The Love Story Princess And Prince Mafia

The Love Story Princess And Prince Mafia
Bab 107 Hilang Jejak



Happy reading 🤗


Maaf baru up


.


.


.


.


.


.


.


Tuan Wijaya serta rombongannya telah tiba di rumah sakit Medical Center Seattle, memarkirkan mobil di parkiran umum khusus mobil, semuanya keluar kecuali seorang sopir yang tetap di dalam mobil. Tak lama datang dua orang pria dengan style casualnya celana jeans warna biru dongker serta bawahan kemeja hitam.


"Selamat malam Boss, mari saya antar ke ruangan Nona Alexa" ujar salah seorang pria saat tiba di depan Tuan Wijaya dan Nyonya Mita.


"Ayo, aku ingin melihat keadaan cucuku sekarang" jawab Tuan Wijaya. Mereka langsung berjalan mengikuti jejak dua orang pria yang ternyata adalah anggota Black Wolf. Mereka memasuki lobby rumah sakit karena dua pria mata-mata Tuan Wijaya tahu di mana ruangan Alexa berada hingga membuat Tuan Wijaya dan lainnya tidak perlu bertanya kepada resepsionis.


Menaiki lift hingga ke lantai tiga, dua pria itu berjalan menuju lorong rumah sakit sebelah kanan, tepat di kamar paling ujung dua pria tersebut menghentikan langkahnya. Ruangan tersebut adalah kamar inap yang di tempati Alexa saat ini. "Boss ini adalah kamar Nona Alexa" tunjuk salah seorang anggota Black Wolf dan Tuan Wijaya serta lainnya berjalan menuju ruangan yang di tunjuk oleh mata-mata Tuan Wijaya.


Namun saat hendak masuk ke dalam seorang perawat perempuan keluar dan berpapasan dengan rombongan keluarga Alexa, perawat perempuan yang melihat banyak sekali orang di depan ruang inap segera bertanya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan, Nyonya?"


"Kami ingin menjenguk pasien bernama Alexa, apakah boleh?" tanya Tuan Wijaya sopan mendengar nama Alexa di sebut membuat perawat itu mengernyitkan alisnya tinggi memikirkan sesuatu yang terlewatkan. Pasalnya di ruang inap tidak ada pasien bernama Alexa, perempuan itu berpikir sejenak kemudian membuka suara.


"Oh pasien atas nama Nona Alexa sudah di bawah oleh keluarganya dua jam yang lalu Tuan." jawab perawat perempuan membuat atensi semua yang di sana melotot tajam terutama Amanda yang benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari seorang perawat. Siapa yang sudah membawa putrinya? padahal tidak ada keluarga mereka di kota Washington Tuan Smith sendiri.


Tuan Wijaya menetralkan keterkejutannya iapun kembali bertanya "Maaf suster boleh saya tahu siapa yang sudah membawa pasien dan di bawah kemana?" Terlihat raut wajah cemas dari keluarga Mafia itu apalagi Amanda yang sudah tidak bisa membendung air matanya. Alex dan Nyonya Mita mengelus punggung Amanda menenangkan ibu anak satu itu.


"Maaf Tuan untuk informasi tersebut bukan tanggung jawab saya.. dan saya juga tidak tahu siapa yang menjemput pasien dan di bawah kemana" jelas sang perawat. Tuan Wijaya mengangguk mengerti. "Apa ada yang masih di tanyakan lagi Tuan?" tanya perawat tersebut dan mendapat gelengan kepala dari Tuan Wijaya.


"Terima kasih banyak suster" tutur Tuan Wijaya dengan senyum tipis di bibirnya, perawat tersebut mengangguk lalu berpamitan meninggalkan rombongan Tuan Wijaya.


"Siapa sebenarnya yang sudah mengaku menjadi keluarga Alexa?" tanya Tuan Smith angkat bicara.


"Papa, tolong bantu temukan anakku! please dia adalah satu-satunya buah hatiku aku tidak bisa membayangkan keadaannya yang sekarang... Ma, aku takut jika Alexa di apa-apain hiks, hiks hiks" tangis Amanda pecah membuat semua di sana ikut bersedih.


"Ssssttt semua akan baik-baik saja sayang. Kamu tenangin diri kamu kita akan mencari jalan keluarnya kita pasti akan menemukan Alexa" kata Nyonya Mita sembari memeluk tubuh anak angkatnya itu.


"Sayang tenang ya kita pasti akan menemukan Alexa, putri kita akan baik-baik saja percayalah..." kata Alex dengan suara lembutnya sesekali pria itu mencium kening istrinya. Sedangkan Tuan Wijaya, Tuan Smith serta dua anak Black Wolf tengah berdiskusi tentang pencarian Alexa.


"Tapi putriku hiks, hiks, a-aku tidak bi-bisa membayangkan jika..." Alex segera menempelkan jari telunjuknya ke bibir sang istri.


"Ssssttt, putri kita pasti baik-baik saja... jangan berpikir yang macam-macam, lebih baik tenangin diri kamu agar kita bisa mencari solusinya dengan mudah" tutur Alex menatap wajah istrinya. Amanda mengangguk lirih menghapus air matanya ia harus lebih tenang dalam menyikapi masalah ini.


"Ya Tuhan semoga putriku baik-baik saja... aku mohon lindungi dia ya Tuhan" bisik Amanda dalam hatinya.


"Pa, apakah ada petunjuk yang di tinggalkan oleh orang itu?" tanya Alex. Tuan Wijaya menggeleng itu berarti mereka belum menemukan titik terangnya.


"Lebih baik kita pergi mengeceknya ke ruang monitor CCTV, aku yakin pasti ada jejak di sana" saran Alex menatap wajah ke empat pria di depannya.


"Kau benar ayo kita ke ruang monitor CCTV sekarang, kita pasti akan menemukan siapa yang sudah membawa Alexa" ajak Tuan Smith. Nyonya Mita dan Amanda lalu mengikuti langkah kaki dari lima pria di depannya. Sebelum itu mereka bertanya kepada salah satu petugas di rumah sakit Medical Center Seattle letak ruangan monitor CCTV di rumah sakit berada.


Setelah mengetahui ruangan monitor CCTV berada kemudian mereka menuju lantai dua sesuai penjelasan dari petugas rumah sakit.


Di tempat lain sebuah helikopter dengan jenis Sikorsky S-92 mendarat di helipad milik rumah sakit ternama yang merupakan jajaran rumah sakit terbaik di dunia, yaitu rumah sakit Mayo Clinic yang berpusat di negara bagian Rochester, Minnesota. Minnesota merupakan sebuah kota di Amerika Serikat. Sebelum melakukan penerbangan, pria yang berada di helikopter menelepon pihak rumah sakit Mayo Clinic untuk menjemput mereka dengan ambulance. Karena helipad untuk pendaratan helikopter sedikit jauh dari rumah sakit Mayo Clinic yang mana akan efektif jika menggunakan ambulans.


Mobil ambulans sudah siap di tempat sesuai yang di janjikan saat alat transportasi udara itu benar-benar mendarat dengan sempurna dan baling-baling di atasnya berhenti, tim medis dari rumah sakit Mayo Clinic segera menuju helikopter tersebut.


Seorang pria dengan jas rapi di tubuhnya turun dari dalam helikopter, tak jauh dari sana terlihat seorang pria paruh baya dengan style kantoran datang menghampiri pria yang baru saja turun.


"Selamat malam Tuan Kalingga, terima kasih sudah mempercayakan rumah sakit kami sebagai tempat tujuan Tuan... saya sebagai direktur rumah sakit sangat tersanjung atas kedatangan Tuan Kalingga" ucap pria yang merupakan direktur Mayo Clinic. Sedangkan tim medis Mayo Clinic segera membantu dua orang perawat dari dalam helikopter untuk menurunkan pasien.


Tuan Kalingga tersenyum lebar mendapati keramahan dari direktur Mayo Clinic itu. "Seharusnya saya berterima kasih karena sudah mau membantu saya... Saya harap anda bisa menyelamatkan pasien, dia sangat berarti bagi saya" jawab Tuan Kalingga sangat menaruh harapan kepada direktur Mayo Clinic.


"Kami akan berusaha semampu kami, ayo Tuan kita langsung ke rumah sakit" ajak sang direktur karena pasien tadi sudah di bawah masuk ke dalam mobil ambulans yang sudah siap meninggalkan helipad.


Di Apartemen Hamas, setelah mengeluarkan uneg-uneg di dalam hati, Tuan Farhan lalu beranjak dari duduknya berdiri di hadapan Hamas. "Hari ini sudah malam lebih baik kita istirahat... karena kamar di apartemen ini hanya 3 maka Aulia dan kamu" menunjuk ke arah Shireen dengan tatapan datarnya membuat nyali gadis asal Belanda itu menciut.


"Kalian berdua tidur berdua, aku dan istriku akan tidur di kamar Hamas dan kalian para pria tidur di kamar Azhar... Dafa dan Daffin akan tidur bersama abang-abangnya" jelas Tuan Farhan membuat mata Tio melotot tajam. Dirinya tidak mungkin tidur tanpa istrinya, rasanya malam begitu hambar ibarat sayur tanpa garam.


"Yang benar saja aku tidak tidur dengan istriku... tidak akan ku biarkan itu!" gerutu Tio dalam hati. Saat hendak protes Aulia angkat bicara.


"Tidak bisa Dad, Lia mau tidur dengan suami Lia, atau gini saja abang Hamas, abang Azhar dan dua D tidur di kamar abang Hamas tapi mereka di lantai beralaskan kasur atau karpet, Lia dengan suami Lia di kamar yang berbeda" usul Aulia dan mendapat persetujuan oleh Tuan Farhan namun dua D tidak setuju.


"Daffin mau tidur bersama Mommy dan Daddy, pokonya keputusan Daffin tidak mau di bantah!!" ungkap Daffin dengan suara cempreng membuat Tuan Farhan mendelik jengkel.


"Baiklah, terserah kamu saja... hari sudah sangat malam sebaiknya kita semua istirahat, besok Daddy akan menjelaskan maksud kedatangan Daddy kesini...,"


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung