The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 63 Kamar Pengantin



Happy reading 🤗


Like dan Votenya dong ❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Berbagai kegiatan telah di lakukan oleh kedua mempelai pengantin, juga acara ucapan selamat dari rombongan tamu yang begitu banyak mencapai seribu manusia membuat tubuh kedua pengantin terasa pegal-pegal belum lagi pemberian kado yang sudah menumpuk seperti gunung Tangkuban Perahu, sangat banyak. Bahkan hampir memenuhi isi ruangan lantai satu.


Kini waktu sudah menginjak pukul lima sore para tamu undangan sudah pulang dari kediaman Tuan Wijaya, sebenarnya Tuan Farhan ingin membuat resepsi untuk pernikahan anaknya namun penolakan tegas dari Aulia dan Tio membuat Tuan Farhan akhirnya pasrah.


Kini tugas bagi anggota Black Wolf dan Hades Khithonios untuk membereskan acara pernikahan Nona muda mereka, ada yang menurunkan buket bunga, membongkar dekorasi panggung pengantin sampai membereskan makanan dan minuman. Juga hadiah untuk pengantin mereka tempatkan di ruang sebelah kamar Aulia di lantai dua kebetulan kamar tersebut sedang kosong.


Setelah semuanya sudah mereka bereskan kini tinggallah tim ngepel lantai, anggota Black Wolf dan Hades Khithonios bersatu dalam membersihkan acara pernikahan sang princess. Hingga Mansion Utama yang seperti kapal pecah kembali bersih dan kinclong. Memang tidak salah mereka menjadi Boss Mafia yang memiliki anggota yang banyak, rupanya selain membantu dalam peperangan melawan musuh rupanya mereka memiliki bakat dalam mengemban pekerjaan sebagai ART. Sungguh lelucon yang buruk!.


Satu jam sebelum acara itu berakhir Aulia sudah tidak sanggup untuk berdiri alhasil Tio yang notabenenya adalah pria pengertian segera mengangkat tubuh istrinya ala bridal style lalu membawanya ke lantai dua. Namun sebelum itu tentunya Tio harus meminta izin pada ayah mertuanya siapa lagi kalau bukan raja Iblis. Setelah mendapat izin Tio langsung membawa sang istri untuk beristirahat.


Di dalam kamar pengantin, mata Tio dan Aulia membulat sempurna, bagaimana tidak? di atas kasur sudah ada taburan mawar merah yang menghias di atas kain berwarna putih, dengan bentuk love yang sangat indah. Serta lilin-lilin yang berdiri seperti pagar mati berjejer di kedua sisi jalan yang beralaskan karpet merah membuat Tio dan Aulia makin tercengang saja.


"Astaga ide gila siapa ini?" gumam batin Tio dan Aulia bersamaan. Aromaterapi yang di hasilkan dari lilin yang menyala itu membuat siapa saja yang menghirupnya membuat pikiran menjadi tenang. Tio berjalan menapaki karpet merah menuju kasur king size yang sudah di taburi dengan mawar yang begitu wangi. Aulia memejamkan matanya saat tubuhnya berada di atas ranjangnya yang empuk.


"Nyaman" batinnya tersenyum simpul. Tio mengecup kening gadisnya sayang lalu menuju kamar mandi. Pria itu sudah sangat gerah ia harus segera berendam air dingin sekarang. Sedangkan Aulia langsung membuka matanya ia lalu bangun memposisikan tubuhnya menjadi duduk dengan wajah bersemu merah.


"Lia harus cari cara untuk tidak melakukan itu malam ini, Lia sudah sangat lelah karena acara pernikahan yang sungguh membosankan" celetuk Aulia pelan. Mengelus tenggorokannya merasa haus ia memiringkan kepalanya ke arah nakas dan beruntungnya ada minuman entah apa itu.


Dengan senyum lebar Aulia berjalan dengan kaki telanjang menuju ke arah nakas, tanpa curiga gadis remaja yang baru melepas status lajanganya langsung meminumnya hingga kandas.


"Aaah, segarnya... eh tapi siapa yang menaruh minuman enak ini di sini? mungkin Mommy atau Daddy" tuturnya lagi. Ia kemudian kembali menghempas tubuhnya di atas kasur king sizenya merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan matanya.


Sedang di dalam kamar mandi. Lagi-lagi Tio tercengang, ternyata bukan hanya di dalam kamar tidur melainkan di bilik kamar mandi pun mereka menaburkan bunga mawar serta sabun di dalam bathtub yang membuat rileks. Tio menyimpan handuk milik Aulia di gantungan kamar mandi lalu melepas semua pakaiannya kemudian melangkah masuk ke dalam bathtub.


"Ah segar sekali" ucapnya pelan. Pria itu memejamkan matanya menghirup dalam-dalam aromaterapi dari bunga dan sabun di dalam air bathub.


Sepuluh menit kemudian Tio berbilas menggunakan shower lalu memakai handuk untuk menutupi aset negaranya yang hanya boleh di lihat oleh istrinya semata. Kaki jenjangnya yang berbulu halus melangkah keluar dari bilik kamar mandi. Tak sengaja matanya ternodai oleh makhluk yang meliuk-liuk seperti ular kepanasan di atas ranjang.


Tampilan Aulia yang sedang bergerak ke sana sini dengan tubuh yang sudah setengah polos membuat Tio menelan ludahnya kasar. Sebagai pria yang sudah lama jomblo dan belum pernah melihat aset wanita yang nyata membuat adiknya seketika berdiri tegak belum lagi aroma di dalam kamar itu membuatnya semakin terdorong nafsunya untuk berbuat.


"Astaga, dia seperti ular kelaparan, apa yang bocah itu lakukan?" tanya Tio menutup matanya dengan kedua telapak tangannya namun dengan jari-jari yang terbuka lebar. Bukankah itu sama saja dengan bohong, dasar! ada-ada saja pengantin baru ini. Tio berjalan menuju ke arah ranjang. Tampilan Aulia yang acak-acakan menambah kesan seksi di mata Tio, pria itu makin menelan ludahnya kasar kala melihat tatapan imut Aulia yang mengarah padanya.


"Jangan salahkan Uncle yah, kau yang memintanya Nona, jangan menyesal!" Tio merangkak di atas tubuh Aulia menatapnya dalam-dalam namun sebuah tarikan kasar hingga membuat Tio tak seimbang hingga kedua benda kenyal yang sudah halal itu menyatu.


Aulia yang tidak biasanya, segera menggulingkan tubuh Tio menjadi di bawah kungkungannya, gadis dengan tampilan acak-acakan sudah tidak sabaran hingga membuat Aulia menyerbu Tio bahkan pria itu tidak bisa berkutik. Rupanya kekuatan Putri raja Iblis dan pembunuh bayaran bisa mengalahkan seorang Tio.


Lidah Aulia bergerilya di dalam rongga mulut Tio, memutar lidah pria yang sudah menjadi suaminya. Lidahnya kemudian turun menyesap dagu Tio menggigitnya pelan. "Ka-kau te-tenang sebentar" ucap Tio dengan napas memburu. Gadis itu bukan seperti dirinya ia bahkan lebih ganas daripada binatang buas. Wajah Aulia turun di dada Tio menyesap ****** susu Tio membuat pria itu mengerang nikmat.


"Ah, ****!" Tio membalikkan tubuh Aulia kasar, ia sudah tidak bisa menahan hasratnya.


"Uncle panas, Lia sudah tidak kuat" bisik Aulia pelan, membuat Tio langsung melepas baju yang sudah berada di pinggang Aulia. Dengan satu tarikan baju itu langsung terlepas hingga terlihat jelas tubuh polos yang hanya menyisakan kaca mata di bagian bawah tubuh Aulia.


Tio meremas dua buah semangka bulat yang sangat berisi sedang mulutnya menyesap benda kenyal yang bulat sesekali menggigitnya kecil.


"Ah, Uncle!" pekik Aulia dengan keringat yang bercucuran.


Di lantai satu tepatnya di ruang keluarga, tampak seorang pria tengah tersenyum lebar membayangkan dirinya akan menggendong cucu sebentar lagi.


"Prince, kamu masih sehat kan? kenapa senyum-senyum sendiri?." Tanya Jons saat dirinya sudah mengganti pakaian pesta dengan pakaian rumahan.


"Ara, sebentar lagi kita akan segera menimang cucu" jawab Tuan Farhan dengan mata berbinar-binar.


"Maksud kamu rencana kita sudah berhasil?" tanya Jons. Tuan Farhan mengangguk mengiyakan.


"Bagus deh kalau gitu, resep minuman kuat yang Papa berikan akan segera bereaksi, aku akan menyimpan resep obat kuat keluarga kita." jelas Jons tersenyum simpul.


Rupanya minuman yang di minum oleh Aulia adalah obat kuat, resep obat keluarga Tuan Wijaya, sepertinya obat itu akan menjadi warisan turun-temurun untuk segera mendapatkan cucu. Memang cara efektif juga tercepat menghasilkan cabang baru lagi.


"Tapi Prince apakah tidak masalah bagi putri kita, aku takut Aulia kenapa-kenapa gara-gara minuman itu. Kau tahu kan kekuatan obatnya itu mencapai tujuh jam... bagaimana jika Tio menyiksa anak kita sampai tujuh jam?" terlihat raut wajah khawatir dari Jons namun mereka tidak mungkin menggagalkan kedua sejoli yang baru menikah itu, itu sangat tidak beretika.


"Tenanglah, aku yakin putriku bisa menahannya" ucap Tuan Farhan santai membuat Jons mencebik kesal.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung