The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 38 Panggilan Ke Sekolah



Happy reading 🤗


Kasih like dan Votenya dong kakak 😍😍😍


.


.


.


.


.


.


.


.


Mobil Lamborghini kuning itu memasuki halaman luas Mansion Utama, Tuan Farhan hendak membangunkan putrinya karena mereka sudah sampai namun melihat wajah pulas Aulia membuatnya mengurung niatnya, sedikit merasa kakinya kebas namun ia tidak mempermasalahkannya yang terpenting adalah putrinya baik-baik saja. Memang ayah yang sangat baik...


"Tuan muda silahkan" ucap pria pengemudi membuka pintu jok belakang mempersilahkan Tuan Farhan. Raja Iblis mengangguk dengan tangan di kibaskan ke udara tanda agar anak buahnya untuk pergi.


"Kamu bawa koper Nona Aulia ke kamarnya" ucap Tuan Farhan dan pria tersebut mengangguk kemudian mengambil koper di bagasi mobil. "Saya pamit Tuan muda" izinnya dan Tuan Farhan mengangguk pelan.


Pengemudi tadi meninggalkan mereka dengan koper di tangannya, tak lama Aulia menggeliat mengerjap matanya berkali-kali, matanya sedikit terbuka dan di lihatlah Tuan Farhan pertama kali yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Eh, Daddy" Aulia segera bangun dan itu membuat Tuan Farhan bernapas lega pasalnya kakinya sudah benar-benar kebas juga kesemutan.


"Kita sudah sampai beberapa menit yang lalu" jawab Tuan Farhan saat menyadari putrinya seperti orang linglung, mungkin nyawanya belum terkumpul semua.


"Hoaam, kenapa tidak membangunkan Lia Dad. Ayo turun Mommy, Kakek dan Nenek pasti sudah menunggu kita..." jawab Aulia sembari menggosok pelan matanya, menatap wajah pria di depannya yang kadang mengubah ekspresi wajahnya.


"Kamu tidur sangat pulas, Daddy tidak tega membangunkanmu sayang. Kamu duluan saja masuk Daddy ada urusan sebentar di sini." Jawab Tuan Farhan yang tidak ingin di ketahui oleh siapapun bahwa kakinya sedang kesemutan padahal tidak akan terjadi apa-apa jika Aulia mengetahuinya... apakah mungkin dirinya takut wibawanya akan turun? bukankah hal tersebut adalah hal yang lumrah terjadi pada orang lain.


"Ah yah baiklah" tutur Aulia yang langsung turun dari mobil, sedang Tuan Farhan lagi-lagi bernapas lega menyandarkan tubuhnya di sandaran jok. Menatap kakinya yang begitu lama kembali normal pasalnya ia sudah sangat merindukan sang istri.


"Oh, ayolah jangan membuatku berlama-lama di dalam sini!" serunya pada kedua kakinya. Raja Iblis seperti orang gila yang berujar pada benda mati.


Sedang di dalam Mansion Aulia berteriak kencang memanggil Mommy dan Kakek juga Neneknya. "Mom, Nek, Kek! Lia sudah kembali." Serunya namun tidak ada sahutan.


"Selamat datang kembali Nona muda" sapa anggota Black Wolf saat berpapasan dengan Aulia.


"Terima kasih Paman" jawabnya tersenyum lebar.


"Paman, Mommy dan yang lainnya di mana? Lia panggil kenapa tidak ada yang jawab" tanya Aulia menatap lima pria Black Wolf.


"Mungkin mereka masih di kamar Nona, kami juga tidak tahu" jawab mereka berlima Aulia hanya mendesah berat lalu berjalan masuk menuju ruang keluarga, mengamati setiap eksterior ruangan Mansion Utama.


"Akhirnya Lia kembali lagi" guammnya tersenyum tipis hingga mata Aulia melebar saat melihat tiga orang manusia yang di panggilnya tadi.


"Mommy! Nenek! Kakek!!." Teriak Aulia berkacak pinggang hingga mengagetkan tiga orang yang sedang menonton sesuatu menggunakan headset. Pantas saja di panggil tidak di jawab ternyata memakai headset, heh! sekalipun berteriak sekuat tenaga sampai suara habis pun tidak ada gunanya.


"Putriku!"


"Cucuku"


Seru Jons dan Tuan Wijaya serta Nyonya Mita. Mereka beranjak lalu berjalan memeluk erat tubuh anak perempuan satu-satunya itu. Aulia tersenyum tipis kekesalannya seketika hilang kala mendapat pelukan hangat dari orang-orang tercinta.


"Bagaimana kabar kamu sayang? kamu baik-baik saja kan di sana? Kakek dan Nenek sangat merindukanmu" tanya Tuan Wijaya dan Nyonya Mita melepas pelukan mereka, menatap penuh sayang wajah Aulia.


Aulia tersenyum tipis mengangguk pelan. " Lia sehat Kek, Nek. Lia juga merindukan Kakek dan Nenek gimana kabar kalian hmm...?" tanya Aulia.


"Baik sayang, ayo Mommy kamu sudah menunggu kamu" seru Tuan Wijaya. Jons yang berdiri di belakang segera memeluk Putri satu-satunya itu, melebarkan senyumnya.


"Mommy rindu banget sama Lia" tuturnya lirih membuat Aulia tersenyum tipis.


"Lia juga Mom, Mommy baik-baik saja kan?. Eh tapi kok kalian tahu kalau Lia dan Daddy akan pulang hari ini padahal kan kami belum kasih tahu" jelas Aulia mengurai pelukannya terlihat alisnya meninggi dengan kerutan kecil di dahi kanannya.


"Ayo duduk dulu, itu Oppa Zeus yang telepon Nenek, kalau kamu sudah pulang bersama Daddy kamu sayang" jawab Nyonya Mita dan Aulia mengangguk mengerti.


"Hey! ayo duduk di sini!" seru Tuan Wijaya namun mendapat gelengan kepala dari putranya itu.


"No! istriku harus memelukku dulu" jawab Tuan Farhan tersenyum tipis. Semua mata menatap ke arah Jons lalu ke arah Tuan Farhan, mereka terkekeh geli.


"Bayi besar kamu sudah datang sayang, ayo siapa kemarin yang rindu..." bisik Nyonya Mita membuat Jons melebarkan matanya sedang Aulia terkekeh kecil. Orang tuanya ini ada-ada saja.


"Awas kamu Prince!" seru Jons dalam hati. Menatap kesal pada suaminya walau begitu ia tetap pergi ke arah Tuan Farhan.


"Araku! aku merindukanmu apa kamu juga merindukanku hmmm...? sepertinya aku tidak bisa pergi tanpa kamu Ara, hatiku benar-benar tersiksa" ucap si Jelangkung batangan. Semua yang mendengar itu menampilkan ekspresi muntah, merasa geli mendengar ungkapan hati raja Iblis.


"Iya aku juga Prince, benar-benar merindukanmu" jawab Jons apa adanya. Tuan Farhan tersenyum tipis lalu menggendong tubuh istrinya ala bridal style dan hal itu membuat atensi mereka terkejut.


"Kami pergi dulu ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Ara" ujar Tuan Farhan membuat Jons menenggelamkan kepalanya di ceruk suaminya, ia sungguh benar-benar malu bahkan untuk bersuara saja sudah tidak bisa.


"Dasar kamu yah, bermesraan di depan anak kecil, tidak tahu tempat!" ketus Tuan Wijaya menutup mata Aulia membuat Aulia mengerucutkan bibirnya sebal.


Kek, iiiiihh... jangan tutup mata Lia, gelap tahu" ucap Aulia mendengus kesal. Tiba-tiba suara dering telepon genggam berbunyi ketiga orang itu saling melihat satu sama lain.


"Lia akan mengangkatnya" ujar Aulia yang langsung berdiri menuju telepon genggam itu berada.


"Iya sayang" jawab Tuan Wijaya dan Nyonya Mita bersamaan. Aulia lalu mengangkatnya matanya membulat sempurna namun seperkian detik ia merubah ekspresinya tidak mau jika Kakek dan Neneknya mengetahui perihal adiknya yang bikin ulah. Gadis cantik itu kemudian meletakkan kembali di tempat semula lalu berjalan menuju sofa.


"Siapa yang telepon sayang?" tanya Nyonya Mita. Aulia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Ah, itu orang salah sambung Nek, oh iya Lia ada urusan di luar Lia mau keluar sebentar" jawab Aulia senormal mungkin agar kedua orang paruh baya itu tidak mengetahui permasalahan di sekolah, ia tidak mau jika Kakek dan Neneknya yang mengurusnya takutnya akan melibatkan pihak berwajib. Dan pasti urusannya makin panjang.


"Iya tapi kamu harus hati-hati, ingat jangan pulang kemalaman" sahut Tuan Wijaya, dan Aulia hanya memberikan jempolnya sebagai jawaban.


"Lia ke atas dulu mau siap-siap" tutur Aulia yang langsung naik ke atas menggunakan lift. Ia harus buru-buru ke sekolah adiknya atau kalau tidak masalah tak kunjung selesai, Sepuluh menit ia sudah berganti pakaian menggunakan Argentio Jogger hitam dengan baju kaos oblong putih di lapisi jaket Jeans berwarna hitam.


Mengikat rambutnya ala kuncir kuda, gadis itu kemudian mengambil kunci motor yang tersimpan di laci meja riasnya lalu buru-buru turun ke lantai dasar. Saat melewati ruang keluarga ia tidak mendapati Kakek dan Neneknya lagi sepertinya mereka sudah masuk ke dalam kamar atau mungkin jalan-jalan ke luar.


Aulia kemudian menuju garasi motor ada berbagai macam motor di sana garasi tersebut bersebalahan dengan garasi mobil yang berada di sebelah barat. Gadis tomboy itu lalu menjalankan motor sport Kawasaki Ninja ZX-6R berwarna merah meninggalkan kediaman Mansion Utama menuju sekolah SD Internasional Jakarta.


Tidak berapa lama Aulia sudah berada di sana, turun dari mobil dan buru-buru ke kantor ruang para guru berada, ia berasal dari sekolah tersebut saat SD jadi ia tahu seperti apa seluk-beluk sekolah tersebut. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" batin Aulia cemas.


CEKLEK


Masuk ke dalam kantor, ia melihat kedua adiknya dan beberapa orang tua murid.


"Maaf membuat kalian menunggu lama" tutur Aulia sopan. Semua mata menatap Aulia, Daffin segera berlari menghambur ke pelukan kakaknya.


"Kak Lia, Daffin salah hiks hiks maaf" lirihnya sesenggukan memeluk erat tubuh ramping kakak perempuannya.


"Silahkan duduk Nona Aulia!" titah pria paruh baya yang di yakini sebagai kepala sekolah.


"Oh kamu adalah kakaknya, tidak salah jika adik kamu yang masih kecil berbuat hal gila ternyata kakak perempuannya adalah tomboy!! benar-benar keluarga tidak waras semuanya!." mata Aulia menatap tajam ke arah perempuan paruh baya yang sudah mengatai keluarganya tidak waras.


"Cari mati!." Bisik batin Aulia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung