
Happy reading 🤗
Kasih like dan hadiahnya dong kakak 😍😍
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang gadis dengan celana jeans dan Hoodie sweaternya berwarna merah menatap seorang pria yang tertimpa bangunan yang runtuh di salah satu hotel yang baru di bangun. Mata bulat itu melebar seketika berlari menuju pria yang sudah bersimbah darah.
"Tidaaaaakk! Uncle bangun! ayo bangun jangan buat Lia takut hiks, hiks." teriak Aulia histeris. Para pekerja di sana langsung mengangkat bongkahan beton dari atas tubuh Tio memindahkannya dari sana. Genangan air merah membuat Aulia menggeleng tidak percaya.
"Nona, kami akan membawa tubuh Tuan Tio ke rumah sakit" ujar mandor dan langsung mengangkat tubuh Tio membawanya ke mobil. Aulia masih terduduk lesu di samping tempat Tio. Menatap cairan darah tersebut.
"Itu semua gara-gara kamu! andai kamu tidak meminta Tio untuk menjemputmu di sini Tio masih selamat!! kau memang gadis pembawa sial gara-gara kamu juga sampai pernikahanku dengannya batal... benar-benar manusia sial!" bentak seorang wanita di hadapan Aulia. Menatap tajam gadis yang masih terduduk diam, Aulia mendongakkan kepalanya menatap terkejut wanita itu. Karla dengan tatapan nyalang menusuk ke arah Aulia.
"Lia, Li-Lia tidak salah, bukan Lia yang bunuh Uncle Tio, hiks, hiks. Lia tidak mencelakai Uncle" jawab Aulia menggeleng kepalanya pelan. Karla terkekeh jenaka namun matanya mulai menganak.
"Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!." Teriak Karla berkali-kali membuat Aulia langsung menutup telinga dan matanya.
" No! Lia bukan pembunuh hiks, hiks. Lia bukan pembunuh" ucap Aulia.
"Sayang, hey bangun kamu kenapa? sayang, Lia bangun sayang..." Tuan Farhan menepuk-nepuk pipi putrinya wajahnya khawatir melihat ketakutan dan air mata dari sang anak. Aulia seketika membuka matanya dan melihat Daddynya di sana yang sontak saja langsung memeluk erat tubuh pria kekar itu.
"Huaaaa Daddy, Lia. Li-Lia mimpi Uncle Tio meninggal hiks, hiks, Lia takut Dad, Lia takut hiks, hiks." Tangis Aulia pecah. Sang sopir hanya mendengar tidak berani melihat ke belakang.
Tuan Farhan terdiam seketika melihat keadaan putrinya sesedih itu saat memimpikan Tio, mimpi saja seperti itu apalagi kalau nyata. Bagaimana jadinya jika Tio sampai terluka? menarik napasnya panjang.
"Itu hanya mimpi sayang, Uncle Tio tidak akan kenapa-kenapa. Sudah jangan menangis lagi" jawab Tuan Farhan mengelus rambut sang putri. Mereka masih di dalam mobil menuju Mansion Utama. Mereka baru habis mengantar Hara ke Markas lalu pulang ke kediaman Tuan Wijaya.
"Hiks, hiks. Tapi itu seperti nyata Daddy... Lia takut Uncle Tio terjadi sesuatu di sana. Daddy, Lia takut" lirihnya membenamkan kepalanya di ketiak Tuan Farhan, sedang Tuan Farhan hanya menampilkan wajah datarnya.
"Daddy tidak akan membiarkan Uncle Tio mati, sudah jangan menangis lagi... Lia percaya kan sama Daddy" Aulia menarik kepalanya mendongak ke atas menatap wajah serius sang Daddy.
"Hmmm... Lia selalu percaya sama Daddy..." jawabnya dengan anggukan kecil. Tuan Farhan tersenyum lalu menarik kepala Aulia memeluknya erat.
"Istirahatlah, jangan membuat mata Lia jadi pertanyaan di Mansion nanti, Daddy tidak mau di omeli oleh Mommy dan kedua kakek dan nenekmu" ucap Tuan Farhan dan Aulia hanya berdehem kemudian menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan raja Iblis memeluk pinggang sang Daddy erat.
"Elus rambut Lia Dad" pintanya dan raja Iblis itu menurut, tangan besarnya mengelus surai coklat itu berpikir sejenak tentang pria yang di cintai sang Putri.
"Bahkan putriku telah memiliki ikatan pada Tio, tapi aku tidak akan membantunya anggap saja itu adalah konsekuensinya menyakiti putriku... kalau Tio masih hidup maka dia beruntung" batin Tuan Farhan.
Di benua Amerika tepatnya di negara bagian Nevada Las Vegas, hutan besar dengan pohon besar malam gulita menjadi saksi peristiwa baku hantam, suara tembakan saling bersahut-sahutan di udara malam yang dingin.
Di bagian Barat tim Karla sudah memulai aksinya melempar bom hingga membuat anggota Rine X terkejut bukan main. Berlari keluar membawa senjata di tangan dan menuju ke arah Barat. Saat sampai di lokasi pengeboman, dari jarak cukup jauh anggota Karla menembak musuh dengan sembunyi-sembunyi. Berada di semak-semak dengan keadaan gelap tentunya tidak akan terlihat oleh musuh.
"Sialan! siapa yang sudah berani bermain-main di belakang! jangan jadi pengecut ayo keluar!!" teriak musuh, namun tembakan itu semakin tidak berrhenti. Mengandalkan indra pendengar untuk mengetahui posisi lawan. Lalu kembali menarik pelatuk sniper dan...
DOR
DOR
DOR
DOR
BUGH
BUGH
Beberapa anggota musuh seketika tumbang dan mereka masih tidak tahu keberadaan musuh mereka.
"Sial! jika begini kami semua akan mati" bisiknya dalam hati. Lalu berpikir sejenak. Smirk setan itu tercetak jelas di wajahnya.
"Berhenti semuanya! kita tidak boleh menimbulkan suara atau mereka akan tahu, kalian pura-pura membuat suara di tempat kosong saat mereka menembak maka segera arahkan senjata kalian pada sumber suara berasal!!" titahnya dengan suara pelan. Lima belas anggotanya mengangguk mengerti.
Mereka mengambil batu dan melemparnya ke tanah kosong terdengar bunyi, seketika itu tim Karla menembak ke arah tersebut membuat musuh langsung mengangkat senjata.
DOR
DOR
"Kita sudah ketahuan, beralih ke rencana B!." Titah Karla berbicara melalui benda di belakang telinganya. Teman-temannya sudah siap dengan rencananya melempar Bom dan mereka berlari keluar dari persembunyiannya.
BOOOMM
Di arah Timur mereka melempar Bom dan hal itu membuat para musuh kelimpungan, sebagian berlari ke arah Barat dan Timur saat melihat musuh terpecah, tim Richo muncul dari arah selatan melakukan penembakan dan melempar gas bius ke arah musuh yang berjaga-jaga. Seketika mereka terjatuh pingsan.
Tim Richo masuk ke dalam Mansion di sana sudah berkumpul musuh dengan pistol juga pisau di tangan mereka masing-masing, menatap nyalang ke arah kelompok Richo. Rencana mereka saat ini hanya untuk mengulur waktu agar Guntur dan rekannya bisa mengeluarkan para sandera.
"Siapa kalian kenapa membuat rusuh di kediamanku?" tanya seorang pria yang tengah duduk di atas kursi kebesarannya dengan kaki kanan menindih kaki kirinya tangannya bersandar di atas pembatas sofa, dengan rokoknya bertengger cantik di kedua jarinya.
Anggota Rine X segera memberikan ruang pada Boss besarnya berdiri di sisi kanan-kirinya dengan posisi pistol mengarah pada tim Richo.
"Heheh, yang jelas malaikat pencabut nyawa kalian" jawab Richo terkekeh kecil. Mereka memakai penutup kepala full face hingga membuat para musuh tak bisa melihat wajahnya.
"Oh benarkah? tapi sepertinya aku takut kalian yang akan mati di tanganku" tuturnya terkekeh kecil. Mengepul asap rokok ke udara.
"Heh! tidak ada yang tahu siapa yang menang sebelum mereka bertanding... ku pastikan kau akan kalah" balas Richo tersenyum misterius. Sedangkan Boss besar Rine X menaikkan sebelah alisnya remeh. Terkekeh jenaka.
"Keluar kalian semua!" perintah Boss Rine X dan dari penjuru ruangan di lantai dasar bahkan di lantai dua mereka berjejer dengan sniper di tangan membuat Richo dan kawan-kawannya melebarkan matanya.
"Sial!" umpat anggota Richo.
"Sayang sekali, kalian masuk dalam jebakanku... serang mereka dan jangan ada yang tersisa!!." Titah Boss Rine X lagi membuat Richo dan yang lainnya benar-benar terkepung.
Menarik pelatuk snipernya dan...
DOR
DOR
DOR
DOR
BOOOMM
Tanpa di duga kelompok Guntur dan Karla datang di waktu yang tepat mengarahkan snipernya pada anggota Rine X hingga menumbangkan musuh di lantai dua dan satu.
"Sial! bawa tahanan kita kabur dari sini segera!" titahnya berbisik pada anak buah di sampingnya namun teriakkan dari sebrang mengagetkan mereka.
"Gawat! gawat Boss tahanan semua menghilang" tutur dua orang pria dari bawah tanah dan lantai tiga. Hal itu membuat Richo dan lainnya tersenyum puas.
"Hahahaha... sekarang kalian sudah di kepung, menyerahlah maka nyawa kalian akan aku ampuni!" tawa Richo membuat kepalan tangan Boss Rine X terkepal.
"Hehehe, jangan senang dulu... masih ada yang tidak kalian tahu" ucapnya dengan smirk setan mengangkat satu tangannya ke atas dan terdapat benda seperti remot tergenggam di tangan pria yang masih santai itu. "Jika aku menekan tombol merah maka semua yang ada di sini akan BOOOMM." Sambungnya tertawa puas.
"Jangan macam-macam!" seru Richo namun membuat musuh makin tertawa puas. Jari jempolnya sudah berada di atas tombol dan siap menekannya. Mata semua yang ada di sana membulat sempurna saat melihat ibu jari itu hendak menekan layar dan...
BOOOMM
DOR
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung