The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 55 Berita Buruk



Happy reading 🤗


Like dan Votenya kakak 🤗❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Waktu berlalu begitu cepat tak terasa hari sudah pagi saja, sekarang sudah menginjak pukul 7 : 12. Keluarga Tuan Wijaya dan lainnya sudah berkumpul di meja makan melakukan rutinitas paginya yaitu sarapan, kali ini menu mereka adalah sandwich. Ada empat piring ukuran lebar dan bulat terisi enam buah sandwich di setiap piringnya, itu berarti ada dua puluh empat sandwich di atas meja.


Seperti biasa semuanya sudah berkumpul di kursinya masing-masing ada susu kambing untuk para wanita dan anak-anak sedangkan untuk pria, mereka memilih kopi sevel atau lebih di kenal kopi tujuh elemen yang di dalamnya mengandung tujuh bahan-bahan herbal. Kopi sevel yang mereka konsumsi di campur dengan sari kurma membuat tampilan warnanya terlihat gelap namun rasanya sungguh nikmat. Khasiatnya tentunya jangan di ragukan lagi.


Sekarang ini keluarga Tuan Wijaya lebih suka mengkonsumsi produk-produk herbal yang di produksi oleh perusahaan HNI/HPAI karena sertifikat halalnya menjamin dan tentunya menyehatkan tubuh selain itu dapat mengeluarkan toksin yang mengendap di dalam tubuh.


Produk herbal ini juga sudah banyak di minati oleh kalangan bisnis, masyarakat, juga dokter. Mereka bahkan tidak pernah lepas dengan namanya kopi tujuh elemen itu. Bahkan produk kecantikan mereka juga memakai produk HNI karena khasiatnya yang sungguh bagus.


"Kopi ini memang baik untuk tubuh, nyatanya aku merasakan tubuhku seperti kapas begitu ringan, sangat bugar" tutur Tuan Farhan tersenyum simpul sembari menyesap kopinya.


Semua di sana mengangguk setuju, memang benar adanya. Tidak salah jika mereka memutuskan untuk mengkonsumsi produk HNI/HPAI.


"Benar Son, papa merasa juga begitu papa merasa seperti pria muda" sahut Tuan Wijaya menimpali.


"Iya, tapi jangan merokok lagi, bukankah sia-sia saja jika kalian meminum kopi sevel namun nyatanya rokok tak bisa berhenti!" celetuk Nyonya Mita menyindir para pria di meja makan. Alex, Tuan Farhan dan Tuan Wijaya menelan ludahnya kasar, jika memutuskan untuk tidak merokok maka butuh waktu untuk menghilangkan kebiasaan seperti itu. Sesuatu yang sudah biasa sangat sulit untuk di lepaskan, butuh proses dan tentunya dukungan dari orang-orang dekat.


"Dengar tuh Mas! lebih baik rokoknya di lepas saja" celetuk Amanda mengomeli Alex. Pria itu hanya menyengir kuda.


"Iya kami para lelaki akan membiasakan untuk tidak merokok tapi kalau suntuk kan harus ada rokoknya biar otak kami bisa rileks" timpal Tuan Farhan.


"Benar, semuanya butuh proses lagian kami kan dari remaja sudah merokok kalau secara mendadak berhenti seperti ada sesuatu yang hilang." Tuan Wijaya ikut bersuara memberikan argumen mereka.


"Yah benar, semuanya butuh proses tapi jika kalian mati akibat rokok maka jangan menyesal istri-istri kalian tentunya akan mencari yang baru yang lebih pucuk dan sehat..." Aulia ikut nimbrung, meraih sandwich lalu menggigitnya tanpa melihat ekspresi mereka yang tengah menatap tajam.


"Putriku sungguh berpikiran luas" Jons terkekeh geli melihat wajah- wajah pria dewasa di sana tengah menahan kesal.


"Hahahaha" tawa Amanda dan Nyonya Mita merasa pernyataan Aulia mewakili perasaan mereka.


"Tidak akan Daddy biarkan istri Daddy di miliki pria lain, sebelum itu terjadi Daddy akan menggorok lehernya sampai putus" ketusnya dan mendapat kekehan dari orang-orang.


"Daddy kan sudah mati jadi bagaimana bisa Daddy bisa menggorok lehernya" sahut Dafa ikut menimpali membuat Tuan Farhan melotot tajam pada putranya.


"Kak Dafa tidak boleh berbicara seperti itu! kalau Daddy mati kita tidak akan mendapat uang lagi" ketus Daffin menatap tajam kakak kembarnya semua di sana semakin terbahak, bagaimana tidak wajah Tuan Farhan semakin masam saja kala putra bungsunya hanya menganggap Daddynya mesin uang.


"Sepertinya Daddy harus menghukum kalian berdua yah, jadi selama ini kalian menganggap Daddy mesin uang? benar-benar tidak habis pikir... kalian mementingkan uang di bandingkan nyawa Daddy kalian sendiri." ujar Tuan Farhan merasa syok dengan kenyataan yang ada. Ia berpura-pura menampilkan wajah masamnya.


"No! Daddy salah paham! kami berdua itu sangat menyayangi Daddy, kami mana mungkin mementingkan uang daripada Daddy... yah walau begitu kami juga butuh uang Dad, itu realistis bukan? dan uang kami juga untuk membantu orang lain kok" jelas Dafa tersenyum kecil.


"Oh rupanya seperti itu" gumam raja Iblis paham.


"Membantu orang lain? siapa yang kalian bantu hmmm...?" tanya Jons dan Nyonya Mita.


"Tentu saja pacar mereka" jawab Aulia terkekeh jenaka.


"Kak Lia!" bentak Dafa dan Daffin membuat semua pandangan langsung tertuju kepada dua bocah kecil di samping Jons.


"Tunggu! jadi uang kalian untuk pacar kalian begitu?." Tanya Tuan Farhan dan Tuan Wijaya bersamaan.


"No! kami tidak pacaran kok. Kami membantu anak perempuan seumuran kami, dia itu kesulitan uang jadi kami bantu belikan makanan juga memberikan sedikit uang" jelas Daffin cepat. Anak laki-laki itu menggoyang tangannya ke depan sebagai tanda bahwa tuduhan itu tidaklah benar. Ia hanya membantu tanpa niat lain.


" Oh, berapa uang yang kalian kasih hmmm...?" karena penasaran Amanda pun bertanya.


"Yah kurang lebih sejuta Tante" jawab Dafa membuat mulut mereka menganga lebar. Namun tidak untuk Tuan Farhan.


"Bagus, lakukan apapun yang kalian anggap baik, tapi jangan sampai di bodohi yah... kalian harus lihat apakah dia benar-benar membutuhkan bantuan atau tidak" jelas raja Iblis lembut kedua putranya mengangguk mengerti.


"Baik Daddy"


Tuan Farhan kemudian beralih menatap wajah putri satu-satunya berdehem sejenak lalu berujar. "Lia. Karena kamu tidak mau kuliah maka Daddy sudah putuskan untuk menjodohkanmu dengan rekan bisnis Daddy." Ungkapan Tuan Farhan membuat semua di sana terkejut terutama Aulia.


DEG


"Dad, apa maksudmu dengan menikahkan Lia dengan rekan bisnis Daddy! Lia tidak mau dan tidak akan pernah setuju!!" teriak Aulia emosi. Tatapan tajam begitu menghunus ke arah Tuan Farhan namun pria itu hanya menaikkan alisnya tinggi.


"Prince, biarkan Lia menentukan pilihannya jangan mencampuri masa depannya" seru Jons tidak sependapat dengan suaminya.


"Tidak! Lia harus menerimanya... tidak ada bantahan karena rekan bisnis Daddy juga sudah menerima perjodohan ini" tegas Tuan Farhan tanpa perasaan. Aulia begitu terpukul menatap wajah Daddynya dengan perasaan bercampur aduk. Genangan air di pelupuk matanya seketika tumpah menyentuh dadanya yang berdenyut sakit.


Gadis remaja itu menggeleng tidak percaya dengan keputusan pria yang di panggil Daddy itu. Ia merasa terhantam dengan benda tajam begitu menusuk di relung hatinya.


"Dad, tidak bisakah membiarkan Lia memilih sendiri calon suami Lia? bukankah Daddy tahu kalau Lia sangat mencintai Uncle Tio, kenapa? kenapa Daddy lakukan ini pada Lia hah! kenapa Daddy!" teriak Aulia dengan linangan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Apa yang di rencanakan Prince? dia tidak mungkin memutuskan sesuatu tanpa berunding denganku dulu... Prince juga tidak mungkin mengambil keputusan yang menyakiti putrinya... apa yang terjadi sebenarnya?" bisik Jons dalam hati.


"Farhan! Mama tidak setuju kalau kamu menikahkan cucuku dengan rekanmu itu!." Protes Nyonya Mita.


"Iya Son, kamu coba pikirkan lagi, kasihan Aulia" timpal Tuan Wijaya.


"Tidak bisa di bantah! pernikahan akan di langsungkan dua minggu lagi... dia berasal dari Dubai perusahaan terbesar nomor satu di negaranya. Jika aku bisa bekerja sama dengannya maka pasti perusahanku akan semakin berkembang pesat." jelas Tuan Farhan tanpa ekspresi. Aulia makin down tidak percaya atas apa yang di dengarnya.


"Lia benci! Lia benci Daddy!! " Aulia beranjak dan berlari dari ruang makan menuju tangga ke lantai dua. Hatinya benar-benar sakit lebih baik pergi daripada harus menikah dengan pria yang tak di kenalnya.


"Aku harus meningkatkan keamanan Mansion, takutnya Aulia malah kabur". Batin Tuan Farhan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung