
Happy reading 🤗
Maaf yah soalnya aku sibuk sama kegiatan kampus 🙏🙏
.
.
.
.
.
.
Di negara bagian barat Amerika serikat Washington DC tepatnya di sekolah SMA Washington dua sepasang kekasih yang baru mengumumkan status mereka di sekolah menjadi viral di mana-mana, pria bernama Ronald itu adalah seorang bintang terpopuler di sekolah bukan hanya karena tampan namun dia juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata sudah kaya, tampan, pintar pula benar-benar keberuntungan bagi orang yang akan menjadi istri dari seorang Ronald.
Di kantin sekolah yang berada di sisi kanan bangunan sekolah seorang gadis dengan rambut gelombang terurai sebahu tengah duduk termenung memikirkan sesuatu yang benar-benar mengganggu pikirannya. Sedang siswi-siswi yang berada di kantin memandang tak suka pada Alexa pasalnya gara-gara Alexa kesempatan mendapatkan pria populer di sekolah kandas karena hubungan asmara Alexa dengan sang pujaan hati.
"****! dia sudah siuman dan aku pasti akan kena hukuman di negara orang, apa yang harus aku lakukan sekarang?" bisik Alexa dalam hati sesekali menghela napas kasar. Yah Alexa memikirkan siswi salah satu teman kelasnya yang menjadi korban kekerasan yang ia lakukan.
"Hey sayang, are you okay?." Bisik seorang pria di telinga Alexa membuat gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Sudut bibirnya melengkung tipis saat mendapati sang pacar duduk di sampingnya.
"Sangat di sayangkan pria populer di sekolah kita harus pacaran sama gadis gila itu" bisik salah satu siswi dengan tatapan tak suka.
"Benar benget, apa mungkin dia membawa tubuh polos ke hadapan Ronald sampai pangeran kita mau pacaran sama dia"
"Benar-benar gadis buruk"
Begitulah bisik-bisik siswi yang ada di kantin sekolah bahkan suara mereka di sengaja perbesar agar Alexa mendengarnya namun gadis Mafia itu hanya menatapnya dengan alis terangkat tinggi juga tatapan yang sulit di artikan.
Ronald sebenarnya sudah sangat muak dengan komentar kotor tentang Alexa ingin sekali menghajar mereka satu persatu namun di tahan oleh gadisnya. Alexa menggeleng kepalanya sebagai isyarat untuk tidak melawan, tidak ada gunanya juga yang ada nama buruknya akan semakin menyebar dan pandangan buruk itu sudah melekat erat di konsep teman-teman sekolahnya.
"Apa kau tidak apa-apa sayang?" tanya Ronald menatap iba kekasihnya. Gadis Mafia itu melempar senyum tipis mengangguk kepalanya sebagai jawaban bahwa dirinya sangat baik-baik saja.
"Apa yang sedang kau pikirkan tadi, apakah karena perkataan mereka?" tanyanya lagi sembari melirik ke arah gadis-gadis penggosip.
Menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan-lahan, di tatapnya wajah tampan itu "Kenapa aku terus memikirkan abang Hamas lagi... dia bahkan sudah tidak tahu dan tidak mau tahu tentangku" bisik Alexa dalam hati.
"Dia sudah bangun dari komanya, apakah aku akan dituntut? aku akan dipen..."
"Ssssttt! soal itu kamu tidak perlu takut aku sudah mengatasinya" potong Ronald dengan telunjuk tertempel di bibir Alexa. Gadis itu menatap dalam wajah sang kekasih.
"Apa yang kamu lakukan padanya? kenapa kamu bisa tahu jika dia sudah siuman dan..."
"Aku selalu memantaunya aku tidak mau kamu dipenjara sayang, tenang saja itu tidak akan menyakitinya aku hanya memberikan beberapa obat yang bisa membuat dia lupa tentang kejadian menyeramkan itu" jelas Ronald berbicara pelan agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Alexa mengangguk pelan ia bersyukur memiliki Ronald di sisinya setelah dirinya sudah tidak dekat dengan Hamas ataupun Azhar.
Alexa menunduk sedih ia sebenarnya sangat merindukan Hamas namun apalah daya Hamas sudah memiliki seorang kekasih dan ia tidak berhak melarangnya, mengingat putra raja Iblis dengan wanita lain membuat hatinya berdenyut sakit.
Ronald menggenggam jemari tangan gadisnya di tatapnya penuh lembut ia tahu masalah sang kekasih namun ia diam saja. "Aku ingin ke suatu tempat, apakah kamu mau menemaniku?" tanya Ronald dengan tatapan iba.
"Hmmm, tentu saja kau adalah pacarku sekarang... di mana kamu pergi aku akan tetap ikut." Jawab Alexa membuat sudut bibir Ronald tertarik ke atas.
Tatapan tak suka dari setiap pandangan siswi di sekolah tersebut mengarah jelas kepada Alexa namun gadis itu tidak peduli, cukup banyak masalah dalam hidupnya dan ia tidak akan menambah masalah hanya karena teman-temannya tidak suka padanya. Lagipula itu adalah hak mereka ia tidak mungkin menuntut yang lainnya untuk menyukainya.
"Kita mau kemana sayang? aku sungguh penasaran" tanya Alexa
"Ada de sayang, nanti jika sudah tiba nanti kamu akan tahu" balasnya membuat Alexa mengerucutkan bibirnya seperti bebek. Padahal dirinya sudah sangat penasaran namun rupanya Ronald ingin membuat kejutan untuknya itulah sebabnya tidak di beritahu.
Ronald kemudian naik ke atas motor sportnya diikuti Alexa duduk di jok belakang. "Eh bukankah kita masih ada kelas" Alexa yang baru ingat jika mereka masih ada kelas segera berujar namun Ronald tidak peduli.
"Pegangan sayang aku akan ngebut" teriak Ronald, mau tidak mau Alexa memeluk erat pinggang Ronald, motor yang ditumpangi dua sejoli itu seketika melesat meninggalkan parkiran umum sekolah berjalan cepat menuju jalanan raya bergabung dengan kendaraan lainnya.
Di satu sisi tepatnya di Universitas Harvard dua orang pria masih tinggal di dalam kelas mereka duduk berhadapan tidak ada orang di kelas tersebut kecuali mereka berdua karena sekarang adalah jam istirahat. Pria dengan rambut gondrong itu menatap pria di depannya yang masih asyik berselancar dengan benda persegi di hadapannya sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting.
"Bang, apakah kamu tidak ingin menanyakan kabar Alexa? apa kau tidak ingin menjenguknya melihatnya barang sebentar saja?" pria dengan rambut gondrong itu bertanya. Yah mereka adalah Azhar dan Hamas.
Hamas melirik sekilas ke arah adik laki-lakinya lalu beralih fokus pada laptopnya "Aku sudah tidak mau ikut campur lagi biarkan saja dia dengan kehidupannya lagipula dia sudah memiliki pacar, jangan terlalu manjakan dia kita harus menjaga jarak biarkan dia menyelesaikan masalahnya dengan begitu dia akan menjadi dewasa dengan pengalamannya itu." Jelas Hamas panjang kali lebar.
Azhar hanya manggut-manggut dia juga setuju dengan pemikiran sang kakak namun ia merasa iba pada Alexa apalagi penyakit anehnya yang sering kambuh di saat-saat tertentu.
"Aku takut dia kenapa-kenapa, dia punya kelainan yang bisa membahayakan dirinya" timpal Azhar dengan raut wajah khawatir.
"Dia adalah gadis yang kuat dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri lagipula dia sudah besar" acuh Hamas. Pria itu masih asyik dengan kegiatannya itu, jari-jarinya mengetik tombol-tombol keyboard entah apa yang ia buat.
"Terserah kamu Bang semoga kamu tidak menyesalinya di kemudian hari nanti" bisik batin Azhar merasa jengah atas tingkah abangnya itu.
Di lain tempat sebuah mobil berwarna hitam terus mengikuti motor yang di kendarai oleh Ronald, diam-diam mengambil foto keduanya.
"Kita harus mencari cara untuk memisahkan mereka agar dengan mudah kita menculik gadis itu" ucap salah seorang temannya
"Benar sekali, lumayan penghasilan tiga ratus juta bayarannya jika kita bisa menghabisi gadis kecil itu hahhaha"
"Kita akan kaya hahahhaa" ucap mereka dengan wajah penuh bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung