
Happy reading 🤗
Maaf baru bisa up soalnya tugasku belum selesai 🙏🙏
.
.
.
.
.
.
.
"Alexa!!" seru Hamas dan lainnya terkecuali Shireen. Alexa terduduk lesu di atas lantai dengan tangan menopang dadanya, meringis sakit kala denyut dadanya semakin sakit seakan di tusuk sebilah pedang dewa langit benar-benar menyakitkan.
"Sakit sekali hah!" lirih Alexa mengigit kuat bibirnya hingga cairan merah keluar dari sisi bawah bibirnya, karena terlalu kuat mengigitnya hingga bibirnya sampai terluka.
"Alexa ada apa denganmu?." Tanya mereka bertiga membantu gadis itu untuk berdiri.
"Ronald bawa aku pulang!" pinta Alexa dengan kepala menunduk ke lantai.
"Kamu harus ke rumah sakit Alexa! aku tidak mau kamu kenapa-kenapa" ucap Hamas dengan wajah cemas. Mendengar hal itu membuat Alexa terkekeh kecil.
"Ronald cepat bawa aku pulang!" sekuat tenaga Alexa berujar, ia makin tidak dapat mengendalikan rasa sakitnya. Ronald kemudian menggeser tubuh Azhar dan Hamas lalu menggendong tubuh Alexa ala bridal style membuat Hamas dan Azhar terdiam sesaat.
"Ronald biar aku yang membawanya!" pinta Hamas menghentikan Ronald namun pria itu hanya menatapnya dingin.
"Tidak perlu! sekarang Alexa akan menjadi tanggung jawabku!!" tegas Ronald lalu berjalan keluar dari Apartemen Hamas. Kedua pria raja Iblis itu termenung sejenak menatap punggung pria yang menggendong Alexa, Hamas terduduk lesu meraup wajahnya kasar dengan segera pria itu berdiri lalu menatap pada Shireen yang kini sudah menjadi kekasihnya.
"Kamu tunggu di sini aku akan menyusul mereka" ucap Hamas kemudian berlari keluar dari Apartemennya, untung saja ia gerak cepat hingga masih bisa menemukan mobil Ronald di depan Apartment.
"Aku akan ikut!!" seru Hamas. Ronald yang belum sempat masuk ke dalam mobilnya melirik tajam pada Hamas namun yang ditatap tidak perduli. Pikirannya saat ini hanyalah Alexa ia tidak bisa tenang memberikan Alexa kepada orang lain dalam keadaan sakit apalagi penyakit aneh itu muncul di depan matanya.
Hamas segera masuk ke kursi jok depan lalu mengangkat tubuh Alexa dan menjatuhkannya ke atas pangkuannya dengan wajah yang saling berhadapan. Wajah Alexa sudah berubah merah dengan napas pelan tak beraturan sedangkan Ronald mendesis kesal dengan kepalan tangan menggenggam erat.
"Brengsek!" umpat Ronald dalam hati. Kemudian ikut masuk menjatuhkan bokongnya di jok kemudi melirik sekilas wajah Hamas yang begitu dekat dengan wajah Alexa membuat hatinya menjadi panas dingin.
"Cepat jalan! kita ke rumah sakit segera!!" tegas Hamas.
"Ja-ngan a-aku mau pulang... ssssttt sakit sekali" lirih Alexa yang sudah menyandarkan kepalanya di tengkuk leher Hamas.
"Baik kita ke rumah kamu yang tenang... Hey jalankan mobilnya cepat adikku sudah sangat kesakitan ini!!" ucap Hamas yang membuat Ronald segera menjalankan deru mesin mobilnya dengan perasaan bergemuruh ia lalu meninggalkan halaman Apartemen mewah itu.
"Sa-sakit dadaku sakit... pisau mana pisau?." Ujar Alexa mengigit kuat-kuat bibirnya.
"Sayang, maafin aku kamu yang tenang kamu gak boleh nyakitin diri kamu lagi. Coba tarik napas lalu keluarkan pelan-pelan" Alexa mengikuti saran Hamas namun dadanya makin terasa nyeri dan merasa saluran pernapasannya menyempit membuatnya sesekali meringis.
"Bisakah mobilnya di percepat! aku tidak bisa melihatnya kesakitan seperti ini!" seru Hamas dengan wajah pucat pasih.
"Ini sudah sangat cepat, emang kamu saja yang khawatir aku juga sangat mengkhawatirkannya." Ketus Ronald tangannya meremas kemudi kuat lalu menginjak pedal gas mobil saat melihat sisi jalan tujuannya tidak ada mobil.
"Dia pikir hanya dia yang khawatir, aku juga sangat khawatir tahu... mana duduknya kayak gitu bikin hati aku panas saja, ingin ku pukul wajah menyebalkannya itu." Bisik Ronald dalam hati.
"A-bang a-aku sudah tidak kuat dadaku makin sakit, cepat gigit aku! a-aku a-aku takut jika tidak mampu menahannya rasanya napasku akan putus" dengan napas tersengal-sengal Alexa berujar membuat kedua pria di dalam mobil langsung panik.
"Baiklah" karena Alexa hanya menggunakan tangktop yang di lapisi kemeja tanpa mengancingnya membuat Hamas mudah menurunkan kemeja wanita di pangkuannya Ronald yang melihat kegilaan Hamas segera berseru keras.
"Lihat jalanan! ini sangat darurat jangan berpikir macam-macam" balasnya acuh, Hamas lalu mendaratkan bibirnya di pundak Alexa yang putih mulus mengigitnya kuat hingga tercium bau anyir di hidungnya ternyata Hamas menggigitnya sampai terluka dan berdarah.
Setelah melakukan apa yang diperintah oleh gadisnya ia kemudian memposisikan tubuhnya menjadi semula lalu melirik ke arah Alexa.
"Gimana udah enakan?" tanya Hamas di telinga Alexa gadis itu hanya mengangguk dengan mata terpejam. Memeluk erat leher Hamas sedang kepalanya bersandar di ceruk leher pria dalam pelukannya.
"Syukurlah kamu istirahat saja" Hamas dapat merasakan napas yang sudah teratur mengenai lehernya tangannya terulur mengelus rambut gadis itu sesekali mencium kepalanya, Ronald melirik tetangga di sampingnya mendesah panjang saat melihat gadisnya begitu mesra apalagi di depan matanya langsung... bukankah itu sangat menyakitkan daripada di selingkuhi diam-diam.
"Pria munafik ini bilangnya tidak punya perasaan tetapi tingkahnya ini menunjukkan perasaan besar pada Alexa. Munafik dan licik masa harus memacari dua wanita sekaligus! pokoknya aku harus membuat Alexa nyaman di sisiku dengan begitu perasaanku tidak akan bertepuk sebelah tangan... ku harap langit bisa mendengar keinginanku dan tidak mempermainkanku" tutur batin Ronald.
Hingga setelah melalui jalanan yang cukup ramai tidak seperti saat mereka pergi ke Apartemen yang hanya beberapa kendaraan di jalan raya. Kini mobil milik Ronald berhenti di depan Apartment miliknya. Pria dengan rambut ikal itu membuka sabuk pengaman lalu melirik ke arah Hamas.
"Biar aku yang membawa Alexa masuk ke dalam, abang pulang saja" ujar Ronald, keduanya saling melirik Hamas memberikan tatapan datar dengan alis berkerut kecil.
"Tidak perlu biar aku yang membawa Alexa, aku juga akan mengobati luka adikku... oh bisakah kamu membuka pintu mobilnya aku sedikit sulit membukanya" jawab Hamas. Mau tak mau Ronald mengalah, biarkan hari ini Hamas menang namun tidak dengan hari-hari berikutnya karena dia akan bekerja keras untuk mendapatkan hati gadisnya itu.
Dengan perasaan berat pria berambut ikal itu lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu jok penumpang depan kemudian membuka pintu mobil untuk pria menyebalkan menurutnya.
"Terima kasih" ucap Hamas datar. Setelah melepas sabuk pengaman Hamas perlahan-lahan mengangkat tubuh Alexa seperti bayi koala. Berjalan mendahului Ronald yang kembali menutup pintunya.
"Cih! sombong sekali!" gerutu Ronald kemudian ikut masuk ke dalam mengikuti Hamas.
"Di mana kamar Alexa?" tanya Hamas saat melihat Ronald masuk, rupanya pria itu menunggu Ronald untuk menanyakan keberadaan kamar gadis di pelukannya.
"Di lantai dua"
"Baik terima kasih" Hamas segera menapaki anak tangga dengan tangan menyangga bokong Alexa dan punggung gadis itu agar tidak jatuh nantinya.
"Astaga, apakah dia manusia? kenapa hanya bicara saja begitu irit apakah kata-katanya hanya sedikit yang dia tahu?" Ronald geleng-geleng kepala. Saat hendak naik ke atas seorang pria dengan pakaian hitam menghentikan langkah Ronald.
"Tuan muda, Boss besar berpesan agar Tuan muda malam ini kembali ke rumah Utama untuk makan malam bersama" Ronald menatap wajah bawahan ayahnya.
"Baik. Sampaikan pada ayah saya, jika saya akan datang bersama pacar saya."
"Baik Tuan muda. Kalau begitu saya permisi dulu" Ronald mengangguk sebagai jawaban dan pria berpakaian hitam itu segera berlalu dari hadapan Ronald.
Di lantai dua
Melihat pintu ruangan yang berwarna coklat yang tak jauh dari tangga, Hamas begitu yakin jika itu adalah kamar yang di tempati oleh gadis dalam gendongannya, berjalan cepat lalu membuka handle pintu, kaki jenjangnya melangkah menuju kasur king size membaringkan tubuh gadisnya ke atas kasur empuk.
Matanya menelisik menatap wajah teduh sang gadis ia kemudian melihat kembali hasil gigitannya.
"Gadis nakal" Hamas mencium luka itu lalu beralih ke kening Alexa menciumnya lama.
"Maaf sudah membuatmu tersiksa tapi aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu untuk menjadi Kekasihku" tutur Hamas pelan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung