
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
Minggu, bulan, tahun, sudah tiga tahun berlalu, ada begitu banyak perubahan yang terjadi, pria yang di tinggal mati oleh istrinya selama tiga tahun itu kini begitu dingin terhadap wanita, tidak ada secercah cahaya menghiasi wajahnya bibir yang dulu selalu melengkung membentuk garisan senyuman kini begitu jarang bahkan hampir tidak pernah kecuali pada orang-orang tersayangnya.
Satu tahun terakhir ini ia menyelesaikan studinya di Universitas kota Washington dan sekarang ia kembali ke Indonesia mengganti ayahnya menduduki dunia bisnis.
Pria yang baru berusia 22 tahun itu sudah menjadi seorang pengusaha sukses bahkan di kabarkan karena kecerdasannya serta ketegasannya membuat rivalnya ketar-ketir, mendengar namanya saja sudah membuat senam jantung apalagi melihat tatapan elangnya yang sangat tajam bagaikan sebilah pisau yang di asah setiap hari.
Sedang Azhar ia memilih menjadi seorang dosen namun ia juga menjadi seorang Presdir di kota Washington, cabang perusahaan dari Indonesia milik ayahnya. Sudah satu tahun lamanya ia tidak pulang ke Indonesia, pria itu masih betah dan menyibukkan dirinya mengurus perusahaan juga menjadi seorang dosen di universitas tempat ia sekolah dulu. Entah apa yang terjadi pada dirinya hingga sampai sekarang ini ia masih menjomblo belum memiliki keinginan untuk beristri padahal tuan Farhan juga Jons selalu mencari wanita-wanita cantik yang memiliki latar belakang keluarga yang baik namun pria itu malah tidak berminat sedikitpun.
Satu bulan tepat di bulan ke empat kedua anak Hamas akan menginjak umur ke tiga tahun dan keluarga besar tuan Wijaya akan merayakan ulang tahun cucu kesayangannya itu.
Aditya Mareen Devhano Jonas adalah putra Hamas, kata Mareen di ambil dari gabungan nama Hamas dan Shireen, karena istrinya sudah meninggal itulah sebabnya Hamas memberikan nama dirinya dan istrinya pada nama anak-anaknya.
Sedang Enzi Mareen Devhano Jonas adalah adik Aditya putri Hamas dan Shireen. Kedua anak balita itu sudah mengetahui jika ibunya sudah meninggalkan mereka sejak kecil dan tidak bisa kembali lagi bahkan satu tahun yang lalu demi keinginan kedua anaknya Hamas akhirnya membawa kedua anaknya bertemu dengan Ibunya.
Entah mereka mengerti atau tidak namun sepertinya setelah melihat tempat di mana ibunya berada mereka sudah tidak menanyakan tentang ibunya lagi.
Dan hari ini tepat jam 11 siang Aditya dan Enzi ingin bertemu ayahnya di perusahaan, atas izin dari tuan Farhan dan Jons mereka pun sudah bersiap-siap dengan style mereka yang kekinian yang di bantu oleh dua pengasuhnya.
Kini kedua bocah tersebut sudah selesai bersiap-siap dan mereka pun keluar dari kamar mereka di lantai dua kamar yang dulu di tempati oleh Hamas dan Azhar. Mereka turun menggunakan lift menuju lantai satu di mana tuan Farhan dan Jons berada.
Kedua pasangan paruh baya itu sedang bersantai di ruang keluarga, mereka saling bertukar cerita tertawa bersama saat kedua pasangan tua itu kembali mengingat kenangan-kenangan saat di perusahaan tempat pertemuan pertama mereka.
"Kakek, Farlan, nenek Jons!" kedua pasangan tua itu seketika menolehkan kepala saat mendengar teriakkan cempreng dari kedua cucunya. Senyum lebar terbit dari kedua sudut bibir pasangan tua tersebut.
"Aduuh, cucuku cantik dan tampan sekali, kemarilah nenek ingin mencium kalian" Aditya dan Enzi berlari sembari terkekeh kecil.
"Aku tidak mau di cium, pipiku sudah wangi kalau nenek cium nanti akan bau" ungkapan hati dari bocah laki-laki itu membuat tuan Farhan tertawa terbahak-bahak sedang Jons merengut pura-pura kesal.
"Mulut nenek ini tidak bau harum kok, sini biar nenek cium kamu" bocah kecil itu tetap kekeuh pada pendiriannya ia menggeleng tegas tidak mau, bahkan kedua kaki mungilnya melangkah mundur ke belakang.
"Sudah, sudah, jangan memaksanya Ara aku tahu cucuku hanya mau di cium oleh aku saja"
"Tidak! kakek juga tidak berhak menciumku, mulut kakek juga sama baunya dengan mulut nenek..., hmmm" jawabnya dengan tangan melipat di atas dada. Tuan Farhan melotot tajam saat cucu laki-lakinya mengatakan mulutnya bau.
"Heh! anak kecil kau tidak tahu jika mulut kakek ini sangat wangi bahkan nenek kamu saja sangat menyukainya jika aku menc..." Jons buru-buru membungkam mulut tuan Farhan kala kata ciuman akan keluar dari mulut pria tua namun tetap cool.
"Nenek kenapa menutup mulut kakek? menc apa?" Jons terkekeh kecut kala Enzi bertanya padanya ia harus menjawab apa sedang pertanyaan Enzi adalah hal tabu bagi anak kecil seumuran mereka untuk tahu.
"Tidak, benar kata abang kamu kalau mulut kakek sangat bau heheh" mata tuan Farhan langsung melotot ke arah Jons saat kalimat tak mengenakan hatinya keluar begitu saja dari mulut orang terkasihnya. Tuan Farhan merengut dengan bibir mengerucut lucu membuat Jons menahan tawa. Suaminya ini selalu saja membuat hari-harinya di penuhi dengan gelora tawa.
"Jaga mereka baik-baik" kedua pengasuh wanita itu mengangguk mengerti. Kedua bocah kecil itu menyalami tangan kakek dan neneknya namun si kecil Aditya tetap saja pada pendiriannya tidak mau di cium. Entah melihat siapa hingga ia begitu alergi dengan air liur orang lain.
Seorang pria dengan badan kekarnya membuka pintu untuk kedua majikan kecil juga untuk kedua pengasuh, setelah memastikan bahwa semua sudah masuk pria itu lantas ikut masuk namun duduk di kursi kemudi.
Mobil yang mereka tumpangi pun berjalan perlahan-lahan hingga melesat jauh meninggalkan kediaman tuan Wijaya.
Saat di jalan besar, Enzi gadis kecil itu selalu menatap keluar jendela matanya seketika berbinar saat melihat sebuah gerobak kecil di sebrang jalan di penuhi oleh anak-anak ia tahu jika gerobak itu adalah es krim.
"Paman belenti!!" serunya membuat sopir terkejut dan menginjak rem mendadak untung saja tidak ada mobil di belakang mereka kalau tidak mungkin kecelakaan beruntun akan terjadi. Semua di sana mengelus dada mereka karena marasa jantungnya tidak baik-baik saja.
"Enzi tidak boleh berteriak! itu sangat berbahaya" seorang bocah laki-laki menegur Enzi dengan sorot mata tegas membuat gadis kecil itu hanya menekuk wajahnya cemberut.
"Maaf" cicitnya pelan. Aditya hanya menghela napas.
"Lain kali tidak boleh berteriak yah, nona Enzi bisa mengatakan pelan-pelan" seorang pengasuh di samping Enzi ikut menasihati dan bocah perempuan itu hanya mengangguk.
"Enzi pengen makan es klim" Pak sopir kembali menjalankan mobilnya namun bukan berjalan lurus ke depan melainkan mencari tepian untuk menepi sebentar.
"Eh, es krim di sana gak baik untuk kesehatan nona, nanti kita beli di tempat yang bersih yah" gadis kecil itu menggeleng tidak mau ia ingin es krim di sebrang jalan sana. Karena Enzi tetap kekeuh pada pendiriannya pada akhirnya mereka yang mengalah. Senyum kemenangan terbit di sudut bibir Enzi gadis itu benar-benar bahagia.
Enzi dan pengasuhnya pun turun dari dalam mobil, mereka berdiri di tepi jalan untuk menunggu jalanan sepi namun semakin menunggu jalanan semakin ramai, alhasil pengasuh Enzi berinisiatif untuk tetap menyebrang dan Alhamdulillah mereka pun selamat.
Mereka pun berjalan menuju gerobak es krim di mana begitu banyak anak-anak di sana, Enzi dan pengasuhnya pun menunggu antrian hingga pada giliran mereka. Sorot mata bulatnya yang tak berpaling sedikitpun dari es krim membuat air liurnya hampir jatuh kala membayangkan betapa lembutnya es krim itu kala masuk ke mulutnya.
"Ahhhk Enzi tidak sabal lagi!" soraknya gembira membuat tukang es krim geleng-geleng kepala.
Saat krim cone itu berpindah tangan dari tukang es krim ke Enzi gadis itu langsung kegirangan, dan tanpa sadar berlari ke arah jalan raya sedang sang pengasuh yang sibuk membayar es krim tersebut tidak menyadari jika anak majikannya dalam bahaya.
Tiba-tiba sebuah mobil melesat cepat ke arah Enzi dan di saat bersamaan seorang pengendara motor sport membanting motornya di tengah jalan dan berlari ke arah Enzi hingga...,
BUGH
"Nona!!!"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung