
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mentari pagi memancarkan sinarnya, gelap perlahan-lahan mulai terang, sekumpulan awan bergerak di tiup angin hingga langit terlihat sangat terang. Langit biru memancarkan panoramanya yang indah, membuat mata yang melihatnya mampu membangkitkan jiwa penuh semangat.
Di rumah sederhana dengan dua lantai berdiri kokoh di sisi pertigaan jalan raya, juga di samping rumahnya berdiri sebuah bengkel umum.
Seorang pria yan menggunakan singlet atau kaos kutang dengan bawahan boxer yang hanya menutup aset berharganya, perlahan-lahan membuka matanya, menggosok kedua matanya untuk meredakan rasa ngantuknya.
"Hoaaamm" menutup mulutnya kala ia menguap lebar, pria tersebut bangun dari tidurnya bersandar di sandaran kasur.
"Tumben Aulia belum bangun, biasanya di jam sekarang sudah membuat sarapan untukku" batin Tio menatap ke arah wanitanya yang masih tertidur pulas. Seutas senyum tercekat di wajah Tio, pria itupun mendekati istrinya lalu mencium kening juga bibir sang istri.
"Sayang, bangun sudah pagi" bisik Tio di telinga Aulia, wanita itu hanya menggeliat tanpa berniat membuka matanya, rasanya berada di atas kasur lebih nikmat daripada apapun.
"Masih ngantuk Uncle" jawabnya dengan suara seraknya membuat Tio hanya menggeleng kepalanya pelan.
"Istriku tidak membuat sarapan untuk Uncle hmmm? biasanya setiap pagi buat, perut Uncle sudah terbiasa dan sekarang sudah merasa lapar." Manja Tio ikut berbaring dan memeluk istrinya dari belakang.
"Makan Lia saja kalau Uncle lapar" celetuk Aulia dan dengan cepat wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap Tio. Tio mengerutkan keningnya kala mendengar jawaban istrinya yang tidak biasa, apalagi jawaban yang mengandung unsur enak-enak.
"Apa kau sedang bercanda dengan Uncle?" tanya Tio memastikan, mendapat lampu hijau adalah sebuah kesenangan bagi pria dewasa itu. Aulia kemudian membuka matanya kedua pasangan suami-istri itu saling beradu pandang. Smirk licik tersirat di bibir mungil Aulia dengan cepat Aulia bangun lalu menubruk perut sixpack suaminya.
Tanpa ba-bi-bu Aulia ******* bibir Tio, bahkan tak membiarkan suaminya untuk mengambil alih kegiatan nikmatnya. Tio berusaha untuk melepas ciuman tersebut karena dirinya belum menyikat gigi, merasa malu jika berciuman dengan wanitanya sedang bau jigong lebih mendominasi di mulutnya.
"Asam, mulut Uncle bau jigong" ungkap Aulia dengan wajah polosnya sembari menatap wajah Tio yang memerah karena malu.
"Ka-kamu juga bau jigong lagian kenapa berciuman sekarang" cicit Tio tanpa melihat wajah Aulia. Rasanya ia sudah tidak punya muka di hadapan istri tercintanya lagi, kesombongannya runtuh hanya karena bau jigong. Aulia yang tahu jika suaminya sedang malu hanya tersenyum lebar.
"Benar cinta itu buta, bahkan bau jigong sekalipun Lia tetap suka bahkan sangat-sangat suka jika itu berasal dari mulut Uncle Tio" tutur Aulia dalam hatinya.
Kedua tangannya terulur menangkup wajah Tio hingga keduanya kembali bersitatap. Tio yang hendak memalingkan wajahnya tidak sempat karena bibir mungil istrinya kembali mendarat di bibirnya yang sedikit tebal itu.
Aulia kembali melaksanakan aksinya ******* dan memainkan lidah Tio membuat pria itu membelalakkan matanya. "Lia suka rasa dan baunya..., emmm Lia mau main pagi ini" ucapnya dengan tatapan imut membuat Tio benar-benar terangsang.
"Dia seperti bukan Aulia, tapi aku suka dirinya yang liar ini" batin Tio tersenyum senang. Pria itu begitu menikmati tindakan yang di lakukan istrinya padanya, tangannya juga tidak tinggal diam ikut berkontribusi dalam kegiatan nikmat di pagi hari.
"Aah, ahh ahh istriku, Uncle su-suka kamu yang liar ini, aaahh" desah Tio dengan napas tersengal-sengal. Aulia tersenyum lebar melihat wajah suaminya yang terkulai lemas. Tio yang tidak mampu menahan lalu mengambil alih permainan istrinya. Membalikkan tubuh Aulia hingga berada di bawah kungkunganya.
"Biarkan Uncle yang bermain kau nikmati saja" bisik Tio dengan nada sensual.
Di lantai bawah tepatnya di ruko kecil yang di jadikan sebuah bengkel umum, empat pria muda membuka pintu ruko setelah itu semuanya masuk ke dalam. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, tak berselang lama datang seorang pria paruh baya berjalan masuk ke dalam bengkel.
"Selamat pagi juga, apa kalian sudah sarapan" tanya pak Mamat kepada rekan kerjanya.
"Hehehe, belum pak, kami menunggu Boss untuk menyiapkan makanan untuk kami" jelas Andre dengan cengiran malu.
"Tapi sepertinya orang rumah belum bangun, pintunya masih terkunci" Yogi ikut menimpali.
"Itu biasa untuk mereka yg sudah menikah, kamu akan mengerti ketika kamu sudah menikah nantinya" pak Mamat tersenyum dan menepuk pundak Yogi pelan. Gilang dan Hara hanya tertawa kecil mendengar penuturan pak Mamat.
Tak berselang lama datang empat gadis remaja dengan seragam SMA nya, mereka turun dari mobil Toyota Avanza, yang di kendarai oleh seorang sopir. Melangkahkan kaki menuju bengkel Mantap Jaya.
Andre pun datang menemui empat gadis remaja yang berdiri di depan bengkel dengan tampang wajah tak biasa.
"Ini sudah sebulan lebih dari yang di janjikan, kenapa belum ada panggilan dari kalian? apakah kalian belum selesai mengerjakan modifikasi motor yang kami minta sampai hampir dua bulan ini belum ada kabar juga?" cerocos salah satu gadis remaja, melipat kedua tangannya di atas perut sembari menatap sinis ke arah Andre.
"Maaf nona, sebenarnya modifikasi motornya sudah selesai dua minggu yang lalu tapi karena kami ada tugas mendadak pada akhirnya bengkel ini di tutup dan lupa untuk mengabari kalian sebelumnya" jawab Andre menjelaskan dengan sopan.
"Karena kalian sudah tidak menepati janji, maka harus ada kompensasi yang di berikan" tuturnya lagi dengan sudut bibir terangkat ke atas. Andre yang mendengar ucapan salah satu konsumennya, ia pun bertanya.
"Maksudnya apa yah? kompensasi apa yang harus kami tebus?"
"Kalian harus menurunkan harga awal dari modifikasi motor" jelasnya membuat Andre melotot lebar.
"Tidak bisa! Lagipula motor kalian aman di sini kenapa harus ada kompensasi segala..., dasar cewek matre" protes Andre tidak setuju. Mendengar keributan di luar pak Mamat dan yang lainnya pun ikut keluar.
"Ada apa ini Andre?" tanya Pak Mamat dan Hara bersamaan.
"Ini, mereka adalah salah satu konsumen kita yang memberikan motornya untuk di modifikasi, sekarang mereka minta kompensasi pemotongan harga dari harga di awal, karena kita terlambat dua minggu dari kesepakatan yang di tentukan" jelas Andre panjang lebar.
Pak Mamat dan yang lainnya pun menatap ke arah empat gadis sekolah tersebut, bahkan dengan angkuhnya mereka membusungkan dada seakan-akan mereka tak bisa di saingi atau di kalahkan.
"Maaf sebelumnya, untuk keterlambatan pemberitahuan memang salah kami, tapi kami punya alasan, dan juga motor kalian sudah selesai di modifikasi..., jika harganya di potong maka pasti kami yang akan rugi" kali ini pak Mamat menjelaskan pasalnya banyak sekali alat-alat baru yang di gunakan untuk mengganti motor dari konsumennya itu.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya harganya harus di potong!!" seru ke empat gadis sekolah bersikeras.
"Tidak ada hukum tentang hal itu, jika kalian tidak setuju masalah ini lebih baik di bawah ke meja hijau saja" sahut Gilang dengan tatapan menghunus. Mendengar meja hijau membuat ke empat gadis sekolah itu saling melirik.
Mengepalkan tangannya merasa kesal kepada Gilang, dengan muka tebal mereka pun bersuara. "Gak usah di potong kami akan membayar sesuai harga normal" pak Mamat dan lainnya tersenyum lebar kala perusuh dadakan itu menyerah membuat telinga dan hati mereka kembali damai dan tentram.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung