafkan cucu saya dokter, tolong jangan ambil hati atas sikapnya yang kurang ajar padamu" ujar tuan Smith merasa bersalah, dokter tersebut mengangguk tersenyum kecil.


"Katakan yang jelas dokter! jangan berbelit-belit!" ketus Hamas dengan sorot mata tajam membuat dokter sulit hanya sekadar menelan ludahnya.


"Maafkan saya tuan, saya terpaksa mengambil keputusan dan tidak berunding dengan kalian namun masalahnya begitu kritis hingga saya dan tim saya memutuskan..." menjeda ucapannya ia ragu mengatakannya.


"Saya memilih menyelamatkan anak-anak tuan dan ibunya meninggal dunia" lirih dokter menundukkan kepalanya.


"Apa!!" teriak Hamas. Bagai di sambar petir di siang bolong mendengar berita kematian istrinya kakinya lemas ia terduduk jatuh di atas lantai.


Keringat bercucuran di dahi dokter menghadapi pasien gila di depannya membuatnya sangat takut, jika seandainya ia adalah Tuhan maka ia akan menolong ibu dan anaknya namun ia hanyalah manusia biasa yang tidak punya kemampuan menghidupkan. Ini semua adalah takdir dan tidak ada yang bisa mengubah garis takdir kehidupan. Ia hanya manusia biasa.


"Benar-benar menakutkan" batin dokter tersebut.


"Maafkan saya tuan, namun apa yang saya katakan benar adanya" dokter tersebut membungkuk di hadapan Hamas.


"Bedebah! katakan padaku bahwa istriku belum meninggal apa kau tuli hah!!" teriak Hamas dengan mata berkaca-kaca. Tuan Smith yang melihat situasi semakin mencengkam memeluk tubuh Hamas agar bisa menenangkan cucunya itu.


"Tenangkan dirimu Hamas, jangan membuat keributan di sini" bisik tuan Smith.


"Dokter terima kasih sudah bekerja keras menyelamatkan pasien dan mohon maafkan kesalahpahaman hari ini" kata River dan dokter itu mengangguk mengerti.


"Saya mengerti perasaannya, oh iya anak pasien adalah kembar laki-laki dan perempuan" River tersenyum dan mengucap terima kasih kepada dokter.


"Gila! sudah beberapa kali aku menemukan pasien seperti ini namun kali ini seperti Iblis" bisik dokter dalam hatinya. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya temperamennya sama persis dengan tuan Farhan yaitu raja Iblis dunia bawah.


"Saya masuk dulu tuan" setelah mengatakan yang sebenarnya dokter tersebut masuk dan menutup pintu ruang operasi.


"Aaaakkkh! kenapa? kenapa ini terjadi padaku? kenapa bukan aku saja yang kau ambil nyawaku Tuhan! Shireen! kenapa kau tega meninggalkanku? hiks, hiks kenapa?" teriak Hamas dengan air mata terus mengalir. Semua di sana ikut sedih secepat itu Shireen meninggalkan mereka apalagi meninggalkan seorang bayi yang membutuhkan kasih sayang ibunya.


"Tenangkan dirimu nak, ini semua sudah takdirnya ingat bahwa Shireen meninggalkan anak untukmu, kau harus kuat, kau harus tegar" nasihat tuan Smith sembari mengelus punggung kekar Hamas. Tuan Smith dapat merasakan getaran punggung Hamas itu berarti pria itu sedang menangis sekalipun tidak mengeluarkan suara.


Azhar, Hanan dan River ikut merasakan kesedihan yang menimpa Hamas, sekuat apapun pria itu setegar apapun dia jika menyangkut orang yang di cintai orang yang di sayangi pasti akan rapuh. Itulah kehidupan sesuatu yang hidup pasti akan mati.


Hanan berjalan sedikit menjauh dari keramaian, ia kemudian mengangkat panggilan telepon dari ayahnya.


"Hallo ayah ada apa?" tanya Hanan setelah panggilan terhubung.


"Kau masih tanya kenapa?! kenapa kau tidak mengabariku jika tuan muda mengalami masalah di sana" ketus sekretaris Rio dan Hanan hanya terdiam dengan wajah datar.


"nyonya Shireen meninggal dunia" kata Hanan membuat sekretaris Rio berteriak.


"Apa yang kau katakan? apakah separah itu? bagaimana ceritanya sampai Shireen bisa masuk rumah sakit?" tanya sekretaris Rio membuat Hanan mendesah berat.


"Nanti akan aku jelaskan sekarang aku sibuk yah" Hanan memutus sambungan telepon membuat orang di sebrang berteriak kesal.


Tut Tut Tut Tut


Tut Tut Tut Tut


"Dasar anak sialan! bisa-bisanya dia mengabaikan ku" umpat sekretaris Rio merasa kesal padahal dirinya ingin tahu masalah di Washington namun Hanan begitu malas menjelaskan.


Sedang di Indonesia, Aulia juga sedang berjuang untuk melahirkan namun karena masih pembukaan ke empat dan masih menunggu pembukaan ke sepuluh. Ia di sarankan untuk berjalan-jalan kecil agar memudahkan dirinya melahirkan nantinya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung