
Happy reading 🤗
Kasih like dan vote nya Kaka 😍😍😍
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuan Farhan menangkap pergelangan tangan ibunya Adit menatapnya datar, berani sekali wanita tua itu bermain kasar di tempat kekuasaannya. Apakah tidak ada yang tahu bahwa ia bisa melakukan apa saja.
"Berani menaruh tangan kotor anda pada putri saya! nyawa anda banyak sekali sampai berani melukainya hah!" ucap Tuan Farhan menatap tajam wajah ibunya Adit kemudian menghempaskannya kuat. Membuat ibu paruh baya itu terlempar menabrak meja.
"Daddy" seru Aulia dan dua adiknya terkejut.
"Keluarkan anak mereka dari sekolah ini! dan untuk anak anda pak Bobi saya tahu anda pasti adil dalam menyikapi masalah" jelas Tuan Farhan menampilkan wajah datar ke arah pak Bobi. "Ayo ikut Daddy!" sambungnya pada ketiga anaknya lalu melangkah keluar dengan wajah angkuhnya.
Aulia menggandeng tangan kedua adiknya mengikuti sang Daddy. Sedangkan tiga ibu paruh baya itu melihat ke arah kepala sekolah meminta kejelasan. Mereka bertanya-tanya apakah pria tadi adalah pemilik sekolah tersebut?.
"Siapa sebenarnya pria tadi? auranya sangat menakutkan aku sampai merinding melihatnya..." tanya ibu Dinda.
"Heh! tidak ada yang bisa mengeluarkan putra saya dari sekolah ini. Saya akan mengatakannya pada suami saya bahwa ada yang menindas kami, hehehe... mereka pasti akan memohon dan menunduk pada saya" Ibunya Adit tertawa sombong namun tidak untuk dua ibu tersebut. Terlihat jelas raut wajah khawatir dan ketakutan.
"Di-dia adalah pe-pemilik sekolah besar ini..." lirih keduanya takut saat sudah mengingat tentang Tuan Farhan.
"Sesuai dengan perkataan Tuan Farhan putra kalian akan di keluarkan dari sekolah ini begitupula dengan putra saya... silahkan kalian keluar dari ruangan ini!." Jawab pak Bobi menghela napas kasar. Dan mata ibunya Adit melebar seketika saking terkejut.
Di lain sisi
Tuan Farhan menunggu putra dan putrinya di samping mobil abu-abu bermerek Bugatti Chiron. Melipat kedua tangannya di atas dada sembari melihat anak-anaknya berjalan ke arahnya.
"Ayo masuk, Daddy lapar dan ingin makan" ucapnya kemudian masuk ke dalam mobil tepatnya di jok depan tempat kemudi itu berada. Lalu di ikuti Aulia masuk ke mobil dan duduk di jok depan penumpang sedang Daffin dan Dafa duduk di jok belakang.
"Daddy, kita mau kemana?" tanya Daffin pada pria dewasa yang sedang mengemudi. Tuan Farhan melirik dari balik spion di dalam.
"Kita ke restoran. Daddy tahu kalian pasti belum makan, Daday sudah memesan untuk kita." Jawabnya singkat. Membuat Dafa dan Daffin tersenyum tangan mungil itu mengelus perutnya yang memang belum di isi. Mereka sangatlah lapar, gara-gara masalah perkelahiannya sampai tidak mengisi perut mereka.
"Daddy memang yang terbaik" timpal Dafa dan Daffin bersamaan. Tuan Farhan tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Gadis remaja di samping Tuan Farhan melirik sebentar kemudian menatap lurus ke depan.
"Daddy tahu dari mana jika dua D mendapat masalah di sekolah? padahal Lia tidak kasih tahu siapa-siapa" tanya Aulia tanpa menatap sang Daddy sedangkan raja Iblis tersenyum tipis. Menggeleng kepalanya pelan.
"Tidak ada yang tidak Daddy ketahui. Informasi sekecil apapun pasti akan terdengar juga di telinga Daddy... bukankah Daddy kalian ini hebat hmmm." Jawab Tuan Farhan menyombongkan dirinya. Aulia dan dua D mencebikkan bibirnya kesal. Selalu saja Daddynya itu berkata sombong... tetapi memang tidak salah, mereka akui itu bahwa pria yang di sebut Daddy itu adalah pria hebat.
"Yah, Daddy benar. Daddy memang paling hebat." Jawab Aulia dan dua D menampilkan senyum lebarnya. Hingga mobil Bugatti Chiron abu-abu itu berhenti di pelataran parkir restoran. Tuan Farhan kemudian membuka sabuk pengamannya sedikit menolehkan kepalanya pada dua anaknya di belakang.
"Ayo turun!" titah Tuan Farhan. Daffin dan Dafa serta Aulia mengangguk kemudian ikut turun dari mobil. Tuan Farhan serta anak-anaknya memasuki lobby restoran seorang pelayan wanita segera menghampiri raja Iblis.
"Mari saya antar ke tempat anda Tuan" tuturnya sopan sedikit membungkuk lalu menuntun mereka ke lantai dua. Di sana tidak ada orang satupun yang ada hanya sebuah meja yang sudah di hias sedemikian rupa. Serta jenis makanan sudah tertera di atas meja.
Mata Dafa dan Daffin membulat sempurna kala melihat aneka ragam makanan di atas meja kemudian kedua anak laki-laki itu melirik ke arah Tuan Farhan. Raja Iblis tersenyum geli melihat keterkejutan dua putra kecilnya.
"Silahkan Tuan, semoga anda menyukai hasil rancangan kami" ucap pelayan wanita tersenyum tipis.
"Terima kasih. Pergilah!." Jawab Tuan Farhan mengibas tangannya ke udara. Pelayan tersebut mengangguk pelan lalu memutar badannya berjalan turun ke lantai bawah. Desiran angin sepoi-sepoi menerpa tubuh ke empat anak manusia yang membuat tubuh mereka terasa nyaman.
"Pertanyaan bodoh apa itu Daffin! mana mungkin ini di sebut dengan kencan?" sahut Dafa mencebikkan bibirnya kesal. Merasa konyol akan pertanyaan adiknya.
"Mungkin benar, ini bisa di sebut kencan bukankah kalau kencan seorang pria akan memboking tempat ini." Jawab Aulia sembari menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu. Menatap lapar hidangan enak di depannya.
"Sebenarnya ini untuk Mommy kalian, tapi dia sudah tidur setelah peperangan yang belum tuntas" jawab Tuan Farhan ambigu.
"Peperangan yang belum tuntas? apa artinya Dad?" tanya Dafa dan Aulia. Sedang Daffin dirinya sibuk mengambil beberapa makanan lalu memakannya tanpa menunggu yang lain.
"Masa begitu saja kalian tidak tahu, peperangan yang belum tuntas itu artinya musuh minta waktu istirahat. Mereka juga lelah dan membutuhkan penambahan energi itulah sebabnya mereka menunda waktu peperangan" jawab Daffin asal. Terlihat pipinya mengembung besar karena makanan di mulutnya sangat penuh.
Semua atensi menatap ke arahnya mereka tidak menyadari jika Daffin sudah mulai duluan.
"Dek! kok makan gak bilang-bilang sih!" ketus Aulia sedang Tuan Farhan hanya memijat keningnya yang terasa penat.
"Kalau habis pesan lagi, jangan ragu untuk menghabiskan semua makanan. ingat! uang Daddy banyak lho!" tutur Tuan Farhan. Ketiga anaknya hanya menaikkan sebelah sudut bibirnya dan lalu mengacungkan jempol mereka pada Tuan Farhan. Dafa dan Aulia segera menyendok makanan untuknya melahapnya rakus.
"Apakah putra putriku tidak pernah makan makanan enak sampai serakus ini. Astaga aku adalah Daddy yang buruk" batin raja Iblis.
Sedang di negara bagian Amerika seorang gadis remaja cantik, kaos putih dan celana pendek bertengger di tubuhnya, memeluk boneka kecil di pelukannya. Berjalan berjinjit menuju kamar sebelahnya. Entah apa yang ingin ia lakukan padahal waktu sudah sangat malam, orang-orang di sana sudah tertidur pulas.
CEKLEK
Dengan penuh kehati-hatian gadis itu membuka pintu bernapas lega saat tidak ada yang bangun. Ia kemudian kembali menutup pintu itu setelah di rasa aman ia berbalik ke arah ranjang di sana terlihat seseorang tertidur dengan sangat pulasnya sampai tidak menyadari jika seseorang telah memasuki kamarnya.
"Heh! siapa suruh tidak mau menemaniku tidur, jangan salahkan aku jika aku yang akan tidur bersamamu..." gumamnya pelan tersenyum tipis.
Kaki jenjangnya melangkah menuju ranjang cahaya lampu tidur membuatnya tidak terlalu jelas melihat wajah pria yang tidur itu namun masih nampak tampan.
Gadis itu perlahan-lahan naik meletakkan boneka kecil harimaunya di samping bantal kosong kemudian ikut masuk ke dalam selimut.
Menarik napas panjang kemudian menghembuskan pelan menatap langit-langit kamar tersebut. Saat hendak memiringkan badannya ke arah kiri matanya seketika membulat sempurna kala menyadari jika pemilik kamar yang ia masuki sudah terbangun.
"Abang!" pekiknya yang langsung memejamkan matanya menahan napas takut di marahi.
"Gadis nakal! kenapa tidur di sini? dan tidak tidur di kamar kamu sendiri!" Ucap Hamas menatap jengah tingkah Alexa. Gadis itu menyengir kuda setelah membuka matanya.
"Heheh, Abang. Aku tidak bisa tidur makanya aku ke sini... bolehkan jika tidur bersama abang?" jawabnya menampilkan wajah memelas. Hamas mendesah berat gadis itu selalu keras kepala.
"Yah terserah kamu" ujarnya acuh lalu menutup matanya. Alexa tersenyum lebar. Mendekat ke arah Hamas dan menjatuhkan kakinya di atas betis Hamas sedang tangannya memeluk erat dada pria di sampingnya.
"Jangan gini Lia! Abang tidak bisa bernapas!" keluh Hamas mencebik kesal.
"Nanti aku kasih napas buatan. Tidurlah bang, besok harus antar aku ke sekolah" jawabnya tak ambil pusing. Memejam matanya yang seketika itu Alexa tertidur pulas terdengar dari dengkuran halus dari hidungnya.
"Cecungut ini! benar-benar bikin frustasi saja. Dia pikir aku bukan laki-laki normal apa!" batin Hamas yang ingin menangis saja. Menahan sesuatu yang menyesakkan dada.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung